Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1.
"Setelah pulang kuliah, kita ke Kafe Danel yang baru launching itu yuk?" ajak seorang gadis pada dua sahabatnya.
"Wah, ternyata dia jadi juga bikin bisnis kafe. Boleh banget! Siapa tahu dapat gratisan, hahaha..." sahut temannya girang sambil menyenggol bahu Ruby yang sibuk menikmati minuman kesukaannya.
"Kamu ikut nggak, By? Diam aja dari tadi. Lagi mikirin apa, sih?"
"Nggak ada. Nih, lagi nikmatin minuman," jawab Ruby santai sambil menunjukkan es cokelat di depannya.
"Tapi kamu nyimak, kan, By?"
"Telingaku masih dua, kok. Masih dengar."
"Yang bilang tiga siapa, Ruby!"
"Tuh, kamu barusan," balas Ruby terkekeh. Ia memang sosok yang periang dan suka bercanda, sampai tak jarang membuat sahabatnya makan hati.
"Ngeselin banget, sih!" celetuk gadis itu merengek karena kejahilan Ruby.
"Salahnya di mana coba, Pril? Kamu nanya, ya aku jawab."
"You both, stop it! Bingung aku, kalian berdua berantem terus," pangkas Tisa mencoba menjadi penengah.
"Masa kita berantem? Enggak, kan, Aprilia?" tanya Ruby ringan dengan senyum lebar, merasa menang telah membuat temannya sewot.
"Iyaa... Kalau berantem tuh kayak gini!"
Dalam sekejap, Ruby dan April saling melempar kode mata.
"Aaaa!" teriak Tisa refleks begitu kedua sahabatnya itu kompak menjambak pelan rambutnya. Tawa mereka bertiga pun pecah di tengah kantin kampus.
Siang itu area kantin tidak terlalu padat. Sebagian besar mahasiswa memilih nongkrong di kafe luar kampus karena bosan dengan menu yang itu-itu saja. Namun, tiga sahabat ini hampir selalu menjadikan kantin sebagai tempat peristirahatan utama mereka.
Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sebentar lagi akan menghadapi sidang skripsi, jadwal mereka makin padat. Tak heran jika setelah urusan kampus selesai bahkan di hari libur mereka selalu menyempatkan waktu untuk jalan bareng sebelum sibuk dengan jalan hidup masing-masing setelah lulus nanti.
Setibanya di Kafe Danel, mereka langsung memesan berbagai makanan dan minuman.
"Udah beres belajarnya, anak-anak?" sambut Danel, teman seangkatan mereka yang merupakan pemilik kafe tersebut.
"Sombong banget Pak Owner Muka nggak pernah kelihatan di kampus, tahu-tahu malah ngeledek," sembur April.
Danel tertawa renyah. "Hahaha... ya udah, maaf. Yakin nih pesanannya cuma segini?"
"Iya! Sana buruan bikin, kita udah lapar," usir April tidak sabar ingin mencicipi menu kafe baru itu.
Saat menunggu pesanan tiba, ponsel Ruby di atas meja berdering. Suara getarnya mengalihkan perhatian mereka.
"Siapa, By?" tanya Tisa.
"Papa," jawab Ruby singkat, membiarkan panggilan itu berlalu begitu saja.
"Kenapa nggak diangkat?"
"Lagi malas."
Tisa menatapnya cemas. "Lagi ada masalah, ya? Cerita dong sama kita."
"Belum mood. Nanti aja aku cerita, bukan hal penting juga kok. Palingan cuma nanyain Teressa," sahut Ruby santai.
"Kenapa nanya ke kamu, By? Kan seharian ini dia nggak sama kamu di kampus?" tanya April penasaran.
Tisa menaikkan sebelah alisnya. "Palingan dia bohong lagi ke Papa kamu, ngaku-ngaku pergi sama kamu, kan?"
"Mungkin. Bisa iya, bisa enggak."
"Udah ah, ngapain juga ngebahas adik durhakanya Ruby? Nanti kita malah ikutan emosi dengar tingkah munafiknya itu," celetuk April yang langsung disambut tawa kecil dari Tisa dan Ruby.
Persahabatan ketiganya memang unik. Mereka bertiga sama-sama humoris, jahil, dan pemberani. Bedanya, Ruby cenderung lebih tertutup dan simpel. Aprilia punya rasa ingin tahu yang tinggi, ceria, namun gampang tersulut emosi. Sementara Tisa adalah sosok yang paling tenang, dewasa, dan bisa dibilang yang paling berotak dingin di antara mereka bertiga.
Ruby Anastasya
Aprilia Robinshon
Tisa Timothy