Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.
Namun, satu hal tak pernah berubah.
Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.
Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.
Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Malam Pertama
Malam turun perlahan di Nanji Camp Ground, cahaya lampu gantung mulai mendominasi, memantul lembut di permukaan Sungai Han yang tenang. Angin malam membawa hawa dingin yang cukup untuk membuat jaket tipis terasa diperlukan, tetapi tidak cukup menusuk untuk mengganggu suasana.
Api unggun akhirnya dinyalakan tidak besar secara dramatis tetapi cukup untuk menghangatkan udara dan menjadi pusat berkumpul. Nyala api bergerak perlahan, sesekali memercikkan bara kecil ke udara sebelum kembali padam. Semua kursi lipat disusun melingkar menghadap api. Beberapa staf membawa camilan ringan, kopi kaleng, dan teh hangat yang mengepulkan uap tipis di udara.
“Kalau langsung pembagian tenda, nanti ribut. Kita main game dulu. Supaya adil,” ujar Park Yoo-gi sambil duduk bersila.
“Oh, setuju. Tadi juga bingung memilih siapa yang akan tidur di mana, dan aku tidak mau dapat tenda yang terlalu dekat sungai. Anginnya tidak enak,” ucap Jeongin, membuat Jeongin tersenyum kecil.
“Kita pakai Yutnori saja simpel, nanti tim yang menang pilih dulu. Bagaimana?” tanyanya, meminta persetujuan semua anggota.
Tidak ada yang keberatan dengan usulan itu, bahkan berapa bahkan langsung mengangguk antusias. Permainan itu terasa familiar meskipun terasa tradisional, santai, dan tidak menguras energi. Dua tim dibagi secara acak. Nala masuk ke tim Jeongin, Yu-ra, dan Yoo-gi. Sedangkan sisanya berada di tim lain.
“Wah, ini tim kuat,” goda Sumin dari seberang.
“Belum tentu. Aku tidak payah urusan keberuntungan,” jawab Nala sambil tersenyum tipis.
Jeongin duduk di sebelahnya jarak mereka tidak terlalu dekat, cukup untuk berbagi ruang tanpa saling bersentuhan. Cahaya api unggun sesekali menerangi sisi wajah mereka, lalu kembali menyisakan bayangan ketika nyala api bergerak tertiup angin.
“Kita tidak butuh keberuntungan. Kita main rapi saja,” ucapnya.
Senyum penuh makna terukir di wajah Jeongin membuat Nala tertawa kecil, mengira ucapan itu sekadar bagian dari semangat permainan. Ia tidak menyadari bahwa sejak awal, Jeongin telah memastikan posisi duduk mereka bersebelahan.
Bukan kebetulan melainkan pilihan yang dibuatnya dengan begitu natural hingga tidak seorang pun merasa perlu mempertanyakannya.
Permainan berjalan seru semuanya tertawa, saling mengejek ringan, dan sorakan kecil setiap kali yut jatuh dengan hasil yang menguntungkan. Sesekali terdengar keluhan ketika bidak lawan berhasil memakan bidak mereka, disusul tawa dari anggota tim lain. Api unggun memantulkan cahaya ke wajah-wajah yang mulai lelah, tetapi puas menikmati malam yang berbeda dari rutinitas pekerjaan mereka.
Tim Jeongin akhirnya menang tipis.
“Baik, karena kalian menang, sesuai kesepakatan, pemenang memilih tenda lebih dulu,” kata Yu-ra sambil berdiri.
Jeongin tidak langsung bicara saat itu, ia memilih menunggu Nala bangkit lebih dulu, kemudian berdiri menyusul. Mereka berjalan menuju area tenda bersama.
Area itu sudah ditata dengan rapi satu tenda utama disiapkan untuk diskusi, sementara beberapa tenda pribadi berjejer dengan jarak yang cukup aman satu sama lain. Lampu-lampu kecil dipasang di sepanjang jalur, memberikan penerangan lembut di antara tenda-tenda.
Jeongin memperhatikan keadaan sekitar dengan saksama; arah angin, pencahayaan, jarak menuju toilet, hingga jalur evakuasi yang telah disiapkan. Seolah-olah ia benar-benar sedang mempertimbangkan pilihan terbaik untuk semua orang.
Kemudian, ia menunjuk dua tenda kecil di sisi kanan tenda utama.
“Ini paling dekat dengan tenda diskusi. Kalau besok pagi perlu cepat koordinasi,” katanya ringan membuat Yu-ra mengangguk karena penjelasan itu terdengar masuk akal.
“Benar juga. Supaya tidak repot, para ketua sebaiknya tidur berdekatan,” ucapnya, membuat beberapa staf lain ikut mengangguk setuju.
“Yang satu untuk Nala... tepat di sebelahku. Untuk yang lain, bisa ambil sisi kanan atau kiri agar tetap terhubung. Sisanya silakan pilih yang tersedia,” lanjut Jeongin tanpa ragu.
Nala menoleh sekilas kepadanya, lalu mengangguk kecil.
“Iya. Praktis,” jawabnya.
Staf lain mulai menyebar setelah Jeongin selesai memberikan arahan, Sumin memilih tenda yang agak jauh, sementara Yoo-gi mengambil sisi yang lebih dekat dengan sungai. Yang lainnya mengikuti pilihan masing-masing tanpa banyak pertimbangan.
Semuanya tampak acak dan adil berdasarkan hasil permainan, padahal kenyataannya tidak sesederhana itu karena Jeongin tahu persis apa yang dilakukannya. Sejak memilih permainan tadi, ia sudah tahu timnya akan menang. Dan sejak saat itu pula, ia telah menentukan tenda mana yang akan dipilihnya termasuk siapa yang akan tidur tepat di sebelahnya.
Saat Nala masuk ke tendanya, ia berhenti sejenak untuk memeriksa keadaan di dalam. Ia memastikan ritsleting tertutup dengan baik, lalu menyalakan lampu kecil yang tergantung di salah satu sisi tenda. Cahaya redup segera memenuhi ruang sempit itu, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan udara malam di luar.
Jeongin masih berdiri di depan tenda.
“Kalau butuh apa-apa, aku ada di sebelah. Panggil saja, jangan ragu,” katanya dengan nada rendah.
“Terima kasih, Oppa. Selalu perhatian,” jawab Nala spontan.
Jeongin tersenyum kecil tetapi cukup untuk memperlihatkan kepuasan yang tidak sempat disadari Nala.
“Ini bagian dari tanggung jawab.”Ia mundur beberapa langkah sebelum akhirnya masuk ke tendanya sendiri.
Di dalam tenda, Nala duduk di atas kasur lipat lalu membuka jaket yang sejak tadi dikenakannya dan meletakkannya di samping. Napas panjang keluar perlahan, seolah baru sekarang tubuhnya menyadari betapa lelahnya hari itu.
Tubuhnya terasa letih begitu juga dengan pikirannya masih dipenuhi berbagai hal yang belum selesai, tetapi hatinya justru terasa tenang, yang kini ia anggap wajar. Ia tidak tahu bahwa ketenangan itu perlahan sedang menjadi sebuah ruang yang dibangun seseorang—pelan-pelan, tanpa suara, dan dengan kesabaran yang nyaris tidak terlihat.
Nala meraih ponselnya, saat terangkat layar menyala foto dirinya bersama Junho dan Jun-seok langsung menyambutnya. Senyum kecil muncul di wajahnya. Untuk beberapa detik, pandangannya tertahan pada foto itu sebelum akhirnya ia membuka layar pesan.
Tidak ada pesan dari Junho hanya beberapa pesan pekerjaan dari sejumlah orang yang jelas bukan prioritasnya malam itu. Nala menghela napas pelan lalu memilih membersihkan wajah terlebih dahulu sebelum berbaring. Setelah selesai, ia kembali mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan untuk Junho.
Pesan itu terkirim namun setelah beberapa saat Nala menunggu, tetap tidak ada balasan karena mungkin sudah terlalu malam dan Junho sudah tidur. Nala meletakkan ponselnya di samping bantal, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Matanya masih sesekali melirik layar ponsel yang tetap gelap, seolah berharap notifikasi tiba-tiba muncul.
Namun, tidak ada apa-apa hingga akhirnya rasa kantuk perlahan mengambil alih, kelopak matanya semakin berat hingga akhirnya tertutup. Malam pertama di perkemahan itu pun berlalu dalam keheningan, tanpa Nala menyadari bahwa seseorang di tenda sebelah masih terjaga lebih lama darinya.
Di tenda sebelah, Jeongin duduk diam lebih lama sebelum akhirnya mematikan lampu. Tatapannya tertuju pada dinding tipis tenda, seolah-olah ia bisa melihat apa yang ada di baliknya. Dari sisi lain, terdengar gerakan-gerakan kecil yang samar; suara ritsleting yang ditarik, langkah ringan, lalu keheningan ketika napas Nala perlahan menjadi lebih teratur.
Jeongin tidak tersenyum puas atau juga tidak terburu-buru, karena baginya, ini bukan kemenangan tetapi sebuah posisi. Bagaimana seseorang bisa menciptakan jarak yang cukup dekat tanpa terlihat sedang mendekat. Tentang berada di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, tanpa memberikan alasan bagi siapa pun untuk mencurigainya.
Dan malam pertama di camp itu akhirnya berakhir tanpa kejadian besar—tanpa sentuhan yang berlebihan, tanpa kata-kata yang melampaui batas.
Setidaknya, untuk malam itu.
☾ ── ❖ ── ☾
Pagi datang di Nanji Camp Ground tanpa tergesa, kabut tipis masih menggantung di udara ketika matahari mulai naik dari balik pepohonan. Cahaya pagi menyelinap di antara tenda-tenda, memantul lembut pada embun yang menempel di dedaunan. Suara Sungai Han terdengar dari kejauhan; konstan, seperti napas panjang yang tidak pernah berhenti.
Nala bangun lebih dulu namun tidak langsung berdiri, dia duduk di tepi kasur lipat dan menarik napas perlahan. Pundaknya terasa sedikit berat, sisa kelelahan dari hari-hari panjang yang belum benar-benar usai.
Nala meraih ponselnya pesannya kepada Junho masih belum dibaca. Mungkin karena masih terlalu pagi. Nala tahu, pada hari libur seperti ini, pria itu biasanya akan bangun lebih siang.
“Mungkin belum bangun,” ucapnya pelan.
Ia meraih jaket tipis, merapikan rambut sekadarnya, lalu keluar dari tenda.
Beberapa staf sudah terjaga ada yang menyiapkan kopi, sementara yang lain mengatur meja lipat untuk sarapan sederhana. Aroma roti panggang dan sup hangat perlahan memenuhi udara, berpadu dengan hawa pagi yang masih dingin.
Jeongin berdiri tidak jauh dari tenda utama, menggulung lengan kemeja kasualnya hingga siku. Saat melihat Nala, ia mengangguk kecil menyapa dalam diam.
“Pagi,” ucapnya.
“Pagi,” balas Nala sambil tersenyum tipis.
Mereka kemudian duduk di meja yang sama bersama beberapa staf lainnya. Percakapan ringan mengalir begitu saja; tentang udara pagi, kopi yang terlalu pahit, hingga jadwal diskusi yang akan dimulai setelah sarapan.
Pagi itu, setelah selesai mandi dan sarapan, diskusi dimulai setengah jam kemudian. Tenda utama ditata ulang. Whiteboard portabel dipasang, sementara tablet dan laptop mulai dibuka. Semua orang duduk melingkar—tidak ada hierarki yang kaku, tetapi arah diskusi tetap jelas.
Nala berdiri lebih dulu.
“Tujuan Creative Retreat ini bukan menghasilkan konsep final,” ucapnya tenang. Suaranya jernih, tetapi tidak mendominasi ruangan. “Tapi menyelaraskan arah kreatif. Kita ingin pulang dengan bahasa yang sama.”
Ia kemudian menjelaskan kerangka besar yang telah disiapkannya: pendekatan naratif lintas divisi, konsistensi tone visual, serta pentingnya memberikan ruang untuk bereksplorasi tanpa tekanan terhadap hasil akhir.
Beberapa orang mulai mencatat dan yang lain mengangguk pelan, sesekali bertukar pandang ketika menemukan poin yang mereka anggap menarik. Setelah presentasi Nala selesai, Jeongin mengambil giliran berbicara.
“Aku sepakat,” katanya dengan nada stabil. “Dan kalau kita bicara soal bahasa yang sama, aku rasa pendekatan Nala soal emotional continuity bisa menjadi fondasi.”
Ia tidak menambahkan gagasan baru tapi sebaliknya ia memilih memperluas ide Nala dengan tenang, menguraikan kemungkinan penerapannya tanpa menggeser arah yang telah disampaikan sebelumnya.
“Bukan berarti semua karya harus seragam, tetapi kita perlu memastikan emosi yang dibawa tidak saling meniadakan. Apa yang disampaikan tim visual harus sejalan dengan narasi,” lanjutnya.
Yu-ra mengangkat tangan.
“Jadi, semacam benang merah lintas departemen?” tanyanya.
“Persis. Dan itu sudah ada di kerangka yang Nala sampaikan,” jawab Jeongin tenang. Nala menoleh sebentar kepadanya tatapan mereka bertemu sesaat sebelum Nala mengangguk kecil.
“Terima kasih. Itu yang ingin aku maksud,” jawab Nala.
Diskusi terus mengalir kembali namun setiap kali Jeongin berbicara, posisinya selalu jelas—bukan sebagai pemilik ide, melainkan sebagai penopang. Ia menyusun ulang kalimat-kalimat Nala agar lebih mudah diterima, menjembatani pendapat staf lain tanpa membuat satu pun pihak merasa dibenturkan.
Beberapa kali Nala menyadari satu hal: setiap kali ada ide yang berpotensi melenceng dari arah pembahasan, Jeongin selalu menariknya kembali ke poros yang sama dengannya. Ia melakukannya begitu halus hingga tidak terasa seperti sedang mengarahkan.
Dan semua orang menganggapnya sebagai sinergi yang ideal.
Sarapan kedua dilakukan menjelang siang, sambil tetap diselingi diskusi santai. Nala berdiri untuk mengambil minuman namun saat kembali ke meja, ia tidak menyadari adanya sudut logam kecil yang menonjol di kaki meja lipat. Langkahnya sedikit meleset ketika rasa perih singkat menjalar di pergelangan tangannya.
“Ah...” serunya lirih.
Lukanya tidak parah, hanya goresan kecil, tetapi darah mulai muncul tipis di permukaan kulit. Jeongin berdiri lebih cepat daripada siapa pun.
“Diam dulu,” katanya refleks.
Ia segera meraih kotak P3K yang memang disiapkan di sisi tenda. Gerakannya cekatan dan terlatih, tanpa kepanikan yang tidak perlu, ia kemudian duduk berhadapan dengan Nala, tetap menjaga jarak yang sopan, sebelum membuka kotak tersebut dan mengambil perlengkapan untuk membersihkan lukanya.
“Hanya sedikit,” ujar Nala, mencoba menenangkan suasana.
“Luka kecil tetap luka,” jawab Jeongin datar, tetapi perhatiannya tetap tertuju pada tangan Nala.
Ia membersihkan goresan itu dengan kapas antiseptik gerakannya pelan dan hati-hati, tidak tergesa, juga tidak menyentuh lebih dari yang diperlukan. Namun, jarak mereka cukup dekat untuk membuat beberapa pasang mata sempat melirik bahkan Yu-ra bahkan tersenyum kecil melihatnya.
“Jeongin memang paling sigap urusan seperti ini,” ucapnya.
Jeongin tidak menanggapi karena fokusnya tetap pada tangan Nala.
“Dia bos yang perhatian pada karyawan,” timpal Sumin.
“Besok mungkin agak perih... tetapi aku jamin tidak apa-apa,” katanya sambil menempelkan plester tipis pada luka Nala.
Nala menatap plester itu sebentar, lalu mengangkat pandangan kepadanya.
“Terima kasih. Kau selalu siap,” ucapnya.
Jeongin hanya mengangkat bahu ringan.
“Kebiasaan kerja.” Ia kembali duduk dan memusatkan perhatiannya pada makanan. Staf lainnya pun kembali melakukan aktivitas masing-masing, seolah kejadian kecil tadi tidak lebih dari bagian biasa dari hari mereka.
Hari itu, semua orang menjalani rutinitas masing-masing; berdiskusi, menyiapkan beberapa konsep uji coba, mengevaluasi gagasan, dan sesekali hanya berbincang ringan untuk mencairkan suasana. Waktu berlalu tanpa terasa.
Hingga tanpa seorang pun menyadarinya, malam kembali datang tanpa permisi. Dan jauh di sana, gedung perkantoran KIM Holdings masih menyala ketika sebagian besar Seoul mulai meredup. Di lantai atas, ruang kerja Junho diterangi cahaya putih yang tegas tidak ada suara selain ketukan keyboard dan dengung pendingin ruangan yang konstan. Jam di dinding menunjukkan pukul 21.47.
Junho belum beranjak dari kursinya sejak sore, beberapa map terbuka di atas meja. Grafik, laporan keuangan, dan proposal strategis tersusun rapi untuk seseorang yang seharusnya sudah meninggalkan kantor sejak beberapa jam lalu. Ia membaca ulang dokumen yang sama untuk ketiga kalinya, bukan karena isinya sulit dipahami, melainkan karena pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.
Ponselnya tergeletak di sisi meja layarnya sempat menyala, lalu kembali gelap, di sana tidak ada pesan baru selain pesan Nala semalam yang hingga kini belum ia balas.
Junho menatap layar itu sekilas tatapannya bertahan sedikit lebih lama sebelum akhirnya ia memalingkan wajah. Ia menarik napas panjang, menggeser kursi, lalu berdiri. Langkahnya membawa tubuhnya menuju jendela besar yang menghadap kota. Dari ketinggian, lampu-lampu Gangnam berkilau seperti pola yang tidak pernah benar-benar tidur.
Biasanya, pada jam seperti ini, ia sudah dalam perjalanan pulang biasanya, ia sudah tahu apa yang terjadi di rumah. Namun, hari ini ia memilih untuk tetap tinggal setidaknya, itulah niat awalnya.
Junho kembali melirik ponselnya pesan Nala masih terdiam di layar, tanpa balasan darinya. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, tetapi ia memilih mengabaikannya. Ia pikir, satu malam di kantor tidak akan mengubah apa pun.
Sampai sebuah pikiran lain muncul begitu saja.
Jun-seok.
Putranya berada sendirian di rumah malam ini membuat Junho terdiam beberapa saat. Bayangan kecil Jun-seok yang mungkin sedang menunggunya membuat rasa bersalah perlahan mengalahkan keinginannya untuk tetap bersembunyi di balik pekerjaan.
Ia mengembuskan napas panjang, mengambil ponselnya dari meja, lalu meraih jas yang tersampir di sandaran kursi. Kali ini, ia tidak memberi dirinya kesempatan untuk berubah pikiran.
Junho bergegas pulang.
Beberapa waktu berlalu hingga akhirnya Junho sampai di penthouse-nya. Jun-seok sudah selesai makan malam. Ia melirik jam yang telah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Penthouse menyambutnya dengan keheningan yang tertata lampu ruang tamu menyala setengah redup. Tidak gelap, tetapi juga tidak terlalu terang seolah-olah tempat itu sedang menunggu seseorang yang baru saja pulang.
Junho meletakkan tas kerjanya perlahan lalu melepas sepatu tanpa suara, lalu melangkah masuk. Jun-seok duduk di meja kecil dekat jendela dengan buku pelajaran terbuka di hadapannya. Tablet di atas meja masih menyala, menampilkan guru les daring. Anak itu duduk tegak, punggungnya lurus, dengan alis sedikit berkerut—tanda bahwa ia sedang benar-benar berkonsentrasi.
Junho berhenti beberapa langkah dari tempat putranya duduk namun tidak memanggil. Hanya berdiri di sana cukup lama, memperhatikan bagaimana Jun-seok mencatat dengan rapi, sesekali mengangguk, lalu menjawab pertanyaan dari gurunya dengan suara pelan tetapi jelas.
Sesuatu di dada Junho mengendur namun perasaan itu hanya bertahan sesaat sebelum kembali menegang. Ia baru menyadari betapa larutnya malam ketika membayangkan Jun-seok harus melewati sebagian besar waktunya tanpa dirinya di rumah.
Junho akhirnya melangkah pergi menuju kamar tanpa suara. Ia mandi dengan cepat, mengganti pakaian, lalu kembali ke ruang tengah.
Saat itu, les Jun-seok sudah selesai, anak itu menoleh ketika melihat ayahnya.
“Daddy pulang?” tanyanya.
Junho mengangguk pelan.
“Iya. Kamu sudah selesai?” tanyanya, membuat Jun-seok kembali mengangguk.
“Iya. Mommy belum pulang,” ucap Jun-seok datar.
Bukan keluhan hanya sebuah fakta sederhana yang entah mengapa terasa cukup berat bagi Junho. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab.
“Iya. Mommy pulang besok malam.” Junho melirik jam di dinding, lalu tersenyum tipis. “Oh, ya. Ini sudah malam. Kita harus tidur.”
Ia mendekati putranya dan mengulurkan tangan.
“Mau tidur sama Daddy malam ini?”
Jun-seok langsung mengangguk cepat wajahnya yang sejak tadi serius perlahan tampak lebih cerah.
“Baca dongeng, ya, Daddy?” pintanya, membuat Junho mengangguk.
“Eum... Pergi bersiap dulu. Gosok gigi, cuci muka, cuci kaki, dan ganti pakaian. Setelah selesai, datang ke kamar Daddy, oke?” ucapnya.
Jun-seok kembali mengangguk, anak itu kemudian membereskan buku-bukunya sendiri dengan rapi sebelum naik ke lantai atas. Junho memilih kembali ke kamar utama ponselnya masih sunyi tidak ada pesan dari siapapun selain pekerjaan. Ia duduk di tepi ranjang, lalu menatap layar yang gelap cukup lama.
Entah mengapa, meski sudah tahu tidak ada pesan baru, tangannya tetap meraih ponsel itu, lalu membuka percakapannya dengan Nala dan memeriksa kembali pesan terakhir.
Nala hanya mengirim sebuah foto.
Namun setelah nya tidak ada pesan lain selain foto tersebut jempol Junho sempat berhenti di atas layar. Ia menatap foto tersebut beberapa detik, lalu membuka pilihan untuk melakukan panggilan.
Namun, sebelum jarinya sempat menekan tombol panggil, pintu kamar terbuka. Jun-seok muncul di ambang pintu dengan pakaian tidurnya, di tangannya ada boneka koala berukuran besar yang ia peluk sekaligus seret setengah mati karena ukurannya hampir menyamai tubuh kecilnya.
Junho segera mengurungkan niatnya ia kembali mengunci layar ponselnya, meletakkannya di atas ranjang, lalu berdiri.
“Daddy ke ruang kerja sebentar. Tunggu, ya,” ucapnya.
Junho melepaskan jam tangan dari pergelangan tangannya dan meletakkannya di atas meja samping ranjang sebelum melangkah menuju ruang kerja yang menyatu dengan kamar tersebut.
Jun-seok tidak bertanya apa-apa dia memilih naik ke atas ranjang, menarik selimut hingga menutupi kakinya, lalu duduk bersandar dengan tenang sambil memeluk erat boneka koalanya.
Sementara itu, Junho masuk ke ruang kerja, meninggalkan putranya seorang diri di atas ranjang. Untuk sementara, Jun-seok hanya menunggu tanpa tahu bahwa ayahnya sedang berusaha menyelesaikan sesuatu yang sejak tadi mengganjal pikirannya.