Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.
Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.
"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."
Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meja Makan yang Hangat
"Kamu sudah selesai, Sayang?" tanya Gabriel dengan suara lembut yang langsung menyapa indra pendengaran
Amara begitu ia melangkah masuk ke area ruang makan.
Amara menganggukkan kepalanya pelan.
Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian rumah yang nyaman tadi, ia memang langsung bergegas turun karena tidak ingin membuat Gabriel menunggu terlalu lama di bawah.
Gabriel, yang tadinya sedang duduk santai sambil membaca guliran berita di tabletnya, langsung meletakkan benda itu begitu melihat kehadiran istrinya.
Pria itu berdiri, lalu menarikkan kursi khusus untuk Amara dengan penuh perhatian.
"Duduklah," ucap Gabriel tersenyum hangat, menepuk pelan sandaran kursi kayu jati berbalut bantalan empuk tersebut.
Amara melangkah mendekat dengan ragu-ragu, lalu duduk perlahan. Ia menatap ke atas meja makan yang sudah dipenuhi oleh berbagai hidangan lezat—mulai dari roti panggang hangat, telur mata sapi setengah matang, hingga semangkuk sup ayam mengepul yang aromanya langsung menggugah selera.
"Bik Sum bilang, kamu tidak boleh telat sarapan setelah melelahkan diri tadi malam," kata Gabriel sambil mengambilkan sedikit sup ke dalam mangkuk kecil milik Amara.
Mendengar kata 'melelahkan diri' yang diucapkan dengan nada menggoda, pipi Amara seketika merona merah padam hingga ke lehernya.
Ia buru-buru menunduk, menyembunyikan wajah malunya di balik rambut panjangnya yang tergerai.
Gabriel terkekeh pelan melihat reaksi istrinya yang begitu mudah tersipu.
"Kenapa malu, Hm? Bukannya itu kenyataan?" lanjut Gabriel sengaja menggoda, menarik kursinya sendiri dan duduk tepat di samping Amara, memperpendek jarak di antara mereka.
Amara mencubit pelan ujung taplak meja, lalu meraih buku kecilnya untuk menulis balasan.
‘Kamu curang... sengaja menggodaku terus,’ tulis Amara cepat dengan goresan pensil yang bergetar, lalu memperlihatkannya pada Gabriel sambil mengerucutkan bibirnya.
Gabriel membaca tulisan itu, lalu tawanya semakin pecah—suara bariton yang terdengar begitu renyah dan bahagia, membuat Bik Sum yang sedang merapikan pantri di sudut ruangan ikut tersenyum tipis melihat keharmonisan majikan mereka.
"Bukannya curang, aku hanya jujur," balas Gabriel dengan mata berbinar lembut.
Pria itu menyingkirkan buku catatan Amara ke samping, lalu menyuapkan sepotong kecil roti yang telah diolesi selai ke dekat bibir istrinya.
"Sekarang, makanlah. Perutmu dari semalam kosong, dan aku tidak mau istriku jatuh sakit."
Amara tertegun menatap suapan di hadapannya. Keraguan sempat hinggap karena ia tidak biasa diperlakukan sebegitu istimewanya.
Namun, melihat sorot mata Gabriel yang penuh ketulusan dan desakan lembut di sana, ia perlahan membuka bibirnya dan menerima suapan itu.
"Bagaimana? Enak?" tanya Gabriel penuh antisipasi.
Amara menganggukkan kepalanya pelan, lalu tersenyum manis.
"Enak," ucapnya terbata, melatih suaranya agar terdengar lebih jelas di telinga sang suami.
Mendengar suara serak yang kian membaik itu, senyuman Gabriel semakin mengembang.
"Bagus. Makan yang banyak, setelah ini kita akan menghabiskan waktu bersama di taman belakang."
Amara menatap sang suami dengan sebelah alis terangkat, sorot matanya menyiratkan tanda tanya besar.
"Ada apa di taman belakang?" ucap Amara terbata, memaksa pita suaranya bekerja sekali lagi demi menanyakan kejutan yang disembunyikan pria itu.
Gabriel tersenyum misterius, meletakkan garpunya pelan di atas piring sebelum meraih serbet untuk menyeka bibirnya.
"Rahasia," jawab Gabriel singkat dengan nada menggoda.
Amara mengerucutkan bibirnya, sengaja memasang wajah kesal yang justru terlihat sangat menggemaskan di mata suaminya.
Ia meraih buku catatannya dengan gerakan cepat.
‘Kenapa harus rahasia? Kamu tidak sedang merencanakan sesuatu yang aneh-aneh kan?’ tulis Amara cepat, lalu menyodorkannya ke hadapan Gabriel sambil menyipitkan mata.
Gabriel membaca tulisan itu, lalu terkekeh renyah. Pria itu mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke telinga Amara.
"Mana mungkin aku merencanakan hal aneh pada istriku sendiri? Aku hanya menyiapkan sebuah kejutan kecil khusus untukmu," bisik Gabriel lembut.
Amara merona, pipinya kembali panas.
‘Kejutan apa? Coba beri tahu sedikit saja,’ tulisnya lagi dengan jemari yang sedikit gemetar karena penasaran.
"Kalau kuberi tahu sekarang, namanya bukan kejutan lagi, Sayang," balas Gabriel telak, mencubit hidung mancung Amara pelan. "Habiskan dulu sarapanmu, atau aku benar-benar akan menggendongmu ke sana dalam keadaan lapar."
Amara membelalakkan matanya, buru-buru menggeleng
kuat-kuat lalu kembali menyuap makanannya sendiri dengan cepat agar Gabriel tidak benar-benar menepati ancamannya.
Gabriel tertawa puas melihat kepatuhan instan istrinya.
"Anak pintar."
**
Setelah beberapa menit kemudian, piring di hadapan Amara sudah bersih. Ia meletakkan garpunya dengan rapi, lalu menoleh ke arah Gabriel yang sedari tadi menemaninya sambil menyesap kopi hitam.
"Sudah selesai?" tanya Gabriel dengan sebelah alis terangkat.
Amara menganggukkan kepalanya pelan, lalu menyambar buku catatannya.
‘Sudah. Aku sudah kenyang,’ tulisnya cepat.
Gabriel tersenyum puas, lalu meletakkan cangkirnya di atas meja. Pria itu berdiri dan mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Amara.
"Kalau begitu, waktunya kita melihat kejutannya," ucap Gabriel penuh antusias.
Amara menatap uluran tangan itu, lalu menyambutnya dengan ragu.
‘Kita mau ke sana sekarang?’ tulis Amara dengan tangan kirinya sebelum beranjak dari kursi.
"Tentu saja. Kenapa, masih takut?" goda Gabriel sambil melangkah menuntun istrinya meninggalkan ruang makan.
Amara menggeleng pelan, meski jantungnya berdegup lebih kencang karena penasaran.
"Tidak..." ucapnya terbata, berusaha melatih suaranya lagi.
Gabriel melirik sekilas dengan senyuman hangat di bibirnya.
"Bagus. Mari kita lihat apakah ratu kecilku akan menyukainya."
"Nanti aku akan memanggil Dokter untuk memeriksa pita suaramu, Sayang," ucap Gabriel lembut di tengah langkah mereka menuju pintu kaca besar yang mengarah ke taman belakang.
Amara langsung menghentikan langkahnya. Sontak, genggaman tangannya di telapak Gabriel melemah, dan kepalanya menggeleng cepat dengan raut wajah yang mendadak dipenuhi keraguan.
‘Tidak usah...’ tulis Amara terburu-buru di buku catatannya dengan goresan yang agak kacau. ‘Aku tidak papa. Suaraku pelan-pelan pasti akan kembali sendiri.’
Gabriel ikut berhenti, lalu berbalik sepenuhnya menghadap istrinya. Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata Amara yang menyiratkan kecemasan.
"Kenapa menolak, Hm?" tanya Gabriel dengan nada sabar, menangkup pipi Amara menggunakan sebelah tangannya. "Aku hanya ingin memastikan kondisimu benar-benar pulih. Tidak ada yang salah dengan berobat ke dokter."
Amara menggigit bibir bawahnya, lalu menulis lagi dengan jemari yang bergetar.
‘Aku takut... aku takut kalau dokter bilang pita suaraku rusak permanen dan aku tidak akan pernah bisa bicara normal lagi.’
Membaca tulisan itu, senyuman tipis terukir di bibir Gabriel. Pria itu menggeleng pelan, lalu menyelipkan beberapa helai rambut Amara ke belakang telinganya.
"Dengar, Amara," bisik Gabriel penuh penekanan dan keyakinan. "Apapun hasil dari pemeriksaan dokter nanti, itu tidak akan mengubah apapun. Aku mencintaimu apa adanya. Suaramu yang sekarang pun sudah terdengar sangat indah di telingaku."
Amara tertegun, menatap manik mata hitam Gabriel yang memancarkan ketulusan mutlak. Rasa takut di dadanya perlahan mencair, digantikan kehangatan yang luar biasa.
"Ga-briel..." panggil Amara pelan, mencoba melatih suaranya tanpa buku.
Gabriel tersenyum lebar, tampak begitu bangga setiap kali mendengar namanya disebut dari bibir istrinya.
"Ya, Sayang? Jadi, mau ya diperiksa dokter nanti?"
Amara terdiam sejenak, lalu perlahan-lahan menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Anak pintar," puji Gabriel lembut, lalu mengecup kening istrinya singkat sebelum kembali menarik tangan Amara. "Nah, sekarang giliranmu melihat kejutan di taman."