Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Ruang kerja Nadya di lantai empat puluh itu terasa jauh lebih luas dari yang seharusnya.
Di luar jendela kaca raksasa, kerlap-kerlip lampu ibu kota membentang bagai lautan bintang tiruan yang mati.
Namun, tidak ada satupun dari pemandangan megah itu yang mampu menghangatkan kesunyian di dalam ruangan.
Nadya duduk terpaku di balik meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni tua.
Jemarinya yang lentik menyentuh sebuah bingkai foto perak kecil—potret masa kecilnya di antara kedua orang tuanya yang tersenyum hangat, dunia yang terasa begitu sederhana dulu.
Tatapan matanya menerawang jauh, menembus bayangan dirinya sendiri pada pantulan kaca jendela.
Suara tawa sang ibu dan petuah sang ayah kembali bergema di kepalanya, menagih satu hal yang hingga detik ini belum mampu ia penuhi: sebuah pernikahan, dan kehadiran seorang cucu.
Nadya menghela napas panjang. Beban ekspektasi itu menumpuk di dadanya, terasa jauh lebih berat ketimbang setumpuk laporan keuangan perusahaan yang baru saja ia selesaikan.
Tok... tok... tok...
Ketukan pelan pada pintu merobek keheningan ruangan.
Belum sempat Nadya menjawab, pintu kayu berukir itu terbuka perlahan.
"Bu Nadya, Anda belum pulang?" Siska, sekretaris pribadinya, berdiri di ambang pintu dengan tas jinjing di tangan kirinya.
"Sekarang sudah jam sepuluh malam."
Nadya mengerjap, menarik kembali kesadarannya dari lamunan panjang.
Ia merapikan beberapa berkas di atas meja sebelum mendongak menatap Siska.
"Iya, Sis. Sebentar lagi. Kamu pulanglah duluan."
Siska menganggukkan kepalanya dengan senyum hormat.
"Baik, Bu. Jangan terlalu malam. Mari, Bu."
Langkah kaki Siska berangsur-angsur menjauh, meninggalkan Nadya sekali lagi dalam keheningan yang pekat, bersama bayang-bayang masa lalu dan kesendiriannya.
Nadya mengemas barang-barangnya dengan gerakan sigap.
Laptop kerjanya ia masukkan ke dalam tas kulit premium, disusul dengan beberapa berkas penting yang perlu ia tinjau esok hari.
Setelah mematikan lampu ruang kerja yang megah namun dingin itu, langkah kakinya berbunyi nyaring menembus lorong kantor yang telah sepi.
Ia melangkah masuk ke dalam lift khusus eksekutif.
Dinding lift yang memantulkan bayangan dirinya seolah menegaskan betapa sempurnanya hidup seorang Nadya di mata orang lain: cantik, mapan, dan memegang kendali atas sebuah perusahaan besar.
Namun, hanya ia yang tahu betapa hampa perasaannya saat ini.
Ding!
Pintu lift terbuka di area parkiran basemen. Tanpa membuang waktu, Nadya berjalan menuju sedan hitam kesayangannya.
Ia segera melajukan mobil tersebut membelah keheningan malam ibu kota.
Jalanan kota mulai lengang, membuat Nadya berani menekan pedal gas sedikit lebih dalam.
Namun, saat rute perjalanannya melintasi daerah pertengahan pasar tradisional yang masih lumayan ramai oleh pedagang malam, lalu lintas mendadak semrawut.
Jalanan menyempit, ditambah lagi pandangan Nadya yang sempat terdistraksi oleh tumpukan beban pikiran di kepalanya.
BRAKK!
Suara benturan keras menggelegar, memotong keheningan di dalam kabin mobilnya.
Jantung Nadya seolah berhenti berdetak seketika.
Mobilnya berguncang pelan setelah menyerempet sebuah sepeda motor yang tiba-tiba memotong dari sisi kiri.
Nadya mengerem mendadak, mencengkeram kemudi dengan jemari yang bergetar hebat.
Di luar, terlihat sebuah motor tergeletak miring di aspal, bersama pengendaranya yang jatuh terduduk.
Tanpa membuang waktu, Nadya melepaskan sabuk pengamalnya dan tergesa-gesa keluar dari mobil.
Jantungnya berdebar kencang saat melihat sesosok wanita terduduk di jalanan sambil meringis kesakitan.
"Maaf! Saya benar-benar tidak sengaja," ucap Nadya dengan wajah panik, panik menguasai dirinya sewaktu ia berlutut mendekati korban.
Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil terus memegang kakinya yang tampak perih dan lecet akibat tergores aspal.
Perlahan, ia mendongak untuk menatap wajah orang yang menabraknya.
Mata wanita itu membelalak seketika. "Nadya?"
Nadya membeku di tempatnya. Ia mengamati wajah wanita di hadapannya yang tampak lusuh dan letih, namun garis-garis wajah itu terasa sangat familier di ingatannya.
"S-Sarah?" bisik Nadya ragu.
Belum sempat Nadya mencerna situasi, Sarah langsung menyergap dan memeluk tubuh Nadya dengan erat.
Rasa sakit di kakinya seolah terlupakan sejenak oleh euforia pertemuan tak terduga itu.
"Nad! Bagaimana kabarmu?" tanya Sarah antusias, suaranya bergetar antara haru dan terkejut.
Saat dekapan itu terlepas, mata Sarah secara refleks tertuju pada sedan hitam mewah yang terparkir di belakang Nadya—mengkilap, gagah, dan memancarkan kemewahan yang tak pernah sanggup dicapai oleh orang biasa.
Tatapan mata Sarah tertahan di sana untuk beberapa detik, menyimpan binar kekaguman sekaligus rasa iri yang tersembunyi.
"Kabarku baik," jawab Nadya, menguraikan senyum tipis meski masih merasa bersalah.
Menyadari kondisi teman masa lalunya, Nadya cepat-cepat meraih lengan wanita itu.
"Ayo, aku bantu berdiri."
Nadya memapah Sarah dengan hati-hati menuju tepi jalan, memastikan wanita itu tidak menumpukan beban pada kakinya yang terluka.
Nadya menuntun Sarah untuk duduk di tepi trotoar yang agak sepi.
Ia bergegas mengambil sebotol air mineral dari dalam mobilnya, lalu menyerahkannya kepada Sarah dengan penuh rasa khawatir.
"Kamu kenapa ada di tengah jalan malam-malam begini, Sar?" tanya Nadya lembut sambil membukakan tutup botol tersebut.
Sarah menerima botol itu, meminumnya sedikit, lalu menunduk dalam.
Air matanya hampir menetes saat helaan napas berat keluar dari dadanya.
"Aku lelah, Nad," bisik Sarah, suaranya bergetar menahan emosi.
"Banyak orang meremehkan aku, kehidupan ini terasa mencekik."
Nadya menatap sahabat lamanya itu dengan iba. Penampilan Sarah sangat kontras dengannya—pakaian sederhana yang tampak lusuh dan raut wajah yang menyimpan kelelahan mendalam.
"Kamu, sudah menikah?" tanya Nadya perlahan, berusaha berhati-hati.
"Sudah," jawab Sarah singkat.
Ia menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
"Dia hanya lelaki sederhana yang bekerja sebagai penjahit pakaian."
Mendengar hal itu, pikiran Nadya langsung melayang pada kemungkinan buruk.
"Apakah dia KDRT?"
Sarah cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak," sanggah Sarah pelan. Ada sedikit penyesalan dalam nadanya, namun tertutupi oleh kekecewaan yang besar.
"Mas Armand lelaki yang baik, Nad. Sangat baik. Tapi, aku tidak mencintainya. Dia tidak bisa memberikan apa yang aku inginkan dalam hidup ini."
Sarah memiringkan kepalanya, menatap Nadya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Di antara sorot mata lelahnya, ada pendar kecemburuan yang coba ia sembunyikan.
"Bagaimana dengan kamu, Nad? Apakah kamu sudah menikah?" tanya Sarah pelan.
Nadya tersenyum tipis, sebuah senyuman canggung yang menutupi kehampaan di hatinya. Ia menggelengkan kepalanya perlahan.
"Belum, Sar. Aku terlalu sibuk bekerja sampai, ya, belum mendapatkan jodoh."
Sarah diam sejenak. Matanya kembali menyapu penampilan Nadya—pakaian elegan, perhiasan minimalis namun mahal, dan sedan mewah di belakang mereka.
Sebuah pemikiran liar dan nekat tiba-tiba melintas di kepala Sarah, dipicu oleh rasa frustrasi yang menumpuk sekian lama.
"Nad," panggil Sarah, suaranya mendadak berubah serius dan dingin.
"Aku akan memberikan suamiku padamu, asalkan kamu memberiku uang dua miliar rupiah."
Nadya membeku. Matanya membelalak tak percaya.
"APA?!" seru Nadya, nadanya meninggi karena terkejut.
Ia melangkah mundur setengah tindak, menatap Sarah seolah teman lamanya itu baru saja berubah menjadi orang asing.
"Jangan gila, Sarah! Kamu, menjual suamimu sendiri?!"
"Aku tidak gila, Nad!" potong Sarah cepat. Kedua tangannya meraih jemari Nadya, menggenggamnya erat dengan pandangan penuh desakan.
Air mata mulai menetes di pipinya, namun bukan karena sedih, melainkan keputusasaan.
"Aku sudah bosan dengan kemiskinan ini, Nad. Aku lelah hidup serba kekurangan! Aku mohon atau aku akan melaporkan mu ke kantor polisi karena sudah menabrakku.
"Sarah, hentikan kegilaan kamu!"
Sarah tertawa terbahak-bahak dan sudah tidak peduli.
Ia meminta Nadya untuk mengantarnya pulang ke rumah.
Nadya menghela napas panjang, berusaha meredam rasa terkejut yang masih bergolak di dadanya
Penawaran Sarah terlalu tidak masuk akal, tetapi melihat kondisi fisik dan emosional temannya itu,
Nadya memilih untuk tidak meneruskan perdebatan di pinggir jalan.
"Ayo, aku antar kamu pulang dulu," ucap Nadya tegas namun tenang.
Ia mengambil ponselnya dan menelepon staf operasional kantornya.
Dalam beberapa menit, Nadya mengatur agar anak buahnya datang mengambil dan mengurus sepeda motor Sarah yang sempat terjatuh.
Begitu masuk ke dalam kabin sedan mewah Nadya, Sarah tertegun.
Ia menyandarkan tubuhnya pada jok kulit yang empuk dan menghirup aroma wewangian mahal di dalam mobil.
Rasa nyaman yang serasa asing itu makin membulatkan tekad nekat di dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian, mobil Nadya berhenti di depan sebuah rumah sederhana di gang yang cukup sepi.
Dari teras rumah, seorang pria tampak sedang duduk. Menyadari ada mobil asing berhenti, pria itu—Armand—segera bangkit dari duduknya.
Raut wajah Armand mendadak panik ketika melihat istrinya keluar dari mobil sambil tertatih-tatih. Ia bergegas menghampiri.
"Kamu kenapa, Sarah?" tanya Armand cemas, langsung memegang kedua bahu istrinya dan meneliti luka lecet di kakinya.
Nadya ikut melangkah keluar dari mobil, merasa bertanggung jawab.
"Maaf, Mas. Tadi, saya tidak sengaja menyerempetnya di jalan." ucap Nadya.
Armand menatap Nadya sejenak dengan pandangan sopan meski tersirat kekhawatiran besar pada istrinya.
Namun, sebelum Armand sempat menanggapi permintaan maaf itu, Sarah menarik pelan lengan suaminya.
"Mas, ayo masuk. Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Sarah dingin, menatap lurus ke mata suaminya tanpa ada sedikit pun rasa bersalah.
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
makin penasaran ma kelanjutan ny
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
,,