Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan yang Tertunda
Berita tentang masuknya dana investasi sebesar lima ratus miliar rupiah ke rekening Wibowo Group mengguncang seluruh jajaran direksi. Dalam hitungan jam, peta kekuatan di dalam perusahaan berubah total. Pak Gunawan yang tadinya memegang kendali penuh kini terdesak ke sudut, sementara posisi Maya sebagai Direktur Utama semakin kokoh dan tak tergoyahkan.
Di dalam ruang kerja lantai atas yang luas, Maya berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke panorama gedung-gedung tinggi kota. Udara di dalam ruangan terasa begitu hening.
Di belakangnya, Arka sedang merapikan beberapa dokumen di atas meja kerja. Pria itu tampak santai, seolah badai besar yang baru saja mengguncang perusahaan sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Maya memutar tubuhnya perlahan, menatap Arka dengan pandangan mata yang sangat tajam. Rasa penasaran yang terpendam di dalam dadanya sudah mencapai batas maksimal.
"Arka," panggil Maya dengan suara pelan namun sangat tegas.
Arka menghentikan kegiatannya, mendongak menatap istrinya. "Ada apa, Maya?"
Maya melangkah mendekat, menghentikan langkahnya tepat satu meter di hadapan Arka. Ia menyilangkan tangan di dada, meneliti setiap lekuk wajah suaminya tanpa ada yang terlewat.
"Jangan gunakan alibi penambal ban, teman bengkel, atau korek api mainan lagi padaku,"
kata Maya dengan nada menuntut yang tak bisa dibantah. "Pencairan dana lima ratus miliar rupiah dari Bank Konsorsium Nusantara bukan sesuatu yang bisa diselesaikan hanya karena aksi tolong menolong di pinggir jalan."
Arka tidak langsung menjawab. Ia menatap balik mata kecokelatan Maya yang dipenuhi teka-teki.
"Aku serius, Arka," lanjut Maya, suaranya agak bergetar menahan gejolak emosi. "Siapa kamu sebenarnya? Kenapa setiap kali aku berada dalam kesulitan yang paling kritis, selalu ada kekuatan besar di belakangmu yang menyelesaikan segalanya dalam semalam?"
Arka menarik napas panjang. Keheningan merayap di antara mereka berdua selama beberapa detik. Untuk pertama kalinya, ekspresi polos di wajah Arka perlahan memudar, berganti dengan sorot mata yang teramat dalam dan penuh wibawa.
Pria itu melangkah maju satu titik, mengikis jarak di antara mereka.
"Maya," ucap Arka dengan suara beratnya yang tenang. "Ada banyak hal di dunia ini yang berjalan di luar dugaan kita. Kalau aku mengatakan bahwa aku memang memiliki hubungan khusus dengan pimpinan tertinggi Nusantara Group... apakah kamu akan mempercayaiku?"
Jantung Maya berdegup kencang mendengarkan kalimat tersebut. Matanya membelalak pelan. "Hubungan khusus? Maksudmu..."
Sebelum Arka sempat melanjutkan kalimatnya, pintu ruang kerja mendadak diketuk dengan kencang dari luar.
Tok! Tok! Tok!
Sekretaris Maya melangkah masuk dengan wajah pucat dan terburu-buru.
"Maaf mengganggu, Bu Maya!" panggil sekretaris itu panik. "Di bawah ada utusan khusus dari pengadilan kota bersama tim kepolisian! Mereka membawa surat penyitaan dan pemeriksaan darurat atas dugaan pelanggaran hukum pada proyek Wibowo Park yang diajukan oleh Paman Gunawan!"
Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah tegang kembali. Moment pengakuan yang hampir terucap dari bibir Arka terputus begitu saja.
Maya mengepalkan jemarinya rapat-rapat, memalingkan pandangannya dari Arka menuju pintu keluar. Pak Gunawan dan Rian rupanya masih belum menyerah dan menggunakan jalur hukum untuk menjatuhkannya.
Arka menyunggingkan senyum tipis di bibirnya saat melihat kepanikan di luar ruangan. Sorot mata tegas seorang penguasa kembali berkilat di dalam matanya.
"Sepertinya pembahasan kita harus ditunda sebentar, Istriku," ujar Arka lembut sambil menyentuh bahu Maya pelan. "Ayo kita turun dan temui para tamu yang ingin bermain-main dengan hukum itu."
itu.