Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.
Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.
Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.
Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Bayangan Livy.
Koridor lantai dua SMA Wijaya sore itu sudah sepi, namun bagi Galang, atmosfernya terasa jauh lebih menyesakkan daripada saat baru pertama kali tiba di sekolah. Penyebabnya berdiri tepat satu langkah di depannya.
Kiara mendadak muncul dari balik pilar, menghalangi jalan Galang dengan senyum lebar yang dipaksakan. Kedua tangannya terulur ke depan, menyodorkan sebuah kotak bekal berwarna merah muda menyala dengan pita besar di atasnya.
"Buat kamu, Lang. Saya bangun jam empat pagi sengaja demi bikinin ini. Kamu harus makan, titik!" seru Kiara tanpa basa-basi, suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian koridor.
Galang menghentikan langkahnya perlahan. Ia tidak meraih kotak itu. Sepasang matanya yang tajam dan dingin hanya menatap datar benda di tangan Kiara, lalu beralih ke wajah gadis itu.
Ada kilat obsesif yang sangat kentara di mata Kiara—sebuah binar yang tidak menyisakan ruang untuk penolakan.
"Saya nggak lapar," jawab Galang singkat, suaranya berat dan datar. Ia mencoba melangkah ke kanan untuk melewati Kiara.
Namun, Kiara bergerak lebih cepat. Ia menggeser tubuhnya secara agresif, kembali memblokade jalan Galang. "Nggak lapar atau sengaja mau nolak saya? Lang, saya sudah pelajarin semua menu kesukaan kamu dari temen-temen ekskul kamu. Saya bahkan tahu kamu nggak suka bawang bombay. Kurang niat apa lagi coba?" Kiara melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Galang bisa mencium wangi parfum vanila Kiara yang terlalu menyengat—sangat kontras dengan aroma familier yang biasanya ia hirup.
Galang refleks mundur satu langkah. Rasa risih menjalar cepat dari tengkuknya, memicu denyut kekesalan di pelipis.
Agresivitas Kiara terasa seperti jeruji besi yang mendadak runtuh mengurungnya. Gadis ini bertindak seolah-olah mereka memiliki hubungan khusus, seolah-olah Galang adalah properti yang berhak ia klaim secara sepihak.
"Minggir, Kiara. Saya mau ke kantin," kata Galang, kali ini dengan nada yang lebih tegas, menyiratkan peringatan.
Kiara justru tertawa kecil, tawa yang terdengar sedikit mengerikan di telinga Galang. "Saya nggak akan minggir sebelum kamu ambil ini. Saya capek ya, Lang, apa-apa barang yang saya kasih selalu dibuang. Saya cuma mau kamu hargai usaha saya!" Kiara menaikkan volume suaranya, matanya mulai berkaca-kaca—bukan karena sedih yang tulus, melainkan manifestasi dari ego yang terluka karena penolakan.
Melihat ledakan emosi Kiara yang menuntut dan intimidatif itu, sebuah sirkuit di otak Galang mendadak mengalami malfungsi. Pikirannya terlempar ke belakang, memutar memori yang belakangan ini mati-matian ia kubur.
' Aneh ' batin Galang secara tiba-tiba. 'Kenapa ingatan ini muncul sekarang?'
Wajah Kiara yang sedang merajuk agresif itu perlahan memudar di mata Galang, digantikan oleh bayangan Livy di otaknya.
Livy juga seorang cegil—gadis gila yang dulu mengejarnya tanpa lelah.
Namun, ingatan tentang Livy membawa rasa ngilu yang berbeda di dada Galang. Galang teringat bagaimana Livy dulu juga pernah membawakannya bekal untuknya. Berbeda dengan Kiara yang meledak-ledak menuntut validasi, Livy saat itu hanya meletakkan bekalnya di loker atau kolong meja belajar Galang secara sembunyi-sembunyi, lalu menatapnya dari kejauhan dengan mata berbinar cemas, takut membuat Galang tidak nyaman.
Galang ingat betul bagaimana ia dulu menyakiti Livy, menolak pemberian gadis itu dengan kasar hingga menyisakan luka mendalam di mata Livy. Livy adalah cegil tersakiti—gadis yang cintanya hancur berantakan karena kebebalan Galang, namun tetap menyimpan rasa sakitnya sendiri tanpa pernah memaksakan kehendak seperti yang Kiara lakukan saat ini.
Saat Kiara berteriak menuntut perhatian, Livy dulu justru memilih mundur teratur dengan hati yang patah ketika tahu Galang terganggu. Kontras itu menghantam kesadaran Galang dengan telak.
"Lang! Kamu dengerin saya nggak, sih?!" Bentakan Kiara membuyarkan lamunan Galang. Kiara tampak mulai kehilangan kesabaran, tangannya bergerak meraba celana abu-abu Galang dengan tatapan penuh gairah, di detik berikutnya. Tangan jahil Kiara hampir masuk untuk meraba bidang dada nya Galang di dalam seragam, Hanya saja Galang bergerak refleks menepis tangan gadis itu dengan kasar. Kotak bekal merah muda di tangan Kiara terlepas, jatuh terhempas ke lantai koridor dengan bunyi brak yang keras.
Tutupnya terbuka, menumpahkan isinya ke lantai abu-abu.
Suasana mendadak hening mencekam. Kiara tertegun, menatap makanannya yang berserakan, lalu menatap Galang dengan pandangan tidak percaya sekaligus marah.
Galang menatap hamparan makanan itu tanpa rasa bersalah. Di kepalanya, perbandingan itu makin menjadi-jadi. Livy tidak akan pernah bertindak sefrontal ini hingga membuat dirinya sendiri terlihat menyedihkan dan membuat orang lain terancam. Agresivitas Kiara terasa artifisial dan egois, sementara kegilaan Livy dulu... terasa murni, penuh luka, dan tulus.
"Saya nggak pernah minta kamu buat bangun jam empat pagi, Kiara," kata Galang, suaranya kini sedingin es, menusuk langsung ke ego Kiara yang tinggi. "Dan saya bukan cowok yang bisa kamu atur dan mainin kayak gini, brengsek!"
Galang bangkit dan melangkah melewati Kiara yang masih terpaku, mengabaikan napas gadis itu yang memburu menahan amarah. Saat berjalan menjauh menyusuri koridor, Galang merogoh saku celananya, menggenggam ponselnya yang mati. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada rasa sesal yang teramat sangat menyergap hatinya. Bukan karena ia baru saja menolak Kiara, melainkan karena ia sadar, ia merindukan kegilaan Livy—gadis yang kini sudah membencinya setengah mati.
......................
...****************...
To be continue,