Indonesia
NovelToon NovelToon
Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / CEO / Teen
Popularitas:259
Nilai: 5
Nama Author: lannn_019

Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.

Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.

Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.

Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.

Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari yang Berbeda

Zevanna membuka pintu mobilnya dan berjalan terburu-buru karena hampir terlambat. Dengan langkah lebar, ia menuju meja kerjanya sambil membawa sarapan sederhana.

Tisha yang melihatnya langsung menyapa dengan ledekan. "Lo baru kerja beberapa hari udah hampir telat aja, Zev."

Zevanna menoleh lemas. "Gue semalam tidur kemaleman."

"Ngapain aja lo sampai begadang?" tanya Tisha penasaran.

Zevanna terdiam sejenak. "Nggak apa-apa, kepo amat sih lo!"

"Oh, gue tahu! Pasti semalam begadang gara-gara nonton drachin, kan?" tebak Tisha tepat sasaran.

Zevanna akhirnya mengangguk. "Iya-iya. Udah ah, gue mau ke meja gue dulu."

Zevanna berjalan menuju mejanya. Tak lama kemudian, Elsa menghampirinya.

"Zevanna, tolong cetak formulir ini sama perbarui jadwal ya," panggil Elsa ramah.

"Iya, Mbak," jawab Zevanna mengangguk.

Elsa tersenyum lalu pergi, membuat Zevanna bernapas lega.

"Akhirnya dapet kerjaan normal. Capek banget dari kemarin ngurusin dokumen mulu, lama-lama gue bisa kena tipes kalau begini!" gumam Zevanna pelan.

Ia pun mulai fokus mengerjakan tugasnya: mencetak formulir dan memperbarui jadwal perusahaan.

Saat pekerjaan agak senggang, Tisha kembali menghampiri meja Zevanna.

"Zev."

"Hm?"

"Beli cemilan yuk!" ajak Tisha.

Zevanna mengangkat alisnya. "Sekarang? Emang boleh?"

"Boleh lah, kan udah masuk jam istirahat. Ayo!"

Zevanna mengangguk lalu berdiri. "Ayo deh."

Mereka berdua berjalan menuju area pantry dan duduk santai setelah membeli beberapa cemilan.

"Tis, kemarin gue kan anterin berkas ke lantai eksekutif. Terus gue ketemu sama dia!" cerita Zevanna menggebu-gebu.

"Dia siapa?" tanya Tisha bingung.

"Itu loh, si cowok lima miliar! Gue kalau liat muka dia rasanya gemes mau mukul. Sok iyee banget orangnya!" sewot Zevanna.

Tisha menahan senyum. "Lo sadar nggak sih, baru kerja beberapa hari tapi udah sering banget ketemu CEO?"

"Dih, itu juga bukan kemauan gue! Gue tuh nggak mau ketemu dia, tapi kayaknya dia mulu yang muncul di depan gue!" bela Zevanna tak terima.

Tisha tertawa kecil melihat ekspresi temannya.

"Nggak usah ketawa lo!" gerutu Zevanna.

"Sorry, habisnya lo lucu banget kalau lagi kesal," ucap Tisha masih terkekeh.

Zevanna mendengus. "Nggak ada yang lucu. Pokoknya dia itu nyebelin banget, mukanya lempeng kayak kanebo kering."

"Eh, jangan asal ngomong gitu. Nanti kalau ada yang denger gimana? Lo bisa kena masalah tau!" tegur Tisha mengingatkan.

"Biarin! Biar semua orang tahu kalau dia itu cowok paling nyebelin!" omel Zevanna.

Tisha hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Zevanna.

***

Sementara itu, di lantai sepuluh, suasana ruang kerja Ravenzo terasa begitu tenang.

Ravenzo duduk menatap layar laptopnya lalu menghela napas panjang. Di sana terpampang deretan jadwal rapat yang padat untuk hari ini.

Ia mengusap pelipisnya pelan. "Rapat jam sepuluh, meeting sama klien jam satu, terus sore ada evaluasi..." Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Capek juga."

Tok. Tok. Tok.

Ravenzo kembali menatap ke arah pintu. "Masuk."

Pintu terbuka dan Arvin masuk sambil membawa tablet di tangannya.

"Rav, ini jadwal lo hari ini."

Ravenzo menatap Arvin datar. "Gue baru aja liat."

Arvin mengangkat alisnya. "Terus kenapa muka lo kayak orang hilang semangat hidup gitu?"

"Karena jadwal gue padat," jawab Ravenzo tajam.

Arvin terkekeh. "Ya namanya juga CEO. Kalau mau santai, mending jadi karyawan biasa aja."

Ravenzo menghela napas. "Kalau gue jadi karyawan biasa, siapa yang ngurus perusahaan ini?"

"Ya jelas bukan gue," sahut Arvin santai sambil langsung duduk di kursi depan meja Ravenzo.

Ravenzo mengernyit. "Lo ngapain duduk?"

"Capek berdiri."

"Lo baru masuk."

"Makanya gue langsung duduk."

Ravenzo hanya menggeleng pelan melihat kelakuan temannya itu.

Arvin kemudian melirik layar laptop Ravenzo. "Ngomong-ngomong, acara perusahaan minggu depan tetap jadi, kan?"

Ravenzo mengangguk. "Iya."

"Lo datang?" tanya Arvin lagi.

Ravenzo terdiam sebentar. "Lihat nanti."

Arvin langsung menghela napas panjang. "Ravenzo..."

"Apa?"

"Lo itu CEO-nya. Kalau lo nggak dateng, acaranya bakal terasa hampa. Tau nggak?"

Ravenzo menatap Arvin dingin. "Berlebihan."

"Serius. Karyawan pasti pada nanyain kenapa lo nggak muncul."

Ravenzo akhirnya mengangguk kecil. "Iya, gue datang."

Arvin tersenyum puas. "Nah, gitu dong." Ia pun berdiri dari kursinya. "Berarti nama lo gue masukin ke daftar ya."

"Jangan bikin gue nyesel," tegas Ravenzo.

Arvin tertawa kecil. "Tenang aja. Paling lo cuma perlu duduk, senyum sedikit, terus pulang."

"Gue nggak bisa senyum."

Arvin makin tertawa. "Justru itu masalah utamanya! Lo susah banget buat senyum, sekalinya senyum juga tipis banget!"

Ravenzo menggeleng sambil kembali menatap laptopnya. "Keluar sana."

"Iya, iya. Galak banget sih." Arvin berjalan menuju pintu, namun sebelum keluar ia menoleh kembali. "Oh iya, Rav."

"Apa lagi?"

"Jangan lupa makan siang."

Ravenzo terdiam sejenak. "Lo sekarang gantiin posisi nyokap gue?"

Arvin terkekeh. "Bukan. Gue cuma nggak mau CEO kita tumbang gara-gara kebanyakan kerja."

"Keluar, Arvin."

Arvin tertawa lalu menghilang di balik pintu yang kembali tertutup rapat.

Ravenzo menghela napas pendek. Namun kali ini, sudut bibirnya terangkat sedikit.

***

"Semuanya denger ya! Minggu depan ada acara perusahaan, dan kalian semua wajib hadir!" seru Elsa mengumumkan ke seluruh ruangan.

"Baik, Mbak!" jawab para karyawan serempak.

Zevanna yang mendengar pengumuman itu langsung terlihat antusias.

"Tisha! Kita harus tampil kece nanti!" heboh Zevanna.

Tisha menatapnya heran. "Ya ampun, Zev. Ini acara kantor, bukan tempat audisi."

Zevanna mendengus. "Ya biarin, kan bebas mau pakai baju apa aja!"

"Hadeh, terserah lo deh!" pasrah Tisha.

Zevanna terkekeh pelan.

***

Di sebuah mansion mewah milik keluarga Pranaja.

Alika sedang bersantai bersama keluarganya di ruang tengah. Ia duduk di sofa sambil memainkan ponsel, sementara sang ibu, Vivi, menikmati secangkir teh tak jauh darinya.

"Alika."

Alika mendongak. "Iya, Ma?"

"Kamu masih ingat kan minggu depan ada acara perusahaan Verion Group?" tanya Vivi.

Alika mengangguk santai. "Ingat, Ma."

"Bagus. Mama mau kamu datang bareng keluarga."

Alika mengerutkan dahi. "Kenapa aku harus datang? Kan itu acara internal mereka."

Vivi tersenyum tipis. "Karena Ravenzo juga bakal datang."

Mendengar nama itu, Alika langsung meletakkan ponselnya. "Ravenzo bakal dateng?"

"Iya."

Raut wajah Alika berubah, ia tersenyum kecil. "Kalau gitu aku ikut."

Vivi terkekeh melihat perubahan sikap putrinya. "Tadi bilangnya nggak mau."

Alika mengangkat bahu. "Kalau ada Ravenzo, beda cerita dong."

Ayah Alika yang sejak tadi membaca koran akhirnya ikut angkat bicara. "Kamu jangan terlalu memaksakan diri buat dekat sama Ravenzo, Alika."

Alika menoleh heran. "Kenapa Papa omong gitu?"

"Papa cuma mengingatkan. Hubungan kalian memang sudah dibicarakan antar keluarga, tapi bukan berarti kamu bisa mengatur semua keputusan Ravenzo."

Senyum di wajah Alika perlahan memudar. "Aku tahu, Pa," jawabnya pelan sambil kembali meraih ponselnya. "Tapi aku sama Ravenzo kan udah lama kenal. Lagian sebentar lagi kita juga mau bertunangan."

Vivi mengangguk setuju. "Makanya Mama mau kamu tetap jaga hubungan baik sama keluarga Verion."

"Tenang aja, Ma. Aku tahu harus gimana," ucap Alika mantap.

Ia membuka galeri ponselnya dan menatap foto Ravenzo. Tatapannya berubah lembut. "Ravenzo..."

Vivi memperhatikan putrinya dari jauh. "Jangan sampai kamu terlalu berharap berlebihan, Alika."

Alika menoleh bingung. "Maksud Mama apa?"

Vivi hanya tersenyum misterius. "Sudahlah. Nanti kamu juga bakal tahu sendiri."

Meskipun tak paham maksud ibunya, Alika kembali memandangi layar ponselnya dengan penuh tekad. "Aku nggak akan biarin siapa pun mengganggu hubungan aku sama Ravenzo."

***

Saat jam makan siang, di sebuah kafe yang cukup ramai, Ravenzo duduk di meja dekat jendela sambil memeriksa ponselnya. Di hadapannya, gelas kopi yang ia pesan belum tersentuh sama sekali.

Tak lama kemudian, seorang wanita berjalan mendekati mejanya.

"Ravenzo."

Ravenzo mendongak. "Alika."

Alika tersenyum manis lalu menarik kursi di hadapannya. "Maaf ya, aku agak terlambat."

"Nggak masalah."

Alika duduk dan meletakkan tasnya di samping. "Aku kira kamu nggak bakal datang."

Ravenzo menyimpan ponselnya ke dalam saku. "Kenapa pikir gitu?"

"Soalnya kamu kelihatan sibuk banget akhir-akhir ini."

Ravenzo menghela napas pendek. "Memang lagi banyak pekerjaan."

Alika memperhatikan wajah pria di depannya. "Kamu kelihatan capek."

"Aku baik-baik aja."

"Kamu selalu jawab gitu," gumam Alika pelan.

Ravenzo memilih untuk diam. Pelayan kafe tak lama datang dan Alika memesan secangkir cokelat dingin.

Setelah pelayan pergi, Alika kembali membuka percakapan. "Oh iya, aku denger minggu depan ada acara perusahaan Verion Group."

Ravenzo mengangguk. "Iya."

"Kamu datang?"

"Datang."

Alika tersenyum senang. "Bagus deh, aku juga bakal datang."

Ravenzo mengangkat alisnya. "Kamu datang sebagai tamu keluarga, kan?"

"Iya, sekalian mau nemenin kamu di sana," sahut Alika cepat.

Ravenzo terdiam sejenak. "Acara itu acara perusahaan, bukan acara keluarga."

Alika sedikit mengerucutkan bibirnya. "Aku tahu..." Ia lalu tersenyum lagi. "Aku cuma mau nemenin kamu aja."

Ravenzo meraih cangkir kopinya. "Kita lihat nanti."

Senyum Alika memudar perlahan. "Kamu selalu bilang 'lihat nanti'."

Ravenzo menatapnya tenang. "Karena aku belum tahu persis bagaimana jalannya acara nanti."

Alika menghela napas kecil. "Ravenzo... kamu sadar nggak sih kalau hubungan kita ini udah dibicarakan sama keluarga besar?"

"Aku tahu."

"Terus reaksi kamu gimana?"

Ravenzo meletakkan cangkirnya kembali ke meja. "Ya nggak gimana-gimana."

Alika bungkam.

"Aku nggak mau kita terburu-buru cuma karena keluarga yang minta," lanjut Ravenzo dengan nada datar namun tegas.

Alika menatap Ravenzo lekat-lekat. "Tapi kamu juga nggak menolaknya, kan?"

Ravenzo tidak langsung menjawab. "Aku cuma mau semuanya berjalan secara alami."

Alika akhirnya tersenyum tipis. "Baiklah."

Pesanan coklat dingin tiba. Saat Alika meminum minumannya, Ravenzo kembali mengambil ponsel.

Namun sebelum menyalakannya, Ravenzo berucap pelan, "Jangan terlalu memikirkan soal pertunangan itu."

Alika menoleh. "Kenapa?"

"Karena kita masih punya banyak waktu."

Alika tersenyum tipis mendengarnya. "Kalau gitu aku pegang ucapan kamu."

Ravenzo hanya mengangguk pelan tanpa bersuara.

Beberapa saat kemudian, setelah menyelesaikan urusannya di luar, Ravenzo kembali ke Verion Group bersama Arvin untuk mengecek persiapan acara.

***

Bruk!

"Aduh, malah jatuh lagi..." ringis Zevanna saat beberapa perlengkapan administrasi yang dibawanya berserakan di lantai.

Ia buru-buru berjongkok untuk membereskannya. Tiba-tiba, sebuah tangan ikut membantu mengambilkan beberapa barang tersebut.

Zevanna mendongak dan seketika membeku.

Itu Ravenzo.

Zevanna langsung kaku di tempat. "Pak..."

Ravenzo menyerahkan barang-barang itu. "Lain kali hati-hati."

"I-iya, makasih Pak," jawab Zevanna gugup.

Ravenzo melirik kotak-kotak yang masih berada di lantai. "Ini mau dibawa ke mana?"

Zevanna menunjuk meja di ujung koridor. "Ke sana, Pak. Tadi Mbak Elsa minta tolong dipindahkan."

Ravenzo mengangguk kecil. "Kalau berat, jangan dibawa sekaligus."

Zevanna melirik barang di tangannya. "Iya sih... tadi saya kira kuat kalau dibawa semua."

Ravenzo tanpa ragu mengambil dua kotak berukuran sedang yang tersisa di lantai. "Yang ini saya bawakan."

Mata Zevanna langsung membelalak. "Eh? Nggak usah, Pak! Biar saya aja!"

"Kenapa?"

"Nanti malah merepotkan Bapak..."

Ravenzo menatap Zevanna datar. "Ini cuma dua kotak."

Zevanna bungkam. "Iya juga sih..."

Tanpa menunggu lagi, Ravenzo berjalan lebih dulu membawa kotak tersebut.

Zevanna yang sadar langsung mengejarnya. "Pak Ravenzo!"

Ravenzo berhenti dan menoleh. "Kenapa lagi?"

"Meja yang dituju bukan ke arah sana, Pak..." ujar Zevanna pelan.

Ravenzo terdiam. Ia melihat ke arah koridor yang baru saja dilaluinya. "...Oh."

Zevanna berusaha keras menahan tawa. "Pak CEO ternyata bisa nyasar juga?"

Ravenzo menatapnya tajam. "Jangan banyak bicara kamu."

Zevanna langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat, walau sudut bibirnya masih terangkat menahan tawa. "Iya, Pak."

Mereka akhirnya berjalan berdampingan menuju meja yang dimaksud. Sesampainya di sana, Ravenzo meletakkan dua kotak itu di atas meja.

"Sudah."

"Makasih banyak ya, Pak, udah dibantu," ucap Zevanna tulus.

Ravenzo hanya mengangguk dan hendak berbalik pergi. Namun Zevanna kembali memanggilnya.

"Pak!"

Ravenzo menghentikan langkah. "Apa lagi?"

Zevanna menunjuk salah satu kotak. "Itu... ada label 'Jangan Ditumpuk', Pak."

Ravenzo melihat kotak yang baru saja ditaruhnya tepat di atas kotak lain. Ia kembali terdiam.

Zevanna menatapnya polos.

Tanpa kata, Ravenzo mengambil kembali kotak itu lalu memindahkannya ke samping. "Yang ini?"

Zevanna mengangguk pelan. "Iya."

Ravenzo menghela napas pendek. "Baik." Setelah itu, ia melangkah pergi begitu saja.

Zevanna memperhatikan punggung sang CEO sambil terkekeh pelan. "CEO kok bisa nyasar sama salah taruh barang juga sih..." gumamnya lucu.

Tisha yang memperhatikan dari kejauhan langsung lari menghampiri Zevanna.

"Zev!"

"Apaan?"

"Tadi itu siapa?" tanya Tisha penasaran.

"Siapa apanya?"

"Yang bantuin lo tadi!"

Zevanna menyeringai. "Oh, si cowok lima miliar."

Tisha menahan tawa. "Kenapa masih dipanggil cowok lima miliar sih?"

"Biar gue selalu ingat kalau dia pernah minta ganti rugi lima miliar ke gue!" sahut Zevanna defensif.

Tisha menggeleng-gelengkan kepala. "Gue rasa yang belum bisa move on dari kejadian itu bukan dia deh, tapi lo."

Zevanna mengernyit. "Maksud lo apa?"

"Nggak ada apa-apa." Tisha ngacir pergi sambil tertawa pelan.

"Ih, apaan sih! Nggak jelas banget tuh anak," gerutu Zevanna.

***

Tak lama setelahnya, Zevanna merenggangkan tubuhnya. "Capek juga..."

Ia berdiri dari kursinya. "Ke toilet dulu deh."

Saat melewati koridor menuju toilet, ia berpapasan dengan seorang pria yang membawa perlengkapan kebersihan. Pria itu langsung menepi memberi jalan.

"Permisi, Mbak."

Zevanna ikut menepi. "Oh, iya. Permisi."

Baru beberapa langkah berjalan, terdengar suara barang jatuh dari arah belakang.

Bruk!

Zevanna menoleh dan melihat beberapa perlengkapan pria tadi berserakan.

"Eh, Mas, barangnya jatuh tuh," panggil Zevanna lalu ikut berjongkok membantu mengambilkannya.

Pria itu buru-buru memungut barangnya. "Iya, Mbak. Maaf ya."

"Nih, Mas," ucap Zevanna menyerahkan botol pembersih.

"Makasih banyak, Mbak."

Zevanna tak sengaja melihat tanda pengenal di seragam pria itu. "Mas Bisma, ya?"

Bisma kaget. "Kok Mbak tahu nama saya?"

Zevanna menunjuk dadanya. "Itu ada name tag-nya."

Bisma tertawa canggung sambil melihat name tag-nya sendiri. "Oh iya, saya sampai lupa, Mbak."

Zevanna tersenyum ramah. "Ya udah, saya ke toilet dulu ya, Mas."

"Iya, Mbak. Silakan."

Bisma mengangguk kecil, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

Selesai dari toilet, Zevanna melihat seorang pria berdiri di dekat meja Elsa sedang berbicara dengan beberapa staf.

"Eh, Tis, itu siapa?" tanya Zevanna berbisik pada Tisha yang ada di dekatnya.

"Itu Pak Henry," jawab Tisha.

"Pak Henry?"

"Iya, dia manajer di Verion Group. Lo belum pernah ketemu emang?"

Zevanna menggeleng. "Belum, baru ini lihat."

Merasa diperhatikan, Henry menoleh dan mendapati mereka berdua. "Zevanna?"

Zevanna terkejut. "Iya, Pak?"

Henry mendekat ramah. "Saya Henry."

Zevanna mengangguk sopan. "Saya Zevanna, Pak."

Henry tersenyum tipis. "Saya tahu. Kamu karyawan baru di bagian administrasi, kan? Saya sempat lihat data kamu beberapa hari lalu."

"Oh... begitu, Pak."

Henry melirik formulir di meja Elsa. "Acara perusahaan minggu depan sudah mulai dipersiapkan. Tolong dibantu ya kalau bagian administrasi dibutuhkan nanti."

"Baik, Pak!"

"Bagus. Kalau begitu silakan lanjutkan pekerjaannya."

Setelah Henry berlalu, Zevanna bergumam, "Manajernya ternyata masih muda juga ya."

"Iya, tapi jangan salah, dia cukup disegani di sini," timpal Tisha.

***

Menjelang jam pulang, Tisha kembali nimbrung di meja Zevanna.

"Zev, lo udah kepikiran mau pakai baju apa buat acara minggu depan?"

Zevanna berhenti mengetik. "Acaranya masih minggu depan, Tis. Kenapa udah mikirin baju aja?"

"Ya harus disiapin dari sekarang dong! Biar nggak bingung nanti."

Zevanna menyandarkan punggungnya. "Gue sih tinggal pakai baju yang ada di lemari aja."

Tisha melotot. "Serius lo?!"

"Serius lah. Yang penting bersih dan nyaman."

Tisha menghela napas pasrah. "Hadeh... selera fashion lo kadang suka bikin gue khawatir."

Zevanna spontan menatapnya tajam. "Maksud lo apa, hah?!"

Tisha tertawa gembira melihat kepanikan temannya. "Bercanda, elah!"

"Dih, rese!" gerutu Zevanna.

***

Di area ruang acara, Ravenzo turun dari lantai eksekutif bersama Arvin untuk mengecek persiapan.

"Udah berapa persen, Vin?" tanya Ravenzo melihat kesibukan para staf.

"Baru 70%, Rav," jawab Arvin.

Ravenzo mengernyit. "Kenapa baru 70%? Acaranya tinggal beberapa hari lagi."

Arvin mengibaskan tangannya santai. "Namanya juga acara besar, banyak detail yang harus diurus."

"Pastikan semuanya selesai tepat waktu," tegas Ravenzo.

Atensi Ravenzo kemudian teralih pada sosok Zevanna yang sedang kepayahan membawa sebuah kotak berukuran lumayan besar.

"Aduh... berat banget sih ini kotak..." keluh Zevanna sambil berhenti sejenak.

Ravenzo mendekat. "Kamu butuh bantuan?"

Zevanna terkejut. "Eh? Pak CEO?"

"Kenapa kaget?"

"E-nggak... kaget aja tiba-tiba Bapak muncul. Ini mau saya bawa ke meja registrasi."

"Kalau berat, minta bantuan yang lain."

Zevanna menyahut gengsi. "Saya masih kuat kok, Pak!"

Ravenzo memperhatikan gadis itu lekat-lekat. "Yakin?"

"Yakin banget!"

"Baiklah. Hati-hati."

Zevanna kembali melangkah. Namun baru tiga langkah, ia bergumam pelan, "Ngapain coba dia sok perhatian sama gue..."

Ravenzo yang berada tepat di belakangnya mendengar jelas ucapan itu. Tangannya bersedekap, dan tanpa sadar sudut bibirnya terangkat tipis.

Arvin yang melihat kejadian itu dari jauh langsung menghampiri Ravenzo dengan senyum jahil.

"Rav."

"Apa?"

"Lo barusan senyum ya?" tuduh Arvin menyeringai.

Ekspresi Ravenzo langsung kembali datar seketika. "Nggak."

"Gue liat sendiri tadi!"

"Perasaan lo aja. Kembali kerja sana."

Arvin tertawa puas lalu pergi meninggalkan CEO-nya itu.

Setelah pertemuannya dengan Ravenzo selesai, Alika kembali ke Verion Group untuk menemui panitia acara dan memastikan kedatangannya sebagai perwakilan keluarga Pranaja.

Alika muncul di area persiapan dan langsung menghampiri Ravenzo yang berdiri tak jauh dari Zevanna.

"Ravenzo!"

Ravenzo menoleh kaget. "Alika? Kamu ngapain di sini?"

"Aku mau ketemu kamu lah," jawab Alika tersenyum manis.

"Pulang. Aku lagi kerja."

"Aku tahu, makanya aku samperin ke kantor."

Ravenzo menatapnya dingin. "Kalau ada yang mau dibicarakan, nanti saja."

Pandangan Alika lalu tertuju pada Zevanna yang berdiri di dekat mereka. "Dia siapa?"

Zevanna yang merasa ditunjuk refleks menunjuk dirinya sendiri. "Saya?"

"Iya, kamu," sahut Alika menatapnya intens.

"Saya Zevanna, karyawan di sini," jawab Zevanna santai.

"Oh..." Alika manggut-manggut.

Zevanna yang merasa suasananya canggung langsung pamit. "Kalau gitu saya balik kerja dulu ya, Pak."

"Ya," balas Ravenzo singkat.

Sepeninggal Zevanna, Alika kembali bertanya, "Karyawan baru? Kamu kelihatan dekat sama dia."

Ravenzo menatap Alika tegas. “Dia cuma karyawan di sini.”

Alika menyipitkan mata. “Oh... cuma karyawan?”

“Iya. Kalau mau bicara, jangan di sini. Kita ke tempat lain," ajak Ravenzo dingin.

***

Setelah Alika pergi bersama Ravenzo, suasana kantor kembali seperti biasa.

Zevanna kembali ke meja kerjanya dan menyelesaikan pekerjaan yang masih tersisa.

Tisha yang duduk tidak jauh darinya tiba-tiba menghampiri.

"Zev."

Zevanna masih fokus pada layar komputer. "Apa lagi sih?"

"Tadi itu siapa?"

Zevanna berhenti mengetik. "Siapa?"

Tisha menunjuk ke arah pintu masuk. "Cewek yang tadi manggil pak CEO."

Zevanna mengangkat bahu. "Nggak tau. Kayaknya kenalannya."

"Kenalannya?"

"Iya."

Tisha menyipitkan mata. "Tapi kayaknya bukan kenalan biasa deh."

Zevanna menoleh. "Emang kenapa sih?"

"Nggak tau. Perasaan gue aja."

Zevanna terkekeh kecil. "Lo kebanyakan baca novel."

"Lah, emang lo nggak?" ujar Tisha.

Zevanna langsung terdiam. "Beda cerita, yeee."

Tisha tertawa. "Udah, mending kita beresin kerjaan. Sebentar lagi pulang."

Zevanna mengangguk. "Iya ini bentar lagi beres kok."

Beberapa saat kemudian, jam kerja berakhir.

Zevanna mematikan komputernya lalu merapikan meja.

Ia mengambil tas dan berjalan keluar bersama Tisha.

"Besok jangan telat lagi ya, Zev!" panggil Tisha saat mereka sampai di parkiran.

"Iya-iya, cerewet banget!"

Setelah berpisah dengan Tisha, Zevanna masuk ke dalam mobilnya. Ia menyandarkan kepalanya sejenak di kemudi.

Hari ini terasa berbeda.

Nggak ada kejadian aneh, nggak ada masalah besar. Cuma pekerjaan rutin, candaan Tisha, dan sedikit kekacauan kecil di kantor.

Zevanna tersenyum tipis. "Lumayan... Hari ini kepala gue nggak bikin pusing tujuh keliling."

Ia memutar kunci kontak dan melaju meninggalkan gedung Verion Group.

Sementara itu dari lantai eksekutif, Ravenzo berdiri di depan jendela kaca ruang kerjanya. Pikirannya masih dipenuhi berbagai hal yang terjadi hari itu, mulai dari percakapannya dengan Alika hingga kejadian kecil bersama Zevanna.

Ia menghela napas panjang sebelum kembali mengambil daftar tamu acara perusahaan yang tergeletak di atas meja.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!