"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."
Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.
Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.
Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Kebenaran di Kampus Sisil
Fandi menatap Annisa lurus-lurus dengan sepasang mata cokelat gelapnya. Ada binar rasa hormat dan kagum yang begitu pekat di mata pria berkuasa itu.
"Kamu bertindak dengan sangat cepat dan terukur, Annisa," puji Fandi tenang. "Tidak ada emosi berlebihan, tidak ada histeria. Kamu menyelesaikan semuanya dengan jalur hukum dan keunggulan posisi bisnis. Pak Yusuf pasti sangat bangga melihat kepemimpinanmu."
"Terima kasih, Mas Fandi," sahut Annisa tulus. "Semua ini juga berkat bantuan dan pengawasan investasi dari Prasetyo Group. Kehadiran Mas Fandi di Vantara Land sangat membantu menjaga kestabilan saham kami di tengah badai kasus ini."
Fandi meletakkan cangkir kopinya kembali ke atas piring tatakan. Ia menyandarkan tubuh tegapnya di sandaran sofa, menatap Annisa dengan tatapan pria dewasa yang bijaksana.
"Investasi dua ratus miliar yang saya tanamkan di Vantara Group bukan cuma soal angka di atas kertas, Annisa," ucap Fandi pelan namun penuh penekanan. "Saya percaya pada potensi dan kepemimpinanmu. Rian dan keluarganya adalah masa lalu yang kecil. Fokusmu sekarang adalah memimpin Vantara Land menuju proyek megapolitan di Jakarta Selatan."
Annisa mengangguk mantap. Kata-kata Fandi selalu berhasil memberikan rasa tenang dan kepercayaan diri yang baru baginya. Berbeda jauh dari Rian yang selalu merasa terancam jika Annisa tampak cerdas, Fandi justru menjadi sosok mentor dan mitra berkelas yang selalu mendukung posisi tertinggi Annisa.
"Saya mengerti, Mas Fandi. Soal proyek kawasan terpadu itu, tim saya sudah menyiapkan draf kerja sama terbarunya," kata Annisa seraya meraih dokumen berkas di mejanya.
"Bagus," sahut Fandi dengan senyuman tipis yang amat menawan. "Mari kita selesaikan rapat ini sebelum saya harus kembali ke kantor pusat sore nanti."
Di ruangan yang mewah dan bermartabat itu, Annisa Septiani melangkah makin jauh meninggalkan bayang-bayang kelam masa lalunya. Sementara di tempat lain, Rian dan Eriska harus meratapi nasib di balik jeruji besi, menyaksikan seluruh barang mewah pameran mereka kini berubah menjadi tumpukan kertas laporan pidana yang siap menyeret mereka ke dalam hukuman penjara bertahun-tahun.
***
Ruang kuliah berpendingin udara di lantai tiga gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Jakarta Selatan terasa dingin, namun pelipis Sisil dipenuhi bulir-bulir keringat dingin.
Gadis berusia dua puluh tahun itu duduk di deretan bangku paling belakang. Ia mengenakan kemeja katun polos berkerah tinggi dan celana jins sederhana—tanpa jam tangan bersepuh emas, tanpa perhiasan, dan tanpa tas kulit bermerek yang biasa ia pamerkan. Wajahnya yang biasa dipenuhi riasan tebal kini polos, pucat, dengan lingkaran hitam memudar di bawah matanya.
Sudah tiga hari Sisil membolos kuliah sejak peristiwa pengusiran dari rumah mewah Annisa. Namun pagi ini, ia terpaksa hadir karena ada jadwal ujian tengah semester yang tidak bisa disusulkan.
Sisil menundukkan kepala dalam-dalam, berpura-pura sibuk membaca buku catatan di atas meja. Namun, telinganya tak bisa mengisolasi bisik-bisik yang riuh menyeruak di seluruh ruangan.
"Eh, lihat deh ... Si Sisil pameran tas *branded* itu beneran datang," bisik Karin dengan suara agak ditinggikan, sengaja agar terdengar oleh beberapa mahasiswa di sekitarnya.
"Gila ya, gak punya malu banget," timpal Sheila dengan nada mencibir yang sangat menyengat. "Kemarin di grup Whatsapp kelas rame banget berita soal abangnya. Ternyata abangnya cuma Manager biasa yang korupsi duit kantor miliar-miliar demi membelikan selingkuhannya gelang berlian!"
"Iya! Udah gitu gaya hidup si Sisil selama ini ternyata hasil numpang di rumah istri abangnya!" sahut Karin lagi sambil tertawa sinis. "Istrinya itu anak tunggal pemilik Vantara Group! Kebayang gak sih, sekeluarga parasit begitu berani menghina dan menyuruh-nyuruh anak konglomerat kayak pembantu?!"
Tawa renyah bercampur ejekan langsung membahana di barisan depan. Beberapa mahasiswa lain menoleh ke arah Sisil dengan pandangan penuh rasa jijik, cemoohan, dan hinaan.
Hati Sisil bagaikan dirajam ratusan jarum tajam. Wajahnya membara, memerah padam hingga ke balik telinganya. Rasa malu yang amat sangat menjalar dari ujung kaki hingga ke kepala.
Orang-orang yang hari ini menertawakannya adalah teman-teman satu gengnya sendiri—orang-orang yang pekan lalu memuji-muji Sisil setinggi langit saat Sisil memamerkan gaya hidup mewahnya di restoran Italia. Kini, saat pilar kemewahan palsu itu runtuh, mereka adalah orang pertama yang meludahi harga dirinya.
Sisil meremas jemarinya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih.
*"Mbak Nisa ...,"* batin Sisil menjerit dengan tangis yang tertahan di tenggorokan. *Kenapa Mbak Nisa tega banget membiarkan berita ini menyebar di internet ...?*
Sebuah tautan artikel berita dari portal media nasional terkemuka memang telah menjadi viral di media sosial sejak kemarin sore. Artikel itu memuat foto Rian dan Eriska yang digiring petugas kepolisian dengan pergelangan tangan terborgol, lengkap dengan judul provokatif yang dibaca oleh jutaan netizen:
[VIRAL] Manager Anak Perusahaan Vantara Land Ditangkap Usai Gelapkan Uang 2,3 Miliar Demi Pelakor, Ternyata Numpang Hidup di Rumah Anaknya Bos Besar!
Dalam artikel tersebut, nama Sisil memang tidak disebutkan secara langsung. Namun, rincian cerita mengenai gaya hidup adik ipar yang suka menuntut uang jajan puluhan juta rupiah menggunakan kartu kredit sang istri sah terangkum sangat jelas. Teman-teman kampusnya yang jeli langsung menyambungkan titik-titik cerita tersebut dengan insiden kartu kredit Sisil yang ditolak di restoran Italia pekan lalu.
"Sisil!" tegur dosen pengawas dari depan kelas, menghentikan keriuhan sejenak. "Silakan simpan semua catatan. Lembar soal ujian akan dibagikan."
Sisil menarik napas panjang yang gemetaran, mencoba memfokuskan pikirannya pada lembar soal di hadapannya. Namun, bayangan tumpukan tagihan kontrakan, wajah ibunya yang sakit-sakitan di kamar sempit, dan ancaman hukuman penjara delapan tahun untuk Mas Rian terus membayangi benaknya.
Jemari Sisil yang memegang pulpen bergetar hebat. Dari lima soal uraian di lembar jawaban, tidak ada satu pun jawaban yang sanggup ia tulis dengan benar. Pikirannya benar-benar hancur.
Begitu bel tanda ujian usai berbunyi satu jam kemudian, Sisil langsung mengumpulkan kertas jawabannya yang setengah kosong dan tergesa-gesa menyambar tas kainnya. Ia ingin segera berlari keluar dari gedung kampus yang serasa menjadi neraka baginya.
Namun, baru saja Sisil melangkah keluar dari pintu kelas menuju koridor, Karin, Sheila, dan dua teman mahasiswa lainnya sudah berdiri menghadang jalannya.
Sisil menghentikan langkahnya, menundukkan kepala. "Misi ... aku mau lewat."
Karin melangkah mendekat, melipat kedua tangannya di depan dada dengan senyuman yang amat sinis. "Aduh, Sisil ... kok buru-buru banget sih? Biasanya habis ujian kamu ngajak kita makan mewah di mal pakai kartu kredit magic-mu itu?"
Wajah Sisil kian memerah. "Karin ... tolong jangan ganggu aku."
🥰🥰🥰🥰🥰
kini duduk di kursi pesakitan,,,ohhh Tuhan
seandainya engkau mengingatkan kala itu
mungkin tidak akan terjadi seperti ini ratapan rian hidayat 😮😮😭😭 sekarang Tuhan sedang berkehendak,,
demi adeknya sekarang mengemis menghiba,,,sapa yang perduli dengan dirimu Rini dan sisil ,,,bertahanlah seperti Anissa ketika menjadi menantu dirimu