Alina Putri Jayashree merupakan seorang anak perempuan yang berasal dari kota Bogor. Saat ini, ia berusia 23 tahun. Ia berhasil mencapai mimpinya untuk memiliki sebuah toko buku.
Bayu Rafardhan adalah seorang anak laki laki berusia 26 tahun ini sangat menyayangi keluarganya. Ayahnya bernama Lukman baru saja meninggal dan sekarang ia tinggal bersama Bunda yang bernama Indri di Jakarta. Sebelumnya, merantau di Bandung karena pekerjaan. Namun, ia memutuskan untuk resign dan mencari pekerjaan di Jakarta agar bisa menjaga dan merawat Bunda.
Siapa sangka, niat Bayu untuk bekerja di Jakarta membuatnya dekat dengan kembali dengan masa lalu tetapi dengan versi yang berbeda. Kisah cinta tak terduga pun terjadi tidak sesuai ekspektasi, inilah yang di alami Bayu dan Alina beserta para sahabatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega Harsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
"Papa!"
"Hallo, sayang!"
"Papa kemana aja sih, kok pulangnya sering malam terus?"
"Papa kan ada kerjaan"
"Ih, kasihan Bunda tahu pah. Kadang setiap malam Bunda memandang foto Papa terus"
"Oh, gitu" Jawab Bian tersenyum jahil, memandang Dara yaitu istrinya.
"Maira cuma anak - anak, Mas. Percaya aja kamu mah"
"Tapi aku tidak pernah meragukan kepercayaan anak aku"
"Ish, terserah kamu deh"
Fara yang melihat itu hanya tersenyum melihat keluarga temannya yang begitu harmonis. Luthfi menyapa Fara, ia menanyakan perilaku istrinya selama di rumah ketika ia belum pulang. Sontak Fara pun membelalakkan matanya karena kaget, ingin rasanya ia mengatakan kejadian semalam bahwa Sarina menangis tapi Fara mengurungkan niatnya. Fara hanya berkata, "tenang aja mas Luthfi, aman kok" Jawab Fara seraya tersenyum. Luthfi sangat senang karena ada Fara di rumahnya, karena hal itu membuat Sarina lebih ceria dan tidak kesepian, selama ia sedang bekerja. Luthfi tampak menikmati makanan yang di masak oleh Sarina. Fara sedang menyuapi Maira, Sarina mengambilkan sepiring makanan untuk Fara.
Sarina berkata, "mau aku suapin aja, Ra?"
"Dih, no, no, no...." Lalu, Fara dan Sarina pun tertawa. Sedangkan Luthfi hanya tersenyum tipis melihat kelakuan dua sahabat yang ada di hadapannya.
"Nggak apa - apa, aku nyuapin Maira sambil makan aja" kata Fara, yang masih menahan tawa. Sarina meminta maaf karena Maira selalu merepotkannya. Justru, Fara sama sekali tidak keberatan ia melakukan itu semua dengan senang hati. Maira bisa akrab dengan Fara itu wajar walaupun Fara dan Bundanya hanya sebatas teman bukan saudara, tetapi Fara sering berkunjung ke rumah Sarina sejak Maira masih bayi. Itulah mengapa, Maira begitu dekat dengan Fara.
Setelah selesai makan, Maira mengajak Luthfi untuk bermain. Sedangkan Sarina dan Fara sibuk membahas dan mengatur rencana mereka untuk berkumpul bersama para sahabatnya di Bandung Cafe. Fara mengabari Acha dan juga Alina dalam panggilan video, "Hai Bestie!" ujar Fara, Sarina juga ikut melambaikan tangannya ke arah kamera. "Hai, juga Bestie! Jawab Alina dan Fara secara serempak. "Wah, Sarina!" Kata Alina dengan senyum sumringah. Acha ikut heboh juga dengan segala macam pertanyaannya, "Bestie, di mana anak imut itu? Apakah dia masih tidur atau lagi quality time sama Papa nya? dan kamu Ra, kok nggak ngajak mau ke rumah Sarina?"
"Stop, Bestie tolong tenang dulu ya, aku jawab dulu nih satu - satu" kata Sarina.
"Anak aku udah bangun dan sekarang lagi main di kamar bersama Papanya. Fara ke rumah aku, karena aku yang telepon dia kemarin untuk nginep di sini"
"Yah, nggak ngabarin aku sama Alina, nih. Parah banget kamu."
"Maaf, aku kira kalian sedang sibuk. tapi sore ini masih ada kesempatan buat kita untuk ngumpul lagi. Yuk, kita ngumpul Bestie!"
"Setuju! Ujar Acha, sedangkan Alina mengangguk seraya membereskan pakaian yang baru ia bawa dari Bogor.
Fara mengatakan kepada sahabatnya untuk ngumpul di Bandung Cafe pada sore hari yaitu tepatnya pada pukul 4 sore. Alina cukup tegang ketika Fara akan memberitahukan mengenai waktunya karena ia juga sudah ada janji dengan Bayu. Ketika Panggilan video sudah berakhir, Fara pulang ke rumah untuk siap - siap. Acha mengajak Alina untuk pergi bersama, Alina bingung harus menjawab apa, karena Bayu juga akan menjemputnya. Alina mengatakan kepada Acha bahwa ia akan mengabarinya kembali. Lalu, Alina segera mengabari Bayu mengenai ajakan Alina, ternyata Bayu pun menyetujuinya. "Syukurlah, ternyata gampang juga membujuk dia" ucap Alina dengan lirih. Alina kembali mengabari Acha bahwa ia jadi berangkat bersamanya. "Alhamdulillah, masalah mengenai Bayu udah beres, perencanaan acara reuni bersama teman - teman Bayu dan para sahabatku juga udah. Sekarang, saatnya persiapkan outfit" kata Alina seraya membuka lemari pakaiannya. Alina memilih rok coklat, baju lengan pendek putih dipadukan dengan cardigan warna coklat serta kerudung senada. Untuk alas kaki yang biasanya adalah sepatu flat sekarang memakai sepatu putih biasa itu pun karena permintaan Bayu.
Beberapa menit kemudian
Alina beralih menuju dapur, ia akan membuat roti blueberry dan susu coklat. Pandangannya seketika melihat ke arah kotak makan dan tumbler dari Bayu. "Waduh, hampir saja aku tidak akan mengembalikannya" ucap Alina dengan lirih.
...----------------...
Bayu sedang asyik menonton berita di televisi, tanpa Bayu sadari Bunda sedang memperhatikannya. "Dia nonton tv atau apa sih, dari tadi kok pandangannya natap layar handphone terus" ucap Bunda dengan lirih, lalu dengan hati - hati Bunda mencoba mendekati Bayu dari arah belakang agar bisa tahu apa yang sedang Bayu perhatikan di handphone-nya. "Alina, tidak pakai hijab? Katanya belum kenal lama tapi kok sudah sampai punya fotonya kayak gini. Kalau Bayu suka harusnya tersenyum tapi mengapa ekspresinya kayak sedih gitu" ucap Bunda dengan lirih. Bunda mengejutkan anaknya itu "Hayoo, lagi lihat siapa itu?"
"Bunda!"
"Iya, kenapa?"
"Eh, itu Bun, kemarin Alina titip salam buat Bunda dan katanya terima kasih karena sudah buatin sarapan untuknya kemarin"
"Wa'alaikumussalam, iya sama sama. Kapan - kapan ajak Bunda ke rumah Alina ya."
"Oke, Bunda. Aku ke kamar ya Bun"
"Hey, kamu belum jawab pertanyaan Bunda!"
"Bukan siapa - siapa Bun" jawab Bayu seraya tersenyum lebar.
Bayu pergi ke kamarnya meninggalkan Bunda untuk menghindari berbagai pertanyaan. Sesampainya di kamar, Bayu berdiri di depan jendela yang terbuka ia menatap langit yang begitu cerah tetapi sangat berbeda jauh dengan suasana hatinya saat ini.
"Bayu!" panggil Kevin dari balik pintu. Bayu yang mendengar hal itu meminta Kevin untuk masuk.
"Ada apa, Vin?"
"Lo yang kenapa."
"Aman kok, gue baik - baik aja"
"Gue tahu Lo nggak kenapa - napa, yang gue tanyain itu perasaan Lo"
"Udah nggak usah dipikirin, lebih baik makan aja nih. Bunda banyak banget bikin kue, ada kue kering dan kue basah juga ada tinggal ambil aja" kata Bayu seraya menyuapi mulutnya dengan kue putri ayu.
...----------------...
"Vin"
"hmm" Jawab Kevin singkat, masih mengunyah makanan.
"Kalau gue perhatikan nih, Lo sama Ririn cocok tahu"
"Nggaklah, Bay. Ririn itu bukan tipe gue, lagian kita kan rekan kerja, kalau Lo ngerasa gue cocok Ama dia, itu hanya berdasarkan penilaian Lo aja. Karena gue sama dia rekan kerja jadi harus menumbuhkan kerja sama tim yang baik dan kompak itu aja"
"Halah, sekarang ngomong gitu, suatu hari nanti gue doain semoga jadi sah"
"Huft...."
"Vin"
"Apalagi?"
"Gue sebenarnya memang lagi bingung banget Vin"
"Apa nih, itu masa lalu belum kelar juga emangnya, Bay?"
"Kok tiba - tiba ngomong gitu, Vin?"
"Nanya aja, Bay"
"Nggak ngerti gue juga, mungkin ini masa lalu yang datang dengan versi yang berbeda"
"Dih, sok puitis. Kenapa sih nggak berhenti ngejar Alina, masih ada Lili dia juga sama imutnya, iya kan?"
"Ini bukan imut nggak imut, tapi tentang perasaan"
"Halah, tentang perasaan konon, lebih tepatnya gagal move on sih kata gue mah"
Bug!
Bayu melempar bantal dengan senyum sumringah karena di ejek oleh Kevin sedangkan Kevin hanya mendengus kesal.