Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.
Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.
Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.
Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Nilan
Sontak Nino dan Asep saling berpandangan. Keduanya cukup terkejut melihat foto-foto kebersamaan Nilan dengan seorang pria. Bukan hanya foto, tapi juga ada video yang hanya berdurasi beberapa detik. Namun cukup menggambarkan kemesraan mereka berdua.
Hal yang membuat dua petugas polisi tersebut terkejut, pria di dalam foto itu bukan Dadan, suami Nilan. Pria yang bersama Nilan adalah Rama.
“Apa kamu bisa melacak di mana posisi terakhir ponsel Nilan?”
“Terakhir kali ponsel Nilan terlacak di rumah Nilan.”
Kembali Nino dan Asep saling berpandangan. Berbagai spekulasi muncul di kepala mereka. Kemesraan Nilan dan Rama menunjukkan bahwa keduanya memiliki hubungan spesial.
“Bagaimana dengan akun Rama? Apa kamu menemukan sesuatu?”
“Di akun Rama, aku tidak menemukan apa pun. Sepertinya mereka menjalin hubungan secara rahasia.”
“Apa mungkin Nilan berselingkuh dengan Rama?” tanya Asep.
“Bisa jadi.”
“Terus cari bukti yang lain. Siapa tahu kita bisa menemukan pelaku secepatnya.”
Pradipta hanya mengangkat jempolnya saja. Dia kembali berkutat dengan laptopnya. Tidak memedulikan Nino dan Asep yang sudah keluar dari unitnya. Sejak diminta menyelidiki kasus pembunuhan Nilan, pria itu tampak bersemangat.
Pria itu merasa tertantang untuk menemukan bukti atau apa pun itu yang bisa menjerat pelaku kejahatan.
Hidup Pradipta menjadi lebih bergairah sejak mengenal Nino dan Asep. Meski sering mengeluh, tetap saja dia mengerjakan semua tugas dengan sungguh-sungguh.
Begitu meninggalkan Apartemen Grand Amarin, Nino dan Asep langsung kembali ke kediamannya. Tentu saja keduanya perlu menemui Nilan lebih dulu untuk mengonfirmasi hasil penemuan Pradipta.
Sesampainya di rumah, Nino langsung memanggil Nilan. Wanita itu diajak ke ruangan lain dan tidak ada yang boleh ikut mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Bagaimanapun juga ini menyangkut nama baik Nilan.
Walau sudah menjadi arwah, baik Nino maupun Asep masih berusaha menjaga marwah Nilan di hadapan arwah lain.
“Nilan, apa kamu bisa menjelaskan ini?”
Nino memperlihatkan foto-foto kebersamaan Nilan bersama Rama. Untuk sesaat Nilan hanya terdiam. Wanita itu terkejut Nino bisa memiliki foto dirinya bersama Rama. Diamnya Nilan membuat Nino dan Asep semakin yakin bahwa ada hubungan rahasia antara keduanya.
“Apa kamu berselingkuh dengan Rama?” tanya Asep.
Untuk beberapa saat Nilan masih terdiam sambil menundukkan kepalanya sebelum akhirnya dia mengangguk pelan. Mata wanita itu berkaca-kaca begitu mengingat kembali dosa besar yang sudah dia lakukan.
“Aku tahu ini berat untukmu, tapi kami harus tahu semuanya. Ini demi menemukan siapa pelaku yang sudah membunuhmu.”
Perlahan Nilan mengangkat kepalanya. Dipandanginya dua pria di hadapannya ini bergantian. Setelah keadaannya sedikit lebih tenang, barulah dia menceritakan kebersamaannya dengan Rama.
Kedekatan mereka dimulai sejak dua tahun lalu. Kala itu Nilan baru setahun bekerja di perusahaan. Nilan yang supel langsung mendapat banyak teman, salah satunya adalah Rama.
Sosok Rama yang ramah, supel, dan selalu membantu Nilan menyelesaikan pekerjaan, tak ayal menumbuhkan perasaan lain di hati wanita itu.
Perasaan Nilan pada Rama mulai berkembang bukan tanpa sebab. Saat itu rumah tangganya sedang tidak baik-baik saja.
Dadan baru saja diberhentikan dari tempat kerjanya. Bukan karena kinerjanya yang buruk, hanya saja hotel tempatnya bekerja terkena krisis dan harus menutup hotel.
Demi tetap memenuhi kebutuhan keluarganya, Dadan pun melamar pekerjaan di luar kota. Dia akhirnya diterima bekerja di salah satu hotel yang ada di Bali. Keduanya pun mulai menjalani hubungan jarak jauh.
Nilan yang sudah lelah bekerja, harus mengurus anaknya seorang diri. Tak jarang dia menitipkan anaknya kepada orang tuanya. Di saat lelahnya, tidak ada Dadan yang menemani dan menyemangatinya.
Wanita itu merasa kesepian. Apalagi Dadan jarang pulang. Selama setahun bekerja di Bali, Dadan hanya pulang dua kali.
Pada saat yang sama, Rama datang mendekat. Ternyata pria itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Bahkan pria itu terang-terangan menyatakan perasaannya. Nilan yang usianya juga masih muda dan dalam kondisi kesepian, akhirnya goyah juga.
Kehadiran Rama membuat hari-hari Nilan yang awalnya sepi, kembali hangat dan lebih berwarna. Namun keduanya menutup rapat hubungan mereka. Tidak ada satu pun rekan di kantornya yang mengetahui hubungan mereka berdua.
Bahkan Nilan sampai membeli ponsel baru. Ponsel yang nomornya hanya diketahui Rama. Dia juga membuat akun media sosial menggunakan nomor ponsel dan email baru.
Dengan menggunakan nama lain, Nilan kerap mengunggah kebersamaannya dengan Rama. Namun akun itu sengaja diprivat dan Nilan tidak berteman dengan siapa pun kecuali Rama.
Menjalin hubungan dengan Rama, membuat Nilan seakan kembali ke masa remajanya. Seumur hidupnya Nilan memang belum pernah berpacaran.
Pernikahannya dengan Dadan terjadi karena perjodohan. Namun keduanya menerima pernikahan dengan ikhlas dan perlahan rasa cinta tumbuh di antara keduanya.
Bersama Rama, Nilan bisa merasakan manisnya sebuah hubungan. Rama yang romantis, selalu tahu bagaimana menyenangkan hatinya. Dia juga selalu memberi pujian dan sering mengungkapkan rasa cintanya melalui kata-kata. Itu selalu bisa membuat hati Nilan menghangat.
Sikap Rama berbanding terbalik dengan Dadan yang terkesan cuek dan tidak banyak bicara. Dadan mengungkapkan rasa cintanya dengan menjaga kesetiaan dan bertanggung jawab pada keluarganya.
Perasaan Nilan pada Rama semakin lama semakin mendalam. Bahkan sempat terbersit dalam benaknya keinginan untuk bercerai dari Dadan. Namun belum sempat dia mewujudkan niatnya, sesuatu membuka matanya.
Suatu ketika Nilan jatuh sakit. Bahkan wanita itu sampai dirawat di rumah sakit. Mendengar itu Dadan bergegas kembali ke Bandung. Bahkan pria itu tidak jadi memperpanjang kontraknya di Bali. Kepulangan Dadan tentu saja mengejutkan Nilan.
“Akang nggak kembali ke Bali?” tanya Nilan yang melihat suaminya sudah lebih dari seminggu masih berada di Bandung. Biasanya Dadan hanya pulang empat hari saja.
“Akang nggak memperpanjang kerjaan di sana.”
“Kenapa?”
“Kalau kejadian kayak gini, kamu sakit, yang ngurus kamu siapa? Terus Bila sama siapa? Jadi lebih baik Akang berhenti. Tenang aja, Akang sudah cari pekerjaan lain. Minggu depan Akang ada wawancara di hotel lain, mudah-mudahan keterima.”
Dadan mencium lembut kening Nilan. Tanpa terasa air mata wanita itu jatuh berderai. Penyesalan seketika menghantamnya. Di saat suaminya bekerja mengais rupiah di kota lain, dia justru terlibat affair dengan teman kantornya sendiri.
Sejak saat itu Nilan memutuskan mengakhiri hubungan dengan Rama. Dia tidak mau melanjutkan hubungan yang ujungnya hanya akan menghancurkan pernikahan dan menyakiti suami yang begitu mencintainya.
Saat Nilan mengungkapkan keinginannya mengakhiri hubungan, Rama justru menolak. Pria itu tetap ingin mempertahankan hubungan mereka.
“Aku nggak mau putus. Aku mau hubungan kita tetap lanjut,” Rama bersikeras.
“Tolong jangan seperti ini, Rama. Kamu tahu kalau aku sudah menikah.”
“Ya, aku tahu! Tapi bukankah selama ini kamu enjoy saja menjalani hubungan kita? Kenapa sekarang tiba-tiba kamu ingin mengakhirinya?”
“Aku mencintai suamiku, Rama.”
“Bohong! Kalau kamu mencintai suamimu, kamu tidak mungkin berselingkuh denganku.”
“Aku akui, aku salah. Aku sudah bermain api dan sebelum api ini membesar, aku ingin mengakhirinya.”
“Aku mencintaimu, Nilan. Aku bahkan sudah berencana mengenalkanmu pada kedua orang tuaku. Aku ingin menikahimu!”
“Aku tidak bisa, Rama. Aku tidak mau menyakiti Kang Dadan dan anakku. Maafkan aku, Rama.”
Nilan bergegas meninggalkan Rama. Separuh hatinya memang masih dipenuhi oleh pria itu. Namun Nilan tidak mau terus tenggelam dalam cinta yang penuh dengan dosa.
Wanita itu sudah bertekad mengakhiri semuanya dan kembali menjadi istri Dadan yang setia hingga maut memisahkan.
Nilan membuktikan ucapannya. Dia selalu menjaga jarak dari Rama. Wanita itu selalu menolak jika Rama menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Namun Rama yang sudah terlanjur mencintai Nilan, masih belum bisa melepaskan perasaannya.
Nilan menghapus air matanya begitu menyelesaikan ceritanya.
“Apa suamimu tahu kamu berselingkuh dengan Rama?” tanya Nino.
“Tidak.”
“Apa suamimu tahu kamu memiliki ponsel lain?” kali ini Asep yang bertanya.
“Tidak.”
“Lalu, di mana kamu menyimpan ponselmu yang lain?”
***
Nilan😱