Indonesia
NovelToon NovelToon
Senja Untuk Cahaya

Senja Untuk Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romantis
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Robek di Waktu yang Salah

Festival Kreasi Kampus diadakan di lapangan tengah, dua minggu setelah insiden kotak kardus di bawah ranjang Cahaya, dan sejak pagi aku sudah tahu hari ini akan panjang.

Bukan karena acaranya buruk. Justru sebaliknya — panitia benar-benar niat tahun ini. Ada panggung utama untuk penampilan band mahasiswa, ada deretan stand UKM dari robotik sampai fotografi, ada booth makanan yang antriannya sudah mengular sejak jam sembilan pagi. Dan di sudut kanan lapangan, dekat gedung fakultas seni, ada satu area yang sejak minggu lalu sudah membuat Cahaya tidak bisa diam.

Area cosplay.

UKM Jejepangan kampus mengadakan sesi gathering dan lomba kecil-kecilan, hadiahnya tidak seberapa — voucher makan di kantin senilai seratus ribu rupiah — tapi antusiasme pesertanya jauh melebihi nilai hadiah itu sendiri. Dan entah kapan persisnya, mungkin di suatu titik antara aku menemukan kostum itu dan malam-malam berikutnya yang kami habiskan menonton ulang beberapa episode Stellar Requiem bersama untuk "riset lanjutan" (istilah Cahaya, bukan istilahku), Cahaya memutuskan bahwa ini saatnya.

"Kamu yakin?" tanyaku pagi itu, waktu kami jalan bareng ke kampus.

"Yakin apa?"

"Pakai kostumnya. Di depan orang banyak."

Cahaya melirikku sambil terus jalan, tas kostum tergantung di bahunya. "Kenapa? Kamu malu punya teman yang cosplay?"

"Bukan itu." Aku diam sebentar, mencari kalimat yang tepat. "Kamu bilang kamu enggak pernah pakai ini karena enggak nemu momen yang pas."

"Sekarang aku nemu."

"Kenapa sekarang?"

Ia tidak langsung jawab. Berjalan beberapa langkah lagi sebelum akhirnya bilang, dengan nada yang berusaha terdengar santai tapi enggak sepenuhnya berhasil, "Karena sekarang ada yang bakal ngerti kalau aku salah nyebut nama karakternya."

Aku enggak tahu harus bilang apa soal itu. Jadi aku diam saja, dan kami lanjut jalan ke kampus seperti biasa.

Di gerbang, Bimo sudah menunggu, duduk di tepi trotoar dengan HP di tangan. Ia berdiri begitu lihat kami datang, matanya langsung tertuju ke tas kostum yang dibawa Cahaya.

"Itu tas kostum?" tanyanya.

"Iya," jawab Cahaya, sedikit bangga. "Nanti aku pake buat lomba cosplay-nya."

"Karakter apa?"

"Kaito Amagi. Stellar Requiem."

Bimo mengangguk-angguk, meski dari raut wajahnya jelas dia enggak sepenuhnya tahu siapa itu. Ia melirikku, mencari konfirmasi.

"Anime yang aku tonton SMP," jelasku.

"Oh, yang itu." Bimo pura-pura paham, gestur yang cukup sering dia lakukan kalau topiknya soal anime. "Keren juga ya kalian bisa nyambung soal ginian."

"Bukan nyambung," kata Cahaya cepat, mungkin terlalu cepat. "Aku cuma... penasaran aja."

"Tiga bulan pengerjaan cuma karena penasaran?" tanyaku.

"Ren."

"Apa? Itu fakta."

Bimo menoleh ke arah kami berdua bergantian dengan ekspresi yang aku enggak sepenuhnya paham artinya, tapi dia enggak melanjutkan komentar apa pun soal itu. Kami bertiga jalan bareng masuk kampus, dan begitu sampai di lapangan tengah, suasana festival sudah mulai terasa — musik dari panggung utama yang masih soundcheck, bau makanan dari deretan booth, dan kerumunan mahasiswa yang jauh lebih ramai dari hari kuliah biasa.

"Aku ke tenda ganti dulu," kata Cahaya begitu sampai di dekat area cosplay. "Kalian tunggu sini aja atau muter-muter dulu juga enggak apa."

"Aku tunggu," jawabku.

"Aku ikut Bimo liat-liat stand dulu," kata Bimo, sebelum aku sempat protes bahwa dia baru saja bicara atas nama dirinya sendiri dalam orang ketiga tanpa sadar. "Nanti balik pas lomba mulai."

Cahaya menghilang ke balik terpal biru, dan aku berdiri menunggu di depannya, mengecek jam di HP setiap beberapa menit tanpa alasan yang jelas selain rasa gelisah yang tidak biasa.

Tenda ganti itu sendiri cuma terpal biru yang dibentangkan di antara dua tiang di belakang panggung kecil area cosplay, cukup untuk privasi minimal tapi cukup juga untuk bikin siapa pun yang menunggu di depannya jadi pusat perhatian orang lewat.

"Gimana?" Suara Cahaya dari dalam tenda.

"Gimana apanya?"

"Ren, aku enggak bisa keluar sebelum ada yang bilang ini enggak aneh."

"Kamu yang bikin kostumnya. Kamu paling tahu apa aneh atau enggak."

"Beda kalau kamu yang liat."

Aku tidak sepenuhnya paham maksud kalimat itu, tapi aku menunggu di depan tenda sambil memperhatikan area sekitar. Sudah ada belasan peserta lain, beberapa dengan kostum yang jelas hasil beli online, beberapa lagi terlihat buatan tangan dengan tingkat kerapian yang bervariasi.

Tirai tenda tersibak.

Aku sudah melihat kostum itu di dalam kotak dua minggu lalu. Tapi ada perbedaan antara melihat kain terlipat rapi di lantai kamar dan melihatnya dipakai, bergerak, jadi bagian dari orang yang aku kenal sejak kecil.

Jaket biru tua dengan bordir emas itu pas di badan Cahaya seolah memang dijahit khusus untuknya — yang, ya, memang benar begitu. Sarung tangan kecil, bandana dengan motif organisasi fiksi terikat di lengan atas, bukan di kepala. Rambut Cahaya yang biasa dikuncir sekarang dibiarkan lebih berantakan, disisir ke satu arah dengan gaya yang jelas butuh riset tersendiri.

"Kenapa diem?" Cahaya mulai kelihatan gelisah. "Aneh ya?"

"Enggak," jawabku, mungkin terlalu cepat. "Enggak aneh."

"Terus kenapa mukamu gitu?"

"Muka gimana?"

"Kayak abis liat hantu tapi hantunya cakep."

Aku tidak tahu harus jawab apa untuk kalimat seaneh itu, jadi aku memilih untuk tidak menjawabnya sama sekali. "Bros-nya," kataku, mengalihkan topik ke hal yang lebih aman. "Posisinya kebalik. Harusnya di dada kiri, bukan kanan."

Cahaya melihat ke bawah, panik sebentar, lalu buru-buru memindahkan bros itu. "Kenapa enggak dari tadi bilang."

"Aku baru sadar."

"Kamu 'baru sadar' banyak hal hari ini kayaknya."

Aku tidak membalas itu.

Lomba kecil dimulai jam satu siang, tapi sebelum itu ada sesi foto bebas selama dua jam yang, ternyata, jauh lebih ramai peminatnya daripada lomba itu sendiri.

"Kaito Amagi kan?" Seorang cowok dari jurusan Sastra Jepang, yang aku tahu namanya Randi karena dia satu kelas Bahasa Inggris denganku semester lalu, mendekat dengan mata berbinar. "Dari Stellar Requiem?"

"Iya!" Cahaya langsung semangat. "Kamu nonton juga?"

"Nonton dong. Underrated banget itu anime. Detail bros-nya akurat banget, itu bikin sendiri?"

"Bikin sendiri! Butuh tiga bulan."

"Gila. Boleh foto?"

Dan begitulah seterusnya. Setiap sepuluh menit, ada saja orang baru yang mengenali karakternya, memuji detail kostumnya, minta berpose. Aku berdiri agak jauh, memegang tas Cahaya yang berisi dompet dan HP-nya, menonton dari kejauhan sambil menahan diri untuk tidak ikut komentar soal keakuratan bros yang, teknisnya, aku yang pertama kali mengenali detail itu.

Tapi aku tidak bilang apa-apa soal itu ke siapa pun. Rasanya enggak penting untuk disebut.

"Ren!" Cahaya melambai dari kerumunan kecil di depan panggung. "Sini, foto bareng!"

"Aku enggak pakai kostum."

"Enggak apa-apa, jadi cameraman kek."

Aku berjalan mendekat, dan seseorang dari kerumunan itu menyodorkan kamera digital ke tanganku. "Bisa tolong fotoin? Kaito-nya keren banget soalnya."

Aku mengambil kamera itu. Cahaya berpose dengan tangan disilangkan di dada, dagu sedikit terangkat, ekspresi serius yang — aku harus akui dalam hati — cukup akurat dengan gestur karakter aslinya di poster season dua.

"Bagus?" tanyanya setelah aku ambil beberapa foto.

"Bagus."

"Cuma 'bagus'?"

"Sangat mirip dengan referensi aslinya."

"Itu... sebenarnya pujian gede dari kamu ya."

"Iya."

Cahaya tersenyum — bukan senyum untuk kamera, tapi senyum yang lebih kecil, yang biasanya cuma keluar kalau cuma ada kita berdua di tengah keramaian sekalipun.

Insiden itu terjadi jam satu lewat dua puluh menit, tepat sebelum lomba dimulai.

Panitia mengumumkan bahwa peserta lomba diminta berbaris di sisi kiri panggung, dan karena panggungnya cukup tinggi, beberapa peserta memilih naik lewat tangga kecil di sisi kanan.

Cahaya, karena alasan yang sampai sekarang aku masih tidak sepenuhnya paham, memilih untuk tidak lewat tangga.

"Kaito enggak pernah pakai tangga," katanya, waktu aku tanya kenapa dia malah berjalan ke sisi lain panggung, tempat ada susunan kursi lipat kosong yang bisa dipakai pijakan.

"Ini bukan adegan anime, Cahaya."

"Tapi kalau Kaito ada di sini, dia bakal manjat, bukan pakai tangga kayak orang biasa."

"Kaito adalah karakter fiksi dengan kemampuan atletik yang di-desain oleh penulis untuk keperluan naratif."

"Ren."

"Apa?"

"Diam dan foto aku."

Aku tidak sempat membalas apa pun sebelum Cahaya sudah naik ke atas kursi lipat, satu tangan berpegangan ke tepi panggung, satu kaki mengangkat untuk melompat naik dengan gaya yang jelas terinspirasi dari adegan Kaito melompati pagar gedung di episode tujuh.

Lompatannya sendiri sebenarnya cukup mulus.

Yang tidak mulus adalah bagian belakang jaketnya, yang entah bagaimana tersangkut di ujung besi kursi lipat yang menonjol keluar.

Suara robek itu tidak keras. Tapi cukup jelas untuk membuat Cahaya membeku di atas panggung dengan satu tangan masih terangkat setengah pose, ekspresi wajahnya berubah dari penuh percaya diri jadi horor dalam waktu kurang dari satu detik.

"Cahaya."

"Jangan bilang."

"Bagian belakang—"

"RENDY JANGAN BILANG."

Terlambat. Seseorang di dekat panggung, dengan niat baik tapi timing buruk, bilang, "Eh, robek tuh."

Cahaya turun dari panggung secepat mungkin, gerakannya jadi kaku dan aneh karena berusaha bergerak tanpa memutar badan ke belakang.

"Seberapa parah?" bisiknya begitu sampai di dekatku, membelakangi kerumunan.

Aku melihat. Robekan itu ada di bagian pinggang belakang, sekitar sepuluh sentimeter, tepat di jahitan yang menyatukan bagian jaket dengan detail bordir tambahan di bawahnya.

"Cukup panjang," jawabku jujur. "Tapi bukan di bagian yang keliatan kalau kamu berdiri normal."

"Berapa lama sampai lomba mulai?"

Aku melihat jam di HP. "Sepuluh menit."

Wajah Cahaya langsung pucat.

Kami berlari — secara harfiah berlari, dengan Cahaya menahan bagian belakang jaketnya dengan satu tangan — menuju tenda ganti di belakang panggung.

"Kamu punya jarum sama benang?" tanyaku begitu sampai.

"Enggak di sini. Ada di rumah."

"Kenapa enggak dibawa?"

"Karena aku enggak nyangka bakal ROBEK, Ren, ini kostum yang aku jahit sendiri, aku pikir udah kuat—"

"Oke, oke." Aku mengangkat tangan, isyarat supaya dia tenang, meski jujur saja aku sendiri sedang dalam mode yang sama sekali tidak tenang. "Kita cari yang punya alat jahit."

Aku sudah bergerak ke luar tenda sebelum dia selesai bicara.

Sepuluh detik pertama pencarian, aku bertanya ke dua panitia terdekat. Yang satu cuma menggeleng sambil terus sibuk mengatur kabel sound system, yang satu lagi malah balik nanya apa aku baik-baik saja karena mukaku, katanya, "kayak abis lari maraton."

Aku tidak sempat menjelaskan situasinya secara detail dan langsung lari ke stand berikutnya.

Stand UKM Fotografi punya banyak kabel dan lensa cadangan tapi nihil soal jarum. Stand UKM Musik punya senar gitar cadangan, yang secara teori bisa dipakai untuk sesuatu tapi jelas bukan untuk menjahit kain. Aku bahkan sempat berhenti di depan stand jual pernak-pernik, bertanya dengan napas terengah apakah mereka jual peniti sebagai solusi darurat, tapi yang mereka jual cuma gantungan kunci dan stiker.

"Peniti bisa jadi solusi sementara," kata salah satu penjaganya, mungkin kasihan melihat wajah panikku, "tapi enggak bakal nahan lama kalau dipakai gerak aktif."

Aku berterima kasih dan lanjut lari ke stand UKM Kerajinan Tangan. Mereka punya jarum dan benang, tapi warnanya cuma putih dan merah muda, sama sekali tidak cocok dengan biru tua jaket Cahaya.

"Enggak apa-apa, pinjem aja," kata cewek penjaga stand itu, mungkin melihat wajah panikku. "Mendingan robek ketauan daripada tambah lebar."

Aku hampir menerima itu sebelum ingatan tiba-tiba muncul — sesuatu yang aku lihat waktu lewat stand fotografi tadi pagi.

"Tunggu," kataku ke penjaga stand kerajinan, "makasih, tapi aku coba satu tempat lagi dulu."

Stand fotografi UKM ada di ujung deretan, dan salah satu anggotanya — cewek berkacamata namanya Tara, yang tadi pagi aku lihat memperbaiki tali tas kameranya yang putus — sedang menjaga meja penuh peralatan kamera dengan satu kotak kecil peralatan jahit di sudut meja.

"Tara!" Aku hampir tersandung kaki tripod. "Kamu masih ada jarum jahit?"

Tara mengangkat alis, agak kaget dengan kemunculan mendadakku. "Ada, kenapa?"

"Ada yang robek. Darurat. Butuh benang warna biru tua kalau ada."

Ia menggeledah kotak kecilnya, mengeluarkan gulungan benang berbagai warna yang diikat jadi satu. "Ini paling deket, navy. Cukup?"

Aku mengambilnya secepat mungkin. "Sangat cukup. Makasih banget, aku balikin abis ini."

"Santai aja, enggak perlu buru-bur—"

Aku sudah berlari kembali ke tenda sebelum Tara selesai bicara.

"Aku dapet."

Cahaya, yang sedang berdiri membelakangi tirai tenda dengan tangan masih menahan bagian belakang jaketnya, langsung berbalik dengan wajah penuh harap begitu mendengar suaraku. "Beneran?"

"Navy, bukan biru tua persis, tapi paling dekat yang bisa aku temukan dalam waktu lima menit."

"Ren, kamu penyelamat hidupku."

"Enam menit lagi lomba mulai."

Wajahnya kembali panik. "Kamu bisa jahit?"

Aku diam.

"Ren?"

"Aku tahu teorinya," jawabku, yang, jujur saja, adalah jawaban yang cukup meragukan kalau dipikir lebih jauh. "Aku pernah lihat tutorial."

"Tutorial YouTube?"

"Ya."

"Itu SAMA kayak yang aku pakai buat bikin kostum ini pertama kali."

"Berarti kualifikasinya setara."

Cahaya menatapku selama sekitar dua detik, ekspresinya berubah dari panik jadi sesuatu yang lebih sulit dijelaskan.

"Ya udah," katanya akhirnya. "Enggak ada pilihan lain. Cepetan."

Ia berbalik, memunggungiku, dan menarik bagian bawah jaket sedikit supaya robekannya lebih mudah dijangkau. Aku berlutut di belakangnya dengan jarum dan benang di tangan, mencoba mengingat urutan gerakan dari video yang pernah aku tonton entah kenapa muncul di rekomendasi suatu malam waktu aku insomnia.

"Kamu diem aja," kataku, mencoba terdengar lebih yakin dari yang sebenarnya aku rasakan.

"Aku diem, tapi cepetan, Ren, serius, lima menit lagi—"

"Aku butuh konsentrasi untuk ini."

"Konsentrasi sambil jalan dong—"

"Ini bukan multitasking, ini menjahit kain di badan orang yang bergerak-gerak."

"Aku enggak gerak—"

"Kamu barusan gerak."

"ITU KARENA KAMU BILANG AKU GERAK JADI AKU CEK APA AKU GERAK."

Aku menahan diri untuk tidak tertawa di tengah situasi yang sebenarnya cukup genting ini, dan mulai menusukkan jarum ke tepi robekan. Jahitan pertamaku jelas tidak rapi — terlalu longgar, jaraknya tidak konsisten — tapi setidaknya menyatukan.

"Ren, kamu yakin jarumnya masuk kain doang? Bukan kulit aku?"

"Aku bisa lihat, Cahaya. Ini kain."

"Aku cuma mastiin. Soalnya kerasa aneh."

"Kerasa aneh gimana? Ini enggak sampai nembus."

"Ya kerasa aja. Kayak digelitikin."

Aku berhenti sebentar. "Kamu mau aku terusin apa enggak?"

"Terusin! Aku cuma laporan doang."

Aku melanjutkan, mencoba fokus meski separuh perhatianku terpecah antara jahitan dan hitungan waktu yang terus berjalan di kepala.

"Ren."

"Hm?"

"Kalau ini enggak selesai tepat waktu, apa yang bakal kamu lakuin?"

"Kenapa nanya itu sekarang?"

"Buat ngalihin pikiran dari fakta bahwa waktu terus jalan."

"Kalau enggak selesai," jawabku, sambil terus menjahit, "kita bilang ke panitia kamu butuh lima menit lagi."

"Terus kalau enggak dikasih?"

"Kamu ikut lomba dengan robekan yang keliatan, dan kalau ada yang nanya, kamu bilang itu bagian dari konsep. Battle damage. Kaito abis lawan musuh."

Ada jeda sebentar sebelum Cahaya tertawa kecil, meski jelas ditahan supaya badannya enggak ikut bergerak. "Itu... sebenarnya enggak buruk sebagai alasan darurat."

"Aku serius menawarkan itu sebagai opsi B."

"Kamu selalu punya opsi B buat semuanya ya."

"Enggak semuanya. Tapi untuk ini, iya."

Cahaya diam sebentar, dan di keheningan itu aku bisa dengar suara pengumuman panitia dari luar tenda mulai memanggil nomor urut peserta satu per satu, semakin dekat ke urutan Cahaya.

"Tiga menit," katanya, suaranya mulai bergetar sedikit.

"Aku dengar."

"Ren serius, kalau ini enggak selesai aku bisa didiskualifikasi—"

"Cahaya."

"Apa?"

"Diam sebentar."

Untuk sekali ini, ia benar-benar diam. Dan dalam keheningan singkat itu — hanya suara jarum yang menembus kain, napas Cahaya yang masih agak tersengal karena lari tadi — ada sesuatu dalam momen ini yang terasa berbeda dari biasanya.

Aku sedang duduk berlutut di belakang Cahaya, cukup dekat untuk mencium samar aroma parfum yang biasa ia pakai, cukup dekat untuk melihat detail bordir yang ia kerjakan sendiri selama tiga bulan dari jarak yang paling dekat yang pernah aku punya. Tangannya sedikit gemetar.

"Ren," katanya, suaranya lebih pelan sekarang.

"Hm?"

"Makasih."

Aku tidak langsung jawab, fokus menyelesaikan tiga jahitan terakhir. "Belum selesai."

"Aku tau. Tapi tetep makasih."

"Untuk apa? Aku belum berhasil apa-apa."

"Untuk lari-lari nyariin benang. Untuk mau jahitin ini walaupun kamu jelas-jelas enggak yakin bisa. Untuk—" Ia berhenti sebentar. "Untuk enggak nanya kenapa aku maksa manjat kursi kayak orang bego."

"Aku memang mau nanya itu."

"Ren."

"Tapi aku memilih untuk tidak."

Aku menyelesaikan jahitan terakhir, mengikat ujung benang dengan simpul yang jauh dari rapi tapi setidaknya kuat. "Selesai," kataku, berdiri. "Coba gerak."

Cahaya bergerak — memutar badan, mengangkat tangan, bahkan mencoba pose setengah yang tadi ia lakukan di panggung. Jahitannya bertahan.

"BERHASIL." Ia berbalik dengan wajah penuh kelegaan yang hampir langsung berubah jadi terharu. "Ren, ini beneran nyambung, gila, aku enggak nyangka—"

"Panitia manggil kelompok lomba," potongku, mendengar pengumuman dari luar tenda. "Kamu harus ke sana sekarang."

"Ren."

"Apa?"

"Aku keliatan oke kan? Enggak keliatan abis kejadian tadi?"

Aku memperhatikannya sekali lagi. "Kamu keliatan seperti Kaito Amagi yang baru selesai kabur dari kejaran musuh di episode sepuluh."

Cahaya menatapku dengan ekspresi bingung sebentar sebelum akhirnya tertawa. "Itu... entah kenapa itu bikin aku lega."

"Karena itu memang analogi yang akurat."

"Ren. Makasih. Beneran." Ia menatapku sebentar, lebih lama dari yang diperlukan untuk sekadar ucapan terima kasih biasa. "Aku enggak tau harus ngapain kalau kamu enggak ada tadi."

Sebelum aku sempat membalas apa pun, panggilan panitia terdengar lagi, lebih dekat kali ini, dan Cahaya langsung berbalik dan berlari kecil ke arah panggung, meninggalkan aku berdiri sendirian di dalam tenda dengan jarum dan sisa benang navy masih di tangan.

Aku duduk di bangku dekat panggung sepanjang sisa lomba, menonton satu per satu peserta jalan bolak-balik di catwalk kecil yang cuma sepanjang delapan meter.

Waktu giliran Cahaya, ia berjalan dengan gerakan yang jauh lebih hati-hati dibanding sebelum insiden — langkahnya lebih pendek, punggungnya sedikit condong ke depan, tangan yang tadinya bebas bergerak sekarang lebih sering ada di dekat pinggang seolah siap menahan kalau-kalau jahitannya kembali lepas. Dari kejauhan mungkin enggak terlalu kentara. Tapi aku duduk cukup dekat untuk tahu persis kenapa gerakannya berubah, dan setiap kali dia melewati titik tengah catwalk tanpa insiden, aku baru sadar aku ikut menahan napas tanpa sengaja.

Waktu giliran Cahaya bicara ke mikrofon, ia menjelaskan soal Kaito Amagi, soal Stellar Requiem, dan — di luar dugaanku — soal alasan dia memilih karakter itu.

"Aku suka karakter ini," katanya, "karena dia enggak banyak ngomong, tapi caranya nunjukin peduli itu lewat tindakan kecil yang sering enggak disadari orang lain."

Ada tepuk tangan dari penonton. Aku tidak bertepuk tangan, cuma duduk diam menatap panggung, karena kalimat itu entah kenapa terasa seperti ditujukan ke tempat yang lebih spesifik daripada sekadar deskripsi karakter fiksi.

Cahaya tidak menang lomba itu — juara satu diambil peserta dengan kostum robot mekanik yang, aku akui, memang jauh lebih rumit secara teknis, lengkap dengan lampu LED kecil yang menyala di bagian dada. Tapi waktu MC mengumumkan juara favorit penonton, nama yang disebut adalah Cahaya.

Ia berjalan naik ke panggung untuk menerima sertifikat, dan begitu MC menyerahkan mikrofon lagi untuk ucapan singkat, hal pertama yang ia katakan bukan soal kostumnya, tapi, "Makasih juga buat yang bantu jahitin kostum ini pas robek tadi, walaupun jahitannya agak berantakan."

Beberapa orang di penonton tertawa. Aku tenggelam sedikit di bangku.

Sasa muncul di sebelahku sekitar setengah jam kemudian, membawa dua gelas es teh.

"Denger-denger tadi ada insiden robek," katanya, menyerahkan satu gelas ke aku.

"Dari mana kamu tau?"

"Kabar cepet nyebar di sini, Ren. Ada yang bilang kamu lari-lari kayak orang kesetanan nyariin jarum."

"Itu... akurat."

"Kamu yang jahitin?"

"Iya."

"Kamu bisa jahit?"

"Sekarang bisa."

Sasa menatapku dengan alis terangkat, lalu cuma bilang, "Oke," sebelum kembali fokus ke es tehnya.

Beberapa menit kemudian, Bimo datang membawa dua bungkus cimol, duduk di sisi lain Sasa.

"Ren, tadi pas lomba, gue liat lo panik banget lari-lari. Ada apaan sih?"

"Kostum Cahaya robek pas naik panggung."

"Terus?"

"Aku jahitin."

Bimo berhenti mengunyah. "Lo bisa jahit? Dari kapan lo belajar?"

"Dari tadi siang."

Bimo dan Sasa saling pandang sebentar.

"Apa," kataku, karena tatapan mereka mulai terasa enggak nyaman.

"Enggak," kata Sasa, cepat-cepat mengalihkan pandangan ke arah panggung. "Cuma mikir aja."

"Enggak penting," kata Bimo, tapi senyumnya bilang sebaliknya.

Malam itu, di rumah, aku menerima pesan dari Cahaya sekitar jam sembilan.

"Ren."

"Ya?"

"Aku udah coba benerin jahitannya yang lebih rapi. Pake teknik yang bener."

"Bagus."

"Tapi aku simpen benang navy sisa yang kamu pinjem tadi."

"Kenapa?"

"Enggak kenapa-kenapa. Cuma pengen simpen aja."

"Kamu simpen di mana?"

"Di kotak yang sama sama kostumnya. Biar kalo suatu saat robek lagi, langsung ada."

"Logis."

"Kan aku emang logis."

"Tadi manjat kursi buat foto bukan keputusan yang logis."

"Itu beda kasus. Pokoknya beda, Ren. Jangan didebat."

"Hari ini seru," pesan berikutnya masuk, "walaupun ada insiden robek yang bikin jantung aku copot."

"Terus," satu lagi menyusul setelah jeda beberapa detik, "makasih udah bantuin. Bukan cuma jahitannya. Tapi... semuanya. Dari awal nemuin kotaknya sampe sekarang."

Aku menatap pesan itu, memikirkan bagaimana harus membalasnya.

"Sama-sama. Lain kali jangan manjat kursi lagi."

"Enggak janji. Kalau Kaito manjat, aku manjat. Itu prinsip."

"Prinsip yang bakal bikin aku sering-sering lari nyariin jarum jahit."

"Kamu udah jago sekarang. Enggak masalah kan?"

Aku menatap pesan itu lama, lebih lama dari yang seharusnya diperlukan untuk kalimat sesederhana itu.

"Enggak masalah," balasku akhirnya.

Dan meski itu jawaban singkat, ada sesuatu di baliknya yang aku sendiri belum sepenuhnya mengerti — kenapa menghabiskan sore penuh kepanikan mencari jarum justru terasa seperti salah satu hari terbaik dalam beberapa minggu terakhir.

Aku meletakkan HP, menatap langit-langit kamar, dan memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu terlalu jauh malam ini.

Ada waktu untuk itu nanti. Mungkin.

1
Pena Quality
up, saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!