Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!
Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Kerah jubah sutra zamrud Song Ming dicengkeram kuat oleh tangan ayahnya sendiri.
Patriark Song Tianhe menyeret tubuh putranya melintasi anak tangga pualam tanpa memedulikan tiga tulang rusuk Song Ming yang masih dibalut perban obat tebal. Langkah kaki sang Patriark tergesa-gesa, diiringi napas memburu yang sarat ketakutan.
Begitu sampai di pelataran atas, Song Tianhe melempar tubuh putranya ke lantai batu.
BRUK!
Song Ming tersungkur ke depan. Telapak tangannya mendarat di atas genangan cairan merah kental yang masih mengepulkan hawa hangat di atas ubin kapur.
Bau anyir darah yang sangat menyengat seketika menusuk hidung sang Tuan Muda.
Song Ming mengangkat wajahnya yang pucat. Hanya berjarak sejengkal dari hidungnya, tergeletak jasad tanpa kepala Tetua Luar He dengan leher yang compang-camping dan serpihan tulang putih berserakan di sekelilingnya.
Isi perut Song Ming seketika bergolak hebat.
“Ugh… Huek!”
Song Ming tersedak ludahnya sendiri, merayap mundur dengan kedua tangan gemetar tak terkendali. Seluruh darah di wajahnya terasa surut ke dasar kaki.
Orang yang tadi pagi memberinya botol racun Rumput Pengurai Meridian kini telah berubah menjadi bangkai tanpa kepala di depan matanya.
Sebelum Song Ming sempat menenangkan napasnya, sebuah bayangan abu-abu tua melangkah maju menutupi cahaya matahari.
Ujung sepatu kain Song Pojun menginjak genangan darah di samping kepala Song Ming.
Sang Leluhur menunduk. Sepasang mata tuanya yang memerah menatap cicit kandungnya seolah sedang memandang seekor kecoak pengganggu yang merayap di atas meja makan.
Lengan kanan Song Pojun terangkat perlahan.
Ujung jari telunjuk orang tua itu berhenti tepat satu ruas jari di depan kening Song Ming. Dari ujung kuku sang Leluhur, seberkas hawa pedang tak kasat mata berdesing halus, menebarkan hawa dingin mematikan yang membekukan butiran keringat di dahi sang Tuan Muda.
“Ming’er,” desis Song Pojun dengan nada rendah yang bergetar. “Apakah kau yang menyuruh anjing gemuk ini memasukkan racun ke cawan teh Adik Gu?”
Pertanyaan itu terdengar begitu pelan, namun getaran tenaga dalamnya membuat gendang telinga Song Ming berdenging perih.
Song Tianhe melangkah maju setengah langkah, lalu menghantam punggung putranya dengan satu tendangan keras.
PLAK!
“Bicara, anak durhaka!” bentak Song Tianhe dengan mata berkaca-kaca menahan panik. “Jawab Kakek Leluhurmu dengan jujur sebelum kepalamu ikut menyusul bangkai di sampingmu itu!”
Dahi Song Ming membentur lantai pualam dengan bunyi debuman keras. Rasa sakit di rusuk dadanya terkalahkan oleh teror kematian yang mencekik tenggorokannya.
Air mata dan ingus mengucur deras membasahi pipi sang Tuan Muda, bercampur dengan noda darah pualam di lantai.
“K-Kakek Buyut! Ampun!” jerit Song Ming dengan suara parau melengking, bersujud mencium ubin batu berkali-kali. “Cicit ini salah… cicit ini buta dan bodoh! Hamba bersumpah demi langit dan bumi, hamba tidak akan pernah berani lagi menyentuh makanan atau minuman Tuan Muda Gu!”
Dahi Song Ming terus menghantam lantai tanpa henti hingga kulit keningnya pecah berdarah.
“Cicit ini bersumpah… jika hamba berani mendekati sepiring nasi atau secawan air Tuan Muda Gu dengan niat jahat, biarkan petir langit menyambar jiwa hamba sampai musnah!”
Tangisan histeris sang Tuan Muda bergema di seluruh pelataran Puncak Utama. Belasan tetua inti yang berdiri berbaris hanya bisa menundukkan kepala, tak ada satu pun yang berani membela putra Patriark tersebut.
Song Pojun menatap cicitnya selama beberapa tarikan napas panjang.
Hawa pedang di ujung jarinya perlahan memudar, namun tatapannya tetap sedingin gletser abadi.
“Mulai hari ini,” ucap Song Pojun dengan suara menggelegar yang memantul di dinding-dinding tebing, “Song Ming resmi dicopot dari seluruh hak istimewa murid inti sekte.”
Song Ming menghentikan sujudnya, mengangkat wajahnya yang berlumur darah dan debu dengan napas tersengal.
“Kau akan dipindahkan ke serambi Paviliun Awan Mengambang,” lanjut sang Leluhur dengan dingin. “Tugasmu sekarang adalah menjadi Pencicip Makanan Resmi Tuan Muda Gu.”
Leluhur tua itu menatap seluruh tetua inti dengan mata tajam.
“Setiap mangkuk bubur, sepotong daging, dan secawan teh yang hendak ditelan oleh Adik Gu, wajib masuk ke dalam perut Song Ming terlebih dahulu lima belas menit sebelumnya,” perintah sang Leluhur tanpa kompromi. “Jika Song Ming tidak mati keracunan setelah seperempat jam, barulah makanan itu boleh disajikan ke meja Adik Gu.”
Seluruh tetua inti menelan ludah dengan tenggorokan tercekat. Hukuman ini jauh lebih menyiksa daripada dikurung di gua pertapaan es.
Song Pojun kembali menatap Song Ming yang masih duduk berlutut lemas.
“Dan jika sehelai rambut Adik Gu rontok karena racun yang lolos dari mulutmu,” bisik Song Pojun pelan tepat di telinga cicitnya, “aku sendiri yang akan menguliti tubuhmu hidup-hidup.”
Song Ming gemetar hebat hingga rahangnya bergemeletuk tak terkendali.
“H-hamba… menerima titah Kakek Buyut…” bisik Song Ming dengan sisa tenaga yang tersisa, lalu jatuh pingsan mencium genangan darah di lantai pualam.
Sementara itu, di lantai dua Paviliun Awan Mengambang.
Gu Ran berdiri santai di dekat pagar balkon kayu gaharu. Angin sejuk siang hari membelai rambut putihnya yang mulai tersisir rapi.
Di tangannya, sebuah mangkuk porselen kecil berisi butiran anggur es segar tersaji manis. Gu Ran memasukkan sebutir anggur dingin ke dalam mulutnya, mengunyahnya perlahan sambil menatap ke arah pelataran aula di kejauhan tempat puluhan murid sedang membersihkan ceceran darah.
Rasa manis asam buah anggur terasa menyegarkan di lidahnya.
Gu Ran melirik ke sudut pandangannya. Sebuah jendela antarmuka transparan kelabu berpendar tenang di depan matanya:
[Poin Penebusan Karma Saat Ini: 500 Poin.]
[Katalog Toko Sistem Tingkat 1: Terbuka.]
Sudut bibir Gu Ran terangkat tipis dalam senyuman samar yang nyaris tak terlihat.
“Tuan Muda yang jadi pencicip racun…” gumam Gu Ran santai sambil menelan biji anggur. “Sekarang tinggal membereskan meridian rapuh ini.”