Indonesia
NovelToon NovelToon
Batas Obsesi Cegil

Batas Obsesi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Teen School/College / Romantis
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.

Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.

Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.

Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Orang Tua & Teman Kecil Livy 16.

Deru mesin mobil yang berhenti di depan pagar besi hitam itu seketika memecah keheningan malam di kediaman Adhitama.

Olivia Renata Adhitama menghentikan gerakan jemarinya di atas layar ponsel ketika baru saja memblokir nomor baru Lingga yang mengirim pesan hampir ada sepuluh kalinya.

Di samping sofa yang diduduki Livy, ada anjing Golden Retriever bulu keemasan miliknya, anjing itu langsung menegakkan telinga dan mengeluarkan geraman rendah yang defensif.

"Livy! Papa sama Mama sudah sampai!" seru Bi Sumi dari arah dapur dengan suara gemetar penuh semangat.

Livy bangkit perlahan. Perasaannya campur aduk antara rindu yang membuncah dan kecanggungan yang mendadak mencekik leher. Sudah dua setengah tahun orang tuanya menetap di Tokyo untuk mengurus ekspansi bisnis properti, meninggalkan Livy yang memilih tetap di Jakarta demi menyelesaikan SMA-nya.

Dua setengah tahun, Livy hanya bertukar sapa lewat layar datar lima inci.

Saat pintu utama terbuka, aroma parfum mahal khas Mamanya langsung menyeruak, disusul suara tawa renyah yang amat familiar.

"Livy, sayang! Ya ampun, kamu sudah tinggi sekali!" Anggita langsung menghambur memeluk Livy, menenggelamkan putrinya dalam dekapan hangat yang sedikit asing karena lapisan mantel wol tebalnya. Baskoro, papahnya menyusul di belakang, menepuk bahu Livy dengan binar mata bangga yang tak bisa disembunyikan. "Papa pulang sayang"

Livy mendadak menangis hebat gak mau melepas pelukan mama, entah ini senang orang tuanya pulang atau luapan hatinya yang masih terasa tercabik-cabik.

"Sayang jangan nangis ah, malu tau dilihatin orang"

'Orang?' Batin Livy seraya menyeka air mata yang baru saja membasahi pipinya.

Namun, perhatian Livy mendadak teralih ke arah ambang pintu. Di balik tubuh Papanya, berdiri sepasang suami istri paruh baya yang berpenampilan elegan, ditemani seorang remaja laki-laki bertubuh jangkung.

Remaja itu mengenakan jaket denim longgar. Wajahnya yang dulu bulat dan kekanak-kanakan kini telah berganti dengan garis rahang yang tegas dan tatapan mata yang dingin sekaligus waspada.

"Rayhan?" bisik Livy hampir tak terdengar.

Rayhan Setiawan, teman masa kecilnya Livy. Sahabat yang dulu menangis bersama Livy saat lutut mereka terluka karena jatuh dari sepeda, kini berdiri dua langkah di depannya sebagai orang asing yang tampak enggan berada di sana. Tatapan mereka bertemu selama beberapa detik, mengirimkan desiran aneh di dada Livy—sebuah kombinasi antara nostalgia dan jarak yang terbentang luas akibat waktu.

Woof! Woof!

Milo tiba-tiba merangsek maju. Gonggongan kerasnya menggema di langit-langit ruang tamu yang tinggi.

"Aaaaa! Pergi! Jauhkan dia!" Teriak Rayhan, wibawa nya mendadak hilang karena trauma sama anjing, Livy mendadak ingat saat Rayhan kecil menolongnya dari kejaran Anjing, dia melindungi Livy yang berakhir kulit kakinya terkoyak akibat gigitan anjing.

Suara bariton yang sedari tadi diam itu mendadak pecah menjadi lengkingan panik. Dalam sekejap mata, Rayhan melompat ke atas sofa ruang tamu tanpa memedulikan sopan santun di depan orang tua mereka. Wajahnya pucat pasi seputih kertas. Kedua tangannya gemetar hebat, mencengkeram sandaran sofa seolah benda itu adalah satu-satunya pelampung di tengah badai.

"Milo, stay! Milo, no!" Livy panik. Ia segera menarik kalung leher Milo dan menahannya dengan sekuat tenaga.

Milo masih mencoba mengendus-endus ke arah sofa, ekornya bergoyang cepat antara penasaran dan gemas, sementara Rayhan semakin memundurkan tubuhnya hingga terpojok ke dinding sofa. Napas Rayhan memburu cepat, matanya terpejam rapat dengan keringat dingin yang mulai bercucuran di pelipisnya. Ketakutan itu nyata, sangat nyata, hingga membuat atmosfer ruangan yang tadinya hangat berubah menjadi tegang.

"Ya ampun, Rayhan! Tante lupa kalau kamu masih trauma sama anjing," seru Mama Livy merasa bersalah, sementara orang tua Rayhan hanya bisa menghela napas panjang, tampak terbiasa sekaligus malu dengan reaksi ekstrem putra mereka.

"Livy, bawa Milo ke belakang dulu, Sayang. Cepat," perintah Papa dengan suara tegas namun tenang.

Livy menatap Rayhan sekilas. Ada rasa bersalah yang menusuk hatinya saat melihat bagaimana cowok yang dulu selalu sok jagoan itu kini gemetar hebat hanya karena seekor anjing peliharaan yang sebenarnya jinak. "Ayo, Milo. Ikut Kakak," bisik Livy, menggiring Milo yang mengeluh pelan menuju area halaman belakang dan mengunci pintunya.

Ketika Livy kembali ke ruang tamu, Rayhan sudah turun dari sofa. Ia sedang merapikan jaketnya yang sedikit kusut, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa harga dirinya yang runtuh dalam waktu kurang dari dua menit. Matanya menolak untuk menatap Livy, terpaku pada lantai marmer seolah itu adalah hal paling menarik di dunia. Telinganya merona merah karena malu.

"Maaf ya, Jeng, Mas... Rayhan ini dari dulu memang tidak berubah. Kejadian digigit herder waktu umur tujuh tahun sepertinya membekas sekali," ujar Ibu Rayhan memecah kecanggungan sambil mengelus punggung putrinya yang masih tegang.

"Nggak apa-apa, Jeng Mirna. Salah kami juga tidak mengandangkan Milo dulu," balas Mama Anggita hangat. "Livy, sini duduk dekat Mama. Biarkan Rayhan tenang dulu."

Livy duduk di samping Mamanya, namun tatapannya tak lepas dari Rayhan yang kini duduk di sofa seberang, berjarak paling jauh dari pintu halaman belakang.

Sepuluh tahun berpisah rupanya Rayhan tidak banyak berubah, Pemberani namun takut. Itu lah julukan Rayhan yang sudah disematkan oleh Livy.

Saat pandangan mereka kembali berpapasan, tidak ada senyum hangat masa lalu yang tersisa. Hanya ada kecanggungan remaja usia tujuh belas tahun yang bingung bagaimana cara memulai kembali sebuah kedekatan yang telah kedaluwarsa.

"Rayhan, gimana anak tante?" Sambar Anggita bertanya pada Rayhan mengenai penampilan dan bentuk fisik putrinya.

Rayhan tersenyum tipis. Ia tidak menjawab, hanya saja ia mendadak merogoh saku celana panjangnya untuk mengeluarkan sesuatu yang sudah disimpan puluhan tahun.

Salah satu cincin mainan hadiah dari chiki yang dulu dapatnya dua di perlihatkan kembali di hadapan Livy.

Sementara mata Livy langsung membelalak sempurna, gadis itu ngibrit ke laci nakas untuk mengambil hadiah cincin mainan yang satu lagi.

"Saya juga masih simpan, hehehe"

"Saya kembali Liv" Rayhan bersuara lembut "Coba kamu pikir-pikir janji kita dulu apa ketika cincin ini masih ada? Ingat gak?"

Sementara itu, Livy mendadak terdiam. Lalu kepala nya menunduk ketika merasakan getaran hp di balik saku celana jeans yang di pakainya. Gadis itu membuka hp untuk melihat siapa yang sudah menelpon nya.

Nomor baru yang tidak dikenal, Livy yang penasaran mencoba mengangkatnya.

Terdengar baritone yang sangat Livy kenali. Dia Galang. Namun Livy tidak mengucapkan sepatah kata apapun di balik benda pipih yang sedang menempel di telinganya. Ia justru mengakhiri sambungan telepon yang berakhir pemblokiran nomor.

"Kok ditelpon kamu diam sih?" Tanya Rayhan.

"Engga apa-apa han, engga penting" Jawab Livy.

......................

...****************...

To be continue.

1
Friska Zega
👌
penggemar_Uangkecil?!
👍
aku
kapol
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Akai
semangat kak membuat novel /Smile/👍
kucing kawai
lebih baik dengan kata "aku kamu kalo gk pakai lo gue" aja lebih keren thor
kucing kawai: siap thor, semangat terus ya thor 🫶
total 3 replies
kucing kawai
sedikit saran ya thor jangan pakai bahasa saya terlalu formal thor, baguss karya mu thor
kucing kawai: semangat ya author 🫶
total 2 replies
Queen Aisyah
astaga galang..🤣
Queen Aisyah
good
aku
diskon brp jd nya Lang?? 🤣🤣
Hesty
semnget💪💪💪
Hesty
bgus
Hesty
semanget💪
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!