Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.
Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.
Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.
Itu bukan cinta. Itu transaksi.
Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.
Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 KEKAYAAN YANG SIRNA
Keesokan paginya, bank membekukan semua rekening.
Kabar itu datang lewat telepon. Pengacara Wisnu Halim, lagi-lagi, dengan suara sedukanya.
"Maya, dengarkan baik-baik. Hakim telah memerintahkan pembekuan sementara atas seluruh aset ayahmu. Itu termasuk rekening pribadi ibumu dan rekeningmu sendiri. Kalian tidak bisa menarik uang serupiah pun sampai perkara ini selesai. Kamu paham maksud Om?"
"Sampai kapan?" tanya Maya. Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya, seakan bukan miliknya.
"Om tidak tahu. Bisa berbulan-bulan. Bisa bertahun-tahun. Tergantung penyelidikannya."
Maya menutup telepon. Ia meraih tasnya, mengeluarkan dompet, dan menghitung uang tunai yang tersisa. Tiga juta tujuh ratus ribu rupiah. Hanya itu yang ia miliki di dunia ini.
Ia menatap lemari es. Masih tersisa setengah karton susu, beberapa butir telur, sepotong kecil keju. Cukup untuk dua hari. Dua hari. Setelah itu, ia tak tahu apa yang akan terjadi.
Ia tak mengatakannya pada ibunya. Ratna masih terbaring di ranjang, tatapannya kosong menerawang ke langit-langit, kedua tangannya diam di atas seprai. Maya membawakannya segelas susu.
Ratna tak meminumnya. Maya duduk di sisinya dan meminumnya sendiri, dalam diam, sementara jam dinding menandai waktu dengan detak yang terdengar bagai ejekan.
* * *
Empat puluh delapan jam kemudian, seorang hakim menjatuhkan perintah penyitaan atas seluruh harta benda.
Pagi itu para petugas datang. Tiga orang laki-laki berjas gelap dengan wajah datar, map terjepit di ketiak, membawa surat perintah pengadilan yang melegalkan segalanya.
Salah satu dari mereka, yang paling muda, menatap lukisan-lukisan di dinding dengan campuran iri dan penasaran.
"Ini pasti bernilai selangit," gumamnya sambil menunjuk sebuah lukisan cat minyak abad kesembilan belas yang dulu dibeli Kakek Hartono di sebuah pelelangan di Madrid.
"Jangan sentuh apa pun," sergah Maya. "Belum."
Petugas yang paling tua, laki-laki botak berkacamata bergagang hitam tebal, mengembuskan napas dengan sabar.
"Nona Adiwangsa, saya paham keadaan Anda, tapi kami harus menjalankan tugas. Segala yang ada di rumah ini berada di bawah pengawasan pengadilan. Anda tidak boleh membawa apa pun keluar. Paham?"
"Bahkan pakaian pun tidak?" tanya Maya, dan ia membenci getar dalam suaranya sendiri.
"Pakaian boleh. Perlengkapan mandi, obat-obatan, dokumen. Selain itu, tidak."
Maya mengangguk. Ia menaiki tangga dengan kaki gemetar, masuk ke kamar orang tuanya, dan mulai mengisi sebuah tas. Pakaian dalam.
Beberapa celana. Beberapa kaus. Sikat gigi. Tas rias milik ibunya. Setelah selesai, ia menyapukan pandangan ke sekeliling.
Kamar itu—tempat ia begitu sering tidur waktu kecil ketika mimpi buruk, tempat ayahnya membacakan dongeng sebelum ia terlelap, tempat ibunya menyisir rambutnya untuk pesta-pesta... semuanya kini ditinggalkan.
Ia menuruni tangga. Ibunya masih terbaring di ranjang. Maya membantunya bangun, berpakaian, mengenakan sepatu. Ratna hampir tak melawan. Ia pasrah dibimbing, bagai boneka kain. Maya menggandeng tangannya dan menuntunnya ke arah pintu.
Di ambang pintu, ia menoleh untuk terakhir kalinya. Rumah megah itu berdiri di sana, sunyi, kosong, dengan langit-langit tinggi dan jendela-jendela raksasanya. Para petugas sudah mulai menempelkan segel pada perabot. Sebuah peti mati mewah, pikir Maya. Itulah rumah ini sekarang. Sebuah peti mati mewah.
Ia menutup pintu dan tak menoleh lagi.
* * *
Tiga hari berikutnya adalah pusaran urusan surat-menyurat, panggilan telepon, dan penghinaan.
Kepala pelayan, tukang kebun, para pembantu rumah tangga, dan sopir menerima surat pemberhentian mereka.
Maya harus menandatangani semuanya. Setiap tanda tangan adalah satu paku kecil di peti mati kehidupan lamanya. Sebagian pegawai menangis. Sebagian lagi, yang paling senior, menatapnya dengan iba yang lebih menyakitkan daripada hinaan apa pun.
Sang juru masak, perempuan bertubuh subur bernama Bu Sari yang sudah bekerja untuk keluarga Adiwangsa bahkan sebelum Maya lahir, memeluknya begitu erat sampai Maya nyaris tercekik.
"Nak cantik," bisik Bu Sari, "kamu pasti bisa melewati ini. Kamu kuat, seperti kakekmu."
Maya tak merasa kuat. Ia merasa seperti sehelai daun yang terseret angin, tanpa arah, tanpa kendali, terombang-ambing badai yang tak ia mengerti.
Pengacara menemukan sebuah apartemen untuk mereka. Hanya itu yang bisa mereka bayar dengan tabungan yang sempat Maya tarik diam-diam sebelum rekening dibekukan—ia sempat menarik dua puluh juta rupiah dari mesin ATM, jumlah yang menggelikan dibanding semua yang telah mereka hilangkan, tapi cukup untuk bertahan beberapa minggu. Sebuah kawasan di selatan kota. Zona merah, begitu tertulis di iklannya.
Disebut begitu karena perampokan, baku tembak, dan tetangga yang saling bunuh demi satu dosis.
Taksi menurunkan mereka di depan pintu gedung. Bangunan kelabu, jenis yang seakan dirancang tanpa cinta, dindingnya penuh coretan grafiti dan setiap jendelanya berjeruji.
Udara di sana berbau sampah, gorengan, dan pesing. Seekor anjing liar menatap mereka dari trotoar seberang, mengibaskan ekor dua kali, lalu pergi.
Maya membayar sopir taksi dengan lembar-lembar uang terakhir yang tersisa. Ia memanggul kedua tas, membantu ibunya turun dari mobil, lalu menaiki tangga hingga lantai tiga. Liftnya tidak berfungsi. Mungkin tak pernah berfungsi.
Apartemen itu kecil. Begitu kecil sampai Maya merasa dinding-dindingnya merangsek menghimpitnya. Dapur seluas dua meter persegi. Kamar mandi berubin kuning yang rontok berkeping-keping.
Satu kamar untuk ibunya, satu untuk dirinya, dan sebuah ruang yang sekaligus berfungsi sebagai ruang makan sekaligus lorong. Jendelanya menghadap ke gang tempat para tetangga membuang sampah kapan saja mereka mau.
Maya meletakkan kedua tas di lantai. Ia duduk di kasur yang ditinggalkan penghuni sebelumnya—kasur bernoda, dengan per yang menusuk-nusuk kakinya—dan mengizinkan dirinya menangis.
Hanya lima menit. Ia menatap kedua tangannya. Kukunya masih dipoles merah muda pucat, meski catnya mulai mengelupas. Sebuah detail yang absurd. Sebuah detail dari kehidupan yang lain.
Lima menit. Tak lebih dari itu.
Lalu ia menyeka air matanya dengan punggung tangan, bangkit berdiri, dan mulai membersihkan.
MAYA