Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.
Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.
Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA YANG TERSIMPAN DI PAVILIUN
Malam kian larut, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam kompleks Istana Kencana. Hembusan angin malam musim gugur menggoyangkan dedaunan pohon bambu, menimbulkan suara gemerisik halus yang mirip dengan bisikan. Di sudut paling terpencil di belakang istana, berdirilah sebuah bangunan kecil yang dinding kayunya sudah mulai lapuk.
Tempat ini sengaja dipilih oleh Shen Xianle untuk mengadakan pertemuan rahasia, jauh dari jangkauan mata dan telinga mata-mata Pasukan Bayangan milik Long Junwei.
Pintu paviliun berderit pelan saat Xiaoyu melangkah masuk dari kegelapan malam. Di belakangnya, tampak seorang wanita tua berpakaian rami kasar dengan tubuh yang bungkuk dan rambut yang memutih sepenuhnya. Wanita tua itu terus menundukkan kepalanya, tubuhnya gemetar hebat karena ketakutan saat melihat sosok Xianle yang berdiri membelakanginya, mengenakan jubah hitam polos tanpa atribut kebesaran nya.
"Yang Mulia Maharani," Xiaoyu berlutut. "Hamba telah berhasil membawa Bibi Song ke hadapan Anda secara rahasia. Beliau adalah satu-satunya pelayan senior Selir Lin yang berhasil selamat dari pembersihan istana belakang belasan tahun lalu dengan cara berpura-pura gila dan diasingkan ke desa pinggiran."
Xianle membalikkan badannya perlahan. Tatapan mata jernihnya yang sedingin es mengunci sosok wanita tua di hadapannya. "Bibi Song... angkat kepalamu. Lihat aku. Apakah kau masih mengenali anak kecil yang dulu sering kau suapi di Paviliun Anggrek?"
Wanita tua itu, Bibi Song, perlahan-lahan mengangkat wajahnya yang dipenuhi kerutan. Begitu matanya menatap wajah porselen Xianle, air matanya seketika keluar di sudut matanya yang rabun. Tubuhnya langsung bersujud pasrah di atas lantai kayu yang berdebu.
"Putri... Putri Kesembilan..." suara Bibi Song bergetar hebat, terisak menahan tangis yang pecah. "Surga begitu baik... Anda masih hidup dan kini telah menjadi penguasa tempat ini. Selir Lin... roh Selir Lin di alam sana pasti bisa tersenyum tenang sekarang..."
Xianle melangkah mendekat, mengulurkan tangannya untuk membantu Bibi Song bangkit, lalu mendudukkannya di sebuah kursi kayu tua. "Bibi Song, aku membawamu ke sini bukan untuk bernostalgia. Aku membutuhkan kebenaran. Lihat gelang giok ini."
Xianle meletakkan gelang giok hijau yang retak dari dalam kotak misterius itu di atas meja di hadapan Bibi Song.
Begitu melihat gelang tersebut, Bibi Song tersentak mundur, wajahnya seketika pucat pasi seolah-olah baru saja melihat iblis. "G-Gelang ini... Gelang Darah Magnolia... Bagaimana bisa gelang ini kembali ke istana?!"
"Katakan padaku, Bibi Song," desis Xianle, memajukan tubuhnya dengan tatapan yang kian menuntut. "Surat dari ibuku mengatakan bahwa beliau tidak mati karena racun Permaisuri biasa, melainkan karena rahasia darah keluarga Lin yang diincar oleh persekutuan rahasia. Siapa sebenarnya organisasi di luar perbatasan itu? Dan apa hubungannya dengan Long Junwei?"
Mendengar nama Long Junwei, Bibi Song langsung menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar. Ia melirik ke sekeliling ruangan dengan ketakutan yang amat sangat, seolah-olah ada sepasang mata tak kasat mata yang sedang mengawasi mereka dari balik kegelapan.
"Putri... hamba mohon, jangan sebut nama pria itu..." bisik Bibi Song dengan suara yang sangat rendah, hampir menyerupai desisan angin. "Keluarga Lin dari barat sebenarnya bukanlah keluarga bangsawan biasa. Nenek moyang Selir Lin adalah penjaga kunci utama dari Gerbang Surga Terlarang, sebuah wilayah rahasia di luar benua yang menyimpan kekuatan spiritual dan teknologi militer kuno yang bisa menghancurkan sebuah negara dalam semalam."
Bibi Song menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan, "Belasan tahun lalu, sebuah organisasi rahasia bernama Faksi Naga Perak dari dataran barat mencoba merebut rahasia tersebut. Permaisuri dan Perdana Menteri Shen hanyalah pion yang mereka suap untuk meracuni Selir Lin demi mencari peta gerbang tersebut. Dan... dan pimpinan tertinggi dari generasi muda Faksi Naga Perak saat ini... tidak lain adalah Long Junwei sendiri!"
Blar!
Kebenaran itu bagaikan gada besi raksasa yang menghantam seluruh kesadaran Xianle. Langkah kakinya mundur setapak, matanya melebar dengan kilat kemarahan dan kekecewaan yang bergejolak hebat di dalam dadanya.
Long Junwei... pria yang menyelamatkannya dari dasar tebing malam itu, pria yang meminta dirinya menjadi senjata mematikan, dan pria yang selama ini berdiri di sampingnya sebagai sekutu terkuat... ternyata adalah pimpinan dari organisasi rahasia yang bertanggung jawab atas kematian ibunya!
"Jadi... selama ini aku hanyalah bidak yang dia gunakan untuk menghancurkan faksi Perdana Menteri agar dia bisa menguasai perbendaharaan rahasia dan peta itu tanpa hambatan?" suara Xianle bergetar, kali ini rasa sakit dari sebuah pengkhianatan baru terasa jauh lebih tajam daripada yang pernah dilakukan Li Feng dulu.
"Benar, Putri..." tangis Bibi Song kembali pecah. "Dia mendekati Anda karena darah keluarga Lin yang mengalir di tubuh Anda adalah satu-satunya kunci hidup untuk membuka Gerbang Surga Terlarang tersebut. Begitu gerbang itu terbuka, dia tidak akan ragu untuk melenyapkan Anda..."
Syuuutt! Jleb!
Sebelum Bibi Song sempat menyelesaikan kalimat terakhirnya, sebatang jarum perak beracun melesat membelah kegelapan jendela paviliun, menancap tepat di tenggorokan wanita tua itu.
Bibi Song melotot lebar, tangannya mencengkeram lehernya sendiri saat racun hitam pekat menyebar dengan kecepatan gila di pembuluh darahnya. Dalam hitungan detik, tubuh bungkuk pelayan tua itu tumbang ke lantai, tewas seketika di hadapan Xianle tanpa sempat bersuara lagi.
"Siapa di luar?!" teriak Xiaoyu, langsung menghunus pedangnya dan melompat keluar jendela untuk mengejar sang pembunuh.
Xianle berdiri terpaku di tengah ruangan, menatap jasad Bibi Song yang masih hangat dengan darah hitam yang mengalir dari lehernya. Di balik keremangan pintu paviliun yang terbuka ditiup angin, sesosok pria melangkah masuk dengan keanggunan yang sangat familier.
Long Junwei berdiri di sana. Jubah hitam bersulam naga peraknya berkibar pelan, sementara pedang kunonya yang berpendar biru keperakan tipis kini tersampir tenang di pinggangnya. Wajahnya yang tegas tampak kaku, menatap Xianle dengan tatapan mata elang yang tidak lagi menyembunyikan kedalamannya yang dingin.
"Kau sudah mendengar semuanya, Xianle," ucap Junwei, suara baritonnya yang berat terdengar sangat tenang, seolah-olah pembunuhan yang baru saja terjadi di hadapan mereka bukanlah sesuatu yang penting.
Xianle perlahan mengangkat belati peraknya, mengarahkan ujung senjata tajam itu tepat ke arah jantung pria yang paling ia percayai sekaligus pria yang kini paling ia benci di bawah langit.
"Long Junwei..." desis Xianle, sepasang mata jernihnya kini sepenuhnya tertutup oleh kegelapan dendam yang baru. "Kau adalah pembunuh ibuku. Malam ini, di paviliun sunyi ini... aliansi kita telah berakhir dengan darah!"