Indonesia
NovelToon NovelToon
Mafia Cacat Untuk Amira

Mafia Cacat Untuk Amira

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Orang Disabilitas
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Malam sudah cukup larut ketika sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumah Kaizar. Ricki mematikan mesin, tetapi tidak langsung turun.

Tangannya masih menggenggam kemudi. Ia sendiri tidak mengerti kenapa dirinya benar-benar datang.

Seharusnya ia membiarkan Amira menjalani hidupnya. Bukankah sejak awal ia yang memilih untuk mengakhiri hubungan mereka?

Bahkan sekarang ia sudah bertunangan dengan Alika?

Ricki menatap bangunan besar di hadapannya. Dua minggu lagi Amira akan menikah dengan Kaizar. Entah kenapa, semakin dekat hari itu, semakin sulit baginya menerima kenyataan.

Akhirnya ia turun dari mobil. Begitu sampai di depan pintu, seorang pria berpakaian hitam menghampirinya.

"Siapa?"

"Ricki."

Pria itu tampak mengenal nama tersebut. "Tuan Ricki?"

"Iya. Aku ingin bertemu Amira."

"Apakah Anda sudah membuat janji?"

Ricki menggeleng. "Tidak."

Pria itu terlihat ragu. "Saya akan menyampaikan kepada Tuan Kaizar."

Ricki mengangguk. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Kaizar muncul dari arah ruang dalam dengan kursi rodanya. Tatapannya langsung berhenti pada Ricki.

"Kau."

Ricki berdiri lebih tegak. "Tuan Kaizar."

"Ada keperluan apa?"

"Aku ingin bertemu Amira."

Kaizar tidak segera menjawab. "Kau datang malam-malam ke rumah calon suamimu untuk menemui perempuan yang akan menikah denganku."

Nada suaranya tetap tenang. Justru ketenangan itu membuat Ricki merasa tidak nyaman.

"Aku hanya ingin bicara."

"Kenapa?"

Ricki mengalihkan pandangan sebentar. "Aku mendengar kejadian tadi."

"Gaun?"

Ricki mengangguk. "Amira dipermalukan di depan keluarga."

Kaizar menatapnya. "Lalu?"

"Aku ingin memastikan dia baik-baik saja."

Beberapa detik berlalu. Kaizar kemudian berkata, "Tunggu di sini."

Ricki mengangguk. Kaizar memutar kursi rodanya dan masuk kembali ke dalam rumah. Tidak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari tangga. Amira muncul dengan pakaian rumah yang sederhana.

Begitu melihat siapa yang berdiri di ruang depan, langkahnya berhenti. "Ricki?"

Ricki menatapnya. "Amira."

Amira turun beberapa anak tangga. "Ada apa?"

"Aku ingin bicara."

Amira melirik Kaizar. Pria itu berada tidak jauh dari sana. Ia tidak mengatakan apa pun. Hanya menunggu.

Amira akhirnya berjalan mendekati Ricki. "Kita bicara di sini saja."

Ricki mengangguk. "Aku dengar tentang kejadian tadi."

"Sudah selesai."

"Katanya kau dipermalukan."

Amira menghela napas. "Ricki, aku baik-baik saja."

"Aku tidak suka mendengarnya."

Amira menatapnya. "Kenapa?"

Ricki terdiam. "Karena aku masih peduli."

Amira tidak langsung menjawab. Kalimat itu pernah begitu berarti baginya. Dulu, satu perhatian kecil dari Ricki sudah cukup membuatnya merasa dicintai. Sekarang kalimat yang sama justru terdengar seperti sesuatu yang terlambat.

"Peduli tidak selalu berarti kita harus kembali."

"Aku tahu."

"Kalau begitu, kenapa datang?"

Ricki menunduk sebentar. "Aku tidak tahu."

Amira mengerutkan kening. "Kamu sendiri yang memutuskan hubungan kita."

"Aku tahu."

"Kamu juga yang memilih tetap bersama keluargamu."

"Aku tahu."

"Dan sekarang aku akan menikah."

Ricki menatapnya. "Aku tahu."

Amira terdiam.

Ricki melanjutkan, "Tapi aku tidak menyangka semuanya akan secepat ini."

Amira hampir tersenyum getir. "Secepat apa?"

"Dua minggu lagi."

"Memangnya kamu berharap aku menunggumu?"

"Bukan begitu."

"Lalu?"

Ricki kesulitan menjawab.

Amira akhirnya berkata, "Ricki, aku sudah terlalu lama menunggu."

Tatapan Ricki berubah. "Menunggu apa?"

"Menunggu kamu berdiri di pihakku."

Ricki terdiam.

"Dulu aku tidak meminta kamu melawan keluargamu. Aku cuma ingin kamu membelaku ketika mereka merendahkanku."

Amira menatapnya. "Tapi kamu tidak melakukannya."

Ricki menggenggam kedua tangannya. "Aku salah."

"Iya."

Jawaban itu begitu sederhana sampai Ricki tidak bisa membantah. "Aku menyesal."

"Aku juga pernah menyesal."

Ricki mengangkat wajah. "Tentang apa?"

"Karena terlalu lama mengira kamu akan berubah."

Kalimat itu membuat Ricki terdiam cukup lama. Dari tempatnya berdiri, Kaizar mendengar percakapan mereka.

Wajahnya tetap tenang. Tetapi jemarinya perlahan menggenggam sisi kursi roda. Ia tidak suka melihat cara Ricki memandang Amira. Lebih dari itu, ia tidak suka ketika Amira membicarakan masa lalu mereka dengan pria tersebut.

Perasaan itu mengganggunya dan tidak idak masuk akal. Beberapa hari lalu ia bahkan tidak mengenal perempuan ini. Sekarang hanya melihat seseorang datang dan mengaku masih peduli kepadanya saja sudah membuat pikirannya tidak tenang.

"Amira." Suara Kaizar membuat keduanya menoleh.

Ricki melihatnya.

Kaizar berkata, "Kalau pembicaraan kalian sudah selesai..."

Amira mengerti. Ia kembali menatap Ricki.

"Aku rasa memang sudah selesai."

Ricki mengangguk pelan tapi sebelum pergi, ia berkata,

"Kalau suatu hari kau membutuhkan seseorang..."

Amira memotongnya. "Aku sudah punya seseorang."

Ricki terdiam.

Amira melirik Kaizar. Tidak lama. Tetapi cukup untuk membuat Ricki memahami maksudnya.

Ia menundukkan kepala. "Baik."

Ricki berbalik. Namun baru beberapa langkah, Kaizar berkata,

"Ricki."

Pria itu berhenti.

Kaizar menatapnya. "Jangan datang lagi tanpa alasan yang jelas."

Ricki mengangguk. "Baik."

Pintu tertutup setelah Ricki pergi. Amira masih berdiri di tempatnya. Kaizar tidak langsung bergerak. Suasana mendadak terasa sunyi. Amira akhirnya menoleh.

"Kamu marah?"

"Tidak."

"Kelihatannya begitu."

"Aku hanya tidak suka tamu datang tanpa pemberitahuan."

Amira mengangguk. "Alasan yang bagus."

Kaizar menatapnya. "Kau tidak percaya?"

"Sedikit."

"Kenapa?"

Amira mengangkat bahu. "Karena wajahmu seperti orang yang ingin mengusir seseorang sejak tadi."

Kaizar diam. Amira tersenyum kecil.

"Tapi terima kasih."

"Untuk apa?"

"Sudah mengizinkan dia masuk."

Kaizar mengerutkan kening. "Aku tidak mengizinkan dia untuk membuatmu tidak nyaman."

"Tapi aku juga lega," ucap Amira akhirnya.

"Kenapa?"

"Karena sekarang aku tahu aku sudah tidak punya alasan untuk menoleh ke belakang."

Kaizar tidak menjawab. Amira kemudian berjalan menuju tangga. Namun sebelum naik, ia berhenti.

"Kaizar."

"Hm?"

"Jangan terlalu dipikirkan."

"Apa?"

"Ricki."

Kaizar menatap gadis itu dengan perasaan yang sulit untuk diartikan.

"Aku sudah selesai dengannya."

Setelah mengatakan itu, Amira naik ke kamarnya. Kaizar masih berada di ruang depan.

Entah kenapa, satu kalimat tadi justru membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan. Ia memutar kursi rodanya menuju ruang kerja. Tetapi baru beberapa meter, ponselnya berdering.

Salah satu anak buahnya menelepon. "Tuan."

"Ada apa?"

"Kami baru mendapat informasi."

Kaizar berhenti. "Informasi apa?"

"Orang yang mengirim gaun kepada Nona Amira tadi... bukan sekadar mengirim hadiah."

Tatapan Kaizar berubah. "Jelaskan."

"Kami sedang memeriksa sumbernya. Tapi ada kemungkinan gaun itu memang sengaja dipilih untuk membuat Nona Amira terlihat buruk di hadapan keluarga."

Kaizar terdiam. "Siapa yang mengirim?"

"Belum bisa dipastikan."

Kaizar memandang ke arah tangga tempat Amira tadi menghilang.

"Selidiki."

"Baik."

"Dan jangan beri tahu Amira dulu."

"Baik, Tuan."

Sambungan terputus. Kaizar kembali memandang layar ponselnya. Seseorang sedang berusaha mempermalukan Amira. Dan sekarang ia mulai bertanya-tanya... Siapa yang sebenarnya menginginkan pernikahan mereka gagal?

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Di rumah keluarga Wijaya, Alika baru saja menerima sebuah pesan.Ricki sudah menemui Amira. Alika membaca pesan itu tanpa ekspresi.

Kemudian ia meletakkan ponselnya di atas meja. "Bagus."

Ia bersandar pada sofa. Rencana kecilnya ternyata berjalan lebih mudah daripada yang ia bayangkan. Ia tidak perlu menyuruh Ricki melakukan apa pun.

Cukup membuat pria itu merasa kasihan kepada Amira. Sisanya, Ricki akan bergerak sendiri. Alika mengambil ponselnya lagi.

Jarinya mengetik sebuah pesan. Kita lanjutkan rencana berikutnya.

Pesan itu terkirim.

Beberapa detik kemudian, balasan masuk.

Kapan?

Alika menatap foto dirinya bersama Ricki yang terpajang di meja. Lalu senyum tipis muncul di wajahnya.

Sebelum pernikahan.

Bersambung...

1
Reni Anjarwani
lanjuttt 💪💪
Oma Gavin
semakin ricki penasaran dgn alika jgn kamu anggap kebohongan mu bisa tertutup rapat lagi bau bangkai nya sudah tercium
Yasinta Niken
lanjut ya tambah seru
ros
ceritanya menarik 👍
kaylla salsabella
makin penasaran
Oma Gavin
penasaran banget siapa ayah kandungnya alika
kaylla salsabella
la berarti yang anak kandung si amira
Yasinta Niken
lanjut tambah seru jangan putus lagi 💪💪💪
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Yasinta Niken
yang selalu mendapat yang terbaik untuk Ambar Alika anak siapa 🤭🤭🤭
Oma Gavin
akhirnya terbongkar alika anak selingkuhan ambar guma alika masih mau songong merasa kamu yg terbaik dan berhak hidup mewah ternyata kamu bukan anak ganjar
Oma Gavin
siapakah amira
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up💪
Yasinta Niken
kenapa kok putus2 saya senang ceritanya bagus 👍👍👍
kaylla salsabella
mungkin alika bukan anak kandung ganjar
Reni Anjarwani
semoga cpt terbuka rahasia yg disembunyikan ambar 🙏
Oma Gavin
fix alika anak ambar dgn dgn selingkuhan nya dan hanya amira yg sebenarnya anak kandung ganjar
Oma Gavin
kok aku curiga perusahaan ganjar milik mantan istrinya ibu amira
Oma Gavin
disaat Ganjar kritis antara hidup dan mati hanya darah amira yg bisa menyelamatkan nyawa ganjar, gimana alika kamu anak kesayangan tapi ternyata darah mu pun ngga sanggup menyelematkan ternyata kamu ngga guna jadi anak kesayangan
Yasinta Niken
saya bangga dengan kaisar Amira libas orang2 julid itu 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!