Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Di tengah keriuhan para ibu-ibu yang asyik menggoda Dayang dan mengagumi ketampanan 'Bima', Bayu melangkah mengendap-endap dari lorong sempit di belakang blok pelelangan.
Matanya merah dipenuhi dengki yang membakar
dada.
Melihat lapak Dayang laku keras dan Rimba disanjung tinggi-tinggi bagai pahlawan, akal sehat Bayu benar-benar sirna.
Pria itu merogoh dua jerigen kecil tersembunyi yang berisi larutan air garam panas konsentrasi tinggi.
Rencananya licik: ia ingin menyiramkan air tersebut ke tumpukan es pengawet di keranjang-keranjang pasokan ikan kakap dan tenggiri super milik Dayang yang masih tersisa di belakang.
Suhu panas dan kadar garam tinggi itu akan melelehkan es dalam sekejap, membuat tekstur daging ikan membusuk, pucat, dan tak layak jual sebelum siang menjelang.
Kerugian puluhan juta akan menimpa Dayang, dan kuli barulah yang pasti akan disalahkan atas keteledoran itu.
Dengan langkah tanpa suara, Bayu menyusup ke area penyimpanan keranjang belakang lapak.
Ia membuka tutup jerigennya, bersiap menyiramkan cairan perusak itu.
Namun, indra dan naluri tajam seorang CEO yang terbiasa membaca ancaman bisnis tak bisa dikelabui begitu saja.
Rimba, yang sejak awal menyadari kehadiran aura permusuhan di sekitar pasar, secara konstan memantau pergerakan area sekitar.
Saat matanya menangkap bayangan seseorang berkelebat di balik tumpukan terpal belakang, mata sang CEO menajam.
"Permisi sebentar ya, Ibu-ibu," ucap Rimba tenang dan sopan pada para pembeli, lalu melangkah santai menuju area belakang.
Bayu baru saja memiringkan mulut jerigennya saat sebuah tangan kekar cengkeraman baja mendadak mencengkeram pergelangan tangannya dari belakang.
Cengkeraman itu begitu kuat hingga membuat buku-buku jari Bayu bergemeretak ngilu.
"Mau bikin kekacauan apa lagi, Bayu?" bisik sebuah suara berat yang dingin menusuk tepat di samping telinganya.
Bayu tersentak kaget, jerigen di tangannya hampir terlepas.
Ia memutar kepala dan mendapati Rimba berdiri tegap menaunginya.
Tidak ada raut panik atau emosi berlebihan pada wajah Rimba—hanya sorot mata dingin, kelam, dan intimidatif bagai predator puncak yang sedang mengunci mangsanya.
"L-lepas! Jangan ikut campur kamu, kuli miskin!" gertak Bayu berusaha melepaskan diri, namun cengkeraman Rimba justru makin mengunci pergelangan tangannya hingga terasa mau patah.
"Saya tahu persis apa isi jerigen ini dan apa dampaknya untuk ikan-ikan ini," ucap Rimba rendah, matanya berkilat penuh intimidasi kelas atas yang membuat ciut nyali Bayu.
"Sekali lagi kamu sentuh barang dagangan Mbak Dayang, saya pastikan bukan cuma rahangmu yang bergeser, tapi seluruh usahamu di pasar ini lenyap. Paham?"
Aura dominan dan ucapan penuh ancaman yang sangat tertata itu membuat Bayu merinding ketakutan.
Ia menyadari pria di hadapannya ini bukanlah kuli biasa yang bisa ia intimidasi.
"I-iya! Lepas!" cercah Bayu panik.
Rimba mendorong pergelangan tangan Bayu dengan sekali sentakan hingga pria itu terjerembab mundur.
Tanpa berani menoleh lagi, Bayu menyambar jerigennya dan terbirit-birit berlari meninggalkan lorong belakang pasar, menghilang di tengah kerumunan subuh.
Rimba merapikan kembali posisi keranjang ikan, mengusap bahunya pelan, lalu kembali melangkah ke depan lapak dengan wajah tenang seolah tak terjadi apa-apa.
"Ada apa di belakang, Mas Bima?" tanya Dayang yang baru selesai melayani pembeli, memandangi Rimba dengan rasa ingin tahu.
"Nggak ada apa-apa, Mbak. Cuma merapikan posisi keranjang es yang agak miring," jawab Rimba menyunggingkan senyum hangat yang langsung meluluhkan rasa curiga Dayang.
Matahari pagi mulai menyembulkan sinarnya yang hangat, menerobos celah-celah atap seng Pasar Matahari.
Keriuhan subuh perlahan menyurut, menyisakan keranjang-keranjang ikan yang kini telah kosong melompong.
Seluruh pasokan habis terjual jauh lebih cepat dari hari-hari biasanya.
Sekitar pukul enam pagi, Dayang mengajak Rimba duduk di bangku kayu panjang yang berada di area belakang lapak.
Suasana di tempat itu jauh lebih tenang. Dayang mengeluarkan wadah bekal berisi mi instan goreng dan telur ceplok yang disiapkan Rimba tadi subuh.
Aroma gurih mi yang sudah agak dingin itu tetap terasa amat menggugah selera setelah berjam-jam diterpa kerja keras.
"Sini, Mas Bima, makan dulu. Kerja hari pertamamu benar-benar jempolan," ujar Dayang seraya membagi dua porsi mi instan itu menggunakan sendok plastik.
"Terima kasih, Mbak," sahut Rimba hangat.
Sambil menikmati mi buatan Rimba, Dayang merogoh cermin kecil dan minyak pembersih dari tasnya.
Ia meringis pelan saat membuka ujung plester di pipinya yang mulai mengendur akibat keringat.
Dengan hati-hati, gadis itu menyapu sisa memar di kulit halusnya.
Rimba menghentikan kunyahannya. Sorot matanya menatap dalam pada setiap ketegaran yang terpancar dari wajah Dayang.
Di tengah perih luka di pipinya, rasa lelah mengangkut puluhan keranjang, hingga ancaman sabotase dari orang-orang seperti Bayu, gadis itu tidak sedikit pun mengeluh.
Dayang bertarung setiap hari, mempertahankan bisnis kecil ini demi menghidupi adiknya dan menjaga martabat keluarga.
Bagi Rimba—pria yang biasa bertarung di meja perundingan bernilai miliaran—kegigihan murni seorang Dayang terasa jauh lebih agung dan menyentuh dasar hatinya.
Ada rasa hormat mendalam yang kini berakar kuat di dada sang CEO, bercampur dengan rasa bersalah atas niat awalnya memasuki kehidupan gadis ini.
"Pipi Mbak masih terasa sangat sakit?" tanya Rimba rendah, menyodorkan tisu bersih ke arah Dayang.
Dayang menerima tisu itu, lalu menyunggingkan senyum tipis yang amat tulus.
"Sudah nggak seberapa, Mas. Rasa perih begini mah ndak ada apa-apanya dibanding harus kehilangan lapak ini," jawab Dayang pelan, menatap jajaran keranjang kosong di depan mereka.
"Makanya, aku makasih banget sama Mas Bima. Hari ini kalau ndak ada Mas Bima yang sigap bantu angkut-angkut sama bikin ramai lapak, mungkin aku sudah kewalahan sendiri."
Dayang menyuap mi instan buatan Rimba, lalu tertawa kecil menutupi rasa canggungnya.
"Lagian, ternyata masakan kuli baru ini enak juga ya. Telur dadarnya nggak keasinan."
Rimba terkekeh halus, suara tawa yang begitu langka dan renyah keluar dari bibir dinginnya.
"Kalau Mbak Dayang suka, besok subuh saya masakkan lagi bekal yang lebih enak."
Garis mata mereka bertemu di tengah hangatnya sinar matahari pagi.
Di balik kesederhanaan wadah bekal mi instan itu, perikatan emosional di antara sang Srikandi pasar dan sang CEO terjalin makin erat dan tak terhentikan.
Rimba memperhatikan Dayang yang sedang membereskan bekas wadah bekal mereka.
Kekagumannya pada ketangguhan gadis itu makin bertumpuk.
Namun di balik hangatnya momen tersebut, bisikan Dio di telepon semalam kembali bergema di kepalanya—Pabrik Suryo Group sedang kritis dan sangat membutuhkan pasokan ikan dari jaringan Pasar Matahari.
Belum sempat Rimba merapikan keranjang terakhir, langkah kaki bersepatu kulit mahal terdengar mendekati lapak. Dio muncul dengan setelan kemeja rapi, membawa map tebal di tangannya.
Dayang yang mengenali wajah asisten Suryo Group itu langsung bertolak pinggang. Wajah ramahnya seketika berubah sengit.
"Kamu lagi, kamu lagi!" semprot Dayang tegas, matanya menatap tajam ke arah Dio.
"Bukannya sudah aku bilang, beritahu Bos Rimbamu itu untuk tidak mengganggu pasar ini lagi?!"
Rimba yang sedang berdiri membelakangi Dio langsung membeku.
Ia menelan salivanya dengan susah payah, memutar tubuhnya perlahan sembari menunduk agar Dio tak memperlihatkan gestur mengenali sang atasan.
Dio yang sadar posisi segera bersikap profesional tanpa melirik terang-terangan ke arah Rimba. Ia menyodorkan map tersebut di atas meja seng lapak.
"Mbak Dayang, tolong baca dulu," ujar Dio tenang.
"Ini surat perjanjian kerja sama yang sudah diperbaiki total oleh manajemen Suryo Group. Tidak ada pasal pemerasan atau klausul penguasaan lahan. Kami murni mengajukan kemitraan pasokan ikan segar skala besar dengan harga beli yang sangat adil dan saling menguntungkan."
Dayang mengerutkan kening, membaca sekilas poin-poin dalam berkas tersebut.
Penawaran harganya memang sangat menggiurkan, namun ia menghela napas berat.
"Penawarannya memang bagus," aku Dayang jujur, lalu menggeleng pelan.
"Tapi, kapasitas pasokan dari kelompok nelayanku terbatas. Kami ndak bakal sanggup memenuhi kuota puluhan ton per minggu untuk pabrik sebesar Suryo Group. Kalau dipaksakan, pasar lokal justru bakal kekurangan stok."
Mendengar keraguan Dayang, naluri bisnis Rimba yang terasah belasan tahun otomatis mengambil alih. Tanpa sadar, aura penyamarannya terkelupas.
"Sebenarnya kapasitas itu bisa dikejar, Mbak Dayang," potong Rimba dengan suara mantap dan berwibawa.
Dayang dan Dio seketika menoleh ke arah 'Bima'.
Rimba melangkah mendekat, menunjuk poin kuota di berkas tersebut dengan tenang.
"Suryo Group tidak butuh seluruh jenis ikan sekaligus. Mbak Dayang bisa membagi sistem pasokan menjadi tiga konsorsium nelayan pesisir barat dan timur. Nelayan kecil fokus memenuhi pasar lokal, sementara hasil tangkapan kapal besar dialihkan khusus untuk Suryo Group dengan sistem buffer stock harian. Dengan begitu, arus kas nelayan terjamin lancar, kuota pabrik terpenuhi, dan harga pasar lokal tetap stabil tanpa memicu inflasi."
Penjelasan itu mengalir begitu lancar, logis, dan sangat tajam. Analisis strategi rantai pasok yang disampaikan Rimba benar-benar sekelas direktur eksekutif papan atas.
Dio sampai menahan napas, kagum melihat bosnya mengeksekusi negosiasi di lapangan.
Sementara itu, Dayang membeku di tempatnya. Matanya membelalak menatap 'Bima' dari atas ke bawah dengan raut terperanjat.
Dayang mengerutkan dahi dalam-dalam, rasa curiga yang teramat besar kini menyelimuti pikirannya.
Bagaimana mungkin seorang kuli jalanan miskin yang kemarin mengaku terlunta-lunta, memiliki pemikiran bisnis, strategi makro, dan analisis pasar yang begitu cerdas dan tajam?
"Mas Bima," panggil Dayang pelan, suaranya sarat akan rasa curiga yang mendalam.
"Kamu, sebenarnya siapa?" tanya Dayang.
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂