Kembali dengan kisah keluarga Nugraha, kali ini adalah generasi termuda, ALENSKY yang berpindah tempat kuliah untuk sebuah ketenangan, namun pada akhirnya kembali pada pertarungan antara Cinta, Persahabatan dan Kekuasaan.
Perpaduan kisah yang menyeret kita untuk menggunakan emosi dan hati saat membacanya, ada kalanya ketidak Adilan yang lama membelenggu akhirnya harus terlepas oleh seseorang yang punya keberanian.
Persembahan sebuah Novel dari Author Sinho, semoga memberikan kesenangan dan manfaat bagi para pembaca.
Salam, sehat, semangat dan jangan lupa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alen 15
Alensky nampak menoleh kesana kemari, bagitu ramainya tempat itu, Alensky hanya menghela nafasnya, pasrah jika harus mendapatkan antrian entah yang ke berapa, dan akhirnya menemukan meja yang kebetulan baru saja kosong.
Belum ada satu menit duduk tenang di tempatnya, sosok Draja yang tengah membawa semangkuk mie ayam menarik perhatian nya, Alensky tersenyum melihat laki-laki itu berlarian sambil berteriak saat berebut tempat duduk.
Beberapa kali mengamati, Akhirnya Alensky memutuskan untuk menghampiri Draja yang tengah kepanasan memasukkan makanan ke dalam mulut, bahkan keringat sudah mulai membanjiri wajahnya.
SRET
Alensky duduk di samping nya, tanpa suara ataupun kata, hanya diam dan memperhatikan, hingga akhirnya Draja tersadar dan menoleh ke samping.
"Alensky!" Teriaknya.
Uhuk uhuk uhuk
Saking kagetnya Draja seketika tersedak oleh makanannya sendiri.
Alensky segera mendekatkan minuman pada Draja sambil menepuk punggungnya pelan untuk meringankan keluhan.
"Pelan-pelan, minum dulu" ucap Alensky.
Beberapa teguk es teh sudah bisa mengatasi rasa perih karena tersedak, lalu kemudian melihat Alensky dengan wajah tak percaya.
"Kau di sini?" Tanya Draja.
"Kenapa?, gak boleh?" Jawab Alensky
"Ya enggak lah, aku seneng kamu mau makan disini bersamaku" Draja nampak bersemangat sekali.
"Hem," Alensky hanya mengangguk ringan.
"Tunggu, lalu kenapa kau pindah ke kantin ini, bukannya tadi ada di kantin sana?" Tanya Draja dengan wajah penasarannya.
"Aku pengen disini" jawab Alensky malas.
Dan Draja kini menghentikan tangannya yang dari tadi menyuapkan mie ke dalam mulutnya.
"Apa ada masalah?" Tanya Draja pelan.oenih curiga.
Alensky hanya diam sambil menghela nafas pelan.
"Sudah aku bilang kan Alen, jangan masuk ke kantin itu, disana tidak aman, apa yang mereka lakukan padamu?, ada yang menyakiti mu?, atau mereka mempermalukan mu?"
"Diam, kau membuatku makin pusing dengan pertanyaan mu Draja" sela Alensky yang semakin lemas karena ulah Draja.
"Tapi kenapa?"
"Aku masih lapar, nanti kalau sudah kenyang baru aku cerita" Jawab Alensky cepat sebelum omongan Draja makin kemana-mana.
Draja terpaksa menahan rasa penasaran, walau dirinya sangat ingin tau apa yang terjadi sebenarnya, beruntung detik berikutnya makanan yang di pesan telah datang, Draja ikut senang karena setelah itu Alensky punya hutang menceritakan sebuah kejadian yang masih membuatnya penasaran.
Alensky segera menyantap Nasi Campur yang masih penuh di piring, dengan segelas es jeruk yang nampak segar dan menggugah selera, tak peduli lagi dengan Draja yang memperhatikannya.
"Lapar apa doyan?" Tanya nya.
"Dua-duanya" sahut Alensky sambil menikmati, sungguh makan dengan lauk lapar di perut itu memang sangat nikmat, batinnya.
Tepat saat Alensky akan mengangkat gelasnya, tiba-tiba saja ada seseorang yang mendekat dengan pelan sambil berkata _
"Apa aku boleh disini bersama kalian, tidak ada meja kosong lagi"
Sontak Draja dan Alensky menoleh bersamaan, dan di sana rupanya sudah ada Murni dengan piring ditangannya, ada bekas lebam yang masih terlihat di wajahnya, lalu Alensky tersenyum dan bergeser untuk memberikan tempat pada Murni.
"Aku Draja" ada uluran tangan yang kemudian di sambut oleh Murni.
Alensky tersenyum, begitu juga Draja yang kemudian melanjutkan makan, dan Murni dengan segera menempatkan diri di samping Alensky.
Untuk sesaat mereka saling diam, ketiganya lebih memilih fokus untuk menikmati makanan yang ada didepan masing-masing.
Lama-lama rasanya ada yang tak sabar untuk memulai berkata-kata.
"Ngomong-ngomong kenapa dengan wajah mu?" Tanya Draja setelah memastikan isi mangkoknya sudah habis tak tersisa.
Murni yang masih menikmati makanan tinggal sedikit lagi, segera berhenti dan menatap Draja, "Emm, tidak apa-apa, aku hanya jatuh" jawabnya.
Jelas saja Draja tak percaya, luka yang di lihat di wajah Murni bukan akibat sesuatu yang tak disengaja, wong jelas sekali lebamnya.
"Ada yang menyakiti mu lagi?" Tanya Alensky yang akhirnya ikut bersuara.
Hanya ada senyuman di bibir Murni, kebahagian yang aneh menurut Alensky, karena seharusnya apa yang menimpanya tidak harus membuatnya tersenyum bukan?
"Aku baik-baik saja, terimakasih kalian tidak mengusir ku" ucap murni, bibirnya tersenyum kembali walau nyata ada bekas luka yang belum benar-benar kering di sudut nya.
Draja hanya menggeleng kan kepala, tak menuntut jawaban lagi karena sepertinya Murni masih keberatan untuk berbagi, begitu juga dengan Alensky yang akhirnya diam sambil menikmati minumannya.
Tinggal satu mata kuliah lagi, Alensky sengaja mengantar murni untuk kembali ke dalam kelasnya, tentu saja melewati jalan yang tak biasa, tapi di jamin aman dari gangguan.
"Kenapa kita lewat sini" tanya Draja.
"Aku tidak ingin bertemu dengan mereka yang suka bikin onar di mana-mana" jawab Alensky.
"Bagaimana kau bisa memastikan hal itu?" Tanya Draja lagi.
"Feeling" jawab Alensky sekenanya, padahal jelas sekali dia memasang cctv canggih di beberapa tempat.
Tak terasa perjalan telah sampai, Murni kini berada di depan kelasnya
"Trimakasih" ucapnya senang.
"Hem, sama-sama" sahut Alensky.
Draja juga sempat melambaikan tangan sebelum berbalik pergi bersama Alensky, namun langkah keduanya terhenti saat terdengar suara nyaring seseorang berteriak kesakitan.
"Shit!"
Alensky reflek memutar tubuhnya dan berjalan cepat kembali mendekati kelas Murni.
"Ada apa?"
Draja menyusul dan kini berada di samping Alensky.
Pemandangan yang membuat Draja menutup mulutnya sendiri, disana sudah ada Meriya dan dua temannya sedang menarik rambut Murni.
"Berani kau menghindari kami ha!, sembunyi kemana kamu beberapa hari ini, mana tugas yang kami beri?!" Yang berteriak kali ini adalah Nirina, dengan tangan yang sudah menjambak rambut Murni.
"Alen, apa yang harus kita lakukan?" Draja nampak ketakutannya, biasanya dia akan segera pergi melihat huru hara seperti ini, tapi melihat Murni yang kesakitan, rasanya tidak tega untuk melakukannya.
"Menurut mu?" Tanya Alensky tenang dan masih mengawasi.
"Kalau kita pergi, bagaimana dengan Murni?" Ucapnya lirih sekali.
Alensky tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya kembali, bukan berbalik pergi, tapi terus maju ke sana hingga sebuah pintu berhasil di tendang nya.
BRAK!
Sontak semua yang di dalam sana terkejut, mereka tak pernah melihat ada orang yang berani menganggu urusan Meriya dan dua temannya, sampai akhirnya saat ini Alensky berdiri di sana dengan kaki yang sudah menendang pintu dengan keras.
"Lepaskan tangan kalian, dia hanya wanita lemah dan kalian suka sekali menyakitinya, benar-benar tidak tau malu" ucap Alensky.
Meriya yang dari awal terkejut akan kedatangan wanita yang sudah membuatnya marah beberapa hari, merasa mendapatkan angin segar untuk melampiaskan kemarahannya.
"Baik, aku akan melepaskan rambutnya asal kau mengganti kan posisi nya" Meriya tersenyum miring.
"Kau kira aku takut" sahut Alensky sambil terus berjalan mendekati.
Sementara, Murni yang tengah kesakitan terkejut dan menggelengkan kepala walau di tahan oleh mereka.
"Pergi dari sini Alen, jangan ikut campur!" Teriaknya.
Kira-kira apa yang terjadi?, apa yang dilakukan Alensky kali ini?, yuk mana komen Dahsyatnya?, jangan lupa LIKE VOTE dan HADIAH nya