Indonesia
NovelToon NovelToon
Wasiat Kakak, Suami Pilihan Yang Tak Ku Pilih

Wasiat Kakak, Suami Pilihan Yang Tak Ku Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Romansa
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Putri prisella

"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."

Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.

Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.

Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?

Ikuti kisah Kaia...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab : 28 Hampi saja

Farida membuka laci nakas di samping tempat tidurnya.Tangannya yang dipenuhi keriput mengeluarkan sebuah map kulit berwarna hitam.Ia menatap benda itu cukup lama sebelum akhirnya menyerahkannya kepada Kaia.

"Ini, Sayang untukmu."

Kaia yang sejak tadi duduk diam mengangkat wajahnya. "Ini apa, Nek?"

Farida menggenggam tangan cucunya sebelum meletakkan map itu di pangkuannya. "Di Bali... Kakek dan Nenek sudah menyiapkan kehidupan baru buat kamu."

Kaia mengernyit. Perlahan ia membuka map tersebut.Matanya seketika membelalak kaget. Ada sertifikat resort, beberapa vila, tanah, beserta seluruh dokumen kepemilikan di dalamnya. "Ini..."

Farida tersenyum tipis meski matanya kembali berkaca-kaca. "Semuanya untuk kamu dan anak-anak. Sudah tiga tahun, sejak awal kamu melahirkan, kakekmu menyiapkan ini semua.

Kakekmu ingin menghabiskan masa tuanya di sana. Bersama kamu, Ocean dan Sea. Nenek juga."Suara Farida mulai bergetar.

"Tapi... Ternyata Allah berkehendak lain."

Air mata Kaia kembali jatuh.Ingatannya langsung melayang pada ucapan terakhir Hardja.Bahwa sang Kakek berharap ia kembali tinggal di Indonesia.

Dadanya kembali sesak."Tapi, Nek... Aku belum siap, aku takut."

Farida mengusap pipi cucunya. "Nenek tahu. Karena itu semuanya sudah dipersiapkan." Ia mendekatkan wajahnya, lalu berbisik pelan. "Seluruh aset itu memakai nama Hakim. Tidak ada satu orang pun yang tahu semuanya milik keluarga Hadinata. Termasuk Meganthara."

Kaia terdiam. Hakim adalah orang kepercayaan Hardja yang telah bekerja puluhan tahun mengabdi pada Hadinata. Bahkan lebih setia daripada keluarga sendiri.

"Nanti... Kamu tinggal di sana dengan anak-anak. Tenang saja, rumah yang akan kamu tempati jauh dari keramaian. Tidak ada yang akan mengusik kalian."

Ruangan kembali sunyi. Dari lantai bawah samar-samar terdengar lantunan ayat suci Al-Qur'an.Suara para pelayat memenuhi rumah. Duka masih begitu terasa. Farida menggenggam kedua tangan Kaia.

"Nenek sudah tua... Ayahmu terlalu sibuk mengurus pekerjaannya. Kalau kamu tetap di Slovenia... Lalu nenek sama siapa di sini? Sekarang Nenek cuma punya kamu."

Ucapan Farida menghantam hati Kaia. Ia membayangkan Neneknya tinggal rumah besar itu sendiri hanya dengan para ART.

"Nenek..." Suara Kaia mulai bergetar.

Farida tersenyum lembut."Nggak usah jawab sekarang.Nenek tahu ini sangat sulit buat kamu. Pikirkan saja dulu. Nenek cuma ingin memenuhi keinginan terakhir Kakekmu.

Dan nenek ingin hidup dekat sama kamu."

Tok...

Tok...

Tok...

Pintu kamar diketuk membuyarkan obrolan itu.

Kepala keduanya menoleh.Farida segera mengusap air matanya. "Masuk."

Pintu terbuka. Fadlan berdiri di ambang pintu.

Wajahnya tampak lelah, semalam... Ia tidak tidur sedikit pun.Ia duduk, menemani jenazah ayahnya, membacakan Al-Qur'an, menyambut tamu,dan mengurus seluruh prosesi pemakaman.

"Ayo, berangkat ke pemakaman sekarang." Suaranya serak. Tatapannya lalu beralih kepada Kaia. "Kamu tetap di kamar sampai Papa panggil." Ia berhenti sesaat. "Meganthara baru saja datang."

Deg.

Tubuh Kaia langsung menegang. Refleks jemarinya mencengkeram ujung bajunya. Elio dan keluarganya datang?Fadlan menangkap perubahan wajah putrinya.

"Mobil khusus untukmu sudah Papa siapkan. Nanti kamu langsung masuk dari pintu belakang setelah rombongan pergi. Jangan keluar sedikit pun."

"Aku mengerti, Pa."

Fadlan mengangguk sekali, membawa Farida keluar dari kamar untuk menemui tamu yang hadir.

Begitu pintu tertutup... Kaia mengembuskan napas panjang.Jantungnya masih berdetak sangat keras.Empat tahun, ia berhasil menghilang. Dan hari ini... Elio berada hanya beberapa meter darinya.

Sementara itu di lantai bawah... Suasana rumah dipenuhi para pelayat. Yasin masih terus dilantunkan.Seorang pria dan wanita berpakaian serba hitam memasuki rumah.

Yama dan Maika mendekat saat Fadlan dan Farida menuruni tangga.

"Pak Fadlan..." Yama menjabat tangan besannya erat.

"kami turut berduka cita atas kepergian Pak Hardja."

Fadlan membalas jabatan tangan itu. "Terima kasih, Pak Yama."

Meski hubungan Kaia dan Elio berada di ujung tanduk, Fadlan tidak pernah membawa persoalan rumah tangga anak-anak mereka ke dalam hubungan antar keluarga.

Baginya, duka adalah duka.Hari itu mereka datang bukan sebagai keluarga Meganthara, melainkan sebagai sahabat lama sekaligus besan yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada Hardja.

Maika ikut menggenggam tangan Farida. "Yang sabar ya, Bu. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah."

Farida hanya mengangguk pelan. Air matanya kembali menggenang.Di belakang mereka Elio yang baru datang melangkah mendekat. Dengan takzim ia mencium punggung tangan Fadlan lalu Farida bergantian.

"Maaf, Pa. Saya baru bisa datang."

Untuk sesaat Fadlan menatap wajah menantunya itu. Pria yang membuat Kaia memilih pergi selama bertahun-tahun. Namun semua ia pendam. Hari itu bukan waktunya membuka luka.

"Nggak apa-apa, El."Jawaban Fadlan tetap tenang, seolah tidak ada konflik yang terjadi. Dan ia berharap Elio tidak mencurigai sesuatu yang ada di dalam rumahnya.

Elio mengangkat wajahnya.Tanpa sadar... Tatapannya mengarah ke arah balkon lantai dua. Ke arah kamar yang dulu ditempati Kaia dan dirinya ketika berkunjung ke rumah mertuanya itu.

Dadanya mendadak terasa sesak. Entah kenapa... Hari ini rasa rindunya begitu Seolah... Perempuan yang selama empat tahun ia cari ada di sana, sangat dekat dengannya.

Sementara di balik pintu kamar Farida lantai dua... Kaia tanpa sadar ikut menoleh ke arah jendela.Ia tidak bisa melihat siapa pun. Namun suara laki-laki yang samar terdengar dari lantai bawah membuat tubuhnya membeku.

Suara itu... Masih sama, suara yang selalu berkata dingin padanya. Kaia perlahan memejamkan mata. Air matanya kembali jatuh.

Ia tidak tahu... Bahwa hanya beberapa meter di bawahnya, Elio sedang berdiri mencari dirinya.

Tak lama kemudian... Iringan mobil jenazah mulai bergerak meninggalkan rumah besar Hadinata.

Satu per satu kendaraan mengikuti dari belakang. Suara lantunan tahlil perlahan menjauh, berganti keheningan yang begitu menyesakkan.

Rumah besar itu mendadak terasa kosong. Hanya beberapa ART, petugas keamanan, dan orang-orang kepercayaan Fadlan yang masih berjaga.

Tok.

Tok.

Tok.

Ketukan pelan terdengar di pintu kamar Farida. "Non... Mobil sudah siap."

Kaia yang sejak tadi duduk diam mengangkat wajahnya. Ia mengenakan gamis hitam panjang. Cadar hitam telah menutupi sebagian besar wajahnya.

Hanya kedua matanya yang sembab akibat semalaman menangis terlihat. "Ya... Sebentar."

Ia menarik napas panjang sebelum membuka pintu. Dua bodyguard telah menunggu di luar. Saat menuruni tangga, tatapan Kaia tanpa sadar menyapu seluruh ruangan yang kini sunyi di lantai satu.

Meski ruangan itu sepi tetap saja dadanya berdebar. Seolah-olah Elio bisa muncul kapan saja di sana.

Bodyguard di sampingnya menangkap kegelisahan itu. "Tenang, Non. Tuan Elio dan keluarga Meganthara sudah berangkat bersama rombongan pelayat."

Baru setelah mendengar ucapan itu Kaia mengembuskan napas lega. "Terima kasih."

Mobil sedan hitam berlapis kaca gelap telah menunggu di samping rumah. Pintu belakang dibukakan.Kaia masuk tanpa banyak bicara. Tak lama kemudian mobil melaju meninggalkan halaman rumah Hadinata.

Sepanjang perjalanan... Kaia hanya memandang keluar jendela. Langit Jakarta tampak kelabu. Sisa hujan semalam masih meninggalkan titik-titik air di dedaunan.

Entah kenapa, kota ini selalu berhasil mengingatkannya pada begitu banyak kehilangan. Ibunya, Kiara dan kini Hardja.

Tak terasa air matanya kembali mengalir.

Sekitar empat puluh lima menit kemudian... Mobil berhenti tidak jauh dari kompleks pemakaman elit di pinggiran kota Jakarta.

Namun tidak ada yang membuka pintu. Salah seorang bodyguard menyalakan sebuah layar kecil yang terpasang di belakang kursi depan.

"Tuan meminta Non melihat dari sini dulu."

Layar itu menampilkan siaran langsung dari salah satu orang kepercayaan Fadlan. Kaia mematung.Di layar... Empat pria perlahan menurunkan peti jenazah. Farida berdiri dengan tubuh yang nyaris roboh.

Fadlan menopang pundak ibunya. Suara imam terdengar memimpin doa. Satu demi satu tanah mulai dijatuhkan ke liang lahat.Air matanya mengalir tanpa henti. Tangannya gemetar menutupi mulutnya sendiri agar isaknya tidak terdengar."Kakek..."

Maaf... Kaia bahkan tidak bisa mengantarmu sampai akhir.

Kalimat itu hanya mampu ia ucapkan dalam hati.Empat puluh lima menitkemudian ketika area pemakaman sudah terasa sepi, bahkan Fadlan dan Farida sudah terlihat memasuki mobil mereka. Bodyguard mematikan layar. "Non. Semua pelayat sudah pulang. Keadaan sudah aman."

Kaia mengangguk pelan.Meski demikian ia tetap mengenakan cadarnya. Fadlan sudah berulang kali mengingatkan. CCTV di area pemakaman bisa saja menjadi celah.

Pintu mobil dibukakan.Udara sore langsung menerpa wajahnya. Di tangannya kini telah ada sebuah keranjang berisi kelopak mawar putih dan merah.

Semakin dekat menuju pusara... Semakin berat langkahnya. Begitu melihat gundukan tanah yang masih basah... Seluruh kekuatannya runtuh.

"Kakek..." Suara itu pecah. Ia berlutut begitu saja di hadapan makam. Tangannya menyentuh perlahan nisan bertuliskan nama Hardja Hadinata.

Air matanya jatuh membasahi tanah yang bahkan belum mengering. "Maaf... Kaia datang terlambat... Tapi Kaia janji, Kaia akan menjaga Nenek. Jadi Kakek istirahatlah dengan tenang, ya..."

Tangisnya pecah tanpa bisa lagi ditahan. Jauh di belakang namun masih dengan jarak aman, dua bodyguard memilih memalingkan wajah. Mereka membiarkan Kaia menangis sepuasnya.

Setelah emosinya mulai mereda... Kaia mengambil segenggam kelopak mawar. Perlahan ia menaburkannya di atas pusara.

Lalu menengadahkan kedua tangan. Membacakan doa dengan suara lirih. Angin berembus pelan. Membawa aroma tanah dan bunga kamboja.

Saat hendak beranjak... Langkah Kaia kembali terhenti. Di sisi kanan makam Hardja, berjejer dua pusara yang begitu ia sayangi.

Ivanka dan Kiara. Dadanya kembali sesak. Perlahan ia melangkah mendekat.Menaburkan bunga mawar di atas kedua makam itu.

"Mama... Maaf Kaia baru bisa pulang. Jenguk Mama di sini." Tangannya bergetar menyentuh nisan sang ibu.

Lalu bergeser ke makam Kiara. "Kak... Maafin Kaia ya...Kaia nggak bisa menjaga rumah tangga yang Kakak titipkan." Kaia tersenyum getir. "Kaia sudah berusaha tapi Kaia benar-benar nggak sanggup..."

Air matanya kembali jatuh.Di antara tiga pusara itu, Kaia merasa seolah kembali menjadi gadis kecil yang kehilangan semua orang yang paling ia cintai.

tiba-tiba di belakangnya salah seorang bodyguard menyentuh earphone kecil di telinga. Wajah pria itu yang semula tenang mendadak berubah serius.

"Non..." Ia segera mendekati Kaia. "Non, kita harus pergi sekarang."

Kaia mengangkat wajah.Dahinya berkerut. "Kenapa?"

Bodyguard mengalihkan pandangan ke arah gerbang utama pemakaman.n"Mobil Tuan Elio kembali masuk."

Deg.

Jantung Kaia seperti berhenti berdetak sesaat.

Tubuhnya langsung menegang.Tanpa sadar jemarinya mencengkeram kain gamis yang dikenakannya, lantas bergegas berdiri.

"Non, jangan panik." Suara bodyguard tetap tenang, tetapi tegas. "Jangan menoleh. Tetap berjalan seperti biasa. Kita keluar lewat pintu timur. Mobil sudah menunggu."

Kaia mengangguk pelan.Tangannya yang gemetar segera merapikan cadar yang menutupi wajahnya.Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan detak jantung yang kini berpacu begitu cepat. Ia melangkah, menjauh dari ketiga pusara.

Di saat yang bersamaan... Sebuah mobil hitam memasuki area pemakaman. Elio turun sambil membawa seikat bunga lily putih, bunga kesukaan Kiara semasa hidupnya.

Ia memang sengaja kembali setelah sempat keluar pemakaman menuju toko bunga langganan mantan tunangannya.Namun langkahnya mendadak terhenti. Tatapannya menyipit, tertuju pada sosok perempuan bercadar hitam yang berjalan menjauh dari deretan makam keluarga Hadinata.

Perempuan itu memakai gamis longgar berwarna hitam.Tubuhnya ramping, cara berjalannya... Entah mengapa terasa begitu akrab.

Dada Elio mendadak berdebar. Ia menggeleng.

Tidak... Mustahil. Tetapi... Kenapa postur tubuh itu... Begitu mirip Kaia?

Tanpa sadar kakinya melangkah lebih cepat. Semakin diperhatikan, semakin kuat firasat itu menghantam dadanya.

"Kaia..." Gumamnya lirih. Perempuan itu tetap berjalan menjauh, tidak menoleh sedikit pun.

Dan Elio kini tak lagi mampu mengendalikan dirinya. "ΚΑΙΑ!"

Langkah Kaia mendadak melambat. Tubuhnya membeku. Suara itu... Ia tidak mungkin lupa suara pria yang pernah menjadi suaminya. Air mata kembali memenuhi pelupuk matanya. Dadanya sesak.

Bodyguard di sampingnya langsung berbisik pelan. "Non. Jangan menoleh. Terus jalan."

Kaia menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia memejamkan mata sepersekian detik. Lalu kembali melangkah semakin cepat.

"Kaia! Aku tahu itu kamu!"

Elio berteriak, kini ia benar-benar berlari. Bunga lily di tangannya berguguran satu per satu tanpa ia sadari.Yang ada di kepalanya hanya satu. Jangan sampai perempuan itu menghilang lagi.

Hingga...

Bruk!

Tubuhnya bertabrakan keras dengan seorang pria yang baru keluar dari area pemakaman. Pria itu terjatuh. Ponsel di tangannya terpental beberapa meter. Layarnya langsung retak, sementara casing belakangnya terlepas.

"Aduh! Mas, kalau lari lihat-lihat dong! Di area pemakaman malah lari-lari." Gerutunya.

Elio bahkan nyaris tak sempat berhenti. Ia buru-buru membantu pria itu berdiri.

"Maaf. Saya benar-benar minta maaf." Tangannya dengan cepat mengeluarkan dompet. Ia menyelipkan sebuah kartu nama ke tangan pria itu. "Saya dokter Elio, silakan datang ke Rumah Sakit Meganthara. Semua kerusakan ponsel akan saya ganti. Sekali lagi saya minta maaf."

Belum sempat pria itu menjawab... Elio sudah kembali berlari. Saat tiba di area parkir... Sebuah sedan hitam tepat melaju keluar melewati gerbang samping.

"Berhenti!" Teriaknya spontan.

Namun mobil itu justru melesat semakin cepat. Elio segera masuk ke mobilnya. Mesin langsung menyala. Ban berdecit saat meninggalkan area pemakaman.

Ia terus mengejar. Namun beberapa menit kemudian... Di sebuah persimpangan besar,sedan hitam itu lenyap. Seolah ditelan ramainya lalu lintas Jakarta.

Elio menghentikan mobilnya mendadak. Tangannya menghantam setir sekuat tenaga.

Brak!

"Sial!" Napasnya memburu. Matanya masih menyapu setiap kendaraan yang melintas.

Tidak... Ia tidak mungkin salah. Empat tahun ia mencari Kaia tanpa hasil. Mungkin wajah perempuan tadi tertutup cadar. Mungkin tubuhnya dibalut gamis hitam longgar.

Tetapi... Cara ia berjalan. Postur tubuhnya. Dan... entah mengapa, hatinya begitu yakin.

"Itu kamu..." Dada Elio naik turun. Matanya menajam penuh tekad. "Gimana pun caranya... Aku akan menemukanmu lagi."

Elio menyandarkan kepalanya ke kursi. Baru saja itu ia menyadari... Seikat bunga lily yang ia beli untuk Kiara telah tertinggal di pemakaman.

Dan yang tidak ia ketahui, pria yang ditabraknya di pemakaman adalah bagian dari skenario dadakan. Disusun oleh bodyguard Fadlan yang terlatih.

...****************...

*Bersambung *

* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*

*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝 *

*Terimakasih🙏*

*Salam manis dari AUTHOR ☺️*

*ig@putri_miceela.*

1
Ariany Sudjana
waduh, Elio akan ke Bali? berarti akan ketemu lagi dengan Kaia dan juga si kembar
Rahmi
Lanjut thorr
Ariany Sudjana
tapi meskipun sepandai-pandainya Kaia menyembunyikan sea dan ocean, suatu kali akan ketahuan juga, apalagi akan kembali ke Indonesia, pasti akan ketemu
Marini Suhendar
Fadlan dan kaia tdk mendengarkan alasan kenapa elio berbuat buruk dulu dan sekarang mencari kaian untuk apa..suatu saat pasti akan pertemukan..
Marini Suhendar
Fadlan kamu aj seorang ayah ..menyalahkan kematian ibu nya kaia slma 23 th..apalagi elio klo g percaya wajar donk..jangan merasa paling benar..
Ariany Sudjana
bagus Fadlan, jangan biarkan Elio tahu keberadaan Kaia, apalagi tentang si kembar, biarkan Elio mau cari ke ujung bumi, sampai gila sekalian 😂😂🤣🤣
Marini Suhendar
kaia..hrs tau alasan elio berbuat kasar dulu..karena elio termakam.hasutan..smoga segera d pertemukan dan itu aku serahkan kepada othor aj🤭
Ariany Sudjana
wah seru ini, hampir saja Elio ketemu Kaia.
kenapa pula Elio masih memikirkan Kaia? kan selama ini kamu ga pernah menganggap kehadiran Kaia, kamu masih menyalahkan Kaia atas kematian Kiara
Ariany Sudjana
tetap sabar dan kuat pa Fadlan dan Kaia, juga Farida, kakek Hardja sudah sembuh
Lilis Sumiati
lanjut thor jangan lama-lama update nya😍
Ariany Sudjana
kasihan ocean sama sea, mereka ingin ketemu papa kandungnya, sedangkan elio tidak menghendaki kehadiran mereka
Ariany Sudjana
waduh, Kaia akan pulang ke Indonesia, apakah akan ketemu sama Elio juga? semoga sih ga yah. biarkan saja Elio mencari seperti orang gila
Lyeend
ya..semoga Elio dipertemukan semula dengan Kaia dan anak kembar mereka dan semoga nda jadi bercerai.berbahagia lah mereka
Ariany Sudjana
kenapa kamu harus sedih Elio? kan selama ini kamu mengabaikan Kaia dan lebih percaya sama si pelacur murahan itu, tanpa mau mencari tahu kebenarannya, katanya kamu dokter, tapi bodohnya kebangetan
Marini Suhendar
Elio dulu hanya mendengarkan dr 1 pihak tanpa dia cerna kembali..klo tau sebenarnya mungkin tak kan memperlakukan kaia seperti ini..kenapa kaira dulu ingin menikahkan mereka karena mungkin tau yg sebenarnya kaia
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Kaia, sehat selalu buat si kembar
Ariany Sudjana
Neo sebaiknya jangan beritahu Elio, biarkan saja dia menanggung akibat dari perbuatannya sendiri
Ariany Sudjana
kenapa kamu harus sibuk mencari Kaia? bukannya selama ini Kaia selalu kamu acuhkan Elio? sudahlah biarkan Kaia memulai hidup baru di negara lain bersama si kembar
Ariany Sudjana
good decision Kaia, kamu akan memulai kehidupan baru di Slovenia dengan si kembar
Putri Anggraini
cerita sangat bagus sayang kalau gak di baca😍
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di Noveltoon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi September untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!