Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 27
***
Matahari pagi merayap pelan menembus celah-celah pepohonan rindang di area kampus, membiaskan pendar hangat yang kontras dengan dingin yang melingkupi tubuh Lyn. Setiap pijakan langkah kakinya menyusuri selasar lantai batu terasa bagaikan menopang beban berat. Rasa pegal yang menusuk di area panggul dan sisa kelelahan akibat pergumulan intens bersama Wiliam semalam membuat tubuhnya lunglai, pucat, dan hampir tak berdaya.
Namun, rasa bersalah dan ketakutan akan absennya di kelas terpaksa mendorong Lyn untuk tetap hadir hari itu.
Dengan gaun terusan berlengan panjang bernuansa krem yang menutupi rapat seluruh jejak keintiman terlarang di leher dan kulit mulusnya, Lyn melangkah pelan menuju area taman tengah kampus. Di sana, di atas bangku kayu di bawah naungan pohon kanopi yang rindang, sosok Clara duduk menyendiri. Matanya sembap, menatap kosong ke arah kolam kecil di depannya.
Lyn menghentikan langkahnya sejenak. Dadanya berdenyut nyeri menyaksikan kepedihan sahabatnya. Namun, ia memberanikan diri mendekat.
"Clara..." bisik Lyn dengan suara pelan dan sedikit serak.
Clara mendongak kaget. Begitu mendapati sosok Lyn yang berdiri dengan wajah pucat di hadapannya, pertahanan diri Clara seketika runtuh. Tanpa membuang detik, Clara bangkit dan langsung merangkul tubuh Lyn erat-erat, menyembunyikan wajahnya di bahu Lyn seraya melepaskan isak tangis yang tertahan.
"Lyn... hiks... aku takut sekali..." rintih Clara sesenggukan, jemarinya meremas kain gaun Lyn di bagian punggung. "Malam tadi... malam tadi benar-benar bencana..."
Tubuh Lyn menegang kaku di dalam pelukan hangat sahabatnya. Sentuhan tulus dari Clara terasa bagaikan sembilu tajam yang mengiris-iris nuraninya tanpa ampun. Setiap getaran tubuh Clara yang menangis adalah cambukan dosa atas keterlibatannya bersama Wiliam di balik pintu apartemen semalam.
"Clara... tenanglah..." bisik Lyn serak, membalas pelukan itu dengan jemari yang dingin dan gemetar hebat. "Maafkan aku... maaf semalam aku tidak bisa datang mendampingimu..."
Clara melepaskan pelukannya pelan, mengusap air mata yang membasahi pipinya seraya menatap Lyn dengan pandangan penuh duka. "Tidak apa-apa, Lyn... Kamu kan sedang sakit semalam. Tapi... kamu tidak bisa bayangkan betapa menyeramkannya Papa tadi malam."
Lyn menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tersumbat batu besar. "T-Tuan Wiliam... sekejam itu?"
"Papa bahkan tidak menyentuh sendoknya sama sekali, Lyn!" tangis Clara pecah kembali, mendudukkan dirinya di bangku kayu diikuti oleh Lyn yang duduk tertunduk di sampingnya. "Papa menatap Mami seperti menatap musuh besar. Nada suaranya dingin sekali... Papa bilang tidak ada kesempatan kedua, tidak ada rumah untuk Mami, dan Papa menyuruh Mami pergi!"
Setiap kata yang meluncur dari bibir Clara menghantam dada Lyn bagaikan hantaman godam. Lyn memegangi jemari tangannya yang saling bertaut rapat di pangkuan, menahan rasa perih yang melilit perut dan dadanya. Ia tahu betul... di saat Clara dan Siska menangis di meja makan mansion yang dingin itu, Wiliam sedang mengurungnya di atas ranjang apartemen, menuntut kepatuhan total darinya dalam jeratan gairah yang membakar.
"Mami sampai pingsan dan menangis histeris di kamar setelah Papa pergi," lanjut Clara seraya menyapu air matanya kasar. "Mami cuma mau keluarga kita utuh kembali, Lyn. Mami sudah menyesali kesalahannya di masa lalu... Tapi kenapa Papa bisa berubah menjadi begitu dingin dan tidak punya hati?!"
"Mungkin... mungkin Papamu punya alasan sendiri, Clara..." bisik Lyn pelan, suaranya hampir tak terdengar. Matanya menatap kosong ke lantai rumput di bawah kakinya.
"Alasan apa?!" potong Clara cepat, matanya membelalak menatap Lyn dengan rasa frustrasi yang meluap. "Dulu Papa tidak sekejam ini pada Mami! Walaupun Papa dingin, Papa selalu menjaga batas kesopanan. Tapi semalam... Papa seolah-olah punya benteng baru yang teramat kokoh. Seolah-olah... seolah-olah Papa sedang menjaga seseorang agar Mami tidak bisa masuk lagi ke dalam rumah itu!"
DEG.
Darah di dalam tubuh Lyn terasa berhenti mengalir seketika. Wajahnya yang sudah pucat kian meloloskan sisa-sisa warnanya. Lyn meremas kain gaunnya kuat-kuat, berjuang setengah mati agar ketakutan dan gelagat kepanikannya tidak terbaca oleh Clara.
"C-Clara... kamu... kamu bicara apa...?" cicit Lyn dengan nada suara yang bergetar tajam.
Clara menghela napas panjang, meraup wajahnya yang basah oleh air mata. "Aku tidak tahu, Lyn. Mami juga bilang begitu padaku semalam... Mami curiga Papa punya wanita lain di luar sana. Wanita simpanan yang membuat Papa mendadak sangat tegar membuang Mami sepenuhnya."
Lyn memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa sakit psikologis yang teramat dahsyat menjalar melingkupi jiwanya. Wanita simpanan itu... adalah aku, Clara. Orang yang sedang duduk di sampingmu dan memegang tanganmu saat ini... adalah alasan kenapa keluargamu hancur, batin Lyn menjerit pilu dalam keputusasaan yang tak terobati.
"Tapi aku tidak percaya pada tuduhan Mami," sambung Clara pelan, menoleh dan kembali memegang tangan dingin Lyn.
Lyn tersentak, perlahan membuka matanya menatap Clara dengan pandangan bersalah. "K-kamu... tidak percaya?"
Clara menggelengkan kepalanya yakin, walau matanya masih dilingkungi kesedihan. "Papa itu pria yang sangat terhormat dan dingin. Selama puluhan tahun, Papa tidak pernah membawa sembarang wanita ke rumah atau memperlihatkan tanda-tanda skandal. Aku tahu Papaku. Papa cuma terlalu sakit hati pada Mami... Papa tidak mungkin serendah itu menyimpan wanita rahasia di belakangku."
Setiap kalimat kepolosan yang diucapkan Clara dengan penuh kepercayaan menjadi racun yang makin mematikan bagi Lyn. Rasa percaya Clara padanya dan pada sang ayah terasa bagaikan pukulan bertubi-tubi yang meremukkan nuraninya. Lyn merasakan sesak yang teramat sangat di dadanya—sebuah penderitaan batin yang jauh lebih menyiksa daripada rasa pegal di fisiknya.
"Clara..." bisik Lyn, suaranya parau dan bergetar hebat. Air mata tergenang di sudut mata jernihnya. "Bagaimana... bagaimana kalau suatu hari nanti... kamu tahu bahwa dunia tidak seideal yang kamu bayangkan?"
Clara berkerut halus, menatap Lyn dengan pandangan bingung. "Maksudmu bagaimana, Lyn?"
Lyn mengulas senyum tipis yang teramat pahit dan hancur, menggelengkan kepalanya pelan seraya mengusap jemari Clara. "Tidak ada... Aku cuma tidak mau kamu terus-terusan menyiksa dirimu sendiri seperti ini. Kalau Tuan Wiliam memang tidak bisa menerima Tante Siska kembali... mungkin kamu harus belajar merelakannya, Clara."
"Tapi aku tidak bisa, Ev!" tegas Clara dengan mata berkilat gigih. "Mami adalah ibuku, dan Papa adalah seorang yang paling penting di hidupku. Aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan cari tahu apa yang sebenarnya membuat Papa sekeras ini!"
Lyn membisu total di bawah naungan pohon taman yang sejuk. Keheningan yang mencekam kembali merayap di antara dua sahabat itu.
Di dalam keterpurukan jiwanya yang kian tersudut, Lyn menyadari bahwa lingkaran rahasia ini makin menyempit. Siska yang mulai mencurigai keberadaan wanita lain, Clara yang bertekad membongkar alasan di balik kebekuan ayahnya, serta Wiliam yang kian erat menguncinya dalam sangkar emas—semua itu menjadi bom waktu yang siap meledak dan menghancurkan seluruh kehidupannya kapan saja.
Bersambung....
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻