Indonesia
NovelToon NovelToon
GADISKU SEORANG BAR-BAR

GADISKU SEORANG BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Romantis / Komedi
Popularitas:901
Nilai: 5
Nama Author: Icita

GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kode Benang Jelujur dan Teror Puncak Matterhorn

BRRRUMMM… BLETAK-BLETAK-PRUTTT!

Suara deru mesin 110cc Honda Revo hitam milik Gala menggema kencang di dalam lorong gerbong kargo kereta Glacier Express. Sebelum para eksekutor ber-tuxedo sempat mengarahkan moncong senapan mesin mereka, motor tua itu menerobos pintu kaca penghubung gerbong dengan kecepatan penuh!

Di atas stang motor, bukan Gala yang mengendarainya, melainkan Vanya—yang telah melompat ke kargo sejak lampu padam pertama tadi. Sambil memiringkan motor hingga pijakan kakinya mengeluarkan percikan api di atas lantai marmer kereta, Vanya menghantam dua eksekutor terdepan hingga terpental menabrak jendela kaca!

“Gala! Sambarnya!” teriak Vanya sambil melempar sepotong besi tua berkarat berantai tipis yang sebelumnya dijadikan ganjalan standar miring motor.

Gala melompat dari balik kursi kelas satu, menangkap besi berkarat itu di udara dengan ketepatan yang tidak disangka-sangka dari seorang jurnalis penakut. Besi berkarat itu tak lain adalah pedal mesin jahit Singer emas peninggalan Mbah Tejo!

“Dapat!” jerit Gala girang.

Baroness Karlotta membelalakkan mata, menunjuk Gala dengan tongkat pualamnya. “Bunuh dia! Rebut pedal itu sekarang juga!”

Senja dan Siska langsung bertindak. Senja melepaskan tendangan melayang yang menjatuhkan eksekutor di sebelahnya, lalu merebut senapan MP5 milik musuh untuk memberikan tembakan perlindungan. Siska, dengan presisi mematikan, melempar pisau kompositnya hingga menancap tepat di mekanisme rem darurat otomatis di dinding terowongan!

CITTTTTTTT—BOOM!

Roda-roda besi kereta memercikkan api hebat. Sentakan pengereman yang dahsyat melempar Baroness Karlotta dan sisa pengawalnya menabrak dinding gerbong.

“Ke atap kereta! Cepat!” komando Sersan Broto sambil mendorong Pak Joko yang meratapi sarungnya yang kembali tersangkut di engsel pintu.

Mereka bertiga menerobos pintu darurat atas, memanjat tangga besi, dan melompat naik ke atas atap gerbong kereta yang melaju kencang keluar dari terowongan es, tepat di bawah guyuran badai salju pegunungan Alpen yang membeku!

Di atas atap Glacier Express yang meluncur di atas jembatan gantung jurang es setinggi tiga ratus meter, angin dingin menusuk hingga ke tulang. Salju menyengat wajah Gala saat ia merangkak di atap kereta bersama Senja, Siska, Vanya, dan Pak Joko.

Di belakang mereka, Baroness Karlotta dan lima pengawal elitnya yang mengenakan kacamata pelindung salju ikut memanjat naik ke atas atap kereta dengan memegang pistol laras panjang.

“Tuan Gala!” teriak Baroness Karlotta melintasi deru angin salju. “Anda tidak punya tempat untuk berlari! Serahkan pedal mesin jahit itu dan Anda bisa hidup tenang dengan uang pensiun sepuluh juta dolar!”

Gala memeluk pedal besi berkarat itu erat-erat di balik jaket tebalnya. “Sepuluh juta dolar?! Mbak Karlotta, jangankan sepuluh juta dolar, uang lima miliar dolar di Cayman aja kuitansi bensin saya belum cair-cair! Saya udah nggak percaya sama janji manis mafia!”

Tiba-tiba, Pak Joko yang menggigil ketakutan di samping Siska mendadak berteriak menunjuk ke arah pedal di dekapan Gala.

“Gala! Lihat ukiran di bawah engsel pedal itu!” seru Pak Joko sambil menepuk-nepuk bahu Gala. “Itu bukan sekadar besi berkarat! Itu ada ukiran angka rahasia pola benang jelujur Mbah Tejo!”

Gala membalikkan pedal besi tua tersebut. Di balik lapisan karat yang mengelupas terkena gesekan gesper jaketnya, terlihat deretan garis titik-titik timbul berbentuk sandi Morse khusus yang dipahat rapi.

Siska yang melihat urutan titik itu langsung membelalakkan mata. “Itu bukan sekadar kata sandi! Itu adalah koordinat GPS dinamis dan frekuensi pengunci brankas utama yang terhubung langsung dengan Satelit Cuaca Pegunungan Matterhorn!”

Senja menoleh ke arah depan kereta. Di ujung jalur rel jembatan gantung, terlihat puncak tajam Mount Matterhorn yang menjulang menembus awan badai salju.

“Artinya brankas Mbah Tejo bukan ada di gedung bank di Zurich…” bisik Senja tak percaya, “…tapi di dalam gua es buatan di puncak terlarang Matterhorn!”

Baroness Karlotta yang mendengar percakapan itu menyeringai kejam. “Terima kasih atas informasinya, anak-anak manis. Sayangnya, perjalanan kereta kalian berakhir di sini!”

Baroness mengangkat senjatanya, mengunci posisi Gala.

Namun sebelum pelatuknya ditarik, Sersan Broto yang sejak tadi merayap di bawah cerobong asap gerbong kargo, menyalakan sinyal suar (flare) merah terang dan melemparnya langsung ke atas langit malam!

SHUUUTTT—BLAST!

Dari balik awan salju tebal Puncak Matterhorn, sebuah bayangan helikopter tempur raksasa bermesin ganda berlogo militer independen menembus kabin angin.

Pintu helikopter terbuka, dan dari dalamnya turun jaring kargo raksasa yang dikendalikan oleh sistem pengait otomatis.

“Gala! Melompat sekarang!” teriak Sersan Broto.

Tanpa berpikir dua kali, Gala, Senja, Siska, Vanya, dan Pak Joko melompat bersamaan dari atas atap kereta yang melaju kencang, menerjang badai salju, dan jatuh tepat ke dalam jaring kargo helikopter penyelamat!

Baroness Karlotta berteriak murka di atas atap kereta saat helikopter itu terangkat naik, membawa Gala dan kawan-kawan menjauh melintasi jurang es menuju puncak esMatterhorn.

Di dalam jaring kargo helikopter yang berguncang diterpa angin puncak gunung.

Gala terengah-engah, memegangi dadanya yang berdegup kencang sambil menatap pedal mesin jahit emas di tangannya.

“Nja… Sis…” bisik Gala parau, bibirnya kebiruan karena suhu minus dua puluh derajat. “Gue rasa… kakek gue dulu sengaja bikin petualangan gila begini cuma gara-gara dia bosan ngejahit celana jeans di Sleman…”

Senja tertawa kecil, memeluk suaminya erat untuk berbagi kehangatan. “Tapi gara-gara kakekmu, sekarang kita tinggal satu langkah lagi menuju harta lima puluh triliun dolar itu, Gal.”

Pak Joko yang meringkuk di sudut jaring sambil memeluk sarung tenunnya mendadak berdehem. “Ehem… Gala… Nanti kalau uang lima puluh triliun dolarnya cair… bonus akhir tahun saya sebagai Pemimpin Redaksi tetap sepuluh persen, kan?”

Gala menoleh menatap mantan bosnya dengan tatapan paling dingin se-Alpen. “Pak Joko… Kalau uangnya cair, hal pertama yang saya beli adalah pabrik kertas, khusus buat nge-print kuitansi bensin saya selama lima tahun lalu, dan bapak wajib nandatanganin satu per satu pakai bolpoin yang tintanya mau habis!”

Di hadapan mereka, benteng es rahasia di Puncak Matterhorn mulai terlihat memancarkan cahaya biru misterius di tengah badai salju—tempat pertempuran akhir untuk menentukan siapa penguasa sejati takhta ekonomi dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!