Indonesia
NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah Kecil

Gedung pencakar langit Thorne Enterprises menjulang megah, membelah langit malam Amsterdam dengan lampu-lampu LED biru yang menyala tajam di setiap sudut arsitektur modernnya. Jam di dinding marmer lobi utama telah menunjukkan pukul sebelas malam, menyisakan keheningan pekat yang hanya dipecahkan oleh suara langkah kaki tegap seorang pria.

Victor tidak kembali ke penthouse. Keputusan itu diambilnya bukan karena ia menghindari Freya, melainkan karena ia tahu bahwa kemarahan Maminya di meja makan tadi baru permulaan dari badai birokrasi keluarga yang jauh lebih melelahkan. Ia butuh ketenangan untuk menyusun strategi pertahanan berikutnya.

Di dalam ruang kerjanya yang luas di lantai paling atas, layar monitor transparan menyala redup menampilkan laporan keuangan triwulan. Namun pikiran Victor sama sekali tidak berada di sana. Pikirannya melayang pada gadis berambut hitam kecoklatan yang kini menunggunya di tengah hutan pinggiran kota. Bayangan wajah Freya yang cemas dan ketakutan siang tadi membuat dadanya terasa sesak. Victor tahu, insiden makan malam keluarga dengan keluarga Van Der Bilt pasti telah bocor ke telinga media atau setidaknya menjadi bahan gosip panas di kalangan elit kota. Dan ia tidak ingin Freya mendengar desas-desus busuk itu sendirian.

Victor menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja kulit hitam berukuran besar, memijat batang hidungnya yang terasa penat. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel pintar, lalu membuka aplikasi pesan singkat. Namanya tidak ia ketik, melainkan langsung memanggil asisten kepercayaannya.

"Markuz," suara Victor rendah namun tajam begitu sambungan terhubung. "Datang ke ruanganku sekarang."

Tidak sampai tiga menit, pintu ruang kerja terbuka tanpa suara. Markuz berdiri tegak dengan setelan jas rapi, siap mendengarkan instruksi bosnya kapan pun dibutuhkan, bahkan di tengah malam sekalipun.

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Markuz tenang.

Victor menatap lurus ke depan, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kerja kaca. "Besok pagi, sebelum jam sembilan, aku ingin kau mengurus sesuatu untuk penthouse."

Markuz mengangguk sigap, mencatat setiap detail di dalam ingatannya. "Perintah apa, Tuan?"

"Kirimkan kue cake dalam jumlah banyak ke penthouse," lanjut Victor, sedikit jeda terukir di kalimatnya. "Pastikan dominan rasa strawberry. Sebanyak yang mereka punya di toko kue terbaik di pusat kota. Pilih yang segar."

Markuz sedikit mengangkat alisnya, terkejut dalam diam. Ia tahu betul siapa yang dimaksud. Gadis di penthouse itu ternyata sangat disukai bosnya hingga urusan makanan penutup pun diperhatikan sedemikian rupa. "Baik, Tuan. Saya akan pastikan pesanan itu tiba tepat waktu besok pagi."

"Dan Markuz," tambah Victor sebelum asistennya itu berbalik. "Jangan biarkan siapapun mendekati area penthouse tanpa izin dariku, terutama orang-orang suruhan keluarga Van Der Bilt atau Mami."

"Dimengerti, Tuan." Markuz membungkuk hormat lalu meninggalkan ruangan, membiarkan Victor kembali sendiri dengan kesunyian malam dan tekad yang kian membaja.

Mentari pagi perlahan merayap naik, membiaskan cahaya keemasan di antara rimbunnya pepohonan pinus yang mengelilingi penthouse mewah milik Victor. Suara gemerisik angin pagi dan kicauan burung liar menciptakan simfoni alam yang menenangkan, jauh berbeda dari hiruk-pikuk pusat kota Amsterdam.

Di dalam penthouse, Freya menarik napas dalam-dalam, merasakan ketenangan yang perlahan merayap kembali ke dalam dadanya setelah malam sebelumnya dilanda kecemasan luar biasa. Telepon dari Victor semalam yang mengatakan bahwa pria itu baik-baik saja dan tidak akan menuruti kemauan keluarganya sedikit banyak telah meredakan gemetar di hatinya.

Freya memutuskan untuk menyibukkan diri. Sebagai bentuk rasa tanggung jawabnya selama tinggal di tempat itu, ia mulai membersihkan setiap sudut ruangan. Dengan balutan kaus longgar katun putih dan celana training lembut, ia menyapu lantai marmer putih yang bersih, merapikan bantal sofa beludru, hingga mengelap meja kaca besar di ruang tengah.

Ada rasa bersalah yang mengganjal di sudut hatinya. Freya ingat betul bagaimana ia sempat bersikap dingin dan ketus kepada Victor karena rasa tidak amannya beberapa hari lalu, padahal pria itu telah memberikan segalanya—mulai dari jaminan pengobatan sang ibunya di rumah sakit hingga biaya kuliah adiknya, Steven. Victor bahkan mempertaruhkan hubungannya dengan keluarganya sendiri demi membela dirinya dari intrik Annelise.

“Aku tidak boleh terus-menerus menjadi beban dan bersikap egois,” gumam Freya pelan pada dirinya sendiri saat ia meletakkan alat pembersih lantai di sudut ruangan.

Setelah selesai membersihkan seluruh area penthouse, Freya melangkah mantap menuju dapur modern yang didominasi warna perak dan hitam. Hari ini, ia bertekad melakukan sesuatu yang istimewa. Ia ingin memasak makan siang spesial untuk Victor dan mengirimkannya langsung ke kantor pusat Thorne Enterprises.

Bahan-bahan segar sudah tersedia di dalam lemari pendingin besar. Freya mulai meracik bumbu, memotong sayuran dengan teliti, dan memasak hidangan favorit yang ia yakini akan disukai oleh Victor di tengah kesibukan kantornya yang padat. Aroma sedap masakan rumahan langsung memenuhi penjuru dapur, menghangatkan suasana penthouse yang tadinya terasa dingin dan asing.

Di sela-sela aktivitas memasaknya, langkah Freya terhenti sejenak. Ingatannya melayang pada beberapa hari lalu, saat ia tanpa sengaja berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan elit sebelum insiden pertengkarannya dengan Annelise terjadi di butik.

Saat itu, ia sempat mampir ke sebuah gerai pakaian pria eksklusif dan melihat sehelai dasi sutra Italia berwarna navy dengan motif garis perak tipis yang sangat elegan. Seketika itu juga, bayangan Victor mengenakan dasi tersebut di ruang kerjanya terlintas di benak Freya. Tanpa berpikir panjang, ia menggunakan sebagian kecil uang sisa dari tunjangan yang diberikan Victor untuk membelinya—menggunakan uangnya sendiri, bukan uang dari kontrak mereka, sebagai bentuk harga diri kecil yang ingin ia pertahankan.

Freya bergegas menuju kamar tidurnya, membuka laci lemari pakaian tempat ia menyimpan tas belanja kecil berlogo butik terkenal itu. Ia mengeluarkan kotak hitam beludru berisi dasi tersebut, lalu memandanginya dengan senyumen kecil tersungging di bibirnya.

"Semoga dia menyukainya," bisik Freya penuh harap.

Ia kemudian membungkus rapi kotak makan berisi hidangan lezat buatannya ke dalam kantong insulator khusus makanan, lalu menyatukannya bersama kotak hadiah dasi tersebut. Masalahnya sekarang adalah bagaimana cara mengirimkannya ke kantor pusat tanpa harus datang sendiri dan memicu kehebohan di hadapan para staf atau bahkan Nyonya Valen.

Tepat pada saat itu, bel pintu penthouse berbunyi nyaring.

Freya terkejut kecil. Ia berjalan mengendap ke arah pintu depan, mengintip melalui layar interkom digital. Di luar, berdiri sesosok pria berjas rapi dengan postur tegap dan kaku—Markuz. Asisten pribadi Victor.

Freya segera membukakan pintu utama. Udara pagi langsung menyeruak masuk bersamaan dengan senyuman kaku namun sopan dari Markuz.

"Selamat pagi, Nona Freya," sapa Markuz dengan nada formal khasnya.

"Pagi, Markuz," jawab Freya sedikit canggung. "Ada apa ya? Apakah Victor menyuruhmu datang kemari?"

Markuz tidak langsung menjawab dengan kata-kata, melainkan memberi jalan kepada dua orang kurir toko kue terkenal di Amsterdam yang berdiri di belakangnya. Mereka membawa beberapa troli kecil berisi belasan kotak kue mewah berukuran besar dengan pita-pita cantik. Aroma manis cokelat, vanila, dan buah segar langsung menguar di udara.

"Tuan Victor memerintahkan saya untuk mengirimkan ini semua ke penthouse," jelas Markuz tenang. "Khususnya cake dengan varian rasa strawberry, karena Tuan tahu Anda sangat menyukainya, Nona."

Mata Freya membelalak lebar melihat puluhan kotak kue mewah yang memenuhi teras depan hingga sebagian ruang tamu. Hatinya mendadak menghangat. Pria dingin itu—di tengah kemelut masalah keluarga dan tekanan hebat dari ibunya—masih sempat memikirkan kesukaannya terhadap buah strawberry.

"Sebanyak ini?" cicit Freya tak percaya, pipinya merona merah.

"Tuan Victor tidak setengah-setengah kalau soal Anda, Nona," jawab Markuz datar, meski ada secercah kilat geli di mata asisten setia itu. "Ah, ngomong-ngomong, apakah ada hal lain yang bisa saya bantu sebelum saya kembali ke kantor?"

Mendengar pertanyaan itu, Freya langsung teringat pada niatnya tadi. Ia bergegas masuk ke dalam dapur, lalu kembali membawa kantong makanan serta kotak hadiah dasi yang sudah ia bungkus rapi dengan pita kecil.

"Markuz, aku boleh minta tolong satu hal lagi?" tanya Freya dengan wajah penuh harap, menyodorkan kantong tersebut kepada sang asisten.

Markuz menatap kantong di tangan Freya dengan tatapan menyelidik sejenak, lalu menerimanya dengan hati-hati. "Katakan, Nona."

"Tolong antarkan makanan ini beserta kotak hadiah ini ke ruang kerja Victor di kantor pusat," pinta Freya dengan suara lembut, sedikit salah tingkah. "Katakan padanya... ini dari aku. Dan tolong pastikan dia memakannya, karena aku tahu dia pasti melewatkan sarapannya demi bekerja."

Markuz menatap bungkusan itu, lalu beralih menatap wajah Freya yang tampak tulus. Sudut bibir Markuz terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat jarang ia tunjukkan pada siapapun.

"Baik, Nona Freya. Saya akan pastikan Tuan Victor menerima ini tepat di atas meja kerjanya sebelum jam makan siang," jawab Markuz mantap. "Dan saya yakin, Tuan akan sangat menghargai pemberian ini."

Setelah berpamitan singkat, Markuz membawa bungkusan tersebut masuk ke dalam mobil sedan hitamnya, meninggalkan Freya yang berdiri di ambang pintu penthouse dengan perasaan jauh lebih ringan, sementara puluhan kotak kue strawberry tersusun manis di dalam rumah, menjadi saksi bisu atas perhatian kecil di tengah badai besar yang sedang mengancam hubungan mereka.

Jam menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit ketika Markuz mengetuk pintu ruang kerja utama Victor Thorne di lantai paling atas gedung Thorne Enterprises. Tanpa menunggu lama, suara bariton dari dalam memerintahkannya masuk.

Victor sedang berdiri di dekat jendela kaca raksasa, menatap lalu lintas kota Amsterdam dari ketinggian puluhan lantai. Wajahnya tampak lelah, garis rahangnya mengeras, dan kantung mata tipis terlihat jelas menandakan ia tidak tidur semalaman penuh. Panggilan telepon dari para pemegang saham dan ibunya sejak pagi tadi terus menerus mendistraksi konsentrasinya.

"Ada laporan apa lagi, Markuz?" tanya Victor tanpa membalikkan badan, suaranya terdengar dingin dan berat.

Markuz melangkah masuk dengan tenang, membawa sebuah tas kertas berlogo butik elegan serta kotak insulator makanan hangat di tangan sebelahnya. Ia meletakkan benda-benda tersebut dengan sangat hati-hati di atas meja kerja kaca Victor yang dipenuhi berkas-berkas penting.

"Saya sudah mengirimkan seluruh cake rasa strawberry ke penthouse sesuai instruksi Anda, Tuan. Dan Nona Freya menerimanya dengan baik," lapor Markuz dengan nada profesional.

Victor akhirnya membalikkan tubuhnya. Alisnya sedikit bertaut, matanya menatap benda-benda yang diletakkan Markuz di atas mejanya. "Lalu apa itu?"

"Sebelum saya meninggalkan penthouse, Nona Freya menitipkan ini untuk Anda, Tuan," jawab Markuz sambil sedikit menyingkirkan setumpuk dokumen agar kotak makanan itu terlihat jelas. "Beliau meminta Anda memakannya, karena beliau tahu Anda melewatkan sarapan. Dan di dalam tas kertas itu... ada hadiah kecil yang dibelinya khusus untuk Anda."

Victor terdiam. Tatapan matanya yang tadinya tajam dan dingin mendadak melunak seketika. Sebuah tarikan napas berat keluar dari bibirnya, menghapus ketegangan yang sejak pagi mencengkeram dadanya.

Ia melangkah mendekati meja kerjanya, meninggalkan tumpukan laporan bisnis yang memuakkan. Dengan jemari kokohnya, Victor membuka kantong insulator tersebut. Aroma masakan rumahan yang lezat langsung mengepul keluar, menghangatkan ruangan kerja yang bernuansa kaku itu. Di sebelah kotak makanan, ia melihat sebuah kotak beludru hitam kecil berisi sehelai dasi sutra Italia berwarna navy dengan motif garis perak yang sangat elegan—dasi yang persis sama dengan yang sempat dilihatnya dilirik Freya di butik tempo hari.

Victor mengangkat dasi tersebut perlahan, mengusap permukaannya yang halus dengan ibu jarinya. Senyuman tipis yang tulus—senyuman yang tidak pernah dilihat oleh siapapun di perusahaan ini selain Markuz—terukir di bibir pria itu.

"Beliau bilang, beliau minta maaf karena sempat bersikap dingin pada Anda, Tuan," tambah Markuz dengan nada suara yang sedikit merendah. "Dan beliau ingin Anda tahu bahwa beliau memikirkan Anda."

Victor menutup kotak beludru itu perlahan, lalu meletakkannya kembali di dekat dokumen pentingnya. Perasaan hangat menyelimuti hatinya, menghapus separuh lelah akibat tekanan keluarga dan intrik licik Annelise.

"Markuz," ucap Victor dengan suara rendah namun tegas, tatapannya kembali berbinar tajam penuh keyakinan.

"Ya, Tuan?"

"Batalkan seluruh jadwal pertemuan soreku dengan para dewan direksi," perintah Victor sambil melonggarkan dasinya sendiri. "Katakan pada mereka aku ada urusan mendesak."

Markuz mengangguk paham. "Baik, Tuan. Anda akan langsung kembali ke penthouse?"

Victor tidak langsung menjawab. Ia mengambil kotak makanan buatan Freya, membuka tutupnya, lalu tersenyum tipis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!