Di lima alam kultivasi yang bertingkat — Dunia Fana, Dunia Roh, Dunia Dewa, Dunia Dewa Kuno, hingga Dunia Kekosongan — seorang Kaisar Dewa gagal menembus batas tertinggi dan tubuhnya hancur menjadi debu. Namun jiwanya yang tak pernah mati terlahir kembali ke dunia fana sebagai Ye Hu, anak tertua seorang Marquis yang dicap sampah karena dantian-nya hancur akibat keracunan tiga tahun lalu.
Dengan ingatan ribuan tahun dan pengetahuan alkimia serta teknik kuno yang telah hilang dari dunia, Ye Hu bangkit perlahan. Ia menyembuhkan dantian-nya sendiri, menciptakan pil dengan kemurnian mustahil bagi siapa pun di tingkatnya, dan mengungkap pengkhianatan di dalam keluarganya sendiri —
Ini barulah awal perjalanannya, Selanjutnya dia menemui keturunan dari murid-muridnya sedang menderita di dunia dana ini. Dengan kondisi tubuh yang terbatas, Ye Hu berusaha untuk membantu buyut dari murid-muridnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Di Balik Lempengan Perak
Acara Pelelangan Besar sudah dimulai sebentar ketika Ye Hu melangkah masuk melalui gerbang utama Balai Pelelangan. Ma Teng sudah menunggu di sana, dan segera menyambutnya dengan hormat penuh. Tanpa banyak bicara, Ma Teng mengantarnya langsung menuju ruangan VIP yang terletak di lantai tertinggi, tempat yang paling strategis untuk melihat seluruh panggung lelang.
Sesampainya di dalam ruangan, Mu Yan sudah menunggu di sana. Ia menyambut Ye Hu dengan senyum hangat dan mengantarnya ke kursi terbaik. Di meja telah tersedia berbagai hidangan lezat dan minuman berenergi yang disiapkan khusus untuk tamu VIP.
"Silakan nikmati, Adik Ye Hu," ucap Mu Yan lembut. "Di sini kau bisa melihat semuanya dengan jelas tanpa terlihat dari bawah."
Di ruangan itu juga sudah duduk Adipati Wu Ling bersama seorang gadis muda yang cantik luar biasa, wajahnya bersih bagai bulan purnama, dan kulitnya memancarkan dingin yang samar — Wu Jing, putri tunggal Adipati. Di samping mereka duduk Wan Tung, yang segera mengangguk hormat saat melihat Ye Hu.
"Ini putriku, Wu Jing," ucap Adipati dengan bangga, lalu beralih kepada putrinya. "Dan ini Saudara Ye Hu — dialah yang telah menyelamatkan hidupmu dan memberimu harapan baru."
Wu Jing segera berdiri dan membungkuk dalam dengan penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Tuan Ye Hu. Nyawaku dan hidupku berhutang budi kepadamu."
Ye Hu lebih tertarik Tubuh Es Wu Jing dari pada parasnya.
Mu Yan memperhatikan dengan saksama ekspresi Ye Hu saat melihat gadis cantik itu. Namun yang ia lihat hanyalah tatapan yang tenang dan ramah, tanpa sedikit pun kekaguman yang berlebihan atau rasa terpesona. Pria yang melintasi dunia tidak akan terpukau oleh kecantikan semata, batin Mu Yan tersenyum. Bahkan diriku yang banyak dipuji dan didambakan banyak pria pun tidak pernah dipandangnya dengan tatapan lain. Betapa banyak bangsawan dan ahli yang mengantri untuk sekadar bicara denganku, namun baginya aku hanyalah kakak biasa.
Ye Hu tersenyum sopan kepada Wu Jing, lalu segera beralih kepada Wan Tung. "Tuan Wan Tung, ada satu hal yang ingin kuminta. Jika ada bahan-bahan untuk meracik Pil Penguat Qi Tingkat Tiga, tolong sediakan sebanyak mungkin untukku. Biayanya nanti akan kubayar semuanya."
Wan Tung segera melambaikan tangan. "Tuan Ye Hu berkata begitu terlalu sopan! Soal biaya, jangan pernah dipikirkan. Selama bahan itu ada di Toko Obat Sumber Kehidupan, kau boleh ambil sesukamu. Itu belum sebanding dengan ilmu yang kau berikan padaku."
Mu Yan juga menambahkan dengan tegas, "Dan jika ada barang yang kau sukai di pelelangan ini, tawar saja berapapun harganya. Semua biaya akan ditanggung Balai Pelelangan."
Ye Hu tersenyum tipis di dalam hatinya. Dua orang paling berpengaruh di Kota Awan bersedia memberikan apa saja yang ia butuhkan. Seandainya keluarga Ye melihat pemandangan ini, pasti tidak akan ada yang percaya — pemuda yang mereka anggap sampah dan anak haram, kini dihormati dan didukung oleh penguasa kota dan pemilik toko obat terbesar.
Mu Yan kemudian berpamitan untuk turun ke panggung mengurus jalannya acara.
Tak lama kemudian, pembicara lelang naik ke panggung dan mengumumkan dimulainya bagian utama pelelangan. Di bawah, di area kursi biasa, terlihat berbagai tokoh bangsawan dan kultivator berpengaruh. Bahkan Ye Du, Ye Gan, dan teman-teman mereka juga hadir, duduk di kursi kelas menengah sambil menatap kagum ke arah panggung. Mereka tidak tahu bahwa orang yang mereka hina-hina sedang duduk di ruangan tertinggi, di tempat yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun di bawah — dinding penghalang energi memisahkan ruangan VIP dari pandangan orang lain.
Satu per satu barang lelang diperlihatkan dan dijual dengan harga yang semakin tinggi. Suara tawar-menawar terdengar riuh di seluruh ruangan. Hingga akhirnya, sebuah batu berwarna ungu pekat yang memancarkan cahaya lembut diletakkan di atas meja panggung.
"Berikutnya — Batu Ratna Ungu!" seru pembicara dengan lantang. "Batu ini bisa digunakan untuk menempa senjata tingkat tinggi, maupun langsung diserap untuk meningkatkan kekuatan kultivasi! Kualitasnya jauh melampaui Batu Roh tingkat tinggi! Mulai dari seribu batu roh!"
Harga segera naik. Dua ribu, dua setengah ribu, tiga ribu batu roh. Ye Hu ikut menawar, namun suara lain dari ruangan VIP sebelah terus menaikkan harga tanpa kalah. Persaingan akhirnya hanya tersisa Ye Hu dan suara wanita misterius dari ruangan sebelah. Setiap kali Ye Hu menaikkan harga, wanita itu langsung menaikkan lagi tanpa ragu.
Ye Hu akhirnya menghela napas dan melepaskan tawaran itu. Harganya sudah jauh melampaui nilai sebenarnya. Wanita itu benar-benar tidak berniat melepaskannya kepada siapa pun.
"Baik, dijual kepada Ruangan VIP Nomor Dua!" seru pembicara.
Ye Hu tidak terlalu kecewa. Batu itu bagus, tapi belum cukup untuk mengubah jalannya kultivasinya.
Barang-barang lain kembali diperlihatkan satu per satu. Hingga akhirnya, sebuah benda yang tampak sederhana diletakkan di atas panggung — selembar lempengan perak yang memancarkan cahaya samar, berukuran telapak tangan, dengan ukiran pola bintang yang rumit namun indah.
"Lelang berikutnya — Lempengan Perak Kuno!" seru pembicara. "Ditemukan bersama Batu Ratna Ungu di sebuah makam kerajaan kuno. Tidak ada tabib maupun alkemis yang mengetahui fungsinya. Tidak ada yang tahu apa kegunaannya. Harga mulai dari lima ratus batu roh!"
Ye Hu tiba-tiba berdiri dari kursinya, matanya terbelalak tak percaya. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengenal benda itu. Ia sangat mengenalnya.
Itu… itu lempenganku!
Lempengan itu dulunya milik Xuan Ling. Ada dua lempengan seperti itu, dan keduanya diberikan kepada dua murid terpercayanya ribuan tahun yang lalu. Itu bukan benda sembarangan — itu adalah peta tempat penyimpanan harta.
Di dunia kultivasi, setiap kali seorang kultivator naik ke alam yang lebih tinggi, harta yang dimilikinya menjadi terlalu berat untuk dibawa, atau kegunaannya berkurang karena tingkat kekuatannya meningkat. Senjata dan baju zirah yang luar biasa di satu alam, menjadi biasa saja di alam yang lebih tinggi. Maka harta-harta itu disimpan di tempat rahasia, dan peta penyimpanannya dibagi kepada murid-murid terpercaya.
Saat Xuan Ling hendak naik dari Mortal Realm ke Spirit Realm, hartanya sudah menumpuk begitu banyak hingga ia menyembunyikannya di sebuah tempat yang dilindungi formasi kuat. Dua lempengan perak itu adalah kunci dan peta untuk membuka tempat penyimpanan itu.
Lempengan ini seharusnya berada di tangan muridku… batin Ye Hu terguncang. Apa yang terjadi pada murid-muridku? Mengapa benda ini ada di makam kuno, dijual di pelelangan?
Selama dua ribu tahun sebelum naik ke alam berikutnya, Xuan Ling memiliki empat orang murid di Dunia Fana. Empat murid yang ia cintai dan percayai sepenuhnya. Kini melihat lempengan itu muncul di sini, hatinya terasa perih dan sekaligus penuh kekhawatiran. Apakah mereka sudah tiada? Apakah sesuatu yang buruk telah menimpa mereka?
Adipati, Wu Jing, dan Wan Tung melihat perubahan ekspresi Ye Hu dan langsung diam, menunggu dengan hormat. Mereka tahu barang itu pasti sangat berarti baginya.
"Harga berapapun," ucap Ye Hu pelan namun tegas, matanya tak beralih sedikit pun dari lempengan perak itu. "Lempengan itu harus kumiliki."