Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Sengatan Percikan Listrik
Kilatan biru meletup tajam dari casing komputer tua di meja sempitku, mengirimkan rasa kesemutan hebat yang melumpuhkan seluruh saraf tubuhku dalam hitungan detik.
Tubuhku terlempar ke belakang dengan paksa. Kursi plastik lapuk yang kududuki hancur menghantam lantai beton, menciptakan suara derak patahan yang memekakkan telinga.
Pandanganku memutih sepenuhnya. Rasa sakit luar biasa merambat ganas dari ujung jari telunjukku, menembus tulang, lalu menjalar cepat hingga ke pangkal leher.
Otakku seakan direbus hidup-hidup dari dalam tempurung kepalaku.
"Tera! Ya Tuhan, Tera!"
Teriakan panik Yota terdengar seperti gema yang terdistorsi dari dasar jurang. Pria itu pasti sedang melompat dari sudut ruangan, mencoba meraih tubuhku yang kini menggelepar tak terkendali di atas lantai.
Semuanya menjadi gelap. Kegelapan pekat yang seolah menelan habis seluruh eksistensiku.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Satu jam sebelum insiden mengerikan itu terjadi, aku masih duduk menatap nanar tumpukan kertas penagihan rumah sakit.
Angka-angka berderet panjang dengan tinta merah yang mengancam, berserakan tanpa ampun di atas kasur tipisku. Lembar peringatan terakhir dari bagian administrasi tergeletak paling atas.
Ibu menderita komplikasi organ dalam yang sangat parah. Beliau membutuhkan serangkaian perawatan intensif dan operasi secepatnya. Jika aku tidak menyetor biaya tindakan dalam waktu tiga hari ke depan, pihak rumah sakit akan menghentikan seluruh pasokan obatnya.
Pilihan itu sama saja dengan menjatuhkan vonis mati bagi satu-satunya keluarga yang kumiliki.
Satu-satunya jalan keluar untuk menyelamatkan nyawa Ibu adalah posisi Asisten Khusus di Vanguard Corp.
Perusahaan teknologi raksasa itu sedang membuka rekrutmen. Posisi tersebut menjanjikan gaji awal dan bonus penandatanganan kontrak bernilai fantastis. Nominal yang sanggup melunasi seluruh biaya operasi Ibu dan menebus sisa tagihan kami hingga lunas.
Masalahnya, tenggat waktu pengiriman berkas lamaran ditutup tepat tengah malam ini.
Komputer rakitan bekas milikku mendadak mati total tanpa peringatan. Aku tak punya pilihan lain selain menyeret Yota, teknisi komputer langgananku, untuk datang langsung ke kamar kontrakanku.
"Ini sudah parah, Ter. Komponen daya mesin ini bocor parah." Yota menyeka keringat di dahinya, menunjuk ke arah tumpukan kabel semrawut di dalam casing CPU yang sengaja kubuka penutupnya.
"Aku tidak peduli," balasku cepat dan tajam. "Nyalakan saja sebentar. Sepuluh menit. Aku hanya butuh menekan tombol kirim untuk melampirkan berkas lamaran kerjaku."
Yota menghela napas kasar, menatapku dengan sorot mata tak setuju. "Risikonya terlalu tinggi. Aliran listrik di bangunan tua ini tidak stabil. Kalau terjadi korsleting, benda rongsokan ini bisa meledak di depan wajahmu."
Aku melangkah maju dan mencengkeram lengan kemeja Yota kuat-kuat. Mataku menatap lurus ke arah matanya, memohon dengan putus asa yang menyiksa.
"Tolong aku. Ibu tidak punya waktu lagi. Aku mempertaruhkan nyawanya malam ini."
Yota menelan ludah dengan susah payah melihat keputusasaanku. Ia akhirnya mengalah. Pria itu mengambil obeng, menyambungkan beberapa kabel tebal secara paksa, dan menekan tombol daya dengan kasar.
Layar monitor berkedip sesaat, lalu menyala terang. Halaman kotak masuk emailku yang belum sempat terkirim langsung muncul di layar.
"Cepat kirim. Jangan sentuh bagian logam apa pun di dekat mesin," peringat Yota, melangkah mundur perlahan dari mejaku.
Aku langsung menjatuhkan diri ke kursi. Jemariku menari sangat cepat di atas keyboard yang sebagian besar hurufnya sudah memudar.
Dokumen lamaran dan portofolio analisis dataku selesai terunggah. Kursor panah mengarah tepat ke tombol bertuliskan 'Kirim'.
Satu klik lagi, dan masa depan Ibu bisa terselamatkan.
Namun, layar monitor mendadak membeku. Kursor tak bisa digerakkan sama sekali. Lampu indikator pada tetikus di genggamanku mati total.
Aku panik. Kepanikanku mengalahkan akal sehat. Tanganku secara refleks menjulur ke belakang CPU, berniat memeriksa sambungan kabel USB yang sering kendur.
Kulit telunjukku menyentuh pelat besi di dekat pusat tenaga mesin.
Sengatan itu datang menyambar tanpa ampun.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Arus listrik bervoltase tinggi merobek pertahananku. Namun, hal yang paling menakutkan adalah aku tidak hanya merasakan sakit secara fisik.
Ada sesuatu yang lain mengalir masuk secara paksa melalui lenganku. Sesuatu yang padat, sangat panas, dan bergerak menyusup dengan kecepatan tak terukur langsung menembus jaringan sarafku.
Rangkaian kode asing. Angka-angka biner. Hantaran data raksasa.
Semuanya berdesakan memaksa masuk ke dalam tempurung kepalaku, seolah otakku adalah sebuah ruang server kosong yang baru saja dihubungkan secara brutal dengan pangkalan data raksasa.
Aku melayang dalam ruang hampa tanpa batas. Rasa sakit di otot tubuhku menghilang sama sekali, digantikan oleh tekanan ganjil di pusat logikaku.
Tekanan itu berdenyut keras, seirama dengan detak jantungku yang melemah. Semakin lama semakin kuat, menuntut ruang lebih luas di dalam struktur otakku untuk menetap secara permanen.
Apakah aku akan mati di tempat kumuh ini?
Wajah Ibu seketika melintas di benakku. Senyum pucatnya yang selalu menahan sakit di atas ranjang rumah sakit tua itu. Tangan keriputnya yang terus mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang tanpa henti.
Tidak. Aku menolak menyerah.
Aku tidak boleh meninggalkan Ibu sendirian menghadapi penderitaan ini. Aku harus hidup. Aku harus bangun.
Aku meronta kuat melawan tekanan tak kasatmata yang membelenggu kesadaranku. Aku memusatkan seluruh sisa tekadku, menarik paksa jiwaku kembali ke dunia nyata.
Di tengah kegelapan absolut itu, sebuah titik cahaya hijau menyala amat terang.
Cahaya itu membesar dengan cepat, lalu pecah menjadi ribuan untaian kode yang berputar liar mengelilingiku.
Untaian-untaian itu bergerak sistematis, memindai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sesuatu sedang membaca dan merekonstruksi struktur selku. Sesuatu sedang mengambil alih pusat kognitifku.
Aku menjerit sekuat tenaga di dalam kepalaku, menolak takluk. Aku memerintahkan kelopak mataku untuk terbuka saat itu juga.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Napas putus-putus lolos dari tenggorokanku. Dadaku naik turun dengan ritme kasar yang menyakitkan.
Aku terbatuk hebat hingga tubuhku terguncang. Rasa besi berkarat memenuhi rongga mulutku, membuatku ingin memuntahkan isi perutku.
"Tera! Astaga, kau kembali!"
Aku merasakan sepasang tangan bergetar mengguncang bahuku kuat-kuat. Pandanganku perlahan memfokus, menangkap wajah Yota yang sepucat mayat.
Pria itu berlutut lemas di sampingku. Ponselnya tergeletak di lantai beton, layarnya menampilkan nomor darurat medis yang belum sempat ia panggil.
Aku mencoba mengangkat tanganku sendiri. Otot-ototku terasa sangat kaku dan nyeri, namun aku memaksakan diri mendorong dada Yota agar menjauh dari posisiku.
"Jangan hubungi... ambulans," suaraku terdengar serak dan nyaris tak keluar, lebih menyerupai bisikan parau.
"Kau gila! Jantungmu baru saja berhenti berdetak selama hampir satu menit penuh!" Yota berteriak frustrasi, urat-urat di lehernya menegang menahan emosi.
"Aku bilang jangan!" bentakku keras, mengerahkan seluruh sisa tenaga yang tersisa di tubuhku. "Aku tidak punya uang sepeser pun untuk membayar biaya paramedis. Berdirikan aku sekarang juga."
Yota mengumpat kasar, tapi ia menurut. Ia memapah bahuku hati-hati hingga aku berhasil duduk bersandar pada dinding kamar yang terasa dingin.
Kepalaku berdenyut hebat. Ini bukan jenis pusing biasa. Ada sensasi geli yang intens seolah ribuan impuls listrik berskala mikro sedang berlarian tepat di bawah tengkorak kepalaku.
Aku memijat pelipisku dengan kedua tangan, berusaha keras mengusir rasa pening yang mengacaukan keseimbanganku.
Pandanganku menyapu cepat ke sekeliling kamar kontrakan. Semuanya masih berantakan. Kasur tipisku, kertas tagihan, dan komputer rongsokan di atas meja yang kini mengepulkan asap hitam pekat.
"Emailnya," gumamku panik. "Apakah email lamaranku terkirim?"
Aku berusaha merangkak maju menuju meja, tapi Yota menahan lenganku kuat-kuat.
"Persetan dengan lamaran kerja itu! Komputernya sudah mati total. Semuanya hangus terbakar!" Yota menunjuk sisa-sisa kotak logam hitam yang tak lagi berbentuk. "Kau hampir kehilangan nyawamu secara konyol demi pekerjaan sialan itu, Tera!"
Perkataan Yota tidak sepenuhnya mampu kucerna dengan baik. Ada sesuatu yang sangat aneh dengan sistem pendengaranku saat ini.
Suara Yota terdengar sangat lambat, terbagi dalam frekuensi-frekuensi rendah. Sebaliknya, suara detakan jantung di dada pria itu justru berdentum sangat jelas merasuki telingaku.
Saat aku menatap lurus ke wajah Yota, pandanganku tiba-tiba mengalami distorsi luar biasa.
Udara di depanku bergetar aneh, seolah ada lapisan layar transparan yang baru saja diturunkan menutupi retinaku.
Aku mengerjapkan mata berkali-kali secara cepat. Aku yakin ini hanyalah efek samping dari trauma sengatan listrik. Retinaku mungkin mengalami kerusakan akibat kilatan cahaya dari ledakan CPU.
Namun, getaran di udara itu perlahan memadat. Membentuk barisan pola geometris yang memancarkan cahaya hijau terang.
Aku menahan napas seketika. Mataku membelalak lebar, tak percaya menatap objek yang kini terbentang sangat nyata di depan wajahku.
Hamparan teks hijau neon berkedip sangat cepat tepat di ruang pandanganku. Teks itu melayang bebas di udara, mengabaikan seluruh hukum fisika dunia nyata. Tampilannya seolah diproyeksikan langsung dari dalam bola mataku sendiri.
Teks berjalan itu menyajikan rentetan baris kode enkripsi rumit selama beberapa detik, sebelum akhirnya berhenti memindai dan menampilkan satu kalimat tegak bersuara mekanis di kepalaku.
[Sistem Berhasil Diaktifkan. Mengidentifikasi Inang: Tera.]
TERA itu ......
T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?