"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Awal perpisahan
Fitri pun mencoba menyeimbangkan antara mood dia dengan pekerjaan nya. Sampai dia selesai shift pun, dia masih mencoba menyembunyikan rasa sedih nya. Tangis fitri hampir pecah ketika masuk kedalam rumah setelah pulang. Dia pun tak kuasa menahan nya lagi.
***
Sementara itu di sebuah cafe elit, Sinar matahari sore menembus kaca jendela kafe, menyinari dua cangkir kopi latte yang tinggal separuh. Di sudut ruangan, Rosa memutar-mutar gantungan tas mewahnya dengan raut wajah cemberut. Matanya tak berhenti melirik Adam yang sejak tadi hanya diam menatap layar ponsel, sama sekali aba-aba pada cerita perbelanjaannya hari ini.
"Mas! Kamu dengerin aku nggak sih?" dengus Rosa sembari menepuk meja pelan, memotong hening yang tercipta di antara mereka.
Adam terperanjat pelan, lalu menarik napas panjang. "Iya, Rosa. Aku dengerin. Kamu bilang tas warna merah tadi bagus, kan?"
"Bukan cuma bagus, Mas! Itu edisi terbatas!" pangkas Rosa dengan nada manja yang kini terdengar agak memaksa. "Lagian, kan Ibu sudah nggak ada. Uang tabungan perawatan Ibu yang puluhan juta itu pasti utuh, kan? Bisa dong kamu pakaikan sedikit buat beliin aku tas itu?"
Seketika, darah Adam serasa mendidih. Pria itu menghentikan ketukan jarinya dan menatap Rosa tajam. "Rosa! Ibu baru seminggu dimakamkan. Boleh nggak kamu nggak bahas uang peninggalan Ibu cuma buat hal yang gak penting begitu?"
Rosa terkejut melihat reaksi keras Adam. Biasanya, pria di hadapannya ini selalu menurut dan memanjakannya tanpa protes. Namun, bukannya mereda, rasa gengsi Rosa justru makin tersulut. Ia menyilangkan dada, memasang wajah cemberut.
"Kenapa sih kamu jadi sensitif banget?" cibir Rosa tanpa merasa bersalah. "Aku kan cuma nanya, Mas. Lagian, rumah kamu kan sekarang sepi. Daripada kamu kepikiran terus sama almarhumah Ibu, mending aku mulai pindahin barang-barangku ke sana. Aku bisa bantu beres-beres kamar utama."
"Maksud kamu apa?" suara Adam makin berat, menahan emosi yang memuncak di dadanya.
"Ya maksudku, secepatnya isi rumah itu harus diganti," ujar Rosa santai, jemarinya mengacak isi tasnya sendiri. "Kamar mandi, gorden, sampai perabot bekas Fitri itu dibuang saja. Aku nggak mau ya hidup di bawah bayang-bayang si cewek lusuh itu nanti kalau kita sudah nikah. Lagian, sisa masa perjanjian kalian kan tinggal berapa bulan lagi? Harusnya dari sekarang dia sudah sadar diri dan angkat kaki!"
Adam mengepalkan tangannya di atas meja sampai buku-buku jarinya memutih. Dulu, ia selalu menganggap tingkah Rosa sebagai bentuk kepolosan yang manis. Namun hari ini, mendengarkan wanita itu bicara tanpa rasa empati sedikit pun di atas duka keluarganya, Adam merasa ada rasa muak yang teramat sangat menyusup ke dadanya.
"Fitri itu masih istri sah aku, Rosa," pangkas Adam dingin, tatapannya menghunus tajam. "Dan rumah itu adalah tempat tinggalnya saat ini. Jangan pernah kamu berani melangkah masuk ke sana atau menyentuh barang-barang di dalamnya sebelum masa perjanjian itu benar-benar selesai."
"Mas Adam! Kok kamu malah ngebela dia sih?!" jerit Rosa tak percaya, matanya melotot lebar. "Kamu lupa siapa yang kamu cintai? Aku ini pacar kamu! Aku yang mendampingi kamu dari dulu!"
"Tapi kamu tidak punya simpati!" bentak Adam pelan namun menekan, cukup untuk membuat Rosa bungkam seketika. "Ibu baru saja meninggal, Rosa. Dan satu-satunya orang yang tulus merawat Ibu sampai napas terakhirnya adalah Fitri. Bukan kamu yang cuma tahu menuntut!"
Tanpa menunggu balasan dari Rosa, Adam meraih kunci mobil dan dompetnya di atas meja. Ia berdiri dengan raut wajah kelam, meninggalkan Rosa yang terduduk kaku dengan napas memburu akibat marah dan malu.
"Apa aku memang begini? Benarkah keputusan ku? Kenapa Rosa berkata seperti itu?" Gumam Adam sendiri.
Malam merambat makin larut saat angin dingin menembus celah jendela rumah yang sepi. Di atas meja makan, dua lembar dokumen bersampul putih tergeletak berdampingan. Surat perjanjian cerai yang dibuat satu tahun lalu itu kini tampak kusam di ujungnya, menjadi saksi bisu pernikahan tanpa jiwa yang sebentar lagi akan usai.
Fitri duduk tenang sembari memegang pena. Matanya menyusuri tiap baris poin yang pernah disepakatinya bersama Adam. Tak ada lagi air mata, tidak ada pula rasa sesak yang dulu selalu menghimpit dadanya. Kepergian Bu Rahma seolah membakar habis sisa kelemahan di hati Fitri, meninggalkannya sebagai sosok wanita yang utuh dan tegar.
Langkah kaki Adam terdengar berderap pelan mendekati meja makan. Pria itu baru saja mandi, rambutnya masih basah dengan wajah yang tampak amat letih. Saat matanya menangkap kertas-kertas di atas meja, langkahnya mendadak terhenti.
"Fitri... itu apa?" tanya Adam dengan suara yang agak serak.
Fitri mendongak, menyunggingkan senyum tipis yang teramat rapi. "Surat perjanjian kita, Mas. Masa berlakunya tinggal dua minggu lagi."
Adam menelan ludah gatal. Jantungnya berdegup tidak karuan, ada perasaan asing yang sangat tidak nyaman bergejolak di dalam dadanya. "Kenapa... kenapa kamu keluarkan sekarang?"
"Aku cuma mau merapikan berkas dan mengingatkan kamu," jawab Fitri santai sembari membetulkan letak jilbab instannya. "Biar nanti begitu menginjak hari ke-365, kita bisa langsung mengurusnya ke Pengadilan Agama tanpa ada masalah yang tertunda. Semua poin sudah ku ikuti, kan? Aku tidak pernah menuntut harta, dan aku menjaga nama baikmu."
Adam berjalan pelan lalu menarik kursi di hadapan Fitri. Ditatapnya wajah istrinya dalam-dalam. Wajah yang dulu sering terlihat lelah dan cemas itu kini begitu bersih dan tenang. Keheningan Fitri justru terasa jauh lebih menakutkan daripada amukan atau histeria seorang wanita yang dicurangi.
"Fitri... soal ucapan Rosa kemarin lusa," kata Adam ragu, tangannya meremas jemarinya sendiri di atas meja. "Aku sudah tegur dia. Dia tidak akan ganggu kamu atau datang ke rumah ini lagi sampai waktu kita selesai."
"Terima kasih, Mas. Tapi sebenarnya kamu tidak perlu repot-repot," tanggap Fitri pelan namun telak. "Mau dia datang atau tidak, itu sudah tidak mempengaruhi aku lagi. Yang penting buatku sekarang cuma menyelesaikan tugas koas dan mengemas barang-barangku dari rumah ini."
"Kamu... betul-betul sudah tidak punya rasa apa-apa lagi sama aku?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Adam, terdengar keputusasaan yang tidak mampu ia sembunyikan.
Fitri menatap mata Adam dengan jernih, tanpa keraguan sedikit pun. "Perasaan itu sudah habis, Mas. Habis pelan-pelan setiap kali kamu membela Rosa, setiap kali kamu mengabaikan Ibu, dan setiap kali kamu memperlakukan aku seperti bayangan di rumah ini. Dulu aku bertahan cuma demi Ibu. Sekarang Ibu sudah tenang, dan tanggung jawabku sudah selesai."
Adam membeku. Kata-kata Fitri tidak diucapkan dengan nada membentak, tetapi sanggup meremukkan harga dirinya hingga tak berbekas. Ia ingin bersuara, ingin mempertahankan argumennya bahwa dialah yang memegang kendali sejak awal. Namun, lidahnya terasa kelat dan kaku.
Fitri mendirikan tubuhnya, merapikan salinan berkas tersebut lalu memasukkannya ke dalam map. "Aku sudah siapkan baju-baju bersihmu di lemari. Nanti kalau waktunya tiba, aku cukup bawa satu koper pakaianku sendiri. Kamu tidak perlu khawatir aku bakal minta gono-gini."
"Fitri, bukan itu maksudku" Ucap Adam kicep.
"Selamat malam, Mas Adam," potong Fitri lembut, menghentikan kalimat Adam sebelum pria itu sempat membela diri.
~Bersambung~
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.