Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Kota Pelabuhan Cahaya Timur
Perjalanan menuju pesisir timur membawa mereka melewati pemandangan yang jauh berbeda dari pegunungan dan hutan yang selama ini mewarnai petualangan Ji Ming—dataran luas dengan ladang-ladang subur, sungai-sungai besar yang ramai oleh perahu dagang, dan akhirnya, setelah sepuluh hari perjalanan darat, aroma garam laut yang mulai tercium di udara.
Mereka menaiki kapal dagang di sebuah pelabuhan kecil, kapten kapal yang ramah—seorang kenalan lama Han Lie dari masa-masa sebelumnya sebagai pemburu bayaran—bersedia mengangkut mereka tanpa banyak bertanya sepanjang mereka membayar tarif yang wajar.
"Aku belum pernah melihat laut sebelumnya," Ji Ming mengaku pada Yun Xia saat mereka berdiri di geladak kapal, menatap birunya lautan yang membentang tanpa batas hingga cakrawala.
"Delapan belas tahun terkurung di satu sekte," Yun Xia berkata, tersenyum kecil melihat kekaguman tulus di wajah pemuda itu. "Dunia ini jauh lebih luas daripada yang pernah kau bayangkan, bukan?"
"Setiap hari sejak aku meninggalkan Puncak Elang Hitam terasa seperti menemukan sesuatu yang baru," Ji Ming mengakui, menatap Xiao Yu yang terbang riang mengitari tiang kapal, jelas menikmati kebebasan udara laut yang segar.
Empat hari pelayaran berlalu dengan tenang, diselingi cerita-cerita Han Lie tentang berbagai kota yang pernah ia kunjungi selama bertahun-tahun sebagai pemburu bayaran—pengetahuan yang kini terbukti sangat berharga bagi misi baru mereka.
Kota Pelabuhan Cahaya Timur menyambut mereka dengan keramaian yang meriah—dermaga yang dipenuhi kapal-kapal dari berbagai penjuru, pasar ikan yang ramai sejak subuh, dan bau khas garam bercampur rempah-rempah yang menjadi ciri khas kota pelabuhan mana pun.
"Bengkel pandai besi yang dimaksud ada di distrik pengrajin, dekat gerbang selatan," Han Lie berkata setelah bertanya pada beberapa penduduk lokal, mengarahkan mereka melalui jalan-jalan sempit yang dipenuhi toko-toko kecil.
Bengkel itu, saat akhirnya mereka temukan, tampak seperti bengkel pandai besi biasa pada umumnya—suara palu beradu dengan besi panas terdengar dari dalam, asap tipis mengepul dari cerobong kecil di atapnya. Namun begitu mereka mendekat, Ji Ming merasakan sensasi familiar yang halus namun jelas di dadanya—gema kecil kekuatan jiwa yang tak sepenuhnya tersembunyi, seperti aroma samar yang hanya bisa dikenali oleh mereka yang tahu persis apa yang harus dicari.
Seorang pria tua dengan tubuh kekar meski usianya jelas sudah lanjut, keringat membasahi wajahnya yang dipenuhi bekas luka bakar kecil khas seorang pandai besi berpengalaman, mendongak begitu mereka melangkah masuk ke bengkelnya.
"Ada yang bisa kubantu?" pria itu bertanya, suaranya ramah namun matanya menyipit waspada menatap rombongan asing yang cukup besar untuk sebuah bengkel kecil.
Su Mei melangkah maju perlahan, matanya tertuju pada sebuah pedang setengah jadi yang tergeletak di meja kerja—dan di gagangnya, terukir kecil namun jelas, simbol bulan sabit dengan tiga titik di bawahnya.
"Ukiran yang indah," Su Mei berkata pelan, suaranya bergetar menahan harapan yang telah lama terpendam. "Aku belum pernah melihat simbol seperti itu sejak sangat lama."
Wajah pandai besi tua itu berubah seketika, palu di tangannya terjatuh berdenting ke lantai batu, matanya melebar menatap Su Mei dengan campuran ketakutan dan sesuatu yang mendekati pengenalan yang telah lama terkubur.
"Siapa kalian?" suaranya kini bergetar, jauh berbeda dari nada ramah sebelumnya. "Dari mana kalian tahu simbol itu?"