Indonesia
NovelToon NovelToon
GADISKU SEORANG BAR-BAR

GADISKU SEORANG BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Romantis / Komedi
Popularitas:910
Nilai: 5
Nama Author: Icita

GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarapan Roti Tawar Abal-Abal dan Montir Dadakan di Surrey

Matahari pagi pedesaan Surrey menyelinap malu-malu di balik kabut tebal, memancarkan sinar tipis yang menghangatkan atap batu bata safe house. Suasana pertempuran Matterhorn terasa amat jauh, berganti dengan keheningan pagi yang ditandai oleh suara denting cangkir seng dan bau roti bakar gosong.

Di meja makan, Gala duduk mematuhi takdirnya sebagai pasien berban. Tangan kanannya yang dibebat kassa tebal mengangguk-angguk pasrah saat Senja menyuapinya sepotong roti tawar gandum berlapis mentega dingin.

“Ayo, Mas, buka mulutnya. Jangan cemberut terus,” bujuk Senja lembut, meski matanya tetap waspada menatap jendela luar.

Gala mengunyah roti itu dengan tatapan kosong menatap dinding batu. “Nja… roti tawar Inggris ini rasanya kayak gabus kardus bekas bungkus kulkas, ya? Mendingan gorengan tempe bongkrek Mbok Darmi di pengkolan rumah kita. Udah renyah, minyaknya bisa dipakai ganjel rantai motor.”

“Di Inggris nggak ada tempe bongkrek, Mas Gala,” sahut Vanya dari sudut ruangan sambil mengoleskan selai kacang. “Adanya Beans on Toast. Mau saya bikinkan?”

Gala mendadak bergidik ngeri. “Nggak, makasih, Mbak Vanya. Kacang merah dikuahin saus tomat di atas roti bakar itu kejahatan kuliner. Mbah Tejo bisa bangkit dari kubur kalau tahu cucunya sarapan begituan.”

Sementara itu, di kamar mandi, pintu terbuka dengan suara derit nyaring. Keluar sesosok pria tua dengan percaya diri tingkat tinggi yang langsung membuat seluruh isi ruangan tertekan seketika.

Pak Joko melangkah keluar mengenakan trench coat cokelat merek Burberry ori buatan tahun 1990-an yang ditemukan di almari bekas. Namun, di bawah gaun mantel panjang bergaya detektif Sherlock Holmes itu, Pak Joko tetap setia mengenakan sarung tenun motif kotak-kotak merah yang bawahnya sudah berjumbai akibat tercabik es Matterhorn, lengkap dengan sandal jepit karet bertuliskan Swallow.

Siska, yang sedang membersihkan kacamata pelacaknya, hampir tersedak air putih. Ia menatap Pak Joko dari ujung rambut belah tengahnya sampai ke ujung sarungnya.

“Pak Joko,” tegur Siska dengan raut wajah amat serius. “Anda ini mau menyusup ke Bank of England atau mau ikut ronda malam di Poskamling Sleman?”

Pak Joko membetulkan kacamata minusnya yang ber-selotip, lalu mengibas-kibaskan trench coat-nya dengan gaya ala peragawan kelas atas. “Sembarang kalau bicara! Ini namanya fusion fashion, Siska! Atasan gaya aristokrat Inggris, bawahan kearifan lokal Nusantara. Lagipula, sarung ini punya nilai sentimental. Berkat sarung ini, paha saya enggak lecet waktu kita merosot di jaring helikopter kemarin!”

Sersan Broto yang sedang menyeduh kopi tubruk menggunakan bubuk Robusta sisa dari Indonesia hanya terkekeh pelan. Smoke kreteknya kembali membubung mulus di bawah detektor asap yang sengaja ia matikan pakai lakban hitam.

“Biarkan saja, Sis,” ujar Broto santai. “Kalau kita ditangkap polisi London, minimal orang-orang bakal mengira Joko ini eksentrik gila dari Asia, bukannya mantan teroris internasional.”

“Eksentrik gila dari hongkong!” semprot Pak Joko tidak terima. “Saya ini korban konspirasi global, Sersan! Dan ingat, tanpa analisis kecerdasan finansial dari saya tadi malam, kalian semua sekarang paling lagi sibuk merencanakan penerjunan payung konyol ke atas atap Bank of England!”

Jam sembilan pagi, Sersan Broto mengumpulkan seluruh tim di garasi belakang. Pria tua itu menepuk-nepuk kap sebuah mobil yang terparkir di bawah tumpukan jerami tua.

“Baiklah, anak-anak muda. Karena helikopter Blackhawk kita terlalu mencolok untuk masuk ke kawasan congestion charge London, saya sudah menyiapkan kendaraan operasi yang sangat tersamar,” umum Broto bangga.

Sersan Broto menarik kain penutup jerami tersebut.

FOOM!

Debu tebal membubung tinggi, membuat Gala dan Pak Joko terbatuk-batuk histeris.

Di hadapan mereka, terparkir sebuah mobil mikro-van tua merek Bedford Rascal edisi 1998 berwarna putih pudar dengan stempel tulisan “ROYAL MAIL” yang sudah dicoret cat semprot merah. Ukuran mobil itu sangat mungil, catnya mengelupas di sana-sini, dan roda kirinya tampak agak kempes.

Gala menatap mobil tua itu dengan tatapan tidak percaya yang mendalam.

“Pak Broto…” bisik Gala parau. “Ini… ini kan sepupunya mobil Suzuki Carry angkot jurusan Pasar Senen?”

“Beda, Gal! Ini buatan Inggris!” bela Broto mantap. “Mesinnya kecil, lincah, dan yang paling penting: kamera ETLE kota London tidak akan pernah mencurigai mobil kurir surat rongsokan seperti ini membawa lima perusah tatanan dunia!”

Gala melangkah mendekati kap mesin di bawah jok depan, meraba bagian karburatornya dengan tangan kirinya yang sehat. Ia mendengus pelan begitu melihat tumpukan oli kering di kabel busi.

“Aduh, Gusti… Ini pengapian karburatornya sudah ngacir. Busi nomor tiga mati, fanbelt-nya kendor kayak karet celana kolom,” keluh Gala sambil meraba-raba mesin dengan lihai. “Pak Broto beli mobil ini di mana sih? Di tukang loak Surrey?”

“Saya tidak beli, Gal,” jawab Broto santai sambil mengisap rokoknya. “Saya barter pakai dua bungkus rokok kretek sama petani sebelah.”

Pak Joko membelalakkan mata. “Gila! Nyawa mantan Grand Master mau dipertaruhkan di dalam mobil seharga dua bungkus kretek?!”

“Tenang, Pak Joko,” potong Gala sambil menyingsingkan lengan kemejanya. “Gue ini mekanik Revo sejati. Biarpun tangan kanan gue di-perban, mesin Carry—eh, Bedford Rascal—beginian mah makanan sehari-hari di bengkel Tanjung Priok.”

Dengan gaya mekanik kawakan, Gala menyuruh Senja mengambilkan kawat jemuran bekas, sendok teh dari dapur, dan sebotol cairan pembersih kaca. Hanya dalam waktu dua belas menit—diiringi ketukan sendok dan makian khas montir jalanan—Gala berhasil menyetel ulang celah platina dan mengikat fanbelt yang kendor menggunakan kawat jemuran!

BRMMMM… KRELEK-KRELEK-BASS!

Mesin mobil micro-van tua itu mendadak menyala mulus, mengeluarkan suara renyah tanpa batuk sedikit pun!

Vanya dan Siska saling berpandangan, tampak terpukau.

“Luar biasa,” gumam Vanya. “Teknologi militer MI6 kalah efektif dibanding kawat jemuran Gala.”

Gala menepuk kap mobil dengan bangga, meskipun tangannya yang di-perban sedikit berdenyut. “Nah! Mesin siap tempur! Mobil ini sanggup lari 80 kilometer per jam tanpa meledak, asal jangan dipake nanjak gunung sambil bawa beras dua kuintal!”

Sebelum berangkat menuju London, Sersan Broto merasa Gala perlu diberi simulasi taktis singkat untuk pertarungan jarak dekat di dalam ruang sempit gorong-gorong.

“Gal,” panggil Broto sambil berdiri di tengah garasi. “Tanganmu sedang cedera. Jika ada anggota The Board of Directors menyerangmu dari jarak nol di lorong gelap, kamu tidak bisa mengandalkan pukulan. Kamu harus tahu titik lemah manusia.”

Gala menelan ludah. “Titik lemah gimana, Pak? Dicolok matanya pakai kunci pas?”

“Bukan,” kata Broto tegas. “Siska, peragakan teknik Krav Maga dasar penghentian gerak!”

Siska melangkah maju, memasang posisi kuda-kuda rapat. Dalam hitungan sepersekian detik, gerakan jemari Siska menyambar pergelangan tangan Broto, meliukkannya ke belakang, dan menguncinya hingga Broto tak bisa bergerak tanpa mematahkan tulangnya sendiri.

“Paham, Gala?” tanya Siska dingin.

Gala menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Paham sih, Sis… Tapi itu kan kalau musuhnya pinter dan ngajak gelut rapi. Kalau musuhnya orang nekat yang langsung ngerusut gimana?”

“Coba kamu praktekkan ke Saya,” tantang Sersan Broto, berdiri rileks. “Anggap Saya pengawal Mbah Danu.”

Gala menghela napas. Ia melangkah mendekati mertuanya. Sersan Broto sudah bersiap menangkis tangkapan tangan Gala dengan teknik militer tingkat tinggi.

Namun, Gala tidak mencoba meraih tangan Broto. Alih-alih melakukan Krav Maga, Gala secara absurd malah menginjak jempol kaki kanan Sersan Broto pakai tumit sepatu boot-nya yang tebal, lalu mendorong dada Broto pakai sikut kirinya!

BLETAK!

“Aduuuh! Jangkrik!” jerit Sersan Broto reflek sambil melompat-lompat memegangi jempol kakinya yang kesakitan. “Gala! Itu teknik militer apaan?! Sakit banget!”

Gala menyeringai polos tanpa dosa. “Itu namanya teknik Tarik Dompet Tanjung Priok, Pak! Dulu waktu gue masih liputan investigasi jalanan, kalau kepergok jambret, tinggal injak jempolnya. Nggak peduli dia sabuk hitam atau jenderal, kalau jempolnya diinjak pasti melompat!”

Senja tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya, sementara Vanya hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. Pak Joko manggut-manggut penuh apresiasi.

“Luar biasa menantu kamu, Broto,” puji Pak Joko sengit. “Sangat pragmatis dan merakyat!”

Sersan Broto mengelus jempol kakinya sambil meringis kesal, lalu menunjuk ke arah mobil van. “Sudah, sudah! Cukup latihannya sebelum jempol saya remuk sepenuhnya! Semuanya masuk ke dalam mobil!”

Satu jam kemudian, mobil van Bedford Rascal pudar itu meluncur tenang menelusuri jalan tol A3 menuju arah pusat kota London.

Suasana di dalam van mungil itu benar-benar penuh dan sesak. Gala memegang kemudi di sebelah kanan (beruntung posisi kemudi Inggris sama dengan Indonesia), Senja duduk setia di sampingnya navigasi peta fisik.

Sementara di kabin belakang yang sempit dan berbau minyak tanah, Sersan Broto, Siska, Vanya, dan Pak Joko harus duduk bersila berdesak-desakan di antara tumpukan perkakas, senapan kedap suara, dan kantong tidur.

Pak Joko, dengan trench coat dan sarungnya, duduk terhimpit di antara dua tabung gas darurat, memegangi kacamata minusnya agar tidak kemasukan debu jalanan.

“Gala… pelan-pelan nyetirnya,” keluh Pak Joko dari belakang. “Ini pantat saya sudah mati rasa kena besi ganjalan mesin!”

“Sabar, Pak Joko!” balas Gala dari balik setang kemudi. “Ini van tua. Kalau gue ngerem mendadak, kawat jemuran di mesinnya bisa putus, dan kita semua terpaksa dorong mobil ini melintasi jembatan Tower Bridge!”

Senja tersenyum menatap suaminya yang sibuk mengendalikan mobil van tua tersebut dengan satu tangan yang bebas. Rasa hangat dan tenang mengalir di dalam kabin kecil itu, sebuah ketenangan singkat yang sangat berharga sebelum mereka menerjang kegelapan bawah tanah The City of London.

Papan penunjuk jalan raksasa di tepi jalan tol mulai menampilkan tulisan berwarna hijau terang:

WELCOME TO GREATER LONDON

THE CITY OF LONDON – 5 MILES

Gala menyipitkan matanya, menatap siluet gedung-gedung pencakar langit London yang mulai membayang di balik kabut sore.

“Siap-siap, semuanya,” bisik Gala, auranya berubah dari montir santai menjadi jurnalis yang siap membongkar skandal terbesar di muka bumi. “Sebentar lagi kita sampai di sarang Mbah Danu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!