Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.
Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.
Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.
Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.
Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keraguan yang Kembali Datang
Malam itu, teras rumah kami dipenuhi oleh kehangatan yang tak biasa. Suara ketukan buah catur kayu di atas papan bergema berulang kali, diselingi oleh gelak tawa renyah Ayah dan senyum tenang Adrian. Pria itu tampak begitu betah dan menyatu saat mengobrol bersama Ayah. Mereka larut dalam permainan taktik dan obrolan seputar dunia teknik hingga waktu seolah berhenti berputar.
Sekitar pukul sepuluh malam, rasa kantuk yang teramat berat tak lagi sanggup kutahan. Mataku terasa berkaca-kaca oleh lelah.
"Ayah, Mas... Sera masuk ke kamar duluan ya," pamitku pelan seraya mengusap mata di ambang pintu teras.
Ayah mendongak seraya tertawa kecil. "Eh, anak Ayah sudah mengantuk? Ya sudah, tidur sana, Nak. Biar Ayah selesaikan dulu pertandingan panas ini sama Adrian."
Adrian melirikku dengan binar mata yang teramat lembut. "Selamat tidur, Sera," bisiknya empuk.
Aku membalas senyumnya, lalu melangkah menuju kamar tidurku. Entah berapa lama mereka masih bertahan di teras malam itu, yang kuingat hanyalah suara samar tawa Ayah dan ketukan kayu catur yang menjadi musik pengantar tidurku hingga aku benar-benar terlelap pulas.
Keesokan harinya, aku terbangun dengan tubuh yang terasa segar. Sinar matahari pagi perlahan menembus celah jendela kamar. Setelah merapikan tempat tidur dan mengenakan seragam sekolah dengan rapi, aku meraih tas dan melangkah keluar kamar menuju ruang makan.
Namun, baru saja kakiku melewati koridor tengah, langkahku terhenti seketika.
Dari arah meja makan, samar-samar kudengar suara perdebatan dengan nada tertahan antara Ayah dan Ibu. Mereka tidak saling berteriak, namun intonasi bicara yang kaku dan tegang membuat udara pagi itu terasa menghimpit.
"Kenapa kamu selalu keras kepala, Sekar?" suara Ayah terdengar mendesah lelah. "Aku ini ajak kamu sama Sera ikut pindah ke Bandung biar kita bisa tinggal bersama-sama sebagai keluarga yang utuh. Di sana aku sudah ada rumah dinas, lingkungan bagus, dan kamu tidak perlu lagi capek-capek mengurus toko setiap hari."
"Kamu itu selalu gampang menganggap semua persoalan bisa selesai begitu saja, Ibrahim!" sahut Ibu dengan suara dingin yang sarat akan kepedihan. "Toko itu bukan cuma sekadar usaha, Ibrahim! Toko itu hasil jerih payah dan warisan mendiang orang tua saya yang dibangun dari nol! Saya tidak akan pernah tinggalkan toko itu cuma untuk ikut kamu ke mana-mana!"
"Tapi Sekar, kita bisa bayar orang untuk mengurus tokonya."
"Tidak bisa!" potong Ibu cepat.
Mendengar percakapan itu dari balik sekat ruangan, dadaku mendadak berdenyut nyeri, aku sebenarnya sedikit paham apa yang selama ini menjadi akar perdebatan di antara kedua orang tuaku. Ayah, dengan pembawaannya yang selalu mempermudah segala hal, menganggap perpindahan ke Bandung adalah solusi sederhana untuk menyatukan keluarga. Namun bagi Ibu, toko itu adalah harga diri, kenangan, dan peninggalan orang tuanya yang tak bisa begitu saja ditinggalkan. Persoalan mereka sebenarnya terasa sesederhana itu, namun benteng ego dan cara pandang yang bertolak belakang membuat Ibu selalu memasang sikap dingin pada Ayah selama bertahun-tahun.
Aku memejamkan mata sejenak, menetralkan napasku, lalu memberanikan diri melangkah masuk ke ruang makan.
Langkah kakiku seketika menghentikan perdebatan mereka. Suasana tegang yang tadinya menyelimuti ruangan mendadak raib, digantikan oleh perubahan raut wajah Ayah yang buru-buru menyunggingkan senyum lebar, seolah-olah tak ada percekcokan apa pun yang baru saja terjadi.
"Eh, Selamat pagi, Anak Ayah!" sapa Ayah hangat, menyembunyikan riak lelah di matanya.
Ibu menoleh padaku dengan wajah yang diusahakan tenang. "Pagi, Sera. Ayo duduk, sarapan dulu. Ibu sudah siapkan nasi goreng."
"Pagi, Ayah, Ibu..." sahutku pelan seraya menduduki kursi makan.
Aku menyendok nasi goreng di piringku seraya mendengarkan Ayah yang langsung membuka obrolan untuk mencairkan suasana.
"Kamu tahu tidak, Sera?" tutur Ayah dengan binar antusias seraya menyesap kopi hitamnya. "Semalam itu Adrian hebat sekali main caturnya! Ayah sampai kalah dua babak berturut-turut. Anaknya cerdas, langkah pertahanannya rapat sekali. Jarang-jarang ada anak muda zaman sekarang yang betah main catur sampai larut malam begitu."
Aku menyunggingkan senyum tipis, mendengarkan pujian Ayah untuk kekasih baruku. "Iya, Yah..."
"Nah, pagi ini kamu mau Ayah antar ke sekolah?" tawar Ayah ramah.
Aku mengunyah makananku pelan, lalu menggeleng halus. Jujur saja, aku paling tidak suka berada di dalam situasi canggung setelah melihat kedua orang tuaku bertengkar. Berada di dalam mobil bersama Ayah di tengah keheningan ganjil itu hanya akan membuat dadaku makin sesak.
"Enggak usah, Ayah," jawabku lembut. "Sera naik motor aja hari ini."
"Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan ya, Nak," pesan Ayah mengerti.
Setelah menyelesaikan sarapan dan mencium tangan kedua orang tuaku, aku segera mengeluarkan motor matic merahku dari garasi. Deru halus mesin motor mengiringi langkahku membelah jalanan kota yang disiram sejuknya angin pagi. Hembusan udara sejuk yang menyapu wajahku perlahan mengikis rasa sesak akibat perdebatan Ayah dan Ibu.
Tak butuh waktu lama hingga aku tiba di area sekolah. Seperti biasa, aku memarkirkan motorku di tempat penitipan khusus siswa yang berada persis di samping gerbang sekolah.
Setelah merapikan seragam dan membawa tas punggungku, aku berjalan di atas trotoar menuju pintu gerbang utama. Namun, baru beberapa langkah menyusuri trotoar, suara klakson motor besar yang teramat kukenali berbunyi pelan di dekat bahu jalan.
"Sera!" panggil sebuah suara dari atas boncengan motor itu.
Aku menoleh. Itu Kania, yang sedang dibonceng oleh Adrian. Motor besar itu berhenti tepat di tepi trotoar di sampingku. Kania melepaskan helmnya, melempar senyum lebar yang begitu manis padaku.
Karena Kania belum tahu kalau aku dan Adrian sudah resmi berpacaran sejak kemarin sore, aku membalas sapaannya dengan senyum wajar. Aku melangkah menghampiri mereka di pinggir jalan.
Adrian melepaskan kaca helmnya. Matanya yang cokelat jernih menatapku dengan binar penuh kejutan dan godaan renyah.
"Jadi sekarang udah kenal nih? Ciyee..." goda Adrian dengan senyum jahil yang terukir di bibirnya, berpura-pura seolah kami baru saja saling mengenal lebih dekat setelah momen sore itu.
Pipiku mendadak terasa hangat oleh rona merah, namun aku menahannya seraya mengerucutkan bibir tipis.
Kania yang tidak menyadari makna tersembunyi dari tatapan Adrian dan aku hanya tertawa renyah. Kania turun dari boncengan motor besar abangnya, menyodorkan tangannya untuk mencium tangan Adrian sebagai tanda pamit.
"Nia masuk dulu ya, Mas Iyan," ucap Kania manis.
"Iya, belajar yang rajin ya," balas Adrian lembut. Seperti kebiasaannya yang teramat penyayang, Adrian mengulurkan tangannya dan memainkan rambut Kania dengan gerakan membelai yang protektif.
Setelah itu, pandangan Adrian beralih menatapku. Ia melempar sebuah senyum hangat yang begitu dalam, sebuah senyum rahasia yang khusus ditujukan hanya untukku.
"Mas pamit dulu ya, Ser," bisik Adrian pelan.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan," sahutku tersenyum manis.
Aku dan Kania kemudian berjalan berdampingan melintasi pintu gerbang sekolah, membiarkan deru mesin motor Adrian perlahan menjauh di jalan raya.
Suasana kelas pagi itu sudah mulai riuh. Saat aku dan Kania melangkah memasuki ruang kelas, pandangan kami tertuju pada sudut bangku belakang. Celine dan Dea tampak sedang duduk berdua, terliat sangat asyik membicarakan sesuatu dengan ekspresi wajah yang penuh rasa ingin tahu.
"Lagi pada ngomongin apa sih? Serius amat," seru Kania seraya menarik kursi dan menduduki mejanya di dekat Celine dan Dea. Aku menyusul duduk di samping Kania.
"Ini nih, si Dea cerita soal..." ucapan Celine terhenti seketika.
Tiba-tiba, sesosok cowok berpostur tinggi melangkah menghampiri kerumunan kami. Joan. Cowok itu menyunggingkan senyum tipis, lalu pandangannya terkunci lurus padaku.
"Pagi, Sera," sapa Joan santai.
"Pagi, Joan," jawabku ramah.
Joan menyandarkan bahunya di tepi meja, menatapku dengan raut wajah yang tampak penasaran. "Eh, Ser... kemarin sore gue enggak sengaja liat lo di Kafe."
Aku sempat tertegun sejenak. "Oh ya?"
"Iya," lanjut Joan manggut-manggut. "Gue liat lo sama cowok. Kelihatannya usianya lebih tua dari lo."
Mendengar perkataan Joan, Kania yang duduk di sampingku seketika membelalakkan matanya. Binar jahil langsung memancar dari wajah cantiknya.
"Tunggu, tunggu!" potong Kania antusias seraya menunjuk Joan. "Cowoknya jangkung, rambutnya agak bergelombang, terus pake jaket denim hitam bukan?"
Joan mengerutkan dahi sejenak, lalu mengangguk pelan. "Iya... bener. Dia pake jaket denim hitam."
"Tuh kan! Itu Mas Adrian!" seru Kania heboh seraya menyenggol bahuku gemas. "Ciyeeee! Sera kemarin jalan bareng Mas Iyan ternyata! Pantesan aja pas berangkat tadi kayak ada yang rahasia-rahasia!"
"Ciyeee Sera!" sahut Celine dan Dea kompak seraya tertawa lelah melihat raut wajahku yang makin memerah.
Di tengah keriuhan ledekan teman-teman, aku menyadari perubahan raut wajah Joan. Cowok yang kemarin meminta bantuan materi Fisika padaku itu mendadak membisu. Binar ramah di matanya meluntur seketika, digantikan oleh raut tidak suka dan ketegangan ganjil yang menyusup di garis wajahnya.
Joan tidak ikut tertawa. Ia menatapku lurus dengan pandangan yang amat serius dan terkesan dingin.
"Tapi, Sera..." potong Joan dengan nada suara yang berubah drastis, memutus gelak tawa teman-teman di sekitar kami.
Suasana kelas di meja kami mendadak hening.
"Gue juga kayak pernah liat cowok itu beberapa hari lalu di kafe lain," ucap Joan pelan, suaranya terdengar begitu berat dan penuh penekanan. "Dia lagi duduk berdua sama cewek."
Jantungku berdesir pelan. Beberapa hari lalu? Di kafe lain?
Di kepalaku, nama Sabrina seketika berkelebat. Mungkinkah yang dilihat Joan itu adalah pertemuan Adrian bersama Sabrina sebelum pria itu memintaku menjadi pacarnya?
Kania yang ikut merasakan perubahan suasana buru-buru merogoh saku seragamnya. Ia mengeluarkan ponselnya, mengusap layarnya cepat, lalu menyodorkan sebuah foto di galeri ponselnya ke hadapan muka Joan. Foto Sabrina, gadis berambut lurus cantik dengan gaya modis.
"Ceweknya yang ini bukan, Joan?" tanya Kania memastikan seraya menunjukkan foto Sabrina. "Ini Kak Sabrina, temannya Mas Iyan."
Joan memajukan wajahnya, mengamati foto wanita berambut lurus di layar ponsel Kania dengan saksama selama beberapa detik. Lalu, Joan menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Bukan," jawab Joan mantap. "Bukan cewek yang di foto ini."
Deg.
Duniaku serasa berhenti berputar detik itu juga. Darah di dalam tubuhku serasa membeku seketika.
"Bukan?" bisikku lirih, menatap Joan dengan mata membelalak tak percaya.
"Bukan cewek ini, Sera," ulang Joan dengan nada suara yang teramat dingin dan meyakinkan. "Cewek yang waktu itu bareng dia di kafe lain itu beda lagi. Penampilannya beda, wajahnya beda."
Joan memajukan badannya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mataku seraya memberi peringatan yang menghantam dadaku tanpa ampun.
"Hati-hati sama Adrian, Ser. Dia bukan cowok baik-baik."
Setelah mengucapkan kalimat penjelas yang menghancurkan kedamaianku itu, Joan memutar tubuhnya begitu saja dan melangkah pergi meninggalkan meja kami menuju bangkunya di depan, menyisakan keheningan yang amat membeku di antara aku, Kania, Celine, dan Dea.