Indonesia
NovelToon NovelToon
BERANDAL

BERANDAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Urban
Popularitas:668
Nilai: 5
Nama Author: Denis Suhendar

JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya

***

"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."

***

Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."

Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Riak di Luar Sarang

Sentuhan tangan Eksan yang menempelkan jemari Nasya di atas dada tegap menciptakan keheningan yang begitu intim di dalam kamar atas. Nasya bisa merasakan kehangatan yang menjalar dari kulit pemuda itu, menembus telapak tangannya dan langsung beresonansi dengan detak jantungnya sendiri yang berpacu liar. Tatapan mata elang Eksan yang pekat seolah mengunci seluruh dunianya, tidak memberikan celah sedikit pun bagi Nasya untuk berpaling atau memikirkan jalan keluar dari belenggu posesif ini.

"Eksan... lepaskan dulu. Kau baru saja melewati masa kritis," Nasya dengan suara yang menciut lembut. Wajah polosnya sudah merona merah alami hingga ke ujung telinga akibat pernyataan mutlak yang baru saja diucapkan oleh sang berandal tertinggi faksi Black Cobra tersebut.

Eksan tidak langsung menuruti permintaan gadis itu. Ia justru mempererat genggaman tangannya selama beberapa detik, menghirup aroma harum samar dari rambut hitam panjang Nasya yang berada dekat di hadapannya, sebelum akhirnya perlahan-lahan melepaskan kuncian jemari mereka. Eksan bersandar kembali pada tumpukan bantal hitam di kepala tempat tidur, menahan sakit otot perutnya sedikit menegang akibat gerakan refleks tadi.

"Aku tidak suka mengulang kalimatku, Nasya," ucap Eksan dengan nada suara yang kembali datar dan dingin, namun menyiratkan kepastian yang absolut. "Kau sudah melihat darahku tumpah demi melindungi nyawamu. Jadi, jangan pernah berpikir untuk melangkah satu senti pun menjauh dari jangkauan perlindunganku."

Nasya hanya bisa terdiam membeku sambil merapikan kembali selimut hitam tebal yang menutupi dada bidang Eksan. Jauh di dalam lubuk hatinya, rasa takut yang semula mendominasi kini perlahan-lahan mulai terkikis, berganti dengan sebuah perasaan keterikatan yang aneh. Pemuda di hadapannya ini adalah seorang monster jalanan yang ditakuti semua orang, namun di dalam kamar terisolasi ini, monster itu menyerahkan seluruh sisi rapuhnya hanya untuk dirawat oleh tangan mungil seorang gadis sekolah biasa seperti dirinya.

*Tok! Tok! Tok!*

Suara ketukan pintu yang teratur namun terdengar buru-buru mendadak memecah keheningan di antara mereka. Dari balik pintu kayu kamar yang terkunci ganda, terdengar suara parau Raka yang memanggil dengan nada penuh hormat sekaligus kecemasan yang tertahan.

"Bos Eksan... ini Raka. Apakah kau sudah sadar sepenuhnya? Ada hal sangat penting yang harus aku laporkan mengenai situasi jalanan kota pagi ini," seru Raka dari luar koridor besi.

Eksan melirik ke arah Nasya, memberikan isyarat dagu agar gadis itu membukakan pintu. Nasya segera beranjak dari tepi kasur, memutar slot kunci ganda, dan membuka pintu kayu kamar perlahan. Raka melangkah masuk dengan wajah yang tampak sangat kusut, menyiratkan bahwa pemuda gondrong itu sama sekali belum tidur sejak pertempuran besar di bawah guyuran hujan lebat semalam.

Raka menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat saat melihat Eksan sudah duduk bersandar di tempat tidur dengan infus darah yang masih terpasang di lengan kirinya. "Syukurlah kau sudah sadar, Bos. Dokter Aryo benar-benar melakukan keajaiban subuh tadi," ucap Raka dengan nada lega yang singkat.

"Langsung ke intinya, Raka. Jangan bertele-tele di hadapanku," potong Eksan dengan suara serak yang berat, tatapan mata elangnya langsung menyipit tajam mendeteksi aura masalah dari ekspresi wajah orang kepercayaannya.

Raka melirik ragu ke arah Nasya yang berdiri diam di sudut ruangan dekat lemari pakaian tua, sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang dan kembali menatap lurus ke arah Eksan. "Berita tentang kemenangan mutlak kita semalam sudah menyebar seperti api di atas minyak di sepanjang jalanan distrik barat dan pusat, Bos. Kekalahan telak klan geng Red Wolf beserta tumbangnya ketua raksasa mereka membuat gempar seluruh faksi berandal kota."

Raka mengambil satu langkah lebih dekat ke arah tempat tidur, menurunkan volume suaranya menjadi bisikan yang sarat akan ketegangan yang mendalam. "Namun, masalah utamanya bukan itu, Bos. Para informan kita di luar memberi kabar bahwa faksi-faksi berandal besar lainnya—terutama geng *White Tiger* dari wilayah utara—mulai berbisik penuh rasa penasaran. Mereka semua mulai menyelidiki alasan utama kenapa seorang Eksan Prasetya rela mempertaruhkan nyawa faksi Black Cobra dan merobek jahitannya sendiri demi melindungi seorang gadis sekolah biasa."

Mendengar laporan tersebut, atmosfer udara di dalam kamar atas mendadak kembali memberat dan mencekam. Eksan tidak mengeluarkan sepatah kata pun, namun rahang tegasnya tampak mengeras sempurna dengan urat-urat di pelipisnya yang menegang kuat. Sepasang matanya memancarkan kilatan haus darah yang sangat pekat, seketika membuat Raka refleks menundukkan kepalanya lebih dalam karena terintimidasi oleh hawa membunuh sang ketua tertinggi.

"Mereka mulai berani mencuri dengar tentang urusan pribadiku?" tanya Eksan dengan nada suara yang sangat tenang dan rendah, namun memiliki gaung ancaman mematikan yang sanggup menciutkan nyali siapa saja yang mendengarnya.

"Iya, Bos. Ketua faksi White Tiger dikabarkan sudah memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu identitas dan melacak keberadaan Nasya," lanjut Raka dengan suara yang kian serius. "Mereka mengira Red Wolf kalah karena ceroboh, dan mereka berpikir bisa memanfaatkan gadis ini sebagai kelemahan barumu untuk merebut tahta penguasa jalanan tertinggi dari tanganmu."

Nasya yang mendengarkan seluruh obrolan tersebut dari sudut ruangan seketika meremas erat rok seragam sekolahnya. Wajah polosnya kembali memucat pasi bagaikan kehilangan seluruh pasokan darahnya. Ketakutannya yang teramat sangat kembali bangkit. Ternyata, lolos dari cengkeraman geng Red Wolf semalam tidak membuat hidupnya aman, melainkan justru menjadikannya sebagai target buruan baru bagi seluruh monster jalanan di kota ini.

Melihat kepanikan yang melanda wanitanya, Eksan perlahan-lahan mencabut jarum infus dari lengan kirinya dengan gerakan kasar tanpa memedulikan rasa sakit sedikit pun. Cairan merah sempat menetes kecil di punggung tangannya, namun Eksan mengabaikannya begitu saja saat ia mengayunkan kakinya untuk turun dan bangkit berdiri tegak dari atas tempat tidur di kain hitam tersebut.

"Bos Eksan! Tubuhmu belum pulih total!" seru Raka panik, refleks melangkah maju hendak menahan tubuh pemimpinnya yang masih dibalut perban putih bernoda merah di perut kirinya.

Eksan mengangkat satu tangan kanannya ke udara, menghentikan gerakan Raka seketika dengan otoritas mutlak yang tak bisa diganggu gugat. Ia melangkah perlahan namun pasti mendekati Nasya yang sedang berdiri gemetar ketakutan di sudut ruangan. Begitu jarak mereka terkunci erat, Eksan langsung merangkul pundak kecil Nasya secara posesif, menarik tubuh mungil gadis itu masuk ke dalam dekapan perlindungan dada bidangnya yang hangat di hadapan Raka.

"Biarkan harimau-harimau sialan dari wilayah utara itu melakukan penyelidikan sesuka hati mereka, Raka," perintah Eksan dengan nada suara yang bergetar penuh penekanan angkuh dan haus darah yang murni. "Keluarkan perintah siaga satu untuk seluruh anggota inti Black Cobra mulai pagi ini. Siapkan seluruh mesin motor gede kita untuk terus menderu di sepanjang perbatasan wilayah industri ini."

Eksan menundukkan kepalanya sedikit, menatap lurus masuk ke dalam sepasang mata jernih Nasya yang berkaca-kaca cemas, lalu menyunggingkan sebuah seringai dingin yang luar biasa mengerikan ke arah luar jendela kamar.

"Jika White Tiger atau faksi mana pun berani melangkahkan kaki mereka satu jengkal saja masuk ke wilayah kekuasaanku untuk menyentuh Nasya..." Eksan mencengkeram erat pundak mungil gadis itu, mengunci takdir mereka berdua dalam satu lingkaran hitam yang tak terpatahkan. "...maka aku bersumpah demi nama besar Black Cobra, aku sendiri yang akan mencabuti seluruh taring mereka dan menjadikan kepala ketua mereka sebagai monumen peringatan berdarah berikutnya di jalanan kota ini."

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semngat nulis nya k👍
Denis Suhendar: semangat ganbate 💪💪
total 1 replies
Rudik Irawan
sering² up Thor
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: mampir KA berikan ulasan agar aku bisa Berkembang
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!