Indonesia
NovelToon NovelToon
BLACK AND WHITE

BLACK AND WHITE

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Chicklit / Enemy to Lovers
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: xyBubble

Pout for Me, Little Mouse.

Fraülein Keylana Reinhardt, Putri Raja perbankan Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.

Setelah bertunangan, mereka tinggal bersama di Berlin, Tidak ada satu hari pun tanpa pertikaian. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal.

Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan satu Perasaan yang dianggap tidak penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xyBubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rubanah (Bagian 1)

Beberapa saat yang lalu, Lana turun lift ke lantai dasar untuk mencari kamar mandi. Lobby hotel itu sepi sehingga Lana harus mencari - cari tanda toilet tanpa bisa bertanya pada seseorang yang lewat. Setelah pipis, Dia yang baru keluar dari pintu, mendengar sebuah suara riuh yang begema di lorong. Ia merasa penasaran tentang apa yang sedang terjadi lalu mendekati sumber suara itu.

Dentuman sepatu Lana bergema pelan di sepanjang lorong, suara-suara bernada tinggi semakin jelas di setiap langkahnya.

Dia berbelok ke lorong yang semakin sepi dan menemukan sepasang pria dan wanita yang memang tengah berdebat di depan pintu kuningan yang sedikit terbuka menuju tangga misterius ke bawah.

Pertengkaran itu berhenti tiba-tiba ketika Lana muncul di sudut jalan. Roy Raymond, Seorang penyanyi lagu pop sekaligus aktor papan atas yang sedang berada di puncak karirnya, berdiri membeku di tengah kalimat.

Wanita di samping Roy, mengenakan gaun yang sebagian lebih banyak terbuka daripada yang menutupi, berbalik menghadap Lana dengan wajah marah yang sarat akan emosi.

"Baiklah, lihat apa yang kita dapatkan. Penggemar gila lain yang menguntit pacarku?"

Dia melirik dengan sinis sambil bertolak pinggan, Lana segera mundur sambil mengangkat tangan.

"Ah tidak pak, saya hanya... lewat."

Tangannya melambai dengan liar sambil menggeleng, kakinya mundur untuk pergi dari situasi yang rumit itu dengan senyuman canggung.

Roy berdiri di sana sambil meneliti Lana, matanya mengamati wajah dan matanya lalu menyipit saat dia seperti mengenalinya.

"Fraülein Keylana? Apakah itu kamu?"

Suaranya, yang biasanya halus dan merdu di atas panggung dan film yang ditonton Lana, membawa nada terkejut dan penasaran.

Lana berhenti mundur dan menatap dengan bingung ke Roy Raymond.

"Kau... mengenalku?"

Ekspresi Roy berubah dari terkejut menjadi senyuman kecil, kini sepenuhnya mengenalinya. Dia berjalan mendekati Lana.

"Tentu saja. Perusahaan ayahmu mensponsori tur Eropaku. Herr Reinhardt - dia tidak mungkin dilupakan."

"Ah, Jadi begitu. Maaf aku tidak bermaksud menguping, kupikir ada kekerasan. Nikmati harimu."

Lana tersenyum dengan pengertian agar segera keluar dari situasi ini. Roy menyeringai,

"Kekerasan? Tidak, tidak ada kekerasan di sini, Hanya... diskusi hangat tentang perbedaan imajinasi."

Matanya melirik wanita itu —yang masih marah dan menyilangkan tangan— dengan senyum sinis penuh sindiran.

"Begitu ya, Senang bertemu denganmu tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk minta tanda tangan."

Lana memaksakan senyum cerah sambil bersiap pergi merasakan sorot mata wanita itu tapi saat Lana berbalik untuk pergi, suara Roy kembali memanggilnya.

"Tunggu sebentar, Keylana! Jangan pergi begitu saja."

Wanita berpakaian terbuka melangkah maju, mengikuti dua orang itu dengan penuh rasa kesal.

"Tunggu, Jangan menjauh dariku."

Roy mengejar dengan suara yang terdengar tegas. Dia bergerak cepat, menempatkan dirinya di antara Lana dan belokan lorong.

"Aku belum selesai bicara denganmu."

Lana berhenti sepenuhnya karena dicegat, Pandangan Roy tertuju pada kalung salib kecil yang menempel di cekungan leher Lana, dengan pengertian ia kembali menatap matanya.

Wanita berbaju terbuka itu melangkah mendekat, melewati Lana untuk menghadap pada Roy, menyela.

"Roy, sayang, apakah kamu benar-benar akan mengejar setiap gadis cantik yang kebetulan lewat?"

Katanya dengan jengkel sambil melirik tajam ke arah Lana.

"Aku ingat kita punya sesuatu yang istimewa untuk dibicarakan."

Ekspresi Roy mengeras saat dia kembali menatap wanita itu, suaranya berubah menjadi nada dingin.

"Ini bukan tentangmu, Karina. Ini bisnis."

Dia kemudian menunjuk ke arah tangga menuju ke ruang bawah tanah.

"Ayolah, Keylana. Saya ingin menunjukkan sesuatu kepada Anda."

Roy menyembunyikan sesuatu yang lebih dari sekedar rasa ingin tahu - sebuah tantangan, mungkin? Atau mungkin sekadar keramahan yang tidak pada tempatnya.

Lana menoleh, memandang ke arah tangga lalu Roy lalu tangga dan perlahan Roy lagi. Ajakan itu membuatnya semakin penasaran tapi dia tau untuk sebaiknya tidak pergi.

Roy tersenyum puas saat dia melihat pandangan Lana ke tangga, menyadari keraguan di mata Lana. Senyum khas bintang pop yang sudah terlatih menghadapi kamera muncul.

"Jangan khawatir, Keylana. Ini bukan tempat yang akan membuatmu menyesal. Setidaknya, tidak untuk... pemula." Dia meyakinkan

"Sepertinya aku tidak bisa, aku seharusnya pergi."

Roy melangkah mendekat, menghalangi jalan Lana dengan gerakan yang halus namun tegas.

"Hanya sebentar, Lana. Hanya satu menit. Aku berjanji tidak ada hal buruk yang akan terjadi."

Dia meyakinkan dengan sungguh-sungguh dibumbui ketertarikan walau konsep satu menit itu sepenuhnya bohong. Lana menghela nafas, Baiklah dia ikut.

"Aku harap apapun yang ingin kamu tunjukkan cukup menarik, Roy."

Roy tersenyum penuh kemenangan. Ia menuntun Lana menuju pintu ke tangga menuju lantai bawah tanah tersebut.

"Percayalah padaku, Lana. Kamu tidak akan menemukan tempat seperti ini di Berlin."

Gumamnya saat mereka menuruni tangga, Lana menarik kupluk Hoodienya menutupi kepala dan samping wajahnya, Karina mengikuti dengan sebal di belakang mereka.

"Jangan malu-malu, Keylana. Orang-orang datang untuk melepaskan, untuk menjelajah."

Semakin turun, aroma parfum, tembakau dan sesuatu yang tidak bisa dikenali oleh Lana tercium semakin pekat. Roy berjalan di depan, memandu sambil sesekali memegang dinding beton.

Di ujung koridor, sebuah pintu kayu hitam besar berdiri tegak, tanpa label, tanpa tanda.

"Di balik pintu ini,"

Roy berhenti tepat di depan pintu itu, dengan kartu akses hitam, Pintu itu pun perlahan berderit terbuka. Cahaya dari dalamnya menerangi sebagian wajah Lana.

"Ada dunia yang tidak akan pernah kamu lihat di pesta-pestamu, Keylana. Dunia di mana orang-orang seperti kami bisa benar-benar menjadi diri sendiri."

1
Jordin Yanti
semangat yha kakak othor ❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!