Tit... Tit... Tit...
"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.
Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.
Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan
Kedatangan Aruna di perusahaan itu mengejutkan beberapa karyawan yang kebetulan melihat. Apalagi Aruna datang ketika jam menunjukkan pukul 11 siang. Setelan formalnya dengan olesan make up tipis yang menjadi ciri khasnya dari dulu, tetap mengundang perhatian. Senyumnya begitu ramah kepada semua orang yang menyapanya. Sedangkan di meja resepsionis, seorang gadis menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Luna, aku kangen." seru Aruna sambil berlari kecil ke arah sahabatnya di perusahaan ini. Luna bekerja sebagai resepsionis di perusahaan ini. Namun Aruna sangat akrab dengan Luna dan sering menghabiskan waktu bersama saat istirahat.
"Aku juga kangen banget sama kamu. Susah banget sih hubungin kamu 7 tahun ini. Nyebelin," rengek Luna sedikit kesal dengan Aruna yang susah dihubungi. Pasalnya Aruna seringkali tidak punya kuota sehingga memilih tak membalas pesan yang dikirim Luna.
"Maklum, orang sibuk." Aruna terkekeh geli saat membanggakan dirinya yang sudah seperti orang sibuk. Padahal dia sedang irit dan sibuk menjaga Nasya.
"Iya, sibuk memergoki suaminya selingkuh sama anak satu kantor kan?" bisik Luna memberitahukan tentang berita yang sedang hits.
Aruna tidak tersinggung sama sekali. Bukan rahasia lagi jika hampir semua orang mengetahui kedekatan Kafka dan Silvy. Awalnya mereka tak curiga, tapi semakin lama gerak-geriknya mencurigakan. Namun mereka semua hanya diam, asalkan tidak berbuat mesum di area perusahaan. Luna melihat perubahan Aruna yang terlihat lebih kurus dibandingkan saat terakhir bertemu. Dia ikut sedih melihat keadaan sahabatnya. Padahal Aruna dulunya adalah seorang wanita karir yang sedang berada di puncaknya. Namun malah resign demi Kafka yang ternyata malah berselingkuh.
"Aku akan kembali ke kantor ini. Mungkin besok baru aktif," ucap Aruna mengalihkan pembicaraan.
"Ah... Senangnya. Akhirnya otakmu ini terbuka juga. Pokoknya kamu harus bahagia dan sukses, Aruna. Aku akan bantu kamu beradaptasi dengan lingkungan kerja lagi," ucap Luna dengan antusiasnya.
"Terimakasih. Aku ketemu Pak Arifin dulu," Luna menganggukkan kepalanya saat mendengar Aruna berpamitan padanya.
"Aku akan bantu kamu kasih pelajaran sama Kafka dan Silvy bau jigong itu, Aruna. Kamu sih nggak pernah balas pesanku, kan sedari dulu aku ingin kasih tahu." gumamnya menyalahkan Aruna yang sangat susah dihubungi. Sehingga dia tak bisa membawakan informasi penting.
***
"Permisi, Pak Arifin."
Aruna langsung menuju ruangan Pak Arifin. Kebetulan dia masih mengingat dimana ruangan Pak Arifin. Suara seorang pria paruh baya menjawab sapaannya dari dalam ruangan membuat Aruna berani membuka pintu. Ternyata Pak Arifin sedang menyiapkan laporan yang akan dirinya laporkan kepada atasannya.
"Aruna, rupanya kamu sudah datang." Pak Arifin berdiri kemudian membalas jabatan tangan dari Aruna. Tatapannya berbinar cerah, seakan aset berharga perusahaan telah kembali.
"Iya, Pak." Aruna duduk di depan meja Pak Arifin. Laki-laki paruh baya itu meletakkan sebuah dokumen kontrak karyawan.
"Pak Aldi ingin mengontrakmu seumur hidup untuk bekerja di sini. Namun perusahaan ini akan menyalahi aturan. Jadi itu bukan surat perjanjian kontrak kerja, hanya kesepakatan saja. Tentang hak gaji, libur, dan cuti serta job desc. Untuk batas waktu kontrak kerja, Pak Aldi menyerahkan semuanya kepadamu. Jabatanmu juga bukan lagi manager keuangan, tapi sebagai asisten CEO." ucap Pak Arifin menjelaskan.
Aruna hanya terkekeh pelan mendengar kalimat berlebihan dari Pak Arifin. Tidak mungkin juga dia kontrak seumur hidup di perusahaan ini. Dia harus memikirkan masa depannya yang jika nanti tua, tidak bisa bekerja. Lebih baik mengumpulkan uang untuk membuka usaha. Setelahnya biar uang yang mencari kita. Aruna membaca detail dari surat perjanjian itu. Sungguh dirinya tak menyangka akan diangkat sebagai asisten dari Reynaldi Febrian Nasyr, CEO sekaligus pemilik dari perusahaan ini.
"Pak, ini benar gaji pokok saya sebesar ini? Bukankah seharusnya saya hanya mendapatkan gaji training terlebih dahulu?" tanya Aruna dengan tatapan terkejutnya.
"Iya. Kamu adalah otak dari berbagai proyek kerjasama dulu. Saya dan Pak Aldi yakin kamu akan menghasilkan lebih banyak ide untuk memajukan perusahaan ini. Selamat bergabung kembali di perusahaan ini, Nona Aruna. Selamat atas jabatan barunya sebagai asisten CEO," ucap Pak Arifin sambil berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Terimakasih atas kepercayaannya, Pak." Aruna ingin berteriak dan menangis karena mengetahui gaji dan jabatan barunya. Padahal dia pikir, Aruna akan ditempatkan di divisi keuangan sebagai karyawan biasa.
"Ayo kita masuk ruang rapat. Hari ini kamu yang akan mewakili Pak Aldi untuk memeriksa semua laporan bulan lalu dari semua divisi," ucap Pak Arifin membuat Aruna sedikit terkejut.
"Langsung bekerja, Pak?" tanya Aruna dengan tatapan tak percayanya.
"Iya. Tenang saja, tidak akan dipotong gajimu walaupun baru datang dan masuk tengah bulan,"
Aruna tidak masalah dengan gaji itu. Aruna berpikir bahwa dia akan kembali bekerja esok hari atau minggu depan paling lama. Sehingga hari ini dia tak mempunyai persiapan apa-apa. Bahkan dia hanya membawa tas kecil berisi ponsel yang layarnya sudah retak. Namun dia tak mungkin mengecewakan Pak Arifin dan Aldi dengan ketidaksiapannya. Beruntung Pak Arifin meminjamkan laptopnya untuk nanti membantunya mempelajari laporan.
"Berarti ini Mas Kafka juga ada di ruang rapat kan? Wah... Bisa jadi kejutan untuk dia. Mas Kafka tidak akan bisa sombong karena jabatanku lebih tinggi dari dia dan kekasih gelapnya itu," gumam Aruna sambil terkekeh sinis.
"Kamu di sini dulu, Aruna. Nanti akan saya panggil kalau sudah waktunya," ucap Pak Arifin meminta Aruna berada di luar pintu ruang rapat.
"Baik, Pak." Aruna sedang melatih raut wajahnya agar bisa terlihat santai dan ramah di depan semua orang. Dia harus bisa menyembunyikan kekesalannya pada Kafka di depan semua orang.
"Selamat siang, semuanya." sapa Pak Arifin setelah masuk dalam ruang rapat dengan senyum tipisnya.
"Siang, Pak." jawab semuanya bersamaan.
"Sebelum kita mulai rapat pada siang hari ini, saya akan mengenalkan asisten CEO yang akan mendampingi Pak Aldi. Semua keputusan asisten CEO ini sama saja dengan keputusan dari Pak Aldi. Bagi karyawan lama, mungkin sudah mengenal sosok ini." ucap Pak Arifin membuat pengumuman.
Semua yang hadir terkejut mendengar pengumuman itu. Selama ini, Aldi tidak pernah mempunyai asisten. Namun sekarang tiba-tiba ada asisten CEO. Mereka penasaran dengan siapa yang menjabat sebagai asisten CEO. Para manager yang sudah lama bekerja di perusahaan itu tentu saja langsung terdiam sambil berpikir. Mereka menebak-nebak siapa sosok yang diangkat menjadi asisten CEO perusahaan mendampingi Aldi.
"Daripada kalian menebak-nebak, saya panggilkan asisten CEO yang baru. Kebetulan dia sudah ada di luar," ucap Pak Arifin sambil tersenyum.
"Ibu Aruna, mohon untuk masuk ke dalam ruang rapat." serunya memanggil Aruna.
Tak... Tak... Tak...
Mbak Aruna...
Aruna...
Tidak mungkin...
😁😁😁😁
Kafka mungkin ank kandung mu,,
tp jiwa ny bukan ,, dy cuma laki2 pengecut jelmaan Dari kodok sawah ,, 😒😒😒😒
smangat sehat sll up byk2🤭😄💪
makin seruu cerita ny
tq thor🙏😍
smangatttt up byk2🤭💪
smangattt hempasssss cpttttt😄💪