Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.
Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.
Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.
Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Laporan di Meja Komisaris
Suara derap sepatu bot tentara sewaan yang berpatroli perlahan menjauh dari barisan rak arsip paling ujung. Di balik bayangan gelap tumpukan map tua, Lu Jingyan dan Sekretaris Han berdiri dalam keheningan yang pekat, menahan napas hingga suara pintu baja ruang arsip tertutup rapat kembali.
Setelah memastikan situasi benar-benar aman, Jingyan memberi isyarat tangan agar mereka segera bergerak. Dengan langkah senyap namun cepat, keduanya keluar dari ruang bawah tanah dan menyelinap melalui tangga darurat pribadi menuju lantai atas sebelum alarm keamanan sempat disetel ulang oleh petugas.
Pesta malam di ballroom utama lantai lima puluh masih berlangsung meriah. Denting gelas kristal bercampur dengan alunan musik jazz elegan masih menggema di udara. Zhao Tianming tampak menikmati perbincangan hangat dengan beberapa investor asing di sudut ruangan, sama sekali tidak menyadari bahwa fondasi kekuasaan yang ia bangun di atas darah dan air mata kini telah kehilangan dokumen paling berharganya.
Di dalam mobil sedan mewah ber-AC yang melaju membelah malam menuju kediaman utama keluarga Lu, Sekretaris Han membuka tas kulit hitam berisi dokumen curian tersebut di bawah temaram lampu kabin.
"Semua bukti fisik sudah lengkap, Tuan Muda," lapor Sekretaris Han dengan nada kagum bercampur tegang. "Mulai dari rekam jejak suap, surat perintah sabotase, hingga tanda tangan asli Zhao Tianming yang memerintahkan manipulasi laporan di proyek lantai 35. Dokumen ini lebih dari cukup untuk menjatuhkan dan memenjarakannya seumur hidup."
Jingyan melirik sekilas dokumen-dokumen berharga itu tanpa tersenyum. Wajahnya tetap dingin, keras, dan menyimpan perhitungan yang jauh lebih matang. Ia tahu betul, menghadapi musuh sekelas Zhao Tianming tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyerahkan bukti ke meja kepolisian biasa. Zhao Tianming memiliki jejaring perlindungan politik dan hukum yang mengakar kuat di ibu kota. Jika berkas itu melompat langsung ke penegak hukum luar, faksi di dalam dewan komisaris Lu Group akan bergerak cepat untuk menutupi skandal tersebut demi menjaga harga saham korporasi.
"Kita tidak akan membawa berkas ini ke kantor polisi," ucap Jingyan tenang, menatap lurus ke luar jendela mobil yang merekam kerlip lampu jalanan kota.
Sekretaris Han mengernyitkan dahi bingung. "Lalu... apa rencana Anda selanjutnya, Tuan Muda? Jika bukan ke kepolisian, kepada siapa kita akan menyerahkan bukti-bukti pembunuhan berencana ini?"
"Kita akan menyerahkannya langsung kepada orang yang paling ditakuti oleh Zhao Tianming di dalam keluarga ini," jawab Jingyan dingin. "Komisaris Utama—kakek tirinya sekaligus pimpinan tertinggi dewan kehormatan Lu Group."
Langkah strategi itu sangat berisiko tinggi. Komisaris Utama Lu Group dikenal sebagai sosok tua yang keras kepala, konservatif, dan sangat menjunjung tinggi nama baik keluarga di atas segalanya. Selama ini, sang komisaris tua menutupi banyak borok internal demi mempertahankan dominasi keluarga Lu di pasar global. Namun, pria tua itu juga memiliki pantangan mutlak yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun di dalam perusahaan: pengkhianatan finansial yang merugikan aset inti keluarga dan pencemaran nama baik korporasi secara sengaja.
Keesokan paginya, matahari pagi baru saja menyapu puncak gedung-gedung pencakar langit ketika mobil mewah Jingyan memasuki halaman utama kediaman pribadi keluarga Lu—sebuah mansion bergaya klasik Eropa yang dikelilingi taman mahoni yang luas dan penjagaan ketat.
Di ruang kerja pribadi sang komisaris utama yang beraroma kayu cendana kuno, pria tua berusia delapan puluhan itu duduk di balik meja kerja besar dengan tongkat berkepala perak di samping kursinya. Alisnya yang putih lebat berkerut tajam menatap cucu tirinya yang berdiri tegap tanpa rasa takut sedikit pun di hadapannya.
"Lu Jingyan," suara tua itu terdengar serak namun penuh wibawa yang menekan dada. "Kau baru saja siuman dari koma panjang selama setahun, dan sekarang pagi-pagi sekali kau datang menemuiku di ruang kerjamu tanpa pemberitahuan formal. Apa yang membuat pewaris utama perusahaan begitu gelisah hingga harus membawaku dokumen setebal ini?"
Tanpa berkata-kata, Jingyan memberi isyarat kepada Sekretaris Han untuk meletakkan tas kulit hitam di atas meja kerja sang komisaris. Sekretaris Han membuka ritsletingnya dan membentangkan salinan dokumen asli proyek lantai 35, lengkap dengan catatan aliran dana ke Kepulauan Cayman dan tanda tangan basah Zhao Tianming.
Komisaris tua itu menunduk, meraba kacamata bacanya, lalu mulai membaca baris demi baris dokumen rahasia tersebut. Semakin jauh matanya membaca, semakin tajam kerutan di keningnya. Napas pria tua itu mendadak memburu, dan cengkeraman tangannya pada tongkat perak mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Ini... dari mana kau mendapatkan dokumen internal divisi operasional ini?!" bentak sang komisaris tua dengan suara menggelegar, memukul meja kerja dengan tongkatnya. "Kau tahu betul bahwa Zhao Tianming adalah penanggung jawab utama operasional lapangan! Membawa tuduhan korupsi dan sabotase semacam ini sama saja dengan mengguncang kestabilan seluruh dewan direksi!"
Jingyan tidak bergeming. Ia menatap kakek tirinya dengan sorot mata yang setajam pedang, memancarkan ketenangan absolut yang membuat sang komisaris tua tertegun sejenak.
"Kestabilan macam apa yang sedang Anda pertahankan, Kakek?" suara Jingyan memecah keheningan ruangan dengan nada rendah yang menusuk. "Kestabilan yang dibangun di atas mayat para buruh yang dikubur hidup-hidup di bawah reruntuhan beton? Atau kestabilan yang membiarkan tikus-tikus berdasi menggerogoti aset perusahaan dari dalam?"
"Jaga mulutmu!" seru sang komisaris tua murka.
"Aku tidak sedang berandai-andai," potong Jingyan tegas, meletakkan selembar foto transaksi terakhir tepat di hadapan mata pria tua itu. "Zhao Tianming bukan hanya menggelapkan dana ratusan juta rupiah. Ia telah merekayasa kecelakaan kerja di proyek lantai 35 setahun lalu untuk menutupi audit yang bocor. Jika skandal ini terbongkar oleh media investigasi independen luar tanpa kendali kita, seluruh saham Lu Group akan rontok dalam hitungan jam, dan nama baik keluarga besar kita akan hancur selamanya."
Ruangan kerja itu mendadak senyap total. Hanya terdengar suara detak jam dinding antik berukuran besar di sudut ruangan. Komisaris utama menatap tajam cucunya, mencari keraguan atau kepanikan di wajah pemuda itu, tetapi yang ia temukan hanyalah dinding es kepastian yang tak tertembus. Pria tua itu menyadari sepenuhnya bahwa apa yang dikatakan Jingyan adalah kebenaran yang telak.
Dengan tangan yang sedikit bergetar karena amarah yang tertahan, sang komisaris tua menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengangkat wajahnya menatap Jingyan.
"Apa yang kau inginkan?" tanya sang komisaris dengan suara parau namun berbahaya.
"Aku tidak meminta banyak," jawab Jingyan dingin. "Aku hanya ingin hak penuh untuk membersihkan rumah kita sendiri. Berikan aku wewenang mutlak untuk membekukan seluruh jabatan Zhao Tianming hari ini juga, tanpa intervensi dari dewan komisaris."
Pria tua itu terdiam sejenak, menimbang risiko dan keuntungan dari permintaan cucunya. Perlahan, ia mengangguk kaku. "Baik. Lakukan apa yang harus kau lakukan. Tapi pastikan tidak ada satu pun nama keluarga Lu yang ikut terseret ke dalam lumpur ini."
Jingyan membungkuk hormat sekilas, lalu berbalik melangkah keluar dari ruangan tersebut. Di dalam dadanya, genderang perang telah resmi ditabuh. Hari ini, kepala pertama dari kawanan serigala di Lu Group akan segera jatuh.