Indonesia
NovelToon NovelToon
Terikat Cinta Sang Mafia

Terikat Cinta Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.

‎Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.

‎"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.

‎Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32 : Langkah pertama menjadi kuat.

‎Tiga hari telah berlalu sejak penangkapan Romano. Keadaan di mansion Salvatore kini jauh lebih tenang, namun kehati-hatian tetap dijalankan dengan ketat. Pagi itu, di area fasilitas latihan tertutup yang terletak di sayap belakang mansion, ruangan kedap suara dengan dinding berlapis peluru dan pencahayaan terang namun lembut, Damian berdiri di samping Celine. Di hadapan mereka, meja baja panjang berisi sepasang sarung tangan pelindung, penutup telinga, dan satu pistol semi-otomatis yang sudah dibongkar sebagian.

‎‎"Jangan terburu-buru," ucap Damian pelan dan tenang, suaranya terdengar jelas meski ruangan itu luas dan kosong. "Sebelum kau menembak, kau harus mengenalinya dulu. Bagaimana ia bekerja, di mana letak bahayanya, dan bagaimana caranya tetap tenang saat memegangnya."

‎‎Celine mengangguk, tangannya sedikit gemetar saat menyentuh permukaan logam senjata itu yang terasa dingin dan berat. Ia mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung rapi hingga siku, sarung tangan kulit sudah terpasang di kedua tangannya.

‎‎"Kenapa... kenapa harus belajar ini, Damian?" tanyanya pelan, matanya tak lepas dari senjata di atas meja. "Aku bukan orang yang biasa memegang hal seperti ini."

‎‎Damian berdiri di belakangnya, meletakkan kedua tangannya di bahu wanita itu dengan lembut namun tegas, memintanya berbalik menatapnya.

‎‎"Karena aku tidak akan selalu ada di sisimu setiap detik, Celine. Dan aku tidak mau kau hanya bisa menunggu diselamatkan. Aku ingin kau mampu melindungi dirimu sendiri. Bukan untuk menyerang, tapi untuk bertahan hidup saat tidak ada orang lain yang bisa membantu."

‎‎Ia mengambil pistol itu, merakitnya kembali dengan gerakan cepat dan presisi, lalu meletakkannya kembali di tangan Celine, membimbing jari-jemarinya menempati posisi yang tepat.

‎‎"Pegang dengan dua tangan. Lengan lurus, tapi jangan kaku. Tarik napas... buang perlahan... dan saat kau merasa tenang, baru tekan pelatuknya dengan lembut, jangan dijentikkan."

‎‎Celine mengikuti instruksinya dengan saksama, menatap sasaran berbentuk siluet manusia di ujung lorong dengan jarak dua puluh meter. Jantungnya berdegup cepat, napasnya sedikit tersengal, namun ia berusaha menenangkan diri seperti yang diajarkan Damian.

‎‎"Tutup satu mata... fokus pada laras... dan tarik napas dalam-dalam," bisik Damian tepat di telinganya, suaranya menenangkan dan memberi kekuatan.

‎‎DOR!

‎‎Tembakan pertama meleset jauh ke kiri, memantul di dinding pelindung dengan bunyi berdenging. Celine tersentak mundur selangkah, bahunya terasa sedikit kesakitan karena hentakan senjata, matanya membelalak kaget sekaligus kecewa.

‎‎"Aku... aku meleset jauh sekali..."

‎‎"Itu wajar. Jangan kecewa," Damian tersenyum tipis, menepuk bahunya pelan, lalu berdiri di belakangnya kembali, membimbing posisi tubuhnya dengan sabar, menyesuaikan sudut lengan dan keseimbangan berat badan. "Kau tegang di bahu. Santai sedikit. Ingat, tenaga bukan dari otot, tapi dari ketenangan dan ketepatan."

‎‎Mereka mencoba lagi. Dan lagi. Setiap kali meleset, Damian tidak pernah memarahi atau terlihat kecewa, ia hanya menjelaskan apa yang perlu diperbaiki dengan sabar dan tenang yang tak pernah berubah.

‎‎Hingga pada tembakan keempat...

‎‎DOR!

‎‎Peluru itu menancap tepat di area hitam sasaran, sedikit di bawah pusat, bukan sempurna, tapi mengenai target.

‎‎Celine terbelalak, menatap lubang peluru di kertas sasaran itu seakan tak percaya, lalu menoleh cepat ke arah Damian dengan wajah berseri-seri penuh kejutan dan kebahagiaan.

‎‎"Damian! Aku berhasil! Aku benar-benar berhasil!"

‎‎Damian tersenyum lebar, senyum yang tulus dan hangat, senyum yang jarang sekali ditunjukkannya kepada orang lain. Ia mengusap puncak kepala Celine dengan penuh kasih sayang.

‎‎"Bagus sekali. Lihat? Kau jauh lebih kuat dari yang kau kira."

‎‎Ia merangkul bahu istrinya, menatap sasaran itu bersama-sama.

‎‎"Tapi ingat satu hal, Celine. Senjata ini bukan alat pemuas amarah. Ini alat pertahanan terakhir. Dan kekuatan terbesarmu sebenarnya bukan di sini..." ia menunjuk pistol itu "...melainkan di sini." Tangannya beralih menekan lembut dada kiri Celine, tepat di atas jantungnya. "Di ketenangan hatimu yang mampu berpikir jernih saat orang lain panik. Itulah yang akan menyelamatkanmu."

‎‎Celine menatapnya lekat-lekat, merasakan kehangatan dan ketulusan yang begitu dalam dari pria di hadapannya. Ia mengangguk pelan, menyimpan pesan itu baik-baik di dalam hatinya.

‎‎"Aku paham, Damian. Terima kasih... karena tidak pernah menyerah mengajariku."

‎‎"Kita akan latihan rutin setiap pagi sampai kau percaya diri," janji Damian lembut. "Bukan agar kau siap berperang, tapi agar kau siap pulang ke rumah ini dengan selamat setiap hari."

‎‎Ia mengangkat tangannya mengusap lengan wanita itu lembut. "Sayang, kau istirahat dulu di kamar, ya? Aku ada urusan sebentar dengan Luca."

‎‎Celine melirik ke arah Luca yang berdiri dengan wajah serius, lalu kembali menatap Damian. Ia tahu ada sesuatu yang penting dan mungkin tidak boleh ia dengar.

‎‎"Baiklah. Jangan terlalu lama, ya?"

‎‎"Aku janji." Damian mengecup keningnya sekilas, memastikan Celine benar-benar masuk ke dalam kamar sebelum menutup pintu perlahan dan berbalik menatap anak buahnya. Wajahnya yang tadi masih lembut kini kembali tenang dan tegas.

‎‎"Jadi? Bagaimana? Apa Romano sudah buka suara?" tanyanya langsung, nada bicaranya rendah namun penuh penekanan.

‎‎Luca menggeleng sedikit, rahangnya mengeras.

‎‎"Belum sepenuhnya, Don. Dia bicara sedikit... tapi dia bilang kalau Anda benar-benar ingin tahu siapa saja yang terlibat di balik semua ini, maka Anda harus bertanya sendiri padanya."

‎‎Damian terdiam sejenak, tangannya mengepal pelan di sisi tubuhnya.

‎"Apakah dia menyebutkan syarat lain? Soal perlindungan untuk keluarganya? Atau sesuatu yang lain?"

‎‎"Dia tidak menyebutkan syarat secara spesifik, Don. Hanya itu." Luca berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada ragu. "Saya khawatir ini jebakan, Don. Atau setidaknya ada sesuatu yang dia tidak mau saya atau orang lain dengar."

‎‎Damian menghela napas panjang, lalu merapikan kerah kemejanya dengan gerakan tegas.

‎‎"Biarkan saja. Kalau dia mau bicara denganku, aku akan menemui dia. Kau tetap jaga pintu sel dari luar. Jangan biarkan siapa pun mendekat, bahkan pengawal sekalipun. Aku mau dengar apa yang sebenarnya dia simpan rapat-rapat itu."

‎‎"Saya ikut Anda ke depan pintu sel, Don?"

‎‎"Di luar saja. Aku mau bicara berdua saja dulu dengannya."

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
sulit Cel... mana dia bos nya
🍓ADIRA🍓
Yuuhuuuuu 💃 selamat buat kalian berdua yang mau jadi orang tua 🤗
🍓ADIRA🍓
Etdah ini si nona,,, masih aja banyak bacot gak jelas 🙄🙄🙄 perlu diseruduk banteng dulu kayaknya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
bakalan ada Don junior kah 😱
〈⎳ FT. Zira
kecebong sudah berkembang beneran kann🤭
🍓ADIRA🍓
Kalaupun si Matt tak balik, masih ada yang nganggur di depan mu noh Val 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Masih aja dirimu Val /Proud/
〈⎳ FT. Zira
bales aja Cel.. doakan juga yaa sambil ngelus perut🤣
〈⎳ FT. Zira
ketika kekakuan berubah menjdi jelly🤭🤭
🍓ADIRA🍓
Kwkwkwkwk... diriku cuma intip dikit Thoorrr 🫣😂😂
🍓ADIRA🍓: Diriku masih polos Thorrrr 😂😂 janganlah kau nodai dengan kelakuan messyyumm si Revan 😂😂😂
total 2 replies
🍓ADIRA🍓
jawab apa hayo 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Seketika Val pun lupa dengan gengsinya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Pamer 🤮🤮🤮
🍓ADIRA🍓
Oh si remote toh 😂😂
MamDeyh
Aku bukan bocil tp emak yg punya bocil, jadi boleh yaaa/Grin/
🔥Violetta🔥: boleh banget... diwajibkan malah /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
Siapa. pulak ini /CoolGuy/
🍓ADIRA🍓
Yeeee suka^ Oma donk /Tongue/
MamDeyh
Siapa itu yaaaa
🍓ADIRA🍓
Nah 👏👏👏
🍓ADIRA🍓
Semoga si Oma melunak kali ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!