Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpikat Suami Sahabatku

Terpikat Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**

Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.

Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.

Satu malam nekat mengubah segalanya.

Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.

*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*

Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.

Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 034

Skandal Kantor

Beberapa minggu setelah malam pertama mereka berciuman, Bram mengajak Laras kembali ke rooftop cinema.

Kali ini mereka memilih film komedi. Laras membawa selimut sendiri, sedangkan Bram membeli terlalu banyak popcorn karena mengira satu ember tidak cukup untuk dua orang.

Mereka baru turun dari mobil ketika Laras melihat Pak Herman.

Bosnya berdiri di dekat mobil gelap, satu lengan melingkari pinggang pegawai perempuan yang baru bergabung dua minggu lalu. Perempuan itu tertawa dan bersandar ke dadanya. Ketika Pak Herman mencium pelipisnya, Laras otomatis berhenti.

“Itu pegawai baru di kantorku.”

Bram mengikuti arah tatapannya. “Dia kelihatan minta bantuan?”

“Nggak.”

“Kalau sekarang kelihatannya suka sama suka, kita nggak bisa seret dia pergi.”

“Dia bawahannya.”

“Iya. Tetap ada ketimpangan kuasa.” Bram mengeluarkan ponsel, mencatat waktu dan tempat tanpa memotret wajah perempuan itu. “Kalau suatu hari dia butuh bukti pola, kamu bisa bilang pernah lihat. Tapi jangan sebarkan fotonya dan bikin dia yang dipermalukan.”

Laras masih marah, tetapi mengerti. Ia tidak tahu apa yang dijanjikan Pak Herman atau apakah perempuan itu merasa bebas menolak. Menghadang mereka di tempat umum hanya akan menjadikan pegawai baru pusat gosip.

Malam itu Laras tidak benar-benar menikmati film. Pengalaman di Surabaya tidak lagi terlihat sebagai tindakan sesaat karena mabuk. Pak Herman tahu persis bagaimana memilih perempuan yang kariernya bergantung pada dirinya.

“Aku merasa bersalah membiarkan dia,” kata Laras di dalam mobil.

“Kamu nggak membiarkan,” jawab Bram. “Kamu cuma belum tahu apakah dia sedang minta diselamatkan.”

“Kalau nanti dia terluka?”

“Kamu bisa pastikan dia tahu ada orang yang akan percaya. Tapi keputusan keluar harus tetap milik dia.”

Keesokan hari Laras mengajak pegawai baru makan siang bersama Mira dan beberapa rekan lain. Ia tidak menyinggung rooftop. Ia hanya menunjukkan folder prosedur pengaduan yang mereka susun dan berkata semua pegawai boleh meminta pendamping saat bertemu atasan.

Pegawai baru itu tersenyum tipis, lalu berkata ia mengerti. Tidak ada pengakuan lain.

Menjelang Lebaran, kantor semakin sibuk. Banyak klien meminta dokumen selesai sebelum libur panjang. Laras hampir lupa pada pertemuan di rooftop sampai suara bentakan terdengar dari ruang utama.

Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun menerobos masuk bersama dua orang staf rumah tangga. Laras mengenalinya dari foto perusahaan sebagai istri Pak Herman.

“Mana perempuan itu?” teriak Bu Herman.

Pegawai baru tadi berdiri pucat di dekat mesin fotokopi. Bu Herman langsung menarik rambutnya.

“Perusak rumah tangga!”

Perempuan itu menjerit dan mencoba melindungi kepala. Beberapa pegawai mundur, sebagian mengangkat ponsel. Pak Herman keluar dari ruangannya, tetapi bukannya menghentikan istrinya, ia justru menyuruh semua orang tidak merekam.

“Panggil keamanan!” teriak Laras.

Seorang staf resepsionis menekan tombol telepon, tetapi penjaga berada di lantai dasar. Dalam jeda itulah Bu Herman kembali menarik pegawai baru sampai tubuhnya membentur meja. Kertas-kertas jatuh, layar komputer bergoyang, dan tidak seorang pun berani mendekat karena takut ikut dipukul.

Laras teringat dirinya membeku di depan kamar hotel. Kekuasaan bekerja dengan cara yang sama, membuat orang menghitung risiko sampai korban kehabisan waktu.

Bu Herman menampar pegawai baru lalu menendang kakinya.

Laras bergerak sebelum sempat berpikir. Ia memegang lengan Bu Herman dari belakang.

“Bu, berhenti. Jangan pukul dia.”

“Kamu temannya?”

“Saya rekan kerja. Kalau ada masalah dengan suami Ibu, bicarakan tanpa kekerasan.”

Bu Herman mengibaskan tangan sekuat tenaga. Laras terdorong ke samping. Hak sepatunya tersangkut kabel ekstensi dan pergelangan kaki terpelintir saat ia jatuh.

Nyeri tajam menjalar sampai betis.

Mira berlari membantunya. Di sisi lain ruangan, petugas keamanan akhirnya datang dan memisahkan Bu Herman dari pegawai baru. Rambut perempuan itu berantakan, bibirnya berdarah, tetapi semua kemarahan tetap diarahkan kepadanya, bukan kepada laki-laki yang berdiri aman di depan ruang kaca.

Pak Herman membawa istrinya masuk. Lima belas menit kemudian, pegawai baru dipanggil menyusul.

Laras duduk dengan kompres es di kaki sambil mendengar suara samar dari balik pintu. Ada tangis, ancaman, lalu keheningan.

Ketika pintu terbuka, pegawai baru keluar membawa amplop dan formulir pengunduran diri.

“Kamu nggak harus tanda tangan sekarang,” kata Laras.

Perempuan itu menghindari tatapannya. “Saya butuh uangnya.”

“Kamu juga berhak lapor soal pemukulan.”

“Tolong jangan ikut campur lagi.”

Laras terdiam. Ia tidak tahu apakah amplop itu uang tutup mulut, pesangon, atau bentuk lain dari kendali. Ia hanya memberi nomor pribadinya dan berkata bisa dihubungi jika perempuan itu membutuhkan saksi.

Pegawai baru itu menerima kertas nomor tersebut tanpa memasukkannya ke tas. “Saya tahu dia punya istri,” katanya lirih. “Tapi dia bilang pernikahannya sudah selesai dan saya akan jadi supervisor setelah Lebaran.”

Laras tidak menghakimi. Janji itu menjelaskan mengapa batas pribadi dan karier bercampur sampai sulit dipisahkan.

“Apa pun pilihanmu soal Pak Herman, kamu tetap nggak pantas dipukul.”

Mata perempuan itu memerah. Ia melipat nomor Laras, menyimpannya, lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Pak Herman tidak menanyakan keadaan kaki Laras. Ia malah menyuruh HR membuat laporan bahwa keributan adalah masalah pribadi.

“Masalah pribadi terjadi di kantor dan ada pegawai yang terluka,” bantah Laras.

“Saya akan bayar biaya rumah sakit kamu.”

“Itu bukan jawaban.”

Mira meremas bahu Laras, memberi isyarat agar mereka keluar dulu. Kaki Laras sudah mulai membengkak.

Bram sedang mengajar dan tidak mengangkat telepon. Laras menolak menunggu. Mira memesan kendaraan dan mengantarnya ke rumah sakit terdekat.

Pemeriksaan menunjukkan tidak ada tulang patah. Dokter mendiagnosis keseleo, mengoleskan obat, membalut pergelangan dengan perban, dan menyarankan Laras mengurangi beban selama beberapa hari.

Mira membantu menebus obat antinyeri dan meminjamkan sandal datar. Ia juga memotret bengkak untuk laporan kecelakaan kerja.

“HR bilang biaya ditanggung kantor,” katanya.

“Aku tetap mau laporan menyebut penyebabnya.”

“Sudah kutulis: cedera saat melindungi pegawai dari serangan fisik di area kerja.”

Laras menggenggam tangannya. Setidaknya Mira tidak membiarkan kalimat `masalah pribadi` menghapus apa yang terjadi.

“Kalau nyeri bertambah atau bengkak tidak turun, kembali,” kata dokter.

Laras mengangguk sambil melihat belasan panggilan tak terjawab dari Bram yang baru selesai mengajar.

Ia mengirim pesan bahwa dirinya aman dan menunggu di lobi.

Saat mengangkat kepala, Laras melihat Tiara berjalan dari arah apotek.

Di sampingnya ada seorang laki-laki yang belum pernah Laras temui secara langsung. Laki-laki itu membawa obat dan menyentuh punggung Tiara dengan akrab.

Tiara juga melihat Laras. Tatapannya turun ke kaki berperban, lalu kembali ke kursi kosong di sebelahnya.

Ia berjalan mendekat bersama laki-laki asing itu.

Senyum tipis di wajahnya sama tajamnya seperti dulu.

1
narazwei
Iiih jangan mau lah laras. Jalan ya gpp tp sendiri aja gilakkk
narazwei
Ga sopan ngupiiing.
narazwei
🥲 yg satu musang yg satu biawak. Tp knp dulu laras mau nikah sm biawak ini
narazwei
Ini gilo sumpah 🥲
narazwei
Basi banget luwak satu ini hih
narazwei
Lah dikira masak bisa ditawar 🙄
narazwei
Kalau liat blurbnya nggak tega sama sahabatnya. Soalnya sahabatnya kayaknya baik banget. Buat apa sih cowok kalo malah ngancurin persahabatan
Ita Putri
langgeng terus buat kalian berdua
Ita Putri
semoga bram ya ....
Cen
alurnya bagus banget,👍👍👍
Cen
sulit memang, karena aku pernah berada diposisi itu, nggak pernah diprioritaskan dan gak pernah ditanya aoa maunya aku, bedanya aku bertahan karena tidak mau selingkuh dan ada anak diantara kami'
Cen
laras hidup ini adalah pilihan 💪💪
Ita Putri
novel sebagus ini knapa bisa sepi Like & komen yaaa
heran
Ita Putri
haduuh
ribet ni urusan
Ita Putri
gila lu bram🤭
Ita Putri
bram kok mencurigakan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!