Indonesia
NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga / Obsesi
Popularitas:27.8k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Ainun terpaksa menggantikan kakaknya, Liona, untuk menikah dengan Sagara Jeno Dirgantara. Namun, pernikahan itu justru membuatnya hidup dalam siksaan fisik dan batin.

Saat mengetahui dirinya hamil, Ainun memilih menyembunyikannya. Ia hanya punya satu tujuan: pergi dari Sagara dan membawa anaknya bersamanya.

Ketika Liona kembali, Ainun mengira inilah kesempatan untuk bebas. Namun, ia baru menyadari bahwa sejak awal, Sagara bukan sekadar menginginkannya. Pria itu terobsesi kepadanya.

Akankah Ainun berhasil lepas dari Sagara, atau justru kembali terperangkap dalam obsesinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Liam

Tak lama kemudian, motor yang ditumpangi Ainun akhirnya berhenti di halaman masjid.

Ia segera turun, lalu melepaskan helm dari kepalanya dan menyerahkannya kepada pengemudi ojek.

“Terima kasih, Bang,” ucap Ainun pelan.

Setelah itu, ia merogoh dompet di dalam tasnya, lalu mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah dan menyerahkannya.

“Ini, Bang. Kembaliannya ambil saja.”

Pengemudi ojek tampak tersenyum lebar.

“Wah, terima kasih banyak, Neng. Semoga rezekinya makin lancar.”

Ainun hanya membalas dengan senyum tipis.

“Iya, Bang.”

Tak lama kemudian, motor itu melaju meninggalkan halaman masjid.

Ainun mengembuskan napas perlahan sebelum melangkah menuju tempat wudu yang berada di samping bangunan masjid.

'Semoga setelah nanti hatiku lebih tenang.'

Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, sebuah suara yang terdengar begitu akrab membuat langkahnya terhenti.

“Bu Ainun?”

Ainun menoleh.

Kedua matanya membulat sesaat saat mendapati Pak Faizan berdiri tak jauh darinya. Pria itu mengenakan kemeja lengan panjang berwarna abu-abu dengan peci hitam di kepalanya.

'Pak Faizan... kenapa beliau ada di sini juga?'

Pak Faizan tersenyum ramah sambil menghampiri beberapa langkah.

“Bu Ainun juga mau salat?” tanyanya.

Ainun menganggukkan kepala pelan.

“Iya, Pak,” jawabnya lirih.

“Alhamdulillah,” balas Pak Faizan sambil mengangguk. “Kalau begitu saya duluan ke dalam masjid.”

“Iya, Pak. Silakan.”

Pak Faizan mengangkat tangan singkat sebagai pamit, lalu berbalik melangkah menuju masjid.

Tatapan Ainun tanpa sadar mengikuti punggung pria itu hingga sosoknya menghilang di balik pintu.

'Beliau memang selalu ramah kepada semua orang.'

Pikiran itu segera ditepisnya.

'Astaghfirullah... jangan berpikir yang bukan-bukan, Ainun. Kamu sudah punya batas yang nggak boleh dilanggar.'

Ia menarik napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya ke arah tempat wudu.

Tanpa menunda lagi, Ainun kembali melangkah, bersiap menyucikan diri sebelum menghadap Sang Pencipta.

 . . .

Di dalam masjid, suasana terasa begitu tenang.

Semilir angin dari jendela yang terbuka membawa kesejukan, berpadu dengan lantunan zikir pelan dari beberapa jemaah yang telah lebih dahulu datang.

Ainun melangkah perlahan melewati serambi masjid.

Saat hendak menuju saf perempuan, tanpa sengaja pandangannya beralih ke arah saf laki-laki yang berada di bagian depan.

Di sana, Pak Faizan tampak berdiri dengan tenang, menunggu azan selesai berkumandang.

Seolah merasakan tatapan seseorang, pria itu menoleh.

Pandangan mereka bertemu.

Pak Faizan mengulas senyum ramah, lalu menganggukkan kepala tipis sebagai sapaan.

Ainun sedikit tertegun.

Beberapa saat kemudian, ia membalas dengan senyum tipis sambil menganggukkan kepala pelan.

'Pak Faizan memang selalu menyapa siapa pun dengan ramah.'

Ainun segera mengalihkan pandangannya.

'Aku nggak boleh terlalu memikirkan beliau.'

Ia menundukkan kepala, lalu mempercepat langkah menuju saf perempuan.

Setelah menemukan tempat yang masih kosong, Ainun berdiri dengan tenang.

Kedua tangannya merapikan mukena yang dikenakannya, sementara jemarinya saling menggenggam untuk meredakan gemuruh di dalam dada.

'Ya Allah... setelah salat ini, tolong berikan aku petunjuk.'

'Aku benar-benar nggak tahu harus bagaimana menghadapi semua ini.'

Perlahan, Ainun memejamkan mata sejenak.

Ia mengembuskan napas panjang, berusaha menyerahkan seluruh kegelisahan yang memenuhi hatinya hanya kepada Sang Pencipta.

.

 Sementara itu, di gedung Dirgantara Group, suasana siang di lantai paling atas masih diselimuti keheningan.

Di dalam ruang kerjanya, Sagara duduk tegak di balik meja.

Tatapannya tertuju pada layar ponsel yang menampilkan laporan lokasi Ainun.

Keningnya berkerut tipis.

“Kenapa dia ke klinik obstetri dan ginekologi?” gumamnya pelan.

Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja.

“Apa dia sakit?”

Pikiran itu membuat rahangnya mengeras.

Belum sempat ia memikirkan kemungkinan lainnya, suara ketukan terdengar dari balik pintu.

Tok... tok...

“Masuk.”

Pintu segera terbuka.

Liam melangkah masuk sambil membawa sebuah paper bag berlogo restoran langganan Sagara.

“Permisi, Pak,” ucapnya sopan.

Ia berjalan mendekat, lalu meletakkan paper bag itu di atas meja kerja.

“Pesanan makan siang Anda sudah datang.”

Sagara hanya melirik sekilas paper bag tersebut sebelum kembali mengalihkan pandangannya kepada Liam.

“Liam.”

“Iya, Pak?” Liam langsung menegakkan tubuhnya.

Tatapan Sagara mengunci wajah asistennya.

“Apa kamu tahu,” ucapnya datar, “kenapa wanita itu pergi ke klinik obstetri dan ginekologi?”

Ruangan kembali sunyi.

Sorot mata Sagara tetap tajam, menunggu jawaban dari pria yang berdiri di hadapannya.

 Tubuh Liam seketika menegang. Jemarinya yang semula tergantung di sisi tubuh perlahan mengepal.

“Saya...” suaranya menggantung.

“Jawab.”

Nada suara Sagara tetap datar, tetapi terdengar begitu menekan.

“Saya tidak suka menunggu.”

Jantung Liam berdegup lebih cepat.

'Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya?'

Bayangan wajah Ainun yang memohon sambil menahan tangis kembali terlintas di benaknya.

‘Kalau kamu memberitahu, dia akan menyuruhku menggugurkan anak ini.’

Liam mengatupkan rahang.

'Kalau ucapan Bu Ainun benar... dan Pak Sagara benar-benar memaksa menggugurkan kandungannya... bukankah itu berarti aku ikut menjadi penyebabnya?'

Ia menarik napas pelan.

'Sial... kenapa aku harus dihadapkan pada pilihan seperti ini?'

“Liam.”

Suara Sagara kembali terdengar.

Liam tersentak kecil dan segera mengangkat kepalanya.

Sorot mata pria itu masih tertuju lurus kepadanya, seolah mampu membaca setiap kebohongan.

Liam berusaha menelan ludah yang terasa sulit.

“I-itu, Pak,” ucapnya dengan senyum tipis yang dipaksakan, “Bu Ainun bilang sedang menjenguk istri rekan kerjanya.”

Ia berhenti sejenak, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang.

“Kebetulan hari ini rekannya itu melahirkan di klinik tersebut.”

Selesai berkata, Liam hanya bisa menunggu.

'Tolong... percaya saja.'

Beberapa detik berlalu. Tatapan Sagara masih belum bergeser dari wajahnya.

Liam berusaha mempertahankan ekspresi setenang mungkin meski telapak tangannya mulai berkeringat.

Akhirnya, Sagara mengangguk tipis.

“Oke,” ucapnya singkat. “Lanjutkan pekerjaanmu.”

Tanpa sadar Liam mengembuskan napas lega.

'Syukurlah... beliau percaya.'

Ia segera membungkukkan badan tipis.

“Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi.”

“Hm.”

Liam berbalik dan melangkah menuju pintu.

Sesaat setelah keluar dari ruang kerja itu dan pintu tertutup rapat di belakangnya, bahunya langsung mengendur.

Ia mengusap wajahnya pelan.

'Ya Allah... rasanya lebih menegangkan daripada menghadapi rapat direksi.'

Sudut bibirnya berkedut tipis.

'Kerja sama bos yang wajahnya selalu datar begini benar-benar bisa bikin umur pendek.'

Tanpa ingin berlama-lama memikirkan hal itu, Liam kembali melangkah menyusuri koridor, berusaha menenangkan debar jantungnya yang belum juga kembali normal.

Ruangan kembali diselimuti keheningan.

Suara pintu yang baru saja tertutup perlahan menghilang, menyisakan Sagara seorang diri di balik meja kerjanya.

Tatapannya kembali jatuh pada layar ponsel yang masih berada di genggamannya.

Sebuah titik merah bergerak perlahan di peta digital.

Keningnya berkerut tipis ketika melihat lokasi terbaru yang dituju Ainun.

'Masjid?'

Jemarinya mengetuk pelan sisi meja. Sorot matanya tetap terpaku pada layar.

'Bukankah dia baru keluar dari klinik?'

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.

Beberapa saat kemudian, titik merah itu berhenti.

Tepat di area masjid.

Sagara menyandarkan punggungnya ke kursi.

Rahangnya mengeras.

Entah mengapa, sejak menerima laporan bahwa Ainun pergi ke klinik obstetri dan ginekologi, pikirannya terasa sulit tenang.

Tatapannya kembali menyipit menatap layar ponsel.

'Apa benar hanya menjenguk rekan kerjanya?'

Ia mematikan layar ponsel, lalu meletakkannya perlahan di atas meja.

Meski begitu, pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepalanya tak juga menghilang.

 

1
Rahmawati Amma
wah klu benar jadi nikah sama si faizan kayanya aku mundur bacanya maksud hati ingin kasih koin tapi klu gini ceritanya aku mundur aja deh bacanya caow aku masih berharap chong ma balikan( SAGAR) 😭😤
Silvi Febiola: maaf ya kak, sudah ngecewain.
total 1 replies
Rahmawati Amma
weh thor chong ma mana harusnya kan udah bebas balikan sama chong ma aja kayanya ngak suka aku dengan faiz 😡😤 tapi chong ma nya udah berubah lebih baik benar2 baik dari sebelumnya hidup chong ma (sagara)si liam ibaratnya lee jaha kan kaki tangan chong ma ngak kala sadis wa ha..ha...ha. 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
fiks sagara kaya leluhurnya chong ma sadis tapi melindungi org terkasih sama chong ma sama2 sadis tdk pandang jenis kelamin mau perempuan mau laki klu ada yg gangu atau deketin babat abis tapi saya suka thor itu si sagaranya jangan terlalu sadis thor kaya chong ma aja ama mohyong sadis banget 😭😭😭😭
Linda: kalau saran saya jgn buat pisah sagara dgn ainun buat lah sagara sadar
total 1 replies
Linda
kalau saran saya ainun dn sagara jgn buat pisah bagi sagara sadar dan biar nanti dia hidup bahagia dgn keluarganya, dan laras dgn pak faisan
falea sezi
😒 bapak sama anak sama bejatnya g rela q si bangke ini ama ainun
falea sezi
😒laki bangke
Rahmawati Amma
kaya leluhurnya cheon ma sadis babget😭
falea sezi
moga bisa pergi. laki menjijikkan
Rahmawati Amma
aku meng hargai karyamu thor tapi terlalu kelam kapan bahagianya klu begini ceritanya 😭😭😭
Rahmawati Amma
kenapa terlalu drak thor😭😭😭
Rahmawati Amma
oh... ternyata mas saganya🤭🤭🤭
falea sezi
bkin ainun cerai Thor 🤣🤣 laki menjijikkan hukum itu ya di hukum cambuk bukan hukum ngeweee😒
falea sezi
🤣🤣 kn emank bejat g akan bisa berubah
Datu Zahra
apaansih Sagara, jijik banget.
Datu Zahra
kebanyakan pelakor, Liona belom beres, nongol Alif. terlalu ruet
Ais
sebenarnya saraga sm bapaknya ini sm"hyper kayaknya jijik tp kok ditiduri jg perempuan yg udah nyakitin istrinya aku pikir alif pelacur ini bakalan disiksa dlm artian disiksa bnr bkn disiksa dlm tanda kutip trus laras lihat kejadiannya apakah laras jg bakalan jd mangsa sagara berikutnya kasihan ainun kata aku seh smoga ainun cepat tau jd bs kabur sm anaknya jng smp rantai setan ini jg mengikat prilaku aksara anak ainun mau sebaik apa ibunya klo bapaknya hyper dan iblis anak jg pst akan kebawa namanya buah ngak akan jatuh jauh dr pohonnya
merry
jgn bgtt ainum sm bu Lina sm dm disiksa,, trss di selingkuh in lgg,, cb mrk bersatu hancurin ank Bpk iblis itu,, bastian tdrin mantan mantu ya eee anky selingkuh dgn alif ud gk bs dijadiin suami itu,, curi kek yang bu Lina trs pergi keluar negeri gt
dika edsel: klo bisa ainun dibuat mati aja...sad ending lbh baik..,ini novel bner2 di luar logika org waras
total 2 replies
Ila Latifah
jangan sampai ainin menderita lagi hara2 si alif bkin ulah. kasian bu lina. mamamnya sagara
Ila Latifah
masih 1 tipe. banyak tokoh jahatnya
Ila Latifah
menjijikan. dimakan bapaknya untuk dimikahi anaknya. anak tiri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!