Indonesia
NovelToon NovelToon
SHADOWS OF THE THRONE

SHADOWS OF THE THRONE

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Iblis / Tamat
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: IΠD

Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Servant

Waktu berjalan begitu cepat, mengubah musim demi musim di balik dinding sayap barat Istana Hikari yang sunyi. Di dalam rumah kecil keluarga pelayan yang hangat, lantai kayu tua kini sering kali dihiasi oleh suara langkah kaki kecil yang tergesa-gesa dan tawa riang seorang anak.

​Aragoto kecil kini telah tumbuh menjadi balita yang sehat. Rambut hitam legamnya tergerai lembut, dan sorot matanya yang jernih memancarkan kecerdasan di atas rata-rata anak seusianya. Sore itu, saat cahaya matahari senja merayap masuk melalui celah jendela, Aragoto yang baru saja bisa berjalan dengan lancar tampak berlari kecil menghampiri Goro yang sedang duduk membereskan peralatan berkebun di dekat pintu belakang.

​"Ayah... lihat!" seru Aragoto kecil dengan suara yang masih terdengar imut, sambil mengangkat selembar daun hijau besar yang ia temukan di halaman. Ia menunjukkannya dengan penuh antusias kepada pria paruh baya itu.

​Goro meletakkan sekop kecil di tangannya, lalu tersenyum lebar hingga kerutan di sudut matanya nampak jelas. Ia merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan anak itu. "Wah, luar biasa sekali! Daun apa itu yang kaupegang, jagoan?" tanya Goro dengan suara lembut yang penuh kehangatan, lalu mengangkat tubuh mungil Aragoto dan mendudukkannya di atas pangkuannya.

​Aragoto tertawa kecil, memegang tangan kasar Goro dengan kedua jemari mungilnya. "Ini daun besar, Ayah! Daunnya lebar seperti payung. Kalau hujan turun, ini bisa buat topi!" jawabnya polos sambil meletakkan daun itu di atas kepalanya sendiri, membuat Goro tergelak pelan.

​Mendengar suara tawa di ruang tengah, Martha keluar dari dapur sambil membawa sebotol air hangat dan sehelai kain lap kecil. Ia menggelengkan kepala pelan dengan senyum penuh kasih sayang menghiasi wajahnya melihat keakraban suami dan anak asuhnya itu.

​"Goro, jangan biarkan dia duduk di dekat pintu terus, angin senja mulai dingin. Nanti ia masuk angin," kata Martha sambil mendekat, lalu berjongkok di hadapan Aragoto. Dengan telaten, ia menyeka keringat tipis di dahi balita itu menggunakan kain hangat.

​Aragoto mengerjap, menatap Martha dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. "Ibu... hari ini di luar sangat ramai. Kudengar banyak suara terompet dan sorak-sorak dari arah istana utama. Ada apa di sana?" tanyanya dengan nada penasaran khas anak kecil.

​Martha dan Goro sontak terdiam sejenak. Suasana hangat di antara mereka mendadak terasa sedikit kaku. Suara riuh yang didengar Aragoto dari kejauhan itu tidak lain adalah perayaan ulang tahun Putri Miyura—saudari kembarnya yang hidup bermegah-megahan di singgasana utama, sementara Aragoto hanya bisa mendengar gemuruh pestanya dari balik tembok pengasingan sayap barat.

​Goro menelan ludah pelan, lalu tersenyum menenangkan sambil mengelus puncak kepala Aragoto. "Oh, itu hanya... perayaan kecil para bangsawan istana, Aragoto. Tempat kita ada di sini, di dunia yang damai ini bersama Ayah dan Ibu."

​Martha menatap anak itu dengan sorot mata yang menyembunyikan rasa iba yang mendalam. Ia mendekap tubuh mungil Aragoto ke dalam pelukannya erat-erat, seolah ingin melindungi anak itu dari segala kenyataan kejam di luar sana. "Ya, sayang... di sinilah tempatmu yang paling aman. Kau tidak perlu memikirkan apa yang terjadi di istana besar itu," bisik Martha lembut, menyembunyikan air mata haru dan getir di balik senyumannya.

​Aragoto yang belum memahami apa pun tentang takdir kelam keluarganya hanya membalas pelukan itu dengan dekapannya yang hangat, merasa bersyukur dan dicintai oleh dua orang yang tulus merawatnya sejak ia dibuang ke dunia.

Sore itu, dapur istana di sayap barat tampak sibuk dengan uap mengepul dari panci-panci tembaga besar. Aroma rempah dan roti panggang memenuhi udara. Aragoto, yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun dengan rambut hitam rapi dan sorot mata cerdas, tengah sibuk membantu Nyonya Martha menyusun tumpukan piring bersih di atas meja kayu.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki anggun bergemerincing di atas lantai marmer koridor luar yang biasanya sepi. Langkah itu diiringi oleh gemerisik kain sutra mahal yang bergesekan—suara yang sangat kontras dengan suasana dapur para pelayan yang sederhana.

​Aragoto menghentikan gerakannya. Ia tertegun, lalu menoleh pelan ke arah pintu dapur yang terbuka setengah. Dari balik celah pintu tersebut, matanya menangkap siluet seorang anak perempuan sebayanya yang sedang berjalan di lorong. Anak itu mengenakan gaun rokoko berwarna merah muda yang dihiasi renda-renda putih mewah, dengan pita besar menghiasi rambut hitam pendeknya. Ia berjalan dengan dagu terangkat, memancarkan keangkuhan mutlak, dikelilingi oleh dua pengawal istana berseragam rapi yang berjalan beberapa langkah di belakangnya.

​Tanpa sadar, Aragoto melangkah perlahan meninggalkan tumpukan piring. Ia mendekati pintu dapur, lalu menyembunyikan sebagian tubuhnya di balik kusen pintu, terus mengintip sosok gadis itu dengan tatapan penuh rasa penasaran yang teramat dalam. Ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa bergemuruh saat melihat wajah anak perempuan itu—wajah yang begitu familier, seolah ia sedang bercermin, namun dipisahkan oleh dunia yang tak tersentuh.

​Nyonya Martha, yang sedang mengaduk sup di atas kompor batu, menyadari keheningan tiba-tiba dari anak asuhnya. Ia menoleh dan melihat Aragoto berdiri mematung di dekat pintu, matanya tak lepas dari pemandangan di luar.

​Martha melepaskan sendok kayu di tangannya, lalu berjalan menghampiri anak itu dengan langkah pelan. Hatinya tiba-tiba terasa nyeri. Ia tahu betul siapa yang sedang dilihat oleh Aragoto. Dengan lembut, Martha meletakkan tangannya di pundak kecil Aragoto.

​"Aragoto... apa yang sedang kau perhatikan, Nak?" tanya Martha dengan suara berbisik, berusaha menyembunyikan getaran di nada bicaranya.

​Tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari koridor luar, Aragoto menunjuk pelan menggunakan jari telunjuknya. Suaranya terdengar pelan, nyaris seperti desiran angin. "Ibu... lihat wanita muda itu. Dia berjalan di lorong istana ini dengan pakaian yang berkilau. Siapa dia? Kenapa para pengawal membungkuk begitu rendah setiap kali ia lewat?"

​Martha mengikuti arah pandang Aragoto. Di luar sana, gadis kecil bergaun merah muda itu baru saja berbelok di ujung koridor, meninggalkan bayang-bayang kemewahan yang tertinggal di udara. Martha menarik napas panjang, menelan ludah dengan susah payah sebelum menjawab.

​"Dia bukan sekadar wanita muda biasa, Aragoto," jawab Martha lirih, suaranya mengandung beban rahasia bertahun-tahun yang harus ia jaga. Ia berlutut sedikit agar sejajar dengan tinggi anak itu, lalu merapikan kerah baju Aragoto. "Dia adalah Yang Mulia Putri Miyura... pewaris tunggal takhta Kerajaan Hikari."

​Mendengar kata-kata itu, Aragoto terdiam kaku. Ia menoleh menatap Martha dengan mata jernihnya yang memancarkan sejuta pertanyaan. "Putri... Miyura? Nama yang indah. Tapi, Ibu... kenapa rasanya aneh? Saat aku melihatnya tadi, dadaku terasa sesak. Wajahnya... bentuk matanya... rasanya tidak asing bagiku."

​Martha merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar kepekaan anak itu. Ia buru-buru memegang kedua pipi Aragoto dengan kedua tangan kasarnya, memaksa anak itu untuk fokus menatap matanya, mencoba mengalihkan pikiran berbahaya yang mulai berkecamuk di kepala kecil sang anak.

​"Jangan pernah memikirkan hal-hal yang bukan bagian dari duniamu, Aragoto," ucap Martha dengan nada tegas namun penuh kelembutan keibuannya. Ia tersenyum getir, berusaha menepis rasa bersalah yang mencabik-cabik hatinya. "Dunia kita ada di sini, di dapur yang hangat ini bersama Ayah dan Ibu. Tempat para bangsawan tinggi seperti Putri Miyura berada jauh di atas langit... kita tidak akan pernah bisa menjangkaunya."

​Sambil mendengarkan penjelasan panjang Martha, Aragoto tidak kunjung beranjak. Ia perlahan melepaskan pandangan dari ibunya, lalu kembali melayangkan pandangannya ke arah koridor kosong tempat sang putri berlalu tadi. Sepasang mata mereka—yang sebenarnya lahir dari rahim yang sama—menyimpan takdir yang terbelah ke dalam dua semesta yang takkan pernah bisa bersatu. Aragoto hanya bisa terus mengintip dari pintu dapur, menyimpan rapat-rapat rasa penasaran yang kelak akan menjadi bagian dari badai besar di Kerajaan Hikari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!