Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'
Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.
Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!
Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!
Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!
Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Maraton Belanja dan Suara di Balik Pintu Kerja
"Makasih banyak, Kak. Kakak yang jauh lebih cantik!" pusing Sella polos, sama sekali tidak menyadari aura gelap yang sempat terpancar dari wanita di depannya.
"Senang bertemu dengan penggemar sepertimu, Sella. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu," ucap Clarissa formal.
Ia melengos pergi menuju meja kasir, membayar gaun salem orange tadi dengan gerakan yang sangat anggun namun terburu-buru. Sebelum hilang di balik pintu butik mewah, ia sempat melambai, memberikan senyum panggung yang sempurna bagi Sella.
Salah satu pengawal Adit melangkah mendekat, memecah lamunan Sella. "Nona, apa Anda jadi membeli pakaiannya?"
Sella tersentak, lalu segera berkacak pinggang. "Jadi, dong! Masa jauh-jauh datang ke butik Paris cuma buat numpang foto doang? Bisa turun harga diri gue sebagai istri—eh, maksudnya sebagai orang Indonesia!"
Sella kembali berkeliling menyusuri deretan pakaian. Kali ini, ia bertindak lebih selektif. Ingatannya mendadak melayang pada wejangan papanya, Kaizen, saat berada di Menara Eiffel tempo hari.
Papanya yang mantan tentara itu paling anti melihat Sella mengenakan baju kurang bahan—bahkan sempat menyuruhnya memakai kain karung goni agar tidak dilirik oleh pria lain.
"Papa pasti bangga kalau lihat gue beli ini," gumam Sella saat jemarinya berhenti pada sebuah dress hitam yang sangat elegan. Modelnya simpel, panjangnya di bawah lutut, dengan potongan lengan panjang yang sopan namun tetap terlihat mahal.
Meskipun si Om Drakula itu kaku, tapi kalau gue pakai yang begini, dia nggak bakal punya alasan buat menceramahi gue soal etika berpakaian, kan? batin Sella menimbang-nimbang.
Sella membawa dress pilihannya ke kasir dengan perasaan bangga. Ia sama sekali tidak tahu bahwa di luar butik, Jasmine Clarissa Wijayanto sedang menelepon seseorang dengan napas yang memburu menahan emosi.
"Same, aku baru saja bertemu dengan gadis itu. Sella. Dia sedang dikawal ketat oleh orang-orang Adit di kawasan Avenue Montaigne. Apa kau mau aku melakukan sesuatu, atau kau sendiri yang akan menjemput mainan baru ini?"
Clarissa tersenyum menyeringai, sebuah ekspresi predator yang tersembunyi di balik polesan lipstik mahalnya. Tatapannya tertuju pada pantulan dirinya di spion mobil, merasa menang karena memegang kartu as baru.
"Baiklah, Same. Aku setuju dengan idemu. Terima kasih banyak untuk informasinya," ucap Clarissa pendek sebelum memutus sambungan telepon secara sepihak.
Tanpa membuang waktu, ia menginjak pedal gas dalam-dalam, meninggalkan area butik mewah tersebut dengan deru mesin mobil yang angkuh.
****
Sementara itu, di sisi lain Paris yang gemerlap, Sella justru sedang berada dalam mode balas dendam finansial. Alih-alih langsung pulang ke apartemen, ia malah menjadikan jalanan Paris sebagai arena maraton belanja pribadinya. Toko buku, toko boneka, toko bunga, hingga gerai sepatu bermerek ludes ia jelajahi tanpa ampun.
Gadis itu benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan emas untuk menguras isi kartu hitam tanpa limit yang diberikan oleh Adit esok paginya.
Hasilnya? Dua pengawal Prancis yang tadinya terlihat garang bak agen rahasia, kini lebih mirip pohon natal berjalan karena sekujur tubuh mereka tertutup oleh tumpukan paper bag belanjaan milik Sella. Sella sendiri? Ia berjalan santai di depan mereka, asyik menjilat es krim vanila berukuran jumbo. Padahal angin musim dingin mulai menusuk tulang, namun Sella seolah memiliki sistem pemanas internal sendiri di dalam tubuhnya.
"Nona, cukup! Kita harus segera kembali. Tuan Abraham sudah menunggu Anda di rumah," ucap salah satu pengawal dengan suara yang tertahan di balik tumpukan kotak sepatu di pelukannya.
Sella menghentikan langkah kakinya secara mendadak, membuat kedua pengawalnya nyaris bertabrakan di trotoar. Ia menolehkan kepalanya dengan sisa es krim yang menempel di sudut bibirnya.
"Pulang? Bukannya ini masih siang? Kenapa drakula kaku itu sudah pulang? Emangnya dia nggak sibuk apa mengurus saham-saham perusahaan yang membosankan itu?"
"Sebaiknya Anda segera kembali sebelum beliau marah besar," tegas pengawal itu lagi, kali ini dengan nada suara yang tidak bisa dibantah.
Sella mencebikan bibirnya kesal, menghentakkan sepatunya ke lantai mal. "Iya, iya! Dasar tukang lapor! Kalian pasti sudah chat dia kan, mengadu kalau gue jajan terus?"
Pengawal itu tidak menjawab. Alih-alih berdebat, ia dengan sigap—namun tetap sopan—mengarahkan lengan Sella untuk segera keluar menuju area parkir kendaraan.
"Nggak usah diseret-seret juga kali! Gue punya kaki sendiri!" protes Sella saat dibantu masuk ke dalam kabin mobil Ferrari hitam.
"Lihat nih, es krim gue jadi belepotan ke mana-mana!" Ia menggerutu sambil sibuk mengelap tangannya dengan selembar tisu.
"Tuan Abraham pulang sendiri, Nona. Tidak perlu kami beri tahu pun, beliau pasti sudah tahu jika dompetnya baru saja diperas habis oleh istrinya," sahut si pengawal sambil mulai menjalankan mesin mobil.
Deg!
Jantung Sella seolah-olah merosot ke perut seketika. Ia baru sadar. Kartu hitam mewah itu pasti terhubung langsung dengan sistem ponsel pintar milik Adit. Setiap kali ia menggesek kartu untuk membeli boneka, buku, atau sepatu, ponsel Adit pasti akan berbunyi tanda saldo rekeningnya berkurang.
Waduh! Gue lupa... pasti dia lagi melototin mutasi rekening bursa saham sekarang, batin Sella mulai panik.
Ia menelan ludah paksa, membayangkan wajah Adit yang sudah kaku akan menjadi sekeras batu saat menunggunya di apartemen nanti.
Mobil melaju kencang menembus kemacetan jalanan Paris, membawa Sella menuju sidang pleno yang sudah menunggunya di kediaman mewah Adit. Begitu sampai di depan pintu penthouse, Sella mendadak memasang gestur siaga satu. Ia berbalik cepat, menghalangi jalan kedua pengawalnya yang masih menenteng gunungan paper bag.
"Stop! Sampai sini aja! Sini, biar gue yang bawa semua belanjaannya. Hus-hus! Kalian pergi sana, jangan sampai si Om drakula lihat kalian bantuin gue merampok kartunya!" usir Sella sambil sibuk mengambil alih belanjaan itu satu per satu ke dalam pelukannya.
Kedua pengawal itu hanya bisa menunduk sopan, menyembunyikan senyum geli mereka sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan lorong.
Sella kini berdiri sendirian dengan tumpukan belanjaan yang nyaris menutupi wajah cantiknya. Napasnya terengah-engah, dan jantungnya berdegup kencang—kombinasi antara kelelahan fisik dan rasa ngeri membayangkan amukan sang CEO.
Cklek!
Sella membuka pintu apartemen dengan sangat hati-hati. Ia melangkah masuk dengan gerakan berjinjit, persis seperti maling jemuran yang takut ketahuan oleh pemiliknya.
"Aman!" gumam Sella pelan saat melihat area ruang tengah tampak sepi tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Ia menghela napas lega, pundaknya yang tegang sedikit merosot.
Namun, saat ia hendak melesat menuju kamar tidurnya, langkah kakinya mendadak membeku di udara. Telinganya menangkap suara percakapan dari arah ruang kerja Adit yang posisi pintunya sedikit terbuka rapat.
Suara seorang perempuan. Lembut, anggun, namun terdengar sangat menuntut. "Kamu memangnya nggak kangen sama aku, Adit? Apa kamu sudah nggak cinta lagi sama aku?"
Mata Sella membelalak sempurna seketika. Ia nyaris menjatuhkan tumpukan paper bag di pelukannya.
Suara itu... familiar banget di telinga gue, batin Sella menebak-nebak.
Antara rasa bingung, penasaran, dan rasa sesak yang tiba-tiba muncul menghimpit dadanya, Sella melangkah mendekat secara perlahan di atas lantai marmer. Ia menempelkan telinga kirinya di daun pintu kayu raksasa tersebut, menahan napas rapat-rapat seolah nyawanya bergantung pada keheningan malam itu.
"Jasmine... jangan seperti ini. Aku memang pernah mencintaimu, tapi sekarang kita nggak bisa kembali lagi seperti dulu."
Suara bariton Adit terdengar sangat berat, dalam, dan dipenuhi oleh kebimbangan logika yang mendalam.
"Kenapa? Apa kamu sudah punya pacar baru di Paris?" tanya suara perempuan itu lagi.
"Jasmine?" bisik Sella lirih dalam hati. Nama lengkap itu mengingatkannya pada wanita anggun yang baru beberapa jam lalu ia temui di butik pakaian.
Tangannya yang bebas seketika mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih menahan ngilu.
Gue harus sadar diri, batin Sella mendadak perih. Ada rasa panas yang menjalar cepat di pelupuk matanya.
Meskipun secara hukum negara status gue adalah istrinya, di mata dia gue cuma mahasiswi pengganggu yang merusak tatanan hidupnya. Percuma kalau gue masuk dan bikin keributan di depan mantan kekasihnya. Gue bahkan nggak yakin soal kejadian malam itu... apakah gue beneran sudah disembelih kesuciannya, atau darah di seprai itu murni cuma darah menstruasi bulanan gue yang telat datang akibat stres tingkat dewa.