Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Angkat Sang Mafia

Ayah Angkat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:25
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**

**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**

Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*

Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Bayang-bayang Om Guntur

Pria berseragam polisi itu datang ke Vila Arkana tanpa membuat janji.

Aku berusia empat belas tahun dan sedang berlatih piano ketika suara perdebatan menembus pintu ruang musik. Arkana jarang menerima tamu di rumah. Lebih jarang lagi ada orang yang berani meninggikan suara kepadanya.

"Berapa banyak lagi darah yang kau butuhkan sebelum berhenti?" tanya pria itu.

Tanganku terhenti di atas tuts.

Aku membuka pintu sedikit. Dari celahnya terlihat seorang laki-laki berambut mulai memutih berdiri di ruang tengah. Seragamnya rapi, lencana di dada berkilau. Arkana berdiri membelakangiku dengan rokok menyala.

"Kalau datang sebagai polisi, bawa surat perintah, Pak Suryo," katanya.

"Aku datang sebagai orang yang masih peduli padamu."

"Terlambat."

Pak Suryo menarik napas panjang. "Tidak pernah terlambat untuk keluar. Serahkan bisnis ilegalmu. Pertahankan hotel, logistik, apa pun yang bersih. Aku bisa membantumu bicara dengan orang yang tepat."

Arkana tertawa tanpa suara. "Kau masih mengira aku bisa berjalan ke kantor polisi dan meminta lembar hidup baru?"

"Kalau kau bekerja sama..."

"Namaku sudah ada di terlalu banyak berkas."

"Karena kau memilih tetap di dunia ini."

Arkana mematikan rokok begitu keras sampai batangnya patah. "Aku memilih?"

Pak Suryo terdiam.

Untuk sesaat mereka hanya saling memandang. Ada sesuatu yang sangat pribadi di antara keduanya, sesuatu yang lebih tua daripada kemarahan hari itu.

"Aku pernah ingin memakai seragam seperti milikmu," Arkana berkata pelan. "Kau tahu persis siapa yang membuat itu mustahil."

Wajah Pak Suryo berubah. "Itu sebabnya aku tidak ingin melihatmu tenggelam lebih jauh."

"Aku sudah tenggelam sejak Om Guntur mati."

Nama itu kembali muncul.

Nama yang pernah membuat ayah kandungku berlutut.

Pak Suryo menurunkan suara. "Guntur tidak akan meminta kau membalasnya dengan menghancurkan hidupmu."

"Kau tidak mengenalnya."

"Aku mengenal anak yang dulu ingin menjadi polisi."

Arkana berbalik. Tatapannya jatuh ke celah pintu tempatku mengintip.

"Anak itu sudah mati," katanya.

Aku tidak tahu apakah kalimat itu ditujukan kepada Pak Suryo atau kepadaku.

***

Setahun kemudian, aku melihat Pak Suryo lagi di Club Aurora.

Arkana membawaku ke sana pada sore hari karena Ibu Clara hendak menguji piano baru di ruang pertunjukan. Klub belum dibuka untuk tamu. Lampu utama padam, kursi-kursi terbalik di atas meja, dan pekerja membersihkan lantai yang masih berbau alkohol serta asap rokok.

Ibu Clara terlambat. Aku menunggu di lorong belakang sambil membaca partitur ketika mendengar seseorang menangis di ruang rias.

Seorang perempuan dengan gaun panggung merah duduk di depan cermin. Maskaranya luntur. Satu hak sepatunya patah dan amplop gaji tergeletak terbuka.

"Mbak baik-baik saja?" tanyaku.

Dia cepat-cepat mengusap mata. "Kelihatannya seperti orang baik-baik saja?"

Aku menggeleng.

Perempuan itu tertawa kecil. "Jujur sekali. Namamu siapa?"

"Larasati."

"Aku Tania. Panggil Mbak Tania, biar aku merasa sedikit lebih tua dan bijak."

Dia bercerita bahwa seorang tamu menolak membayar tagihan dan menyalahkannya. Manajer memotong gajinya untuk menutup kerugian. Aku tidak punya solusi, jadi hanya duduk di kursi sebelah dan memperbaiki tali sepatunya dengan pita dari meja rias.

"Kamu anak buah siapa?" tanyanya.

"Aku datang bersama Arkana."

Mbak Tania menatapku melalui cermin. "Bos besar?"

Aku mengangguk.

"Kalau begitu hidupmu pasti enak."

Aku mengikat pita lebih kencang. "Belum tentu."

Dia tidak bertanya lebih jauh. Mungkin karena mataku menjawab lebih banyak daripada mulutku.

"Kalau suatu hari mau curhat, cari aku di sini," katanya. "Aku buruk soal nasihat, tapi hebat soal mendengarkan."

Sejak hari itu kami menjadi teman.

Sebelum sempat meninggalkan lorong, manajer memanggil Mbak Tania dan menyuruhnya kembali bekerja tanpa membahas potongan gaji. Aku melihat amplop kosong di tangannya.

"Tagihan tamu itu berapa?" tanyaku.

Manajer menatapku tidak sabar. "Ini urusan staf, Nona."

"Dia tidak membuat tamu itu pergi tanpa membayar."

"Aturan klub tetap aturan."

"Aturan siapa?"

Arkana muncul di belakang kami. Manajer langsung pucat.

Setelah mendengar penjelasan singkat, Arkana meminta rekaman kamera diperiksa. Tamu yang kabur dimasukkan ke daftar hitam, sedangkan gaji Mbak Tania dikembalikan penuh malam itu.

"Kerugian bisnis tidak dibebankan kepada pekerja yang tidak bersalah," katanya kepada manajer. "Kalau tidak bisa membedakan kesalahan dan kemalasanmu sendiri, cari pekerjaan lain."

Mbak Tania menatapku setelah Arkana pergi. "Aku mengerti sekarang kenapa kamu bilang hidupmu belum tentu enak."

"Kenapa?"

"Karena pria seadil itu bisa membuat orang lupa betapa berbahayanya dia."

Ketika kami keluar dari ruang rias, seorang pria bersandar di pintu sambil bertepuk tangan pelan.

"Kana ternyata menyimpan anak baik di sarangnya," katanya.

Dia mengenakan jaket kulit, kaus hitam, dan senyum orang yang tidak pernah takut dimarahi. Dua pria di belakangnya memanggilnya Bang Bayu.

"Jangan dengarkan dia," kata Mbak Tania. "Kalau mulutnya diam lima menit, mungkin Jakarta kiamat."

Bayu tertawa. "Namamu Larasati? Aku Bayu, sahabat orang paling membosankan di kota ini."

"Aku dengar itu," suara Arkana datang dari ujung lorong.

"Bagus. Berarti telingamu masih berfungsi."

Arkana berjalan mendekat. Bayu menepuk bahunya, lalu berkata kepada Tania, "Bosmu tadi didatangi Pak Suryo lagi. Wajahnya sekarang seperti orang kehilangan seluruh uang kasino."

Arkana menatap tajam. "Tutup mulutmu."

Bayu mengangkat kedua tangan. Senyumnya tetap ada, tetapi matanya sesaat tampak jauh. "Santai. Aku tahu rasanya didatangi masa lalu."

Mbak Tania mendengus. "Bukankah masa lalumu kauusir sendiri?"

Bayu tidak membalas. Dia hanya memainkan korek api perak di tangannya.

Aku menyimpan perubahan kecil itu. Bahkan pria yang selalu tertawa punya seseorang yang namanya tidak bisa disebut.

***

Malamnya, saat Club Aurora mulai ramai, aku mendengar dua pelayan berbicara di dekat dapur.

"Pak Suryo masih berusaha menarik Bos keluar?"

"Percuma. Sejak Om Guntur mati, Bos tidak percaya polisi."

"Katanya justru Bos yang menjual Om Guntur."

"Versi siapa? Orang Naga Hitam? Versi lain bilang Bos diborgol polisi supaya tidak sempat menolong."

"Tapi kenapa Om Guntur mengusir dia sebelum penyerangan?"

"Ada orang membocorkan bahwa keluarga Bos terhubung dengan polisi. Om Guntur mengira dia pengkhianat."

Sebuah baki jatuh di belakangku.

Kedua pelayan itu menoleh dan langsung diam ketika melihat Arkana berdiri di ambang pintu.

"Kembali bekerja," katanya.

Mereka pergi tanpa berani mengangkat wajah.

Aku berdiri di depan Arkana dengan partitur menempel di dada. "Versi mana yang benar?"

Dia menyalakan rokok. "Kebenaran tidak menghidupkan orang mati."

"Tapi kebohongan bisa membunuh orang yang masih hidup."

Matanya menajam.

Aku menunggu dia bertanya mengapa aku begitu peduli. Arkana hanya berjalan melewatiku, meninggalkan asap tipis dan satu pertanyaan yang semakin berat.

Jika dia memang mengkhianati Om Guntur, ayahku mati karena kejahatannya sendiri.

Namun jika dia dijebak, siapa sebenarnya yang membuka pintu menuju kematian seluruh keluargaku?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!