Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Adrian dan Sasi menikmati sarapan bersama di meja makan apartemen yang tenang.
Dengan telaten, Adrian mengambil sendok, meniup bubur ayam hangat itu perlahan, lalu menyuapinya kepada Sasi dengan penuh kesabaran.
Sasi menerima setiap suapan itu dengan senyum tipis yang tak lagi kaku.
Setelah mangkuk bubur bersih dan Sasi menghabiskan air putihnya, Adrian dengan sigap meletakkan beberapa butir obat dan vitamin di telapak tangannya.
"Ayo, diminum dulu obat sama vitaminnya, sayang," tutur Adrian lembut seraya menyodorkan gelas.
Sasi meraih obat tersebut dan meminumnya hingga tuntas.
Namun, alih-alih langsung merebahkan diri, ia justru memperhatikan raut wajah Adrian yang tampak sedikit lelah dengan lingkar hitam tipis di bawah matanya.
"Mas Adrian sendiri sudah makan?" tanya Sasi lirih, menatap suaminya penuh perhatian.
Adrian agak terkejut, namun senyum hangat langsung terbit di bibirnya.
"Mas gampang, sayang. Yang penting kamu terisi dulu perutnya."
Tanpa ragu, Sasi meraih mangkuk sup hangat yang masih tersisa di meja, mengambil satu sendok kuah dan potongan daging lembut, lalu mengarahkannya ke depan bibir Adrian.
"Sekarang gantian. Mas dari tadi sibuk urus aku dan kerjaan, pasti belum sarapan kan? Buka mulutnya," bisik Sasi dengan rona merah tipis yang menyulut di kedua pipinya.
Pandangan Adrian seketika meredup penuh haru. Dada pria itu berdesir hangat menyaksikan perhatian kecil yang jujur dari istrinya.
Tanpa mengalihkan pandangan dari manik mata Sasi, Adrian membuka mulutnya dan menerima suapan itu.
"Enak banget, apalagi kalau disuapi istri sendiri," goda Adrian dengan suara parau namun sarat akan rasa bahagia.
"Mas ah, mulai lagi godainnya," seru Sasi malu-malu, hendak menarik tangannya kembali, tetapi Adrian dengan cepat menahan pergelangan tangan Sasi dengan lembut.
Adrian menggenggam jemari Sasi, lalu mendaratkan kecupan hangat di punggung tangannya cukup lama.
"Mas serius, Sasi. Melihat kamu mulai perhatian dan mau membuka hati lagi buat Mas, itu rasanya jauh lebih berharga dari harta mana pun yang Mas punya," ucap Adrian penuh ketegasan dan kepemilikan yang protektif.
Ia memajukan tubuhnya, mengusap lembut pipi Sasi dengan ibu jarinya.
"Mas mencintaimu, Sasi. Sangat mencintaimu. Dan Mas tidak akan biarkan satu orang pun di dunia ini menyakitimu lagi."
Sasi menatap ketulusan yang terpancar tanpa keraguan dari mata Adrian.
Rasa aman yang nyata menyelimuti dadanya, membuat Sasi perlahan menyandarkan kepalanya di dada bidang Adrian, membiarkan suaminya merengkuh tubuhnya dengan penuh cinta.
Ponsel Adrian yang tergeletak di samping laptop bergetar nyaring. Nama Darren terpampang di layar.
Tanpa membuang waktu, Adrian langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo, Darren," panggil Adrian dengan nada tenang.
"Halo, Adrian. Aku cuma mau mengonfirmasi," suara Darren terdengar jelas dan lega di seberang telepon.
"Uang gaji dan bonus milik Sasi sudah kuserahkan langsung ke tangan ayahnya pagi ini. Aku juga sudah bicara dengan pihak rumah sakit dan mengurus beberapa kebutuhan medis beliau yang sempat tertunda."
Adrian menghela napas lega, rasa hormatnya kepada Darren kian bertambah.
"Terima kasih banyak, Darren. Kamu benar-benar sangat membantu. Bagaimana kondisi beliau?"
"Beliau terlihat sangat merindukan Sasi, tapi aku sudah menenangkannya dan memastikan bahwa Sasi aman bersamamu. Aku bilang Sasi sedang ada urusan pekerjaan penting di luar kota untuk sementara waktu," terang Darren detail.
"Kondisi fisiknya makin stabil setelah obat-obatannya dipenuhi."
"Sekali lagi terima kasih. Semua kebaikanmu tidak akan pernah kulupakan," balas Adrian penuh kesungguhan.
Setelah menutup panggilan, Adrian menghampiri Sasi yang sedang beristirahat di sofa.
Adrian mendudukkan diri di sampingnya, lalu menggenggam lembut kedua tangan istrinya.
"Sasi, baru saja Darren menelepon," bisik Adrian dengan senyum hangat.
"Uang gaji dan bonusmu sudah diserahkan langsung ke ayahmu. Darren juga sudah mengurus kebutuhan medis beliau. Kondisi ayahmu stabil dan baik-baik saja."
Mata Sasi seketika berbinar haru. Air mata lega menetes perlahan di pipinya.
Ia memeluk Adrian erat-erat, meluapkan rasa syukur yang tak terhingga karena sang ayah kini berada di tangan yang aman.
Sasi yang merasa lega atas kabar ayahnya mulai benar-benar luluh dan membalas rasa cinta Adrian.
Dekapan hangat yang ia berikan seolah menjadi jawaban atas ketulusan yang ditunjukkan suaminya selama ini.
Adrian tersenyum penuh kebahagiaan, merasakan beban berat di dadanya perlahan terangkat. Ia membelai lembut rambut Sasi.
"Sabar ya, sayang. Nanti, setelah kondisi fisikmu benar-benar pulih dan lehermu membaik, Mas janji akan mengantar Sasi menjenguk ayah secara sembunyi-sembunyi."
Mendengar janji itu, hati Sasi berdesir hangat. Di tengah badai yang sedang menghantam hidup mereka, sebuah percakapan mendalam tercipta.
Keduanya saling mencurahkan isi hati, meluruskan segala kesalahpahaman masa lalu, dan membangun kembali fondasi pernikahan mereka di atas puing-puing kepalsuan yang telah dihancurkan oleh Fitria dan Hendrik.
Ikatan emosional dan rasa saling percaya di antara mereka kini tumbuh jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
"Sekarang kamu istirahat lagi, ya. Mas harus lanjut kerja," ucap Adrian lembut, membantu Sasi merebahkan diri dengan nyaman di atas ranjang.
Sasi menganggukkan kepalanya patuh, membiarkan rasa kantuk kembali merayapinya setelah beban pikirannya terangkat.
"Iya, Mas." balas Sasi lirih sebelum matanya terpejam tenang.
Setelah memastikan Sasi tidur lelap, Adrian kembali melangkah ke meja kerjanya.
Ia membuka laptop dan menyalakan kembali layar monitor yang menampilkan siaran langsung dari kamera CCTV di rumah utamanya.
Di layar tersebut, Adrian menyaksikan kedatangan seorang pengacara korup yang sengaja disewa oleh Fitria untuk memuluskan rencana jahat mereka.
Tak lama kemudian, pemandangan yang jauh lebih mengejutkan tersaji di hadapannya.
Bukti krusial tertangkap jelas oleh lensa kamera dan mikrofon berteknologi tinggi itu.
Fitria dan Hendrik terlihat duduk bersama di meja ruang kerja Adrian, dengan sengaja memalsukan tanda tangan Adrian di atas berkas-berkas penting: mulai dari pindah tangan aset pribadi, sertifikat rumah mewah tersebut, hingga surat kuasa finansial perusahaan.
Di tengah aksi lancang itu, sebuah pengakuan keji tertangkap jelas oleh audio CCTV.
Hendrik yang mengira rencana mereka berjalan mulus, sempat berbisik menyeringai di belakang Fitria, merencanakan bagaimana ia akan menyingkirkan wanita itu segera setelah seluruh harta kekayaan Adrian jatuh ke tangannya.
Terlihat betapa kedua villain itu saling memanfaatkan satu sama lain tanpa ada ketulusan sedikit pun.
Adrian menatap layar laptopnya dengan senyum dingin yang mengerikan.
Setiap detik kebusukan, pemalsuan dokumen, dan niat jahat itu terekam sempurna.
Pagar jeruji besi kini sudah terbentang lebar untuk Fitria dan Hendrik, menunggu waktu yang tepat bagi Adrian untuk menarik pelatuk pembalasan dendamnya.
Adrian segera mengambil ponsel khususnya dan menghubungi Pak Baskoro, pengacara senior tepercaya yang telah puluhan tahun menjadi kuasanya.
Tak hanya itu, ia juga meminta Darren untuk datang kembali ke apartemen rahasia sebagai saksi kunci yang mengetahui kronologi evakuasi Sasi dan konspirasi ini dari awal.
Tak butuh waktu lama, Pak Baskoro tiba di apartemen rahasia.
Di dalam ruang kerja Adrian yang tertutup rapat, Adrian memperlihatkan seluruh barang bukti digital yang berhasil dihimpunnya secara sistematis.
Di layar monitor besar, diputar rekaman audio-visual (A/V) berkualitas tinggi yang memperlihatkan tindakan perzinahan Fitria dan Hendrik, percakapan konspirasi penukaran bayi, hingga momen krusial saat Fitria, Hendrik, dan pengacara korup mereka memalsukan tanda tangan Adrian di atas sertifikat rumah serta surat kuasa finansial perusahaan.
Pak Baskoro mencermati setiap detik rekaman tersebut sambil mencatat poin-poin krusial.
Matanya yang berpengalaman menatap Adrian dengan raut tegas.
"Bukti A/V ini sangat solid dan bersih, Pak Adrian. Ditambah kesaksian dari Pak Darren mengenai ancaman dan kondisi Bu Sasi, posisi kita di mata hukum sangat kuat," ujar Pak Baskoro mantap.
Namun, alih-alih menyarankan untuk langsung melapor ke kepolisian hari ini, Pak Baskoro memberikan rekomendasi strategi hukum yang lebih mematikan.
"Saran saya, kita jangan dulu menyergap mereka sekarang," tutur Pak Baskoro seraya mengetuk jemarinya di atas meja.
"Biarkan Fitria dan Hendrik benar-benar memasukkan dokumen-dokumen palsu tersebut ke pihak bank atau notaris terlebih dahulu."
Adrian menyipitkan mata. "Mengapa harus menunggu mereka menyerahkannya?"
"Secara hukum pidana, jika mereka baru memalsukan tanda tangan di dalam rumah, unsur pasalnya baru sebatas niat atau persiapan," jelas Pak Baskoro terstruktur.
"Tetapi begitu mereka menyerahkan berkas palsu itu ke lembaga keuangan atau notaris resmi untuk mengklaim aset Pak Adrian, unsur tindak pidana Pemalsuan Surat (Pasal 263 KUHP) dan Penipuan (Pasal 378 KUHP) otomatis terpenuhi secara sempurna—kejahatan sempurna."
Pak Baskoro tersenyum dingin. "Begitu dokumen itu terdaftar di sistem bank, pihak kepolisian bisa langsung melakukan penangkapan basah dengan ancaman hukuman maksimal tanpa ada celah bagi mereka untuk berkelit atau mengajukan praperadilan."
Darren mengangguk-angguk paham mendengarkan penjelasan tersebut, sementara Adrian mengulas senyum tipis yang sarat akan kalkulasi matang.
"Baik, Pak Baskoro," sahut Adrian dingin. "Kita biarkan kedua iblis itu merasa menang dan melangkah masuk ke dalam perangkap yang mereka gali sendiri."