Indonesia
NovelToon NovelToon
TIRAKAT 6

TIRAKAT 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.

(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.

Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?

SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 ANTARA NISA DAN WIWI

Angin siang berhembus melintasi lereng bukit, menyusup lewat celah-celah dinding anyaman bambu gubuk tua itu. Hembusannya membawa serta hawa sejuk yang perlahan mengusir peluh di tubuh Zaki.

Di atas balai bambu, piring-piring yang tadi penuh dengan nasi dan lauk pauk kini telah habis tak bersisa.

Pak Doyo menyandarkan punggungnya ke tiang gubuk, mengelus perutnya yang membuncit kekenyangan sambil mendesah puas. Pria paruh baya itu merogoh saku kemejanya, mengeluarkan bungkusan tembakau linting dan kertas klobot (daun jagung kering).

"Alhamdulillah... wareg tenaaan. Masakanmu dino iki jaaan pas bumbune, Nduk!" (Alhamdulillah... kenyang sekaliii. Masakanmu hari ini bumbunya pas sekali, Nak!) puji Pak Doyo seraya memantik korek api dan menyesap rokok klobot-nya. Asap putih tebal beraroma cengkeh dan tembakau kasar langsung mengepul ke udara.

Wiwi yang tengah sibuk merapikan dan menumpuk kembali rantang enamel yang kosong itu hanya tersenyum simpul menanggapi pujian bapaknya. Gerakan tangannya begitu telaten dan cekatan.

"Bapak niki lho, saben dinten nggih masakane kados ngeten, kok nembe dipuji sakniki," (Bapak ini lho, setiap hari ya masakannya seperti ini, kok baru dipuji sekarang) balas Wiwi dengan nada bercanda yang sangat halus, tak berani menatap langsung, matanya tetap fokus pada piring dan rantang kosong.

Zaki yang duduk tak jauh darinya, diam-diam terus memperhatikan gerak-gerik perempuan muda itu.

Sesaat kemudian, Pak Doyo bangkit berdiri. Ia mengambil sabitnya yang tergeletak di tanah.

"Mas Zaki, kowe ngaso dhisik nang kene sedhelo. Aku tak mlaku nang irigasi pring pojokan kono, arep ngecek iline banyu mundak mampet keno godhong," (Mas Zaki, kamu istirahat dulu di sini sebentar. Bapak mau jalan ke irigasi bambu di pojokan sana, mau ngecek aliran airnya barangkali mampet kena daun).

"Eh? Saya ikut bantuin aja, Pak," Zaki refleks bersiap berdiri.

"Husss! Rasah! Mung ngecek sedhelo kok. Kowe kuwi lagi wae macul patang jam, tenaga jakartamu isih kaget. Wis, lungguh kene wae konconi Wiwi. Tak tinggal sedhelo yo, Nduk!" (Huss! Tidak usah! Cuma ngecek sebentar kok. Kamu itu baru saja nyangkul empat jam, tenaga jakartamu masih kaget. Sudah, duduk sini saja temani Wiwi. Bapak tinggal sebentar ya, Nak!) cegah Pak Doyo tegas sambil tertawa, lalu melangkah santai meninggalkan gubuk, menghilang di balik deretan pohon kopi.

.....

.....

Kini, hanya tersisa Zaki dan Wiwi di dalam gubuk bambu berukuran tiga kali tiga meter itu.

Suasana mendadak hening.

Hanya terdengar suara gesekan dedaunan kopi di luar dan kicauan burung yang hinggap di dahan nangka. Kecanggungan perlahan merayap di udara.

Zaki bisa melihat bagaimana Wiwi sedikit menundukkan kepalanya, tangannya bertaut di atas pangkuan rok panjangnya, tampak salah tingkah ditinggal berdua dengan pemuda yang belum genap sejam ia kenal.

Zaki berdeham pelan, mencoba mencairkan suasana.

"Ehem... Dek Wiwi... tiap hari bawain makan siang buat Pak Doyo ke kebun begini?" tanya Zaki, memulai percakapan dengan nada seramah mungkin.

Mendengar suara lembut Zaki, Wiwi mengangkat wajahnya sedikit, meski tatapannya tak berani langsung menembus mata Zaki. Ia mengangguk pelan, menyunggingkan senyum yang membuat lengkungan indah di sudut bibirnya.

"Inggih, Mas Zaki. Sakben dinten ngirim maem kagem Bapak. Kadang nggih kalih ngrencangi mbersihi suket sekedhik-sekedhik," (Iya, Mas Zaki. Setiap hari mengantar makanan buat Bapak. Kadang ya sambil menemani membersihkan rumput sedikit-sedikit) jawab Wiwi.

Tutur bahasanya menggunakan Krama Inggil yang sangat sopan dan halus.

"Wah, apa nggak capek, Dek? Lumayan jauh lho jalan kaki dari desa ke kaki bukit ini. Belum lagi jalannya nanjak terus," Zaki bertanya lagi, kali ini tubuhnya sedikit condong ke depan, menunjukkan ketertarikan yang tulus.

Wiwi tertawa kecil. Tawa yang sangat bening.

Ia memberanikan diri menatap mata Zaki sekejap sebelum kembali menunduk malu.

"Alah, Mas... Lha wong tiyang dhusun niku nggih sampun biasa mlampah tebih. Lha nek mboten purun capek nggih mboten saged maem, ta? Beda kalih tiyang kitho kados Mas Zaki..." (Alah, Mas... Namanya orang desa itu ya sudah biasa jalan jauh. Lha kalau tidak mau capek ya tidak bisa makan, kan? Beda sama orang kota seperti Mas Zaki...) jawab Wiwi.

"Saya bukan orang kota lagi, Dek Wiwi. Saya udah mutusin buat tinggal menetap di sini. Mau jadi petani aja ngerawat warisannya Bapak," potong Zaki cepat, tak ingin Wiwi menganggapnya sebagai orang asing dari ibu kota.

Wiwi sedikit terperanjat mendengar pengakuan itu. Kali ini, ia menatap wajah Zaki lebih lama. Ada kilat kekaguman di mata bulatnya yang jernih.

"Saestu, Mas? Sayang lho, pendamelan teng Jakarta rak nggih sae-sae bayarane. Kok malah milih kotor-kotoran teng kebun kados ngeten?" (Sungguh, Mas? Sayang lho, pekerjaan di Jakarta kan bagus-bagus gajinya. Kok malah milih kotor-kotoran di kebun seperti ini?) tanya Wiwi, kepolosannya membuat pertanyaannya terdengar sangat jujur.

Zaki tersenyum lebar. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding anyaman bambu, membiarkan angin sejuk membelai rambutnya.

"Gaji besar nggak ngejamin hati tenang, Dek. Di sini, biarpun tangannya kotor kena tanah, tapi rasanya damai banget. Bisa makan sayur lodeh seenak buatan Dek Wiwi aja rasanya udah kayak dibayar mahal," jawab Zaki, menyelipkan sedikit rayuan ringan yang spontan keluar dari mulutnya.

Mendengar pujian itu...

Rona merah seketika meledak di kedua belah pipi Wiwi.

Ia buru-buru menundukkan wajahnya dalam-dalam, menyembunyikan kegugupannya dengan membetulkan letak susunan rantang yang sebenarnya sudah rapi.

Melihat tingkah malu-malu Wiwi yang begitu natural, Zaki tertegun.

Dalam keheningan yang kembali terjeda, pikiran Zaki mendadak memutar sebuah perbandingan yang tak bisa ia hindari.

Siluet wajah Nisa tiba-tiba berkelebat di benaknya.

Iya... Nisa... perempuan yang baru dua hari lalu menghabiskan waktu bersamanya di kereta. Perempuan yang takdirnya diramalkan oleh Sekar Mayang akan bertaut dengan masa depannya.

Zaki mencoba menyelami kembali perasaannya saat berada di dekat Nisa.

Setiap kali ia berada di dekat Nisa, insting spiritualnya sebagai tuan dari sebuah perewangan selalu menyala dalam kewaspadaan tinggi. Aura di sekitar Nisa selalu terasa berat, pekat, dan penuh dengan misteri. Ada bayang-bayang Dayang Putri yang tak kasat mata, selalu mengintai dan menekan ruang udara di antara mereka.

Hubungannya dengan Nisa seolah adalah sebuah ikatan takdir gaib yang dipaksakan oleh pusaran dunia astral. Mencintai Nisa, berarti Zaki harus siap sedia menghadapi badai mistis, merelakan ketenangannya, dan terus-menerus terjebak dalam pusaran urusan bangsa lelembut.

Lalu, Zaki memindahkan tatapannya kepada Wiwi yang kini sedang membersihkan noda tanah di roknya.

Batin Zaki berdesir hebat. Kontrasnya luar biasa.

Di dekat Wiwi, Zaki tidak merasakan tekanan apa pun. Tidak ada aura berat. Tidak ada hawa dingin yang mistis. Tidak ada bayang-bayang lelembut yang mengawasi mereka.

Yang ada hanyalah kehangatan manusiawi yang murni. Kehadiran Wiwi memancarkan kedamaian yang teramat sangat; sesederhana aroma nasi hangat, sesegar angin pegunungan, dan seindah warna hijau dedaunan kopi.

Wiwi tidak membawa beban masa lalu. Wiwi tidak memiliki takdir gaib yang rumit. Ia hanyalah seorang perempuan desa yang hidup di atas tanah, nyata, dan bisa disentuh dengan kewarasan.

Bagi Zaki—seorang manusia yang semalam sudah membuang seluruh ikatan gaibnya dengan Sekar Mayang demi mencari ketenangan—auranya Wiwi adalah obat paling mujarab yang ia butuhkan.

Kesadaran itu menghantam dada Zaki.

Secara perlahan namun pasti, beban takdir masa depan bersama Nisa yang sempat menjejali kepalanya... mulai memudar.

Bayangan Nisa tersapu oleh realitas manis yang kini duduk hanya berjarak satu meter di hadapannya.

"Mas Zaki..." panggilan lembut Wiwi itu membuyarkan lamunan Zaki.

"Eh, iya, Dek?"

Wiwi mengangkat kendi tanah liat di dekatnya. "Munjuk toya malih, Mas? Ketingalipun Mas Zaki taksih ngelak banget. Niki toya saking sumber banyu pegunungan lho, seger," (Mau minum air lagi, Mas? Kelihatannya Mas Zaki masih haus sekali. Ini air dari sumber mata air pegunungan lho, segar) tawar Wiwi.

Tangan lentiknya menuangkan air jernih bersuhu dingin alami itu ke dalam gelas bambu, lalu menyodorkannya pada Zaki.

Zaki menerimanya dengan hati yang tiba-tiba bergetar. "Makasih banyak, Dek Wiwi."

Ia menenggak air kendi itu. Kesegarannya mengalir membasahi tenggorokan, mendinginkan suhu tubuhnya yang terbakar matahari.

Zaki menurunkan gelasnya, menatap lurus ke dalam mata Wiwi yang tak lagi terlalu menghindar.

"Dek Wiwi," panggil Zaki dengan suara yang lebih lembut.

"Inggih, Mas?"

"Mulai besok... saya bakal kerja di kebun ini setiap hari dari pagi sampai sore. Jadi..." Zaki menggantung kalimatnya, membiarkan sebuah senyum simpul terukir di bibirnya. "...Dek Wiwi bakal tiap hari kan nganterin makan siangnya ke sini?"

Mata bening Wiwi sedikit membesar, menangkap makna tersirat dari pertanyaan pemuda ibu kota di hadapannya.

Jantung gadis desa itu berdebar kencang. Rona di pipinya kian pekat.

Ia menunduk sambil tersenyum simpul, lalu menganggukkan kepalanya dengan sangat pelan.

"Inggih, Mas... Insya Allah, kulo teras sing ngintun maemipun," (Iya, Mas... Insya Allah, saya terus yang akan mengantar makanannya) jawabnya lirih dan lembut.

Zaki menyandarkan tubuhnya kembali ke tiang gubuk. Matanya beralih menatap hamparan pohon kopi di depannya, namun pikirannya sepenuhnya dipenuhi oleh sosok Wiwi di depannya ini

Di bawah atap gubuk reyot itu...

Tanpa campur tangan lelembut...

Tanpa bisikan perewangannya, Sekar Mayang...

Dan tanpa ilusi gaib...

Zaki membiarkan hati manusiawinya jatuh perlahan pada pesona seorang Dek Wiwi.

Dan nama Nisa...

Kini benar-benar seperti mulai terkubur di dasar ingatannya yang paling sunyi.

Seolah alam semesta membiarkan Zaki merasakan aura cinta yang baru, sebelum dirinya akan kembali bertemu Nisa, suatu hari nanti.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang sekelas Nisa punya 2 perewangan 3 sama punya haruma saja perjuangan melawan santet kiriman yuli apalagi yg orang biasa ya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Ada pepatah yang terkenal dari dulu, Kak:

"Semakin tinggi pohon kelapa, semakin kencang angin yang menerpa."

Mungkin itu pepatah yang sesuai sama kondisi kebatinan dan kemampuan Nisa yang sekarang. Kalau di awal-awal seri, Nisa kan cuma menghadapi bangsa lelembut kelas rendah (sosok Gilang misalnya). Nah, sekarang yang dihadapi adalah rasa dendam dari manusia yang bersekutu dengan iblis.
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Ohh seperti itu ya serem juga ya dua santet kutukan tsb
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: klo nggak baca karya ini aku mana tau yg namanya santet
total 2 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
6 tahun di waktu yg sama

Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Berburuk sangka pada manusia saja tidak dianjurkan, apalagi berburuk sangka pada Tuhan, yulll.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
astaga yullll barbar skali, udah kek preman cewek
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
wkwkwk asyuuu wong cerbon


aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 🤭🤭🤭

Makanya saya juga nulis dialognya natural aja, Kak... Wkwkwk... Biar terasa semirip mungkin sama kondisi nyatanya...
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Cirebon kota yang biasa disebut sebagai kota udang, kota nya sunan gunung jati.

Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.

Selamat Datang di Cirebon Yuli.
Irman
kesedihan yang datang berturut-turut untuk Yuli...😢
semangat yul💪💪
Irman: rasanya sakit hati ini, ka othor sukses buat pembaca serasa masuk dalam cerita... 👍👍👍
total 2 replies
Irman
aku juga pasti sedih jika d posisi keluarga Wiwi,,,😢
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak Irman...

Saya juga pas menulis naskah BAB ini, benar-benar meresapi bagaimana rasanya kalau saya yang jadi Yuli... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduhhh sadissss

seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak...

Sebenarnya, dari semua seri TIRAKAT yang aku tulis, TIRAKAT 6 ini yang akan paling banyak pesan moralnya buat para pembaca, buat saya juga...

Pesan moral tentang rasa cinta, pengorbanan, dendam, amarah, kasih sayang, dan keluarga... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nggak cinta Zaky ke Wiwi tulus... itu knpa dia mengabaikan omongan mbah joyoo

yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Siap, Kaaak... 🥰🥰🥰

Semoga nggak bosen-bosen ya Kak bacanya... hehehe...

Insya Allah, rencana saya buat TIRAKAT ini, The Last Chapternya ada di TIRAKAT 9.
total 3 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduhhh Zakk ada yg nangis darah kna keegoisan kmu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Ohh si mbok juga jadi korban ya? pantes Yuli dendam.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak... Karena Si Mbok pas hari dimana tragedi itu terjadi, beliau juga ada di dapur yang sama dengan Dek Wiwi... Hanya saja tidak banyak diekspos keberadaan Si Mbok, fokusnya memang ke Zaki dan Dek Wiwi saja...

Bahkan Yuli, Kakaknya Dek Wiwi pun, dari awal kisah pertemuan Zaki-Dek Wiwi, dirinya sama sekali nggak muncul satu dialogpun.

Sengaja baru dimunculkan sekarang... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduhhh dendam kna mungkin mikir gara-gara zaky ngeyel dek wiwi jadi korban kali ya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: TEPAT!!! 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Setiap orang ada ujian nya masing-masing Zak... ada nya ujian itu kna kita mampu melewati nya. Ujian kamu, ujian Nisa berbeda kna kekuatan N kemampuan kalian juga berbeda, yg terpenting jngn lupa tetap bersyukur N bersabar ya Zakk

( duhh aku komen apa sihh) next aja ya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 🥰🥰🥰

Komen Kakak bisa jadi Quote of The Night, nih... Mwehehehe...
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Aku lupa Sekar Arum masa lalu nya. klo Dayang putri sama sekarang mayang aku inget masa lalu mereka. perewangan Haruma ini ada pernah di bhs di Tirakat sblom nya kah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: ohh itu iya iya aku inget terimakasih udah diingatkan kak
total 7 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti Tirakat nya, Cinta Nisa ke Zaky juga nggak kaleng kaleng. 6 tahun menunggu, bukan mencari tapi menunggu tanpa berburuk sangka. klo jaman sekarang ada kah Seperti Nisa?
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Mungkin ada... Tapi... Sejuta banding satu kayaknya, Kak... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Tirakat nya Nisa nggak kaleng kaleng Zakk... bukan waktu yg sebentar tapi waktu yang lama, wajar klo nisa bisa seperti itu.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Nggak kebayang gimana kalau seandainya saya beneran jadi Zaki, terus lihat istri sendiri kayak begitu...

Wah... 🤨🤨🤨
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Semangat sembuh Zakk, tenang obat yang sesungguhnya udah kamu miliki
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nisa ketempelan sekarang mayang kek nya wkwkwk jadi nggak pasif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!