Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Lampu chandelier kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan di tengah Le Blanc, butik gaun paling eksklusif di Jakarta Selatan yang pelanggannya harus membuat janji temu sebulan sebelumnya. Tentu saja, aturan itu tidak berlaku bagi Arka yang hanya butuh satu panggilan telepon dari asistennya untuk mengosongkan jadwal sang desainer utama.
Arka duduk bersandar dengan santai di sofa beludru merah marun yang berada di area tunggu VIP. Pandangannya lurus mengarah pada tirai beludru tebal ruang ganti di mana Alea sedang berjuang melawan gaun pilihannya.
Sesekali, dari balik tirai itu, terdengar gerutuan tertahan Alea tentang ritsleting, label harga yang menurutnya bisa dipakai untuk modal buka franchise minimarket, dan keluhan betapa ribetnya menjadi orang kaya.
Di tengah keheningan yang sesekali dipecahkan oleh omelan Alea itu, suara ketukan heels hak tinggi terdengar mendekat dari arah pintu masuk.
"Arka? Ya ampun, kebetulan banget kita ketemu di sini!"
Arka tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara manja bernada tinggi yang dibuat-buat itu. Clarissa Suryanegara. Sang putri konglomerat yang baru saja dijadikan pion oleh ayahnya dalam konspirasi perjodohan konyol ini.
Clarissa muncul dengan gaun selutut dengan merek ternama, tas Hermes edisi terbatas bertengger manis di lengannya, dan riasan wajah yang paripurna layaknya selebritas. Gadis itu tersenyum sangat manis, memancarkan pesona seorang putri konglomerat yang merasa seluruh dunia berputar di sekelilingnya.
Arka hanya melirik sekilas dari sudut matanya yang sedingin es, lalu kembali menatap lurus ke depan. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan balasan, apalagi niat untuk berbasa-basi.
Sikap dingin yang mematikan itu sama sekali tidak melunturkan rasa percaya diri Clarissa.
Gadis itu justru menganggap diamnya Arka sebagai pesona cool yang tak tertandingi. Tanpa dipersilakan, Clarissa melangkah maju dan langsung duduk di samping Arka di sofa beludru tersebut. Aroma parfum floral yang kelewat manis seketika menyengat udara, membuat Arka nyaris mengerutkan kening.
"Lo ke sini sendirian aja?" tanya Clarissa dengan nada sok akrab, menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Ia menatap profil samping Arka dengan tatapan memuja.
"Ah gue tahu, lo pasti lagi cari jas untuk makan malam kita akhir pekan ini, kan?"
Mendengar nama acara itu disebut, hawa di sekitar Arka mendadak turun beberapa derajat. Pemuda itu sama sekali tidak menoleh. Ia hanya merespons dengan dehaman pelan.
"Hm."
Bagi orang awam yang peka, dehaman bariton itu adalah peringatan mutlak untuk segera mundur sebelum nyawa melayang. Namun Clarissa yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau, malah tersenyum semakin lebar.
"Apa lo udah punya pilihannya?" tawar Clarissa riang, mencondongkan tubuhnya sedikit.
"Jika belum, biar gue pilihkan, ya? Selera fashion-gue lumayan bagus lho. Gue tahu persis jas mana yang bakal cocok banget bersanding sama gaun yang udah Mama siapin buat gue nanti."
Arka akhirnya menoleh. Sorot matanya yang sehitam obsidian menatap lurus ke arah Clarissa. Tidak ada sebersit pun emosi di sana, hanya kehampaan absolut yang membuat napas Clarissa tanpa sadar tertahan karena terintimidasi.
"Nggak usah," jawab Arka singkat, tajam, dan mematikan. Dua kata yang membekukan seluruh antusiasme di udara.
Bibir Clarissa sedikit terbuka, kehilangan kata-kata menghadapi tembok es di hadapannya. Ia baru saja akan mencoba merajuk saat tiba-tiba ponsel di dalam tas Hermes-nya berdering nyaring.
Clarissa merogoh ponselnya dengan canggung. "Halo, Ma? ... Iya, ini Clarissa masih di butik depan... Hah? Sekarang? Tapi Ma, aku lagi—oke, oke, aku nyusul ke mobil sekarang."
Clarissa mendengkus kesal, menutup panggilannya. Ia menoleh kembali menatap Arka dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.
"Arka, maaf banget ya, Mama udah nelepon suruh cepat pulang karena belanjanya udah selesai," pamit Clarissa enggan, berdiri dari sofa sambil merapikan gaunnya.
"Gue harus pergi sekarang. See you this weekend, ya! Jangan sampai telat lho!"
Arka tidak merespons. Ia bahkan tidak membalas lambaian tangan gadis itu. Begitu suara langkah heels Clarissa benar-benar menghilang di balik pintu kaca butik, ketegangan di bahu Arka perlahan mengendur.
Tepat lima detik setelah Clarissa pergi, staf butik melangkah mundur dari depan ruang ganti.
"Silakan, Nona," ucap staf itu sopan, perlahan menarik tirai beludru tebal tersebut hingga terbuka lebar.
Arka yang tadinya bersandar santai, mendadak membeku di tempatnya.
Di ambang ruang ganti, Alea berdiri dengan canggung. Gadis yang biasanya mengenakan kemeja kebesaran berlengan digulung, celana jeans pudar, dan rambut diikat asal-asalan itu kini telah lenyap tak berbekas.
Sebagai gantinya, seorang bidadari seolah baru saja turun dari kayangan dan tersesat di tengah butik mewah tersebut.
Alea mengenakan gaun malam silk-satin berwarna midnight blue yang melekat pas membingkai lekuk tubuh mungilnya. Potongan off-shoulder gaun itu mengekspos garis bahu dan lehernya yang jenjang, sementara belahan tinggi di bagian paha memberikan ilusi elegan pada kakinya. Kain satin itu jatuh sempurna, memantulkan cahaya layaknya air laut di malam hari setiap kali ia bergerak.
Rambut Alea dibiarkan tergerai jatuh ke satu sisi, membingkai wajahnya yang belum tersentuh make-up namun memancarkan kecantikan natural yang luar biasa murni.
Arka seakan berhenti bernapas. Jantung sang eksekutor dunia bawah yang terbiasa berdetak konstan meski dihujani peluru itu, kini mendadak berpacu tak karuan. Matanya tak bisa berkedip, mengunci seluruh eksistensi gadis di hadapannya. Kata-kata seolah menguap dari kepalanya.
"Bos..." panggil Alea ragu, menunduk menatap dirinya sendiri. Ia mengangkat ujung gaunnya sedikit agar tidak tersandung saat melangkah keluar.
Alea mendongak, menatap Arka dengan wajah panik yang sukses menghancurkan pesona bidadarinya dalam sekejap.
"Bos, ini gaun bahannya emang licin gini, ya? Kayak belut!" rutuk Alea, menarik-narik sedikit bagian perut gaunnya.
"Terus ini pinggangnya ngepas banget, sumpah! Kalau nanti di acara makan malam itu prasmanannya enak, gue jamin nggak bisa nambah porsi kedua. Kalau gue maksa nambah nasi, ritsleting belakangnya pasti meledak! Ini nggak ada ukuran XL-nya apa?!"
Arka mengerjap pelan, kesadarannya ditarik paksa kembali ke bumi oleh omelan brutal Alea soal porsi prasmanan.
Melihat wajah Alea yang bersungut-sungut khawatir gaun itu akan robek jika ia banyak makan, Arka tidak bisa lagi menahan dirinya. Pemuda itu menundukkan kepalanya, menumpukan sikunya di atas lutut, dan tertawa pelan. Tawa yang berat, serak, dan sangat memukau.
"Kenapa lo malah ketawa, jir?!" sungut Alea kesal, berkacak pinggang—membuat gaun satin itu semakin mencetak posturnya dengan indah.
"Gue serius! Harga gaun ini kalau rusak bisa buat DP rumah subsidi loh!"
Arka perlahan berdiri, memasukkan sebelah tangannya ke saku celana, dan berjalan mendekati Alea. Sorot matanya kini tidak lagi dingin. Tatapan itu begitu dalam, gelap, dan memuja, membuat Alea mendadak bungkam.
Arka berhenti tepat di hadapan Alea. Ia sedikit menunduk, menatap lurus ke dalam manik mata gadis itu.
"Sempurna," bisik Arka pelan, suaranya mengalun seperti sihir yang membius.
"Ambil gaun ini aja. Soal prasmanan... lo boleh makan sebanyak apa pun yang lo mau. Kalau sampai gaunnya robek, gue akan beli seluruh butik ini beserta desainernya sekalian kalau lo mau."
Alea tertegun. Pipinya mendadak memanas hebat, lebih merah dari warna kepiting rebus. Serangan kata-kata kapitalis di ujung lidahnya menguap entah ke mana.
"Sialan," batin Alea panik, jantungnya berdebar kencang. "Layanan manajer pribadi gue nggak nge-cover serangan jantung gara-gara ditatap kayak gini kan!"
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂