Indonesia
NovelToon NovelToon
Talakmu, Kebebasanku

Talakmu, Kebebasanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.

Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.

Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.

Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.

Mia terpuruk.

Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.

"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

"Allahu Akbar... Allahu Akbar!" Lantunan suara azan menggema di luar PT. Lexa Garment.

"Semuanya! Istirahat dulu!" seru Fatma kepada pegawai di Line delapan. "Salat magrib dan makan dulu sebelum kita lanjut lembur sampai jam sepuluh nanti!"

"Siap, Bu!" seru semuanya termasuk Mia. Satu per satu mematikan mesin dan beranjak meninggalkan Line. Ada yang langsung menuju musala, ada juga yang keluar gerbang untuk mencari makan.

Mia menjadi salah satu yang pergi ke musala. Baginya, ibadah lebih utama daripada mengisi perut dulu.

Setelah mengambil wudhu, ia segera membuka tasnya dan mengambil mukena.

"Allahu Akbar..." Suara Mia pelan melakukan takbir. Khusyuk sekali perempuan dua puluh empat tahun itu menunaikan kewajibannya.

Mia mengakhiri salatnya dengan doa penuh air mata. Banyak yang ia minta, termasuk kelancaran kerja serta kelanggengan rumah tangganya.

Saat Mia menyimpan mukenanya ke tas, ia meraih ponselnya. Berharap ada satu pesan saja dari Edo. Namun harapan itu kembali runtuh. "Apa Edo sudah nggak peduli ya, sama aku?" Mia menyimpan kembali ponselnya. "Mending sekarang aku nyari makanan buat mengganjal perut. Waktu lembur masih lama, dan aku harus kuat dan semangat!" ujarnya menyemangati diri sendiri.

_______

"Ah, capek juga ya, Aa," desah Bela memeluk Edo.

"Iya, Yang. Tapi indah banget, ya. Kita bisa menghabiskan malam bersama."

"Hooh, Aa." Bela mengangguk sambil memejamkan mata. "Aku sayang banget sama Aa."

Edo membelai rambut Bela. "Aa juga sayang banget sama kamu."

Untuk sesaat, suasana kamar itu hening. Hingga Bela membuka suara lagi. "Aa beneran sayang sama aku? Terus istri Aa gimana?"

Edo mendesah berat. "Beneran, Yang. Kalau masalah istri Aa. Sebenarnya Aa udah nggak cinta sama dia. Tapi dianya nggak mau dicerai. Dia selalu ngancam mau bunuh diri kalau Aa bahas soal itu."

Bela sontak bangun dari posisi rebahannya. "Serius, A?"

"Iya, serius." Edo mengangguk mantap.

"Ihh... istri Aa kok egois banget, sih. Seharusnya dia membiarkan Aa lepas dari pernikahan yang sudah tanpa cinta."

"Nah, seharusnya memang begitu, Yang. Tapi ya udah lah, nanti pelan-pelan, Aa akan bicara ke dia lagi. Kalau Aa sudah tak mau berumah tangga lagi sama dia," dusta Edo tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Bela mengangguk. "Semoga ya, Aa. Supaya kita nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi kayak gini kalau mau ketemu."

"Iya, Sayang."

_____

Begitu seluruh karyawan yang lembur kembali ke Line delapan, Fatma langsung berdiri di depan mereka. "Perhatian semuanya, kita tinggal punya waktu beberapa jam lagi!" serunya cukup keras agar terdengar di tengah suara mesin. "Ingat, malam ini semua barang harus sudah siap karena pukul dua belas malam nanti akan langsung dikirim!"

"Siap, Bu!" jawab beberapa karyawan hampir bersamaan.

"Jadi, tolong kerja yang cepat. Jangan banyak mengobrol. Target kita masih cukup banyak. Kalau ada yang kesulitan atau mesin bermasalah, langsung lapor ke saya atau supervisor. Jangan didiamkan!"

"Siap!"

Fatma bertepuk tangan sekali. "Ayo, semangat! Kita kejar target!"

Para karyawan pun kembali ke posisi masing-masing.

Mia menarik napas panjang sebelum menginjak pedal mesin jahit. Bunyi mesin kembali memenuhi ruangan. Tangannya bergerak cepat mengikuti kain yang terus berjalan di bawah jarum. Satu jahitan selesai, benang dipotong, kemudian ia langsung mengambil potongan berikutnya. Tak ada waktu untuk bersantai. Sesekali Mia melirik tumpukan pakaian yang masih menunggu untuk diselesaikan. "Masih banyak..." gumamnya.

Namun, bukannya mengeluh, Mia justru semakin mempercepat pekerjaannya. Ia teringat uang lembur yang akan diterimanya nanti. "Kalau lemburnya banyak, aku bisa menyisihkan uang lebih banyak dari bulan kemarin, dan mudah-mudahan bisa ngirim uang untuk jajan Malik di kampung," batinnya. Pikiran itu membuat Mia kembali bersemangat.

Di sekelilingnya, para pekerja lain juga melakukan hal yang sama. Ada yang menjahit, mengobras, memotong benang, memeriksa jahitan, hingga memindahkan pakaian yang sudah selesai ke bagian berikutnya. Semua bekerja mengejar waktu.

Jam dinding terus bergerak.

Pukul delapan malam.

Pukul sembilan malam.

Tubuh Mia mulai terasa pegal. Bahunya kaku dan pinggangnya terasa nyeri karena sejak pagi duduk di depan mesin jahit.

Namun, ia tidak berhenti. Setiap kali rasa lelah datang, ia hanya menarik napas sebentar lalu kembali bekerja.

"Mia, cepat sedikit!" seru salah seorang operator dari ujung line.

"Iya, Mbak!" jawab Mia. Ia pun kembali mempercepat gerakan tangannya. Jarum mesin terus bergerak naik turun.

Jam di dinding akhirnya menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh menit.

"Sudah!" seru Fatma tiba-tiba. Suara mesin satu per satu berhenti. Fatma menatap tumpukan pakaian yang telah selesai diproses. Senyum lega langsung menghiasi wajahnya. "Alhamdulillah, semuanya beres!" serunya dengan wajah sumringah. "Terima kasih banyak, semuanya. Kalian sudah bekerja keras malam ini. Berkat kerja sama kalian, target kita selesai tepat waktu."

Para karyawan mengembuskan napas lega.

"Akhirnya!"

"Capek banget, Bu!"

"Yang penting selesai!"

Beberapa orang bahkan langsung meregangkan tubuh dan memijat bahu masing-masing.

Fatma terkekeh. "Iya, iya. Kalian boleh pulang sekarang. Hati-hati di jalan, terutama yang pulangnya jauh. Jangan lupa absen sebelum keluar."

"Siap, Bu!"

Mia tersenyum lega. "Alhamdulillah..." Ia segera membereskan meja kerjanya. Setelah memastikan tidak ada barang miliknya yang tertinggal, Mia bergegas menuju ruang loker. Tubuhnya terasa luar biasa lelah. Kedua kakinya pegal, bahunya kaku, dan pinggangnya terasa nyeri akibat duduk seharian di depan mesin jahit.

Namun, rasa lelah itu sedikit terbayar ketika membayangkan uang lembur yang akan diterimanya.

Mia tersenyum kecil. Ia mengambil tas dari dalam loker, kemudian berjalan keluar bersama beberapa karyawan lainnya. Begitu sampai di luar gerbang, Mia langsung berhenti. Matanya menyapu jalan raya yang mulai sepi.

Beberapa karyawan terlihat sudah dijemput.

Seorang perempuan menghampiri ayahnya yang baru saja datang menggunakan sepeda motor.

Yang lain berjalan menuju motor suaminya.

Ada pula yang menaiki motor bersama saudara mereka.

Beberapa karyawan memilih menggunakan jasa tukang ojek langganan yang memang biasa mangkal di sekitar kawasan pabrik.

Mia hanya berdiri di tempat. Satu per satu kendaraan pergi meninggalkan area pabrik. Suasana yang tadi ramai perlahan menjadi sepi.

Mia mengerutkan kening. Ia melirik ke arah jalan. Tidak ada angkot biru yang biasa ia naiki.

Mia menunggu beberapa saat. Berharap masih ada satu angkot terakhir yang lewat. Namun, setelah beberapa menit berlalu, jalanan tetap sepi. "Ya ampun..." gumamnya. Barulah Mia menyadari satu hal yang sejak tadi sama sekali tidak terpikirkan olehnya. "Aku pulang naik apa?" Ia mengeluarkan ponsel Nokia pink dari dalam tas dan melihat layarnya. "Udah hampir jam sebelas." Mia menggigit bibir bawah, memasukan lagi ponselnya ke tas. Menoleh ke kanan dan kiri kepala Mia. Ada beberapa tukang ojek terlihat di kejauhan. "Kalau aku naik ojek, uang bekalku pasti nggak bakal cukup sampai gajian," gumamnya sambil menghela napas panjang. "Apa aku minta dijemput sama Edo aja ya?" Tangannya kembali merogoh tas dan mengambil ponsel.

Nama Edo tertera di daftar kontak. Mia menatap nama itu cukup lama. "Kira-kira dia bakal mau nggak ya?" Jarinya menggantung di atas tombol panggil. Beberapa detik kemudian, Mia mengembuskan napas. "Ah, coba aja dulu deh." Ia akhirnya menekan tombol panggil. Ponsel ditempelkan ke telinga. Hatinya berharap Edo segera mengangkat teleponnya.

1
Talnis Marsy
Edo..tipe Laki" Gaya elit ekonomi SULIT.... wkwkwkwk
Talnis Marsy
edo tipe laki" Gaya elit ekonomi SULIT....wkwkwk
Dartihuti
Astafurullah...gila di tempat gk pantas rumah terbengkalai?moga ada yg lihat biar nyaho lgsg di nikahkan...
Nice1808
kapan kapok mu do🤣moga ketauan org kampung dan diarak keliling kampung, atau kena penyakit kelamin🤣🤣🤣
Ma Em
Edo dan Ohang sama sama manusia laknat itu kelakuan nya minus , Edo pede banget kamu Mia mau balikan sama kamu , jgn harap Mia akan mau rujuk dgn Edo lelaki lain saja sdh lama menunggu Mia jadi janda .
Dartihuti
Duuuh ...anak durhakim👹sok"an pingin👊orang kampung sok bilang kampung diih...ma ortu gk ada dikit segan atau malu adanya malah berlagak...PD amat mikir Mia ingin balik pimpi kali lo...malah udah ada yg nunggu lbh dr lo MOKONDO
Dartihuti: Ikut eredi kita ingin👊😡👹Authour pinter mancing emosi ...💪😍
total 2 replies
EmakKece
Othoooor, aku pengen bejek2 si Ohang ini! hiiiih ... pokoknya 👊🏻👊🏻👊🏻
Ama Apr: Haha tonjok aja smpai giginya rontok, Teh🤣
total 1 replies
EmakKece
oow dasar anak tak tau diuntung! ga punya adab. klo aku jd orangtuanya udah kulempar itu telur ke mukanya 😡
Ama Apr: Betul kk🤣
total 1 replies
merry
selingkuh dgn ank sekolah tu bela msh sekolh dh tay jdi pelakor moga viral biar malu gk bs sekolh dan di DO dr sekolah y,,, trs biar bela tau klo yg dia jdiin selingkuhan tu ternyta cwo makondo
Ama Apr: lanjut kk
total 1 replies
Ma Em
Mia pokok nya kamu jgn mau lagi ditipu si Edo , semoga Mia makin sukses setelah berpisah dgn benalu dan uang Mia bertambah banyak karena sdh tdk ada yg porotin lagi .
Ama Apr: Aamiiin🫰
total 1 replies
Dartihuti
Sok kaya sok kereeen...eeeee gak tahunya kereee...😁😁😁pusing gk ....pusing gak...kapok lo...makan tu gantengmu🤭
Ama Apr: Wkwkwk
total 1 replies
✨Kayla Rane✨
baru nyadar kan 🤭😆
Ama Apr: Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sangat berharga🤣🤣
total 1 replies
Nice1808
mia lagi mia lagi🤭menyesalkan skrg kau edo gk bisa byar cicilan motor, tmpt tinggal pun numpang di rumah ohang🤣🤣
Ama Apr: mampooos kau 🤣
total 1 replies
merry
laki bajingann 😆😆😆😆blm kena batu nya tu
Ama Apr: santai, pelan2 tp menyakitkan🤣
total 1 replies
Ma Em
Lebih baik Edo tdk datang kerumah Mia daripada nanti bikin ribut lbh baik dititip saja sama orang , semoga Mia cepat dapat pengganti Edo lelaki yg baik bertanggung jawab serta cinta dan sayang pada Mia tdk menyakiti Mia .
Ama Apr: Aamiin🫰
total 1 replies
nunik rahyuni
iliiiih laki kodel apa ksmu tu doooo....
cemen nya amit amit.
nag kya itu ja g da nyali tp menganiaya bisa ae tu..
dasar banci cocok nya pakai rok aja
untung udah cere ...klo blm bisa hbis rontok tulang gigi dan rambut mu mia😅😅😅
Ama Apr: Iya, tinggal sm pengecut sukanya dlaman cangcut🤭
total 1 replies
Thewie
orgtua Dajjal kau bah setan keparat
Ama Apr: 😉😉😉😉😉
total 5 replies
Thewie
ya Allah kapanlah si Edo penjahat kelamin itu kena karma
Thewie
jangan mau kau di tiduri Mia. suami kau penjahat kelamin. takutnya ketularan penyakit pula kau
Ama Apr: Semoga sj tdk
total 1 replies
Asphia fia
mokondo pengecut gk ada akhlak
Ama Apr: mokondo kan emang bgt
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!