Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.
Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Pertengahan acara perjamuan berlangsung meriah. Lampu ballroom yang tadinya terang benderang perlahan meremang, berganti dengan sorot lampu temaram yang hangat.
Alunan musik instrumental yang lambat dan romantis mulai mengalun. Pembawa acara mengumumkan bahwa sesi lantai dansa telah resmi dibuka untuk seluruh karyawan yang ingin menikmati malam. Satu per satu pasangan mulai memenuhi area tengah.
Di meja divisi pemasaran, Alesia baru saja menghela napas lega karena detak jantungnya pasca-insiden panggung mulai normal. Namun, ketenangannya buyar ketika bayangan seorang pria tinggi mendadak berdiri di depan mejanya.
Pria itu adalah Park So-joon dari divisi digital marketing. Wajahnya tampan dengan senyum ramah yang selalu berhasil memikat para staf wanita di kantor.
"Selamat malam, Nona Alesia. Kalau tidak keberatan, maukah Anda berdansa dengan saya malam ini?" tanya Park So-joon sambil mengulurkan tangan kanannya dengan sopan.
Alesia langsung membeku di kursinya. Otaknya mendadak buntu, mencari-cari alasan untuk menolak karena ia merasa sangat canggung.
"Ah... itu, Pak So-joon... kaki saya sepertinya agak—"
"Gak apa-apa, Al! Sesekali nikmati pestanya!" potong Hana tiba-tiba dari samping, menyenggol lengan Alesia dengan wajah bersemangat.
Yuri, sang Kepala Divisi, ikut menimpali sambil tersenyum mendukung.
"Iya, Fiore, tidak apa-apa. Kamu kan baru saja menang penghargaan. Silakan bersenang-senang di lantai dansa."
Karena merasa terpojok oleh dukungan teman-temannya sendiri dan enggan terlihat tidak sopan di depan umum, Alesia akhirnya mengembuskan napas pasrah.
Ia menyambut uluran tangan So-joon. "Baiklah... terima kasih, Pak."
Melihat hal itu, Kang Ji-hoon yang duduk di sebelah mereka langsung merosot di kursinya dengan wajah melas yang dibuat-buat.
"Yahh... padahal tadi aku baru mau mengajakmu berdansa, Al. Keduluan kan."
Hana mendengus geli dan menepuk bahu Ji-hoon. "Jangan sedih, Ji-hoon. Masih ada aku di sini yang menganggur."
Ji-hoon menoleh lambat, lalu mendesah dramatis. "Yaudah deh... terpaksa."
"Yeee! Kurang ajar ya kamu!" Hana langsung memukul lengan Ji-hoon dengan gemas, memicu tawa dari Min-ji dan Yuri sebelum akhirnya mereka berdua ikut melangkah ke lantai dansa.
...----------------...
Di tengah lantai dansa, So-joon menuntun pergerakan Alesia dengan lembut. Mereka bergerak perlahan mengikuti irama musik.
"Apa kabar, Alesia?" tanya So-joon membuka obrolan, menatap Alesia dengan pandangan kagum yang tidak disembunyikan.
"Kabar baik, Pak So-joon," jawab Alesia formal.
"Kita sudah lama ya tidak mengobrol sejak proyek bulan lalu. Malam ini... kamu terlihat jauh lebih cantik dari biasanya," puji So-joon dengan suara yang melembut.
Dalam hatinya, Alesia langsung memutar bola matanya malas. 'Modus banget nih cowok,' batin Alesia berteriak.
Alesia memang sudah mengenal So-joon sejak awal tahun pertamanya di Korea. Pertemuan pertama mereka terjadi secara klise di lobi kantor, di mana Alesia yang sedang membawa tumpukan dokumen tidak sengaja bertabrakan dengan So-joon. Sejak saat itu, So-joon sering kali menunjukkan ketertarikan lebih padanya.
So-joon sangat populer di kalangan karyawan wanita karena pesona visual dan sikap manisnya. Namun, semua pesona itu sama sekali tidak mempan pada Alesia. Niat utama Alesia datang ke Korea hanyalah bekerja dengan tenang, mengumpulkan uang won, dan memperbaiki ekonomi keluarganya. Ia tidak punya waktu untuk urusan asmara yang rumit.
Selama ini, Alesia selalu menolak dengan halus setiap kali So-joon mengajaknya pergi berdua saja di akhir pekan. Ia hanya mau ikut jika mereka pergi beramai-ramai dengan staf lain. Selain karena memang enggan dekat dengan pria mana pun, Alesia juga sangat menghindari rumor-rumor kantor yang selalu cepat tersebar seperti virus.
...----------------...
Di sisi lain aula, di dalam area VIP yang sedikit lebih tinggi, sepasang mata abu-abu yang dingin lurus menatap ke tengah lantai dansa. Dante Luca Alessio berdiri kaku dengan segelas sampanye di tangannya. Rahangnya mengeras sempurna, dan cengkeraman tangannya pada gelas kaca itu begitu kuat hingga jemarinya memutih.
Melihat Alesia tersenyum tipis dan bergerak mengikuti irama musik di bawah tuntutan tangan pria lain membuat dada Dante mendadak terbakar oleh rasa tidak nyaman yang amat sangat. Emosinya tersulut tanpa alasan yang logis. Pria di bawah sana tidak berhak menyentuh atau menatap gadisnya seperti itu.
Dante meletakkan gelas sampanyenya ke meja dengan sentakan kasar, lalu menoleh ke arah asisten pribadinya yang berdiri di belakang.
"Sudahi acaranya sekarang," perintah Dante kepada Rey, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya.
Rey sempat tertegun, melirik jam tangannya.
"Tapi, Pak Dante... ini baru pertengahan sesi dansa, musiknya bahkan belum mencapai—"
"Saya tidak suka mengulang perintah saya, Rey. Suruh panitia mempercepat ke sesi penutupan. Sekarang," potong Dante dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan sama sekali.
Rey yang menyadari arah pandangan mata Dante sejak tadi langsung paham apa yang sedang terjadi. Ia menahan senyum gelinya, lalu membungkuk hormat. "Baik, Pak. Saya laksanakan."
Hanya dalam waktu kurang dari tiga menit, alunan musik romantis yang sedang dinikmati para karyawan mendadak melambat secara drastis dan mati.
Lampu aula kembali menyala terang benderang. Pembawa acara naik ke atas panggung dengan terburu-buru dan langsung mengumumkan bahwa acara akan segera memasuki sesi penutupan dan doa bersama sebelum para tamu dipersilakan pulang.
Di lantai dansa, Hana menghentikan gerakannya dengan wajah kecewa.
"Loh? Padahal musiknya belum sampai puncaknya, kok sudah selesai saja sih? Aneh banget panitianya."
Berbeda dengan Hana, Alesia justru mengembuskan napas lega yang sangat besar sambil melepaskan tangannya dari So-joon.
"Bagus deh kalau selesai awal. Kakiku sudah sakit banget ini, kaku semua gara-gara pakai hak tinggi."
...****************...