Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.
Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.
Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Balas Dendam
Setelah mengakhiri panggilan dengan Rio, Brian meletakkan ponselnya di atas meja.
Tatapannya kemudian jatuh pada secangkir teh herbal yang dibuat Rania. Ia meraihnya dan menyesap perlahan.
Rasa hangat langsung memenuhi tenggorokannya.
Brian menghabiskan teh tersebut tanpa menyadari bahwa tubuhnya mulai terasa semakin rileks.
Beberapa saat kemudian, ia menguap. "Sepertinya teh ini cukup ampuh," gumamnya.
Brian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tak lama kemudian, matanya perlahan terpejam. Ia pun tertidur.
Sementara itu, Rania masih menunggu Daffa kembali.
Namun sebelum kembali ke ruang kerjanya, ia memutuskan untuk memastikan keadaan Brian.
Klik! Pintu kamar terbuka perlahan.
Rania memasuki ruangan, pandangan pertamanya langsung tertuju kepada Brian yang sudah tertidur pulas.
Rania berjalan mendekat, cangkir teh herbal yang tadi ia berikan sudah kosong.
"Dia meminumnya," gumam Rania lega.
Rania mengambil cangkir tersebut dari meja, sebelum pergi, pandangannya kembali jatuh kepada kaki kiri Brian.
Rania mendekat, ia memeriksa pergelangan kaki pria itu dengan hati-hati.
Dan ternyata...
Pembengkakannya sudah jauh lebih berkurang.
Rania tersenyum kecil. "Syukurlah." Ia kemudian menarik selimut Brian sedikit lebih tinggi.
"Besok pagi kau sudah bisa mulai berjalan menggunakan tongkat." Rania menatap wajah Brian yang tertidur.
Dalam keadaan seperti itu, pria tersebut terlihat jauh lebih tenang.
Tidak ada tatapan tajam. Tidak ada senyum menyebalkan.
Rania menghela napas pelan. "Kalau saja kau selalu seperti ini..." Ia segera menggeleng. "Sudahlah."
Rania berbalik dan meninggalkan kamar.
Lima belas menit kemudian...
Rania sudah berganti pakaian dengan piyama tidurnya. Ia kembali berada di ruang kerja dan mulai merapikan beberapa dokumen.
Jam sudah semakin malam.
Saat Rania hendak mematikan lampu ruangan, suara motor sport terdengar dari halaman rumah.
Rania berhenti.
"Oh..." Ia baru teringat. "Daffa." Pria yang tadi pergi untuk membelikannya cake.
Rania segera mematikan laptop dan keluar dari ruangan. Namun baru saja pintu ruang kerja ditutup...
Daffa sudah berdiri tepat di hadapannya.
Tangannya membawa sebuah paper bag kecil.
"Ayo." Daffa tersenyum. "Kau pasti sudah ingin sekali memakannya."
Rania menelan ludah, tatapannya turun kepada paper bag tersebut.
Kemudian beralih kepada wajah Daffa.
Entah mengapa, tatapan pria itu malam ini membuat Rania merasa sedikit gelisah.
"Kau kenapa?" tanya Daffa.
Rania segera menggeleng. "Tidak apa-apa."
Ia mengambil paper bag tersebut. "Aku hanya..." Rania tersenyum kecil, "terharu. Terima kasih sudah mau mencarikannya."
Daffa tersenyum puas. "Sama-sama." Ia mengikuti Rania menuju balkon lantai dua.
Udara malam terasa dingin. Rania duduk di sebuah kursi, sementara Daffa mengambil selimut kecil yang terletak di atas meja dan menyampirkannya ke bahu Rania.
"Jangan terlalu lama di luar." Ia menunjuk paper bag di tangan Rania. "Dan cepat makan kuenya."
Rania mengangguk.
Daffa menatapnya beberapa detik. "Kau sedang hamil. Udara malam seperti ini tidak bagus."
Rania membuka kotak cake tersebut. Aroma manis langsung tercium.
Ia mengambil garpu kecil. Namun sebelum menyentuhnya, Rania kembali menatap Daffa.
Daffa tersenyum. "Kuenya aman untuk ibu hamil."
Rania terdiam.
Ia tidak tahu mengapa kalimat itu justru membuat kecurigaannya kembali muncul.
Daffa mengetahui apa yang ada di pikirannya.
Namun pria itu tetap tersenyum tenang. "Kenapa?" tanyanya.
Rania segera menggeleng. "Tidak."
Daffa memperhatikannya. "Apa kau berpikir aku melakukan sesuatu..."
Rania langsung berdiri. "Daffa, bukan begitu. Aku hanya—"
Belum selesai berbicara, Daffa mengambil garpu dari tangan Rania. Daffa memotong sedikit cake tersebut. Kemudian, Daffa memakannya.
Rania terdiam.
Daffa mengangkat bahunya. "Enak."
Rania menatapnya beberapa detik. Perlahan, rasa curiganya mereda.
Mungkin aku memang terlalu banyak berpikir. Mana mungkin Daffa berniat buruk kepadanya? Pikir Rania.
Daffa mengambil potongan kedua. Namun kali ini ia tidak langsung memakannya.
Ia justru melangkah mendekati Rania. Rania mengangkat wajah.
"Daffa..."
Pria itu terus mendekat, tangannya terangkat dan menahan tengkuk Rania.
Rania terkejut. "Daffa!"
Namun pria itu tidak memberinya kesempatan untuk menghindar.
Daffa mengecup bibir Rania, lalu menyodorkan rasa manis cake yang baru saja ia makan.
Rania membeku, ketika rasa manis itu menyebar di dalam mulutnya oleh Daffa.
Beberapa detik kemudian, ia segera mendorong dada Daffa. "Berhenti!"
Daffa menahannya hingga beberapa detik, memastikan Rania memakan kue cakenya, dan akhirnya daffa pun melepaskan dirinya.
Rania mundur beberapa langkah, napasnya memburu, tangannya refleks menyentuh bibir sendiri.
Daffa menatapnya. "Kau suka?"
Rania tidak menjawab.
Daffa tersenyum tipis. "Lihat?" Tangannya menyentuh sisi wajah Rania. "Kau baik-baik saja."
Rania menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.
Daffa kemudian berkata pelan, "aku tidak suka tatapanmu yang seolah-olah menganggap aku menyembunyikan niat buruk padamu."
Rania terdiam.
"Kalau kau berpikir seperti itu lagi..." Daffa mendekat ke telinganya, "aku bisa bertindak lebih jauh dari ini."
Rania membeku.
Daffa kemudian mengecup sisi pipinya, tepat di dekat telinga. "Istirahatlah." Ia berbalik dan meninggalkan balkon.
Rania masih berdiri di tempatnya, tangannya perlahan menyentuh bibirnya. Jantungnya berdebar.
"Seharusnya aku marah..." Rania menggeleng. Namun pada akhirnya ia hanya menghela napas.
Ia menatap cake kecil di meja, kemudian menghabiskannya sedikit demi sedikit.
Keesokan harinya...
Tepat setelah jam makan siang, Rio datang membawa sebuah informasi. "Nona Rania."
Rania mengangkat wajah dari dokumen. "Ya?"
"Ada investor baru yang ingin bertemu dengan Anda malam ini," ucap Rio.
"Di mana?" tanya Rania.
"Club Glamore," jawab Rio.
Rania terdiam. Daffa yang kebetulan berada tidak jauh dari sana langsung angkat bicara.
"Biarkan aku menemanimu," ucap Daffa.
Rania menoleh.
Pikirannya langsung kembali kepada kejadian semalam, ia tidak ingin Daffa kembali bertindak seperti itu.
Apalagi pertemuan akan berlangsung di sebuah club, mungkin dia butuh seorang pendamping.
Rania akhirnya mengangguk. "Baik."
Daffa tersenyum.
"Tapi..." Rania mengangkat telunjuknya. "Janji, jangan ikut campur dalam urusan bisnisku."
"Oke," jawab Daffa.
Rio membungkuk. "Kalau begitu saya permisi." Ia meninggalkan ruangan.
Namun begitu berada di luar, Rio segera menghubungi Mona.
"Selamat siang, Nona Mona."
"Ya?" jawab Mona.
"Tuan Brian meminta Anda untuk menemaninya dalam pertemuan bisnis malam ini di Club Glamore."
Mata Mona langsung berbinar. "Benarkah?"
"Benar, Nona."
"Tentu saja aku akan datang." Mona tersenyum lebar, ia sama sekali tidak tahu bahwa malam ini bukan sekadar pertemuan bisnis.
Malam pun tiba...
Di sebuah ruangan VIP Club Glamore...
Pertemuan bisnis antara Rania dan seorang investor bernama Zoul akhirnya selesai.
"Senang bisa bekerja sama dengan Anda, Nona Rania," ucap Zoul.
Pria muda itu tersenyum.
Daffa yang berada di samping Rania kemudian mengangkat gelas. "Kalau begitu, mari kita rayakan."
Beberapa saat kemudian, Brian dan Mona juga bergabung.
Mona terlihat sangat bahagia.
Baginya, malam ini terasa seperti sebuah kesempatan untuk kembali mendekat kepada Brian.
Percakapan berlangsung cukup lama.
Wine terus dituangkan.
Hingga...
Bruk!
Tubuh seseorang jatuh ke sofa.
Beberapa detik kemudian...
Bruk!
Mona ikut terkulai.
Daffa dan Mona sudah mabuk berat.
Rania membelalakkan mata. "Astaga..."
Sementara Zoul masih berusaha mempertahankan kesadarannya.
Tatapannya jatuh kepada Rania. "Nona Rania..."
Rania menoleh. "Ya?"
"Anda sangat cantik malam ini," ucap Zoul.
Rania terdiam.
Brian yang berada tidak jauh dari sana langsung menatap Zoul tajam.
"Zoul." Nada suaranya memperingatkan. "Jangan melebihi batas," ucap Brian.
Zoul terkekeh kecil.
Namun tubuhnya mulai limbung. Asistennya segera menghampiri. "Maaf, Tuan Brian. Sepertinya Tuan Zoul mabuk."
"Bawa dia pulang," ucap Brian.
"Baik." Asisten tersebut membungkuk dan segera membantu Zoul keluar dari ruangan.
Namun sebelum pintu tertutup, Zoul masih sempat menoleh kepada Rania.
Rania hanya membungkuk sopan. "Hati-hati di jalan, Tuan."
Zoul tersenyum tipis.
Kemudian pintu tertutup.
Kini...
Hanya Rania dan Brian yang masih sadar.
Rania menatap Brian. "Kau juga minum cukup banyak."
Brian mengangkat alis. "Aku kuat minum."
Kemudian pandangannya beralih kepada Rio. "Urus mereka."
Rio mengangguk. Ia memberi isyarat kepada dua pria yang sudah menunggu di luar.
Mereka segera masuk dan membawa Daffa serta Mona keluar dari ruangan.
Rania langsung berdiri. "Apa yang akan kau lakukan kepada mereka?"
Brian tiba-tiba mencekal lengan Rania. "Duduk."
Rania mencoba melepaskan tangannya. "Brian..."
"Duduk, Rania." Nada suaranya tegas.
Rania akhirnya berhenti. Sementara Rio dan kedua pria itu membawa Daffa dan Mona pergi.
Pintu kembali tertutup.
Kini...
Ruangan VIP itu hanya menyisakan mereka berdua.
Rania menatap Brian. "Brian, kau membawa mereka ke mana?"
"Kau tidak perlu mengurus mereka." Brian mengangkat wajah, tatapannya langsung mengunci Rania. "Kau hanya perlu mengurus suamimu ini."
Rania terdiam.
Brian kemudian meraih lengan Rania yang lain. Dengan satu tarikan, tubuh Rania terdorong mendekat, kini ia berdiri tepat di antara kedua paha Brian.
Brian melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Rania.
Rania tersentak. "Brian..."
Pria itu justru menyandarkan wajahnya pada perut Rania, tangannya mengusap perlahan sisi pinggang wanita itu.
Kemudian sebuah bisikan terdengar. "Halo, sayang..."
Rania membeku.
Brian tersenyum tipis. "Ayahmu datang."
Rania mencoba mundur. Namun pelukan Brian semakin erat. "Jangan pergi dulu," tatapannya terangkat menatap Rania.
"Malam ini belum selesai sayang," Senyum tipis kembali muncul di wajah Brian.
Bersambung...