Indonesia
NovelToon NovelToon
Switch Body, Yuk Nikah!

Switch Body, Yuk Nikah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikahmuda / Komedi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: LaQuin

Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?

Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.

Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.

Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!

Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Daffa

BAB 28

Daffa

"Eh..."

Kania menatap layar beberapa detik. Lalu ia menoleh ke arah Dinda. Tentu saja ia mengenal wajah di foto itu.

Bukannya ini cowok gebetan Dinda yang jemput dia di hari jumat kemarin?

Kania segera menyenggol lengan Dinda menggunakan sikunya. Dinda yang sedang memperhatikan penjelasan guru menoleh dengan alis berkerut.

Kania tidak berkata apa-apa. Ia hanya menyodorkan ponselnya sedikit ke arah Dinda.

Dinda menunduk sekilas. Begitu melihat layar ponsel Kania, matanya langsung membesar.

Bang Daffa.

Laki-laki itu duduk sendirian di sebuah kafe dengan secangkir cappuccino di hadapannya. Bahkan foto itu menangkap sisi Daffa yang terlihat begitu tenang dan keren.

Dinda spontan melirik ke arah Kania. Kania hanya mengangkat kedua alisnya.

Dinda buru-buru kembali menghadap ke depan ketika menyadari guru masih berdiri di depan kelas. Ia tidak ingin ketahuan bermain ponsel saat pelajaran berlangsung.

Dinda kemudian menarik bukunya lebih dekat.

Dengan cepat, ia mengambil pulpen dan menuliskan sesuatu di salah satu sudut halaman.

Beberapa detik kemudian, buku itu ia geser pelan ke arah Kania.

Di sana tertulis:

Dinda : Dapet dari mana?

Kemudian Kania kembali menulis secara sembunyi-sembunyi dan memberikannya pada Dinda.

Kania : Tetangga lu beneran kan ini?

Dinda mengerutkan kening.

Kok Kania tahu, Abang tetangga gue ya?

Dinda : Iya

Kania : Dia juga yang nganterin lu tadi?

Dinda : Iya, bawel ih. Kenapa sih?

Kania : fotonya beredar kemana-mana, anak-anak lagi pada bahas gebetan lu tuh

Eh, gebetan. Kok pada tahu?

Setelah itu Dinda tidak membalas lagi. Namun Kania yang masih penasaran, ia menulis lagi sesuatu di sana dan kembali menyenggol lengan Dinda agar sahabatnya itu membacanya.

Kania : Kalian benaran udah jadian?

Dinda hanya menoleh sesaat tanpa mau menjawab pertanyaan Kania. Ia kembali menghadap ke depan dan mendengarkan guru yang sedang menjelaskan.

Bibir Kania manyun di buatnya. Kania yang merasa di abaikan pun terus saja mengganggu konsentrasi Dinda yang sedang ingin fokus belajar.

"Apaan sih?!" Gerutu Dinda dengan nada berbisik kepada Kania.

Kania lalu menunjuk tulisannya tadi agar Dinda segera menjawabnya. Di tambah dengan pelototan mata yang nyaris keluar dari cangkangnya, hingga membuat Dinda pada akhirnya pun menuliskan sesuatu disana.

Dinda : Banyak tanya 😒

Kania : Jawab dulu 🙄

Dinda : Ck!

Kania : Apa Ck! Ck! Ck! Cicak lu?!

Dinda tidak merespon. Dan sikap diamnya itu membuat Kania semakin penasaran sekaligus gemas.

"Jawab ih!" bisiknya di dekat Dinda.

Dinda berpikir sesaat. Ia teringat ucapan Daffa yang mengajaknya pacaran kemarin, sewaktu mereka makan nasi uduk sebelum akhirnya marahan.

"Ck! Iya." Jawab Dinda, malas.

" Pulang nanti lu harus cerita ke gue!"

"Ehem!!"

Deheman dari guru yang mengajar mengalihkan perhatian Dinda dan Kania sehingga mereka menghentikan obrolan mereka. Mereka pun pura-pura kembali fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung.

***

Bel panjang tanda pelajaran usai berbunyi. Kania ternyata tidak membuang kesempatan untuk segera mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya sejak jam pelajaran tadi.

Begitu guru meninggalkan kelas, suasana pun langsung berubah ramai. Beberapa siswa mulai membereskan buku dan memasukkannya ke dalam tas.

Dinda pun melakukan hal yang sama. Ia menyusun buku-bukunya satu per satu, kemudian memasukkannya ke dalam tas tanpa sedikit pun menoleh ke arah Kania yang terus menatapnya.

"Kapan lu jadian?"

Pertanyaan itu membuat tangan Dinda berhenti sesaat. Ia melirik Kania sekilas, lalu kembali fokus menyelesaikan pekerjaannya.

"Belum lama."

Jawaban singkat itu keluar begitu saja tanpa penjelasan lebih lanjut. Kania langsung membelalakkan mata.

"Serius?!"

Dinda hanya mengangguk kecil agar percakapan itu segera berakhir.

"Selamat ya, akhirnya lu laku juga." Kania langsung terkekeh. "Hehehe... Jujur gue iri, loh."

Dinda menutup resleting tasnya.

"Gila banget nggak sih? Digantung Leon, lu malah dapat yang lebih dari dia."

Dinda menoleh. "Gue masih waras, kok."

Kania langsung terkekeh melihat wajah Dinda yang datar.

"Ck! Serius amat. Orang gue cuma bercanda."

Dinda hendaki beranjak dari tempatnya. Namun sebelum sempat melangkah, Kania tiba-tiba mendekat dan mencubit pipinya gemas.

"Aww... aduh... duh... aduh, sakit!" Dinda refleks memegangi pipinya. "Apaan sih, Kania!"

Kania malah tertawa puas.

"Soalnya lu ngeselin!"

"Yang ngeselin tuh, elu!"

Dinda mengusap pipinya yang memerah akibat cubitan tadi. Sedangkan Kania masih tertawa, lalu kembali memasang wajah penuh rasa ingin tahu.

"Tapi serius, Din."

"Apa lagi?"

"Tetangga lu itu beneran keren banget, sumpah."

Dinda terdiam sesaat, hanya mendengarkan.

"Gue kira, lu bohong saat bilang punya gebetan tetangga sebelah rumah lu."

Hah?!

"Tapi pas gue lihat dia jemput lu hari jum'at kemarin, gue percaya jadinya."

Eh, jum'at?

Dinda mengingat kembali kejadian hari jum'at. Dimana Daffa memintanya untuk di jemput hari itu.

Barulah Dinda mengerti, kenapa ia menjadi pusat perhatian sejak masuk gerbang pagi tadi, dan Kania heboh soal gebetan.

Dinda memijit pelipisnya. Rupanya ada hal penting yang terjadi tanpa ia ketahui. Dan yang paling membuatnya pusing, bagaimana jika sampai ketahuan kalau mereka bahkan sudah direncanakan untuk menikah oleh keluarga masing-masing.

"Pulang ini, doi jemput lu lagi kan?"

Dinda menghela napas panjang.

"Gue duluan."

Kania mengerutkan kening. "Eh, jangan kabur!"

Dinda langsung mengangkat tasnya dan berjalan meninggalkan kelas. Kania buru-buru menyusul sambil terus mengoceh.

"Din! Gue belum selesai nanya!"

Dinda hanya menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya perjalanan pulang hari ini bakal jauh lebih melelahkan daripada biasanya.

***

Tidak jauh dari gerbang sekolah, Daffa sudah duduk di atas motor sambil memainkan ponselnya. Sejak tadi ia menunggu pesan dari Dinda.

Beberapa menit yang lalu, pesan dari gadis itu akhirnya masuk.

"Udah keluar kelas."

Daffa hanya membalas singkat.

"Ke gerbang."

Setelah itu, ia kembali memasukkan ponselnya ke saku jaketnya.

Meski duduk dengan tenang, keberadaan Daffa rupanya kembali menarik perhatian para siswa yang baru keluar dari gedung sekolah.

Beberapa pasang mata langsung tertuju kepadanya. Ada yang sekadar melirik. Ada yang sengaja memperlambat langkah. Bahkan beberapa siswi yang sejak pagi sudah mendengar kabar tentang foto cowok ganteng yang sedang ramai di grup sekolah mulai mencuri-curi pandang ke arah Daffa.

Sementara Daffa, Ia sama sekali tidak peduli. Sikap cool dan cueknya tidak pernah lepas dari dirinya.

Apalagi selama beberapa bulan terakhir ia pernah menjadi murid di sekolah itu ketika berada dalam tubuh Dinda. Ia sudah tahu betul bagaimana tingkah para siswa di sana. Jadi, tatapan-tatapan seperti itu bukan sesuatu yang perlu ia pikirkan.

Namun, beberapa siswa rupanya mulai merasa penasaran. Salah seorang siswi bahkan diam-diam mengeluarkan ponselnya. Ia membuka foto yang sedang ramai beredar di grup. Kemudian membandingkannya dengan sosok Daffa yang kini berdiri tidak jauh dari hadapannya.

Matanya membesar.

"Gila! Bener dia!"

Temannya yang berada di samping langsung mendekat.

"Siapa?"

"Ini, lihat!" Ia menunjukkan layar ponselnya. "Dia cowok yang fotonya dari kafe tadi!"

Keduanya kembali menatap Daffa.

"Tuh, samakan! Jaket, baju, sama wajahnya juga!"

Temannya memperhatikan beberapa detik.

"Ih, bener banget!" Ia bahkan menutup mulutnya sendiri karena terlalu kagum. "Sumpah, ganteng banget!"

"Dia nungguin siapa, ya?"

Keduanya kembali melirik Daffa. Salah satunya tiba-tiba tersenyum penuh harap.

"Jadi pengen minta nomor WA-nya, deh."

"Sana minta."

Temannya mendorong lengannya.

"Coba deketin. Kalau berhasil, bagi gue juga, ya!"

"Enak aja!"

Ia langsung menarik tangannya.

"Mau gue kekepin pokoknya!"

"Hilih!"

Mereka cekikikan pelan.

Namun, bukannya mendekati Daffa, keduanya hanya berani berdiri dari kejauhan sambil sesekali mencuri pandang.

Sementara itu, Daffa masih menunggu kedatangan Dinda. Ia bahkan tidak tahu kalau dirinya sedang menjadi pusat perhatian.

Sampai akhirnya dari arah gerbang, seseorang yang sudah ia tunggu-tunggu muncul. Daffa langsung tersenyum tipis. Tatapannya tertuju kepada gadis yang berjalan keluar bersama beberapa siswa lainnya.

Daffa turun dari motor. Dan tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya, ia berjalan menghampiri Dinda.

Pemandangan itu sontak membuat beberapa siswa yang masih berada di sekitar gerbang kembali memperhatikan.

"Eh... dia nyamperin siapa?"

"Kayaknya itu Dinda."

"Dinda?"

"Iya."

Beberapa pasang mata mulai mengikuti langkah Daffa.

Dinda yang belum menyadari keberadaan Daffa masih berjalan sambil membawa tasnya.

Sampai sebuah suara terdengar dari arah depan.

"Cil."

Dinda langsung mendongak. Dan begitu melihat Daffa sudah berdiri di hadapannya, ia spontan menghela napas.

"Abang..."

Daffa mengambil tas Dinda dari bahunya begitu saja.

"Udah? Yok, pulang."

Dinda terdiam. Ia bahkan belum sempat menolak ketika Daffa sudah berjalan lebih dulu menuju motor.

Dari belakang, Kania yang baru menyusul langsung membelalakkan mata. Ia melihat Daffa, kemudian melihat Dinda. Lalu kembali melihat Daffa.

"Wah..."

Senyum terpesona melihat sosok Daffa perlahan muncul di wajahnya.

"Beruntung banget si Dinda. Kalau gitu, si Leon buat gue aja. Hehehe..."

*

*

*

Bersambung...

Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊

1
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
kasur atas kan maksudnya
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ck.. keluar aja langsung sii
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
awas aja nyosor duluan cil
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ciee ditinggal nikah
☪︎⃟⃝𝐇𝐅ᵐᵃᵘˡ✰͜͡𝐯𐝃W⃠
beruntung bngt km Din dptn Daffa yang cinta nya tulus.
☪︎⃟⃝𝐇𝐅ᵐᵃᵘˡ✰͜͡𝐯𐝃W⃠
Alhamdulillah akhirnya kalian menikah juga
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
dinda udah takut bakal di unboxing duluan ya wkwkwk
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
obrolan kakak dan adik tentang calon mantu 🤣😭
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
kuras semua dompet daffa din 🤣
eh tapi daffa kan belum kerja dan berpenghasilan yakan
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
wah bakal dikasih hadiah apa nih, dinda sama daffa 🤔
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
cap aja di daffa din 🤣🤣🤣🤣 cap kepemilikan, kasih stempel di jidatnya wkwkwk
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
daffa kek ngemong bocil ya 🤣 pantes dia manggilnya cil
☪︎⃟⃝𝐇𝐅ᵐᵃᵘˡ✰͜͡𝐯𐝃W⃠
berasa dikawal sama bodyguard ya Din.wkwkwk
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
garela kan
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ya kali dinda yg pegang
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
kirain mau dirga yg bayarin
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
cocok nih.. calon ipar
☪︎⃟⃝𝐇𝐅ᵐᵃᵘˡ✰͜͡𝐯𐝃W⃠
janji harus ditepati yaa Daffa 🤭
☪︎⃟⃝𝐇𝐅ᵐᵃᵘˡ✰͜͡𝐯𐝃W⃠
sebebas itukah masuk rumah org,, biasanya kan mengucapkan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dulu
☪︎⃟⃝𝐇𝐅ᵐᵃᵘˡ✰͜͡𝐯𐝃W⃠
pasti seneng lah karena skrg kau lulus belajar nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!