Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.
Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
⚠️Hanya untuk pembaca berusia 17 tahun ke atas.⚠️
...****************...
Hujan gerimis kembali mengguyur Verona Heights saat malam memuncak menuju pukul dua belas. Di luar jendela kamar utama Blackwood Manor, lolongan angin malam beradu halus dengan suara kayu cemara yang berderak terbakar di dalam perapian besar.
Lidah-lidah api menyebarkan cahaya jingga keemasan yang menari-nari di langit-langit kamar, membiaskan pendar remang yang intim di atas tempat tidur berukuran raksasa berselimut sutra hitam.
Aroma minyak kayu cendana yang bercampur dengan wangi vanila dan buah zaitun dari tubuh Eva, menciptakan atmosfer yang merayap menaikkan suhu di dalam ruangan.
Dominic berdiri di samping tempat tidur. Kemeja putih yang dikenakannya telah terbuka seluruh kancingnya, menyingkapkan dada bidang bertato ukiran mawar berdaun tiga dan guratan-guratan luka tembak lama yang membentuk jejak ketangguhannya di dunia bawah.
Iris tajamnya menatap lurus ke arah wanita di hadapannya dengan pendar kepemilikan dan gairah murni yang tak lagi mampu ia bendung.
Eva duduk bersandar pada tumpukan bantal. Gaun malam rajut tebalnya telah berganti dengan gaun tidur tipis berkain sutra merah menyala dengan tali spageti yang nyaris tak bisa lagi menahan bahunya.
Balutan kasa steril tipis di bahu kanannya kini tak lagi menjadi penghalang, rasa nyeri fisik yang berdenyut telah sepenuhnya tenggelam di bawah gelombang hawa panas yang menjalar di seluruh pembuluh darahnya.
"Dominic..." bisik Eva, suaranya meluncur halus.
Tanpa mengalihkan pandangannya satu milimeter pun, Dominic melepas kemejanya secara kasar dan menjatuhkannya ke lantai. Pria itu mengikis jarak diantara mereka secara perlahan.
Dominic mengepung tubuh Eva di bawah naungan tubuh besarnya, menopang berat badannya dengan kedua tangan kekarnya di sisi kiri dan kanan kepala Eva.
"Aku sudah menahannya terlalu lama, Evie," suara Dominic bergaung rendah, begitu dalam dan berat.
"Setiap kali melihatmu tersiksa oleh rasa sakit... batin gila di dalam diriku bertarung dengan rasa ingin memilikimu secara utuh."
Dominic menundukkan wajahnya, membiarkan napas hangatnya yang memburu menyapu kulit leher Eva.
Jemari tangan kiri Dominic yang besar meluncur naik dari pergelangan kaki Eva, menyusuri paha yang terhalang kain sutra tipis, lalu menarik gaun tidur itu ke atas secara perlahan.
Sentuhan jemarinya yang kasar oleh kapalan senjata memberikan sensasi kontras yang luar biasa di kulit halus Eva, membuat wanita itu refleks melengkungkan punggungnya seraya menghembuskan helaan napas pendek.
"Dominic... bahuku..." bisik Eva terbata-bata, mencoba menahan emosinya saat jemari pria itu menyingkap kain gaunnya lebih tinggi.
"Lupakan bahumu Evie," bisik Dominic tepat di depan bibir Eva. "Malam ini hanya ada kau dan aku. Tidak ada Blackwood, tidak ada perang faksi, tidak ada bayang-bayang di luar sana."
Bibir Dominic menyapu bibir Eva dalam sebuah ciuman yang penuh gairah.
Ciuman Dominic malam ini adalah sebuah dominasi murni yang dalam, lapar, dan menuntut. Lidahnya menerobos masuk, menyerap setiap rasa manis dari mulut Eva.
Eva memejamkan matanya rapat-rapat, meremas bahu bertato Dominic dengan tangan kirinya, membiarkan dirinya tenggelam total dalam pusaran hawa panas yang memabukkan.
Dominic mengalihkan ciumannya turun ke garis rahang Eva, lalu menggigit kecil cuping telinganya sebelum meluncur turun membakar leher Eva yang jenjang.
Tangannya yang terampil menarik tali spageti gaun tidur Eva turun dari bahu kirinya yang tidak terluka.
"Ah... Dominic..." rintihan halus meluncur spontan dari bibir Eva saat mulut Dominic menyapu puncak dadanya melalui kain tipis yang kian basah oleh hawa panas tubuh mereka.
Sentuhan mulut Dominic yang hangat dan desakan lidahnya di balik kain sutra mengirimkan sengatan listrik murni yang meluncur deras menuju perut bawah Eva.
Otak waspada Ghost Rose yang biasanya penuh kalkulasi dingin kini runtuh sepenuhnya, yang dipenuhi oleh sensasi yang membakar gairahnya.
Dominic menarik gaun tidur sutra itu melintasi kepala Eva dengan satu gerakan cepat, melemparkannya ke ujung tempat tidur hingga tubuh indah Eva kini terhampar tanpa sehelai benang pun, hanya tersisa balutan kasa putih tipis di bahu kanannya yang mempertegas keindahan kontras wanita itu.
Mata kelam Dominic membesar saat menyapu setiap inci lekuk tubuh istrinya di bawah pendar keemasan api perapian. Pria itu menghembuskan napas berat.
"Kau sangat indah, Evie," gumam Dominic rendah, penuh gairah.
Dominic menurunkan tubuhnya, menyapu dengan ciuman-ciuman panas mulai dari perut datar Eva yang berkulit halus, melintasi pinggul hingga ke paha bagian dalam.
Setiap sentuhan bibir dan desakan lidah Dominic di kulitnya membuat Eva meremas sprei sutra hitam kencang-kencang, kedua kakinya bergerak refleks mencengkeram pinggang tegap Dominic.
Sensasi memabukkan itu kian memuncak saat Dominic memisahkan kedua paha Eva secara perlahan. Pria itu menatap dalam ke iris hazel Eva yang kini berkaca-kaca oleh kabut gairah.
"Tatap mataku, Evie," perintah Dominic, suaranya bagaikan bisikan mantra yang mengunci seluruh jiwa Eva. "Lihat siapa yang ada di dalam dirimu malam ini."
Dominic memposisikan dirinya di antara kedua paha Eva. Dengan satu dorongan pinggul yang perlahan namun pasti, pria itu menyatukan tubuh mereka secara utuh.
"Nnnngh... Dominic!"
Eva membelalakkan matanya, menghembuskan napas yang tertahan saat desakan yang luar biasa memenuhi pusat kewanitaannya. Rasa tegang bercampur dengan kenikmatan menjalar hebat dari titik penyatuan mereka.
Tangan kiri Eva mencengkeram kencang lengan atas Dominic yang berurat tebal, sementara kepalanya mendongak ke belakang, menyingkapkan leher cantiknya di bawah pendar lilin.
Dominic diam sejenak, menahan pergerakan pinggulnya untuk memberikan waktu bagi Eva menyesuaikan diri. Napas pria itu beradu memburu dengan napas Eva, dadanya yang naik-turun menempel erat pada dada Eva.
"Kau merasakan aku, Evie?" bisik Dominic serak, mengusap pelipis Eva yang sedikit basah oleh peluh.
"Ya... ya, Dominic... makin dalam..." bisik Eva pasrah, menyerahkan seluruh pertahanannya pada sentuhan sang penguasa mafia.
Dominic mulai bergerak.
Awalnya dengan tempo lambat dan dalam, menyapu setiap dinding sensitif di dalam diri Eva dengan kekuatan yang terkontrol secara sempurna.
Setiap dorongan pinggul Dominic diiringi oleh gesekan halus kulit mereka yang hangat, menciptakan irama percumbuan di atas kasur berselimut sutra itu.
Suara penyatuan serta napas yang memburu, dan desakan rintihan nikmat Eva berpadu harmonis dengan gemertak kayu terbakar di perapian.
"Ah... ah... Dominic..."
Desahan terus meluncur dari bibir Eva seiring Dominic mempercepat tempo gerakannya. Pria itu menopang sebagian besar tubuhnya dengan lengan kirinya agar tidak menghimpit bahu Eva, sementara tangan kanannya menyusuri pinggang dan mengangkat sedikit pinggul Eva untuk memberikan sudut penentrasi yang lebih dalam.
Dominic memacu pinggulnya dengan tempo yang kian bertenaga dan intens. Setiap hujaman yang diberikannya menghantam titik paling sensitif di dalam diri Eva, mengirimkan gelombang kenikmatan hebat yang bertubi-tubi hingga membuat paha Eva bergetar hebat.
"Kau milikku, Evie..." erang Dominic rendah di leher Eva, gigitan kecilnya di kulit leher wanita itu makin membakar gairah mereka. "Selamanya milikku..."
Pikiran Eva yang melayang, di dalam pusaran penyatuan fisik yang luar biasa panas ini, benang-benang penyamarannya seolah hilang.
Wanita yang sedang mengerang nikmat di bawah tubuh Dominic ini bukan lagi sekadar agen Ghost Rose yang menjalankan misi malam ini, ia adalah seorang wanita utuh yang pasrah dan mencintai pria yang sedang merengkuh itu.
Puncak pelepasan itu merayap naik dengan sangat cepat, melingkupi perut bawah Eva dalam ketegangan yang kian tak tertahankan.
"Dominic... aku... aku tak sanggup lagi..." desah Eva serak, jemari kirinya meremas punggung berotot Dominic kian kencang, meninggalkan jejak goresan kecil di kulit pria itu.
"Bersamaku, sayang..." balas Dominic dengan desakan pinggul terakhir yang teramat dalam dan kuat.
Sensasi itu meletus secara dahsyat.
Dinding kewanitaan Eva mengencang hebat, menjepit penyatuan mereka dalam cengkeraman luar biasa yang membuat seluruh tubuh bergetar hebat.
Pandangan mata Eva memutih sejenak oleh kilatan nikmat, dadanya naik-turun memburu saat rintihan puncaknya meluncur pasrah di leher Dominic.
Merasakan cengkeraman pelepasan Eva yang teramat hangat dan kencang, pria itu menyusul meledak, menyemprotkan kehangatannya yang melimpah jauh di dalam Eva, menyatukan benih pada wanita yang teramat dicintainya.
Dominic merebahkan tubuhnya di atas Eva dengan kehati-hatian, membiarkan penyatuan mereka tetap bertaut saat badai pelepasan itu perlahan-lahan surut dari tubuh mereka.
Ruangan kamar utama kembali diselimuti oleh keheningan yang hangat.
Napas Dominic dan Eva yang tadinya memburu kini perlahan-lahan mulai teratur kembali. Peluh halus berkilat di atas kulit Eva dan dada bidang Dominic di bawah pendar api perapian yang redup.
Dominic perlahan menarik dirinya, lalu merangkul tubuh polos Eva ke dalam dekapannya. Pria itu menarik selimut tebal bertumpuk sutra untuk menutupi tubuh mereka berdua dari terpaan udara malam.
Eva bersandarkan kepalanya di dada bidang Dominic yang masih berdegup kencang. Wajahnya merona merah hangat, dan tubuhnya merasa rileks secara mutlak seolah seluruh beban emosi yang diembannya selama bertahun-tahun terangkat untuk sejenak.
Dominic mengelus punggung polos Eva dengan jemarinya yang hangat, menyapu helai-helai rambut cokelat yang menempel di dahi wanita itu.
"Apakah aku melukai bahumu?" tanya Dominic penuh kelembutan, menatap lengan Eva dengan rasa cemas yang samar.
"Tidak, Dominic," bisik Eva.
"Kau tidak melukaiku sedikit pun. Itu... sungguh luar biasa."
Dominic tersenyum tipis, matanya memancarkan rasa bangga. Pria itu menunduk, mengecup bibir Eva dengan ciuman lembut yang lama, ciuman penutup yang menyegel keintiman mereka.
"Istirahatlah, Nyonya Blackwood," bisik Dominic di telinga Eva, melingkarkan lengan kokohnya di pinggang wanita itu agar Eva merasa terlindungi secara penuh. "Aku akan berada di sini menemanimu hingga pagi tiba."
Eva memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan kehangatan tubuh Dominic dan aroma kayu cendana menyelimuti kesadarannya yang mulai terkikis oleh rasa kantuk yang berat.
...Bersambung......