Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Beberapa waktu kemudian, mobil Kaizar berhenti di sebuah kawasan yang jauh berbeda dari tempat-tempat yang biasa ia kunjungi. Bukan restoran mewah ataupun pusat perbelanjaan eksklusif apalagi tempat yang dipenuhi pengawal dan orang-orang berdasi.
Hari itu kawasan tersebut sedang ramai oleh bazar rakyat. Tenda-tenda kecil berdiri berderet di sepanjang jalan. Aroma makanan bercampur dengan suara pedagang menawarkan dagangan. Anak-anak berlarian, ibu-ibu sibuk memilih barang, sementara musik dari panggung kecil terdengar dari kejauhan.
Begitu turun dari mobil, Amira langsung tersenyum lebar.
"Wah!"
Kaizar hanya memandang sekeliling. "Kita di mana?"
"Bazar."
"Aku bisa melihat itu."
"Bagus. Berarti matamu masih berfungsi."
Kaizar menoleh, tatapannya terlihat marah, namun senyum Amira melenyapkan amarahnya.
"Ayo!" ajaknya sambil mengedipkan mata. Ia berjalan lebih dulu. Kaizar menggerakkan kursi rodanya menyusul. Beberapa orang mulai memperhatikan mereka.
Bukan karena Kaizar. Melainkan karena pria berwajah dingin dengan pakaian rapi itu terlihat sangat tidak cocok berada di tengah bazar seperti ini.
Seorang pedagang sempat menatap Kaizar cukup lama. Amira menyadarinya. Ia melirik pedagang itu, lalu kembali memandang Kaizar yang duduk tenang di kursi rodanya.
"Sepertinya dia penasaran denganmu."
Kaizar tidak menoleh. "Biarkan."
"Dia dari tadi melihat ke sini."
"Kau tidak perlu memedulikannya."
Amira mengerutkan kening. "Bagaimana bisa tidak peduli? Tatapannya jelas sekali."
Kaizar akhirnya menoleh. "Kalau kau terus memperhatikannya, justru kau yang membuat keadaan semakin aneh."
Amira terdiam sesaat. Kemudian bibirnya melengkung. "Jadi sekarang aku yang salah?"
"Aku tidak bilang begitu."
"Tapi nadamu begitu."
Kaizar menghela napas pelan. Amira justru tertawa kecil. Ia kemudian berdiri di samping kursi roda Kaizar, sedikit menghalangi pandangan pedagang tadi.
"Sudah. Sekarang dia tidak bisa melihatmu."
Kaizar menatapnya heran. "Untuk apa kau melakukan itu?"
"Supaya kamu tidak terganggu."
Kaizar berdehem pelan. Amira tidak menyadari bahwa tindakan kecilnya justru membuat sesuatu di dalam hati lelaki itu bergerak. Bukan rasa kasihan. Amira tidak pernah memperlakukannya seperti orang yang harus dikasihani. Ia hanya berdiri di sampingnya, seolah kursi roda itu bukan sesuatu yang perlu dijadikan alasan untuk menjaga jarak.
Lima menit kemudian, setelah cukup puas menikmati jajanan yang ada di bazar tersebut, entah kenapa tatapan Amira tertuju pada sebuah kedai es krim yang menggiurkan.
"Kaizar!" panggilnya.
"Apa lagi?"
"Es krim!"
Kaizar memandangnya. "Kau bilang bukan anak kecil."
"Orang dewasa juga boleh makan es krim."
"Kau baru saja berteriak karena melihat es krim."
"Iya itu karena aku terlalu bahagia melihat itu."
Kaizar menggeleng. Akhirnya mereka berhenti di depan penjual es krim. Amira memesan satu. Lalu menoleh kepada Kaizar.
"Kamu mau?"
"Tidak."
"Yakin?"
"Iya."
"Rugi kalau gak mau."
"Kenapa harus rugi."
"Ini tuh terlalu enak dan menyegarkan tahu."
"Aku tidak tertarik."
Amira mengangguk. "Baiklah, dasar Tuan Dingin."
Ia mulai makan es krimnya. Beberapa detik kemudian, Kaizar melirik. Amira pura-pura tidak melihat, hingga sampai beberapa detik
Kaizar masih melirik sedangkan Amira akhirnya menyodorkan es krim itu.
"Mau?"
Kaizar menatapnya. "Kau sudah memakannya."
"Memangnya kenapa?"
"Aku tidak mau."
"Dasar gengsi."
"Aku bukan gengsi."
"Kalau begitu coba."
Kaizar akhirnya mengambil sedikit dengan sendok kecil yang diberikan penjual. Ia mencicipinya. Amira langsung menatapnya penuh kemenangan.
"Enak, kan?"
"Standar."
"Padahal tadi tidak mau."
"Aku hanya memastikan."
"Memastikan apa?"
"Bahwa kau tidak memilih makanan aneh."
Amira akhirnya terkekeh pelan. "Alasanmu selalu saja aneh."
Setelah puas menyantap es krimnya akhirnya mereka berjalan lagi. Kali ini Amira berhenti di sebuah stan permainan. Matanya langsung berbinar.
"Kaizar!"
"Apa?"
"Lihat!" Ia menunjuk sebuah permainan lempar gelang. "Kalau berhasil masuk, dapat hadiah."
"Kau mau?"
"Iya."
"Silakan."
Amira mengambil beberapa gelang, ia pun melempar dengan sungguh-sungguh, tapi sayang percobaan pertama gagal, lalu ke dua juga gagal. Ia masih tidak mau menyerah lalu percobaan ketiga. hampir masuk.
"Sedikit lagi!"
Kaizar memperhatikannya. Percobaan berikutnya kembali meleset. Amira mulai kesal.
"Ini curang."
Penjual tertawa. "Enggak, Mbak. Coba lagi."
Amira menoleh kepada Kaizar. "Kamu jangan ketawa."
"Aku tidak tertawa."
"Wajahmu mengejek."
"Perasaanmu saja."
"Kalau aku berhasil, kamu harus membelikanku hadiah."
"Kalau gagal?"
"Aku tetap mau hadiah."
Kaizar akhirnya benar-benar tertawa kecil. Wajah pria yang biasanya kaku mendadak terlihat jauh lebih muda. Amira sampai lupa pada permainan di tangannya.
"Sudah jangan lihatin aku terus, lanjutkan saja permainanmu," ucap Kaizar.
"Lihat saja, kali ini aku pasti menang," sahut Amira sambil mengerucutkan bibirnya.
Kaizar menggeleng. "Dasar cegil."
Amira kembali melempar gelang danbenar dugaannya kali ini tepat masuk.
"MASUK!"
Ia melompat kegirangan. Kaizar sampai terkejut melihat reaksi gadis itu yang terlihat seperti bocah.
"Aku menang!"
Pedagang menyerahkan sebuah boneka kecil. Amira langsung memeluknya.
"Lihat! Aku dapat!"
Kaizar mengangguk. "Selamat."
Amira menyodorkan boneka itu kepadanya.
"Ini buat kamu."
Kaizar menatap boneka tersebut. "Untuk apa?"
"Hadiah."
"Aku tidak bermain."
"Tapi kamu yang membuatku semangat."
Kaizar terdiam, entah kenapa ia tidak bisa menolak pemberian kecil dari gadis di depannya itu.
"Baik."
Amira tersenyum lebar. "Jangan sampai hilang."
"Aku akan menjaganya."
Mereka kembali berjalan. Kali ini langkah Amira sedikit lebih lambat. Ia menyesuaikan diri dengan roda kursi Kaizar. Tidak ada yang memintanya melakukan itu. Ia hanya melakukannya.
Kaizar menyadarinya. "Kau bisa berjalan lebih cepat kalau mau."
"Aku tahu."
"Lalu?"
"Aku tidak mau meninggalkanmu."
Kaizar terdiam. Amira justru menunjuk stan makanan di depan mereka.
"Itu kelihatannya enak!"
Seolah tidak menyadari bahwa satu kalimat sederhana tadi baru saja mengusik sesuatu di dada Kaizar. Mereka akhirnya berhenti di sebuah kedai kecil. Amira memesan beberapa makanan yang belum pernah Kaizar coba.
"Ini harus dicoba."
"Aku tidak yakin."
"Percaya padaku."
"Aku tidak mengenalmu cukup lama untuk percaya."
Amira terkekeh. "Padahal besok-besok kita mau menikah."
Kaizar terdiam. Amira ikut diam. Kemudian mereka saling memandang. Entah kenapa, untuk pertama kalinya kata menikah terdengar berbeda. Bukan lagi sekadar perjanjian antara dua keluarga. Namun seperti ada sesuatu yang perlahan tumbuh di antara mereka. Sesuatu yang bahkan belum berani mereka beri nama.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Menjelang sore, mereka kembali ke rumah. Amira masih membawa boneka kecil yang tadi dimenangkan, sedangkan Kaizar tampak lebih diam dari biasanya. Sesampainya di ruang kerja, Kaizar meminta salah satu anak buahnya datang.
"Hubungi keluarga Wijaya."
Pria itu menunduk. "Untuk apa, Tuan?"
"Besok aku ingin mereka datang."
"Untuk membicarakan pernikahan?"
Kaizar menatap keluar jendela. Bayangan Amira masih terlintas di kepalanya. Gadis itu tertawa di tengah keramaian. Memaksanya mencicipi makanan.
Membuatnya tertawa. Mengobati lukanya tanpa takut. Dan berjalan lebih pelan hanya karena tidak ingin meninggalkannya. Kaizar akhirnya berkata,
"Jangan besok."
Anak buahnya menunggu. "Hubungi mereka malam ini."
Ia menoleh. "Pernikahan kami tidak perlu menunggu terlalu lama."
"Apakah Tuan ingin mempercepatnya?"
Kaizar diam sejenak. Kemudian pandangannya jatuh pada boneka kecil yang tadi diberikan Amira.
"Iya."
Untuk pertama kalinya, Kaizar tidak ingin menunda sesuatu. Ia tidak tahu sejak kapan gadis itu mulai membuat rumahnya terasa berbeda.
Yang ia tahu, semakin lama Amira berada di sisinya, semakin sulit baginya membayangkan rumah itu kembali sunyi seperti sebelumnya.
Dan mungkin... ia tidak ingin membayangkannya lagi.
Bersambung...