Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.
Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.
Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.
Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Perjalanan Penuh Canda Bersama Pacar Cantik
Melihat Risa masih berdiri di samping mobil, Yuda segera membukakan pintu untuknya.
"Sayang, kenapa masih berdiri di sana? Ayo, masuk."
Panggilan itu membuat Risa tersadar dari lamunannya.
Dia menoleh dan mendapati Yuda sudah membukakan pintu untuknya.
Pria itu berdiri di samping pintu yang terbuka, satu tangannya menahan pintu sementara tangan lainnya memberi isyarat mempersilakan Risa masuk.
Senyum hangat menghiasi wajahnya saat menunggu kekasihnya menghampiri.
"Nona Cantik, silakan masuk."
Risa spontan menutup mulutnya dengan satu tangan, menahan tawa kecil.
Dia merasa geli melihat tingkah Yuda yang begitu romantis, lengkap dengan senyum dan sikapnya yang seolah sedang melayani seorang putri.
"Terima kasih, Tuan Muda~" Risa sengaja membuat suaranya terdengar sedikit manja sebelum masuk ke mobil.
Tawanya masih terdengar pelan, memperlihatkan betapa terhiburnya dia oleh tingkah pacarnya.
"Sama-sama, Nona Cantik. Sebuah kehormatan membukakan pintu untuk wanita cantik seperti dirimu."
Yuda tetap tersenyum sambil memperhatikan Risa masuk ke dalam mobil.
Melihat wanita cantik itu tertawa karena ulahnya sendiri memberikan kepuasan tersendiri baginya.
Setelah memastikan Risa sudah duduk dengan nyaman, Yuda menutup pintu dan berjalan memutari mobil menuju kursi pengemudi.
Tak lama kemudian, mesin mobil menyala.
Rolls-Royce Cullinan Black Badge Series II itu melaju santai meninggalkan kawasan perumahan tempat Risa tinggal.
Yuda menyetir dengan santai, sesekali melirik wanita yang duduk di sampingnya.
Risa Aprilia.
Wanita berusia tiga puluh tahun yang sudah dikenalnya selama dua tahun itu kini resmi menjadi kekasihnya.
Memikirkannya saja masih terasa seperti mimpi.
Dulu, Yuda hanya mengenal Risa sebagai wanita karier yang mandiri dan berkelas.
Pekerjaannya sebagai kurir membuat hubungan mereka tak pernah lebih dari sebatas sapaan ramah saat mengantar paket.
Dengan penghasilan yang kala itu masih standar, Yuda menganggap Risa sebagai sosok yang berada di luar jangkauannya.
Membayangkan bisa bersanding dengannya saja dulu terasa seperti angan-angan yang sulit terwujud.
Namun, kehadiran sistem telah mengubah hidupnya.
Kekayaan melimpah, hunian mewah, hingga kendaraan seharga miliaran kini menjadi bagian dari kehidupannya.
Meski begitu, dari semua yang telah dimilikinya, kehadiran Risa di sampingnya justru terasa paling istimewa.
Wanita yang dulu hanya bisa dikaguminya dari kejauhan kini duduk di kursi penumpang mobilnya.
Sekarang, dia bisa mengajak Risa pergi, menggenggam tangannya, bahkan menggodanya sesuka hati tanpa perlu lagi menyembunyikan perasaannya.
Yuda melirik Risa sekali lagi.
Wanita itu tengah menikmati pemandangan di luar jendela, membiarkan rambut panjangnya terurai dan bergerak pelan terkena embusan AC.
Sudut bibir Yuda terangkat tipis.
Ada kepuasan manis yang memenuhi dadanya.
Bukan hanya karena kehidupannya telah berubah drastis, tetapi juga karena wanita yang dahulu terasa begitu jauh kini benar-benar berada di sisinya.
[Ding! Terdeteksi Tuan Rumah sedang bahagia.]
Yuda tidak terlalu terkejut mendengar notifikasi sistem dibenaknya, tapi ia mengabaikannya untuk saat ini.
Karena sedang fokus bersama kekasih cantiknya.
Ia kembali memusatkan perhatian pada jalanan.
Siulan kecil lolos dari bibirnya, mengalun mengikuti musik yang terdengar di dalam kabin.
Risa yang menyadari dirinya terus diperhatikan akhirnya menoleh.
Dia membetulkan posisi duduk, kemudian menyipitkan mata ke arah Yuda.
"Kenapa, sih? Dari tadi aku perhatiin kamu melirikku terus."
Alih-alih merasa bersalah, Yuda malah menyeringai. "Memangnya nggak boleh melihat wanitaku sendiri?"
Risa sempat terdiam sebelum tertawa kecil. "Boleh saja. Tapi kalau sampai lupa memperhatikan jalan, jangan salahkan aku kalau nanti kita kenapa-kenapa."
"Santai saja. Aku masih bisa membedakan mana jalan dan mana pacarku."
"Memangnya aku terlihat seperti jalan?" Risa mengangkat alis, menahan geli mendengar jawaban yang begitu asal.
Yuda terkekeh, kemudian kembali memusatkan perhatian ke depan.
Namun, beberapa saat kemudian, siulan kecilnya kembali terdengar.
Melihat tingkahnya yang sejak tadi tak berhenti tersenyum, Risa pun semakin penasaran.
"Kamu ini sebenarnya kenapa, sih? Hari ini bahagia banget kelihatannya."
Yuda mengetukkan jarinya pada kemudi mengikuti irama musik.
Dia membiarkan pertanyaan itu menggantung sesaat sebelum melirik Risa dengan senyum lebar.
"Soalnya, hari ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupku. Kamu tahu kenapa?"
Risa menggeleng. "Memangnya ada apa?"
"Ini pertama kalinya aku menjemput pacarku sendiri dalam hidupku."
Risa menatapnya beberapa detik sebelum terkikik.
"Serius? Kamu belum pernah punya pacar sebelumnya?"
"Belum."
"Kamu nggak sedang mengarang cerita, kan?"
Yuda menggeleng santai. "Memangnya aku kelihatan seperti sedang berbohong?"
"Habisnya, kamu belakangan ini berani banget menggoda aku. Aku sampai berpikir kamu sudah berpengalaman dalam urusan beginian."
Yuda tertawa mendengar tanggapannya.
"Ternyata kamu menganggapku sehebat itu."
"Jangan malah bangga!" Risa ikut tertawa. "Aku cuma bilang kalau kamu cukup pandai membuat wanita kesal."
"Kalau begitu, berarti aku berhasil membuatmu terkesan."
Risa memutar bola mata, tetapi senyumnya tak kunjung hilang.
Meski terkadang menyebalkan, sikap Yuda justru membuat kebersamaan mereka terasa menyenangkan.
"Kalau begitu, aku harus merasa terhormat, dong?" Risa sengaja mengangkat dagu sedikit. "Menjadi pacar pertama seorang pria tampan sepertimu."
Yuda langsung mengangguk mantap. "Harus! Kamu bukan cuma pacar pertamaku, tapi juga wanita pertama yang duduk di kursi penumpang mobil ini."
Risa tertawa riang. "Benarkah? Jadi, aku dapat keistimewaan ganda, nih, jadinya?"
Yuda meliriknya sekilas.
"Tentu saja! Nggak semua orang bisa mendapatkan dua keistimewaan sekaligus."
Risa terkikik. "Memangnya ada sertifikatnya juga?"
"Kalau perlu, nanti kubuatkan. Lengkap dengan tanda tangan pemiliknya."
"Dasar! Ada-ada saja kamu."
Yuda tertawa melihat reaksi Risa.
Beberapa saat kemudian, pandangan Risa beralih ke luar jendela.
Deretan pepohonan dan bangunan berlalu di sisi jalan.
Di tengah perjalanan itu, dia teringat sesuatu yang sejak tadi ingin ditanyakannya.
"Ngomong-ngomong, Yuda... eh, Sayang."
Risa sempat meralat panggilannya sendiri. Suaranya terdengar sedikit kikuk, tetapi dia berusaha mengucapkannya dengan santai.
Senyum Yuda langsung melebar.
"Nah, gitu dong. Dari tadi aku nunggu kamu manggil aku begitu." Dia melirik Risa sekilas. "Coba panggil sekali lagi, Sayang."
Risa menatapnya tajam, sedikit malu sekaligus kesal. "Dengarkan dulu!"
"Iya, aku dengar, kok." Yuda masih tersenyum jahil. "Tapi panggil aku Sayang sekali lagi, dong."
"Aku mau tanya sesuatu!"
"Ya, tanya aja. Tapi sebelum nanya, panggil Sayang dulu."
"Yuda!"
"Iya, ada apa, Sayang?"
Risa mengembungkan pipinya, lalu menatap Yuda dengan kesal.
Pria itu justru terlihat semakin senang menggodanya.
"Hmph! Kalau kamu terus begini, aku nggak jadi tanya, nih!"
"Kok gitu sih. Aku kan cuma minta dipanggil Sayang." Yuda menghela nafas sedih. "Sekali lagi aja, habis itu aku serius mendengarkan."
Risa menatapnya beberapa saat, berusaha mempertahankan ekspresi kesalnya.
Melihat Yuda yang masih menunggu dengan ekspresi sedih, akhirnya dia menyerah.
"...Sayang."
"Nah, begitu dong!" Raut wajah Yuda seketika berubah penuh senyuman lebar. "Sekarang, ada yang mau ditanyakan, Sayangku?"
Risa menghela napas menahan diri untuk marah.
Meski masih sedikit kesal karena terus digoda, dia tak bisa memungkiri bahwa mendengar Yuda memanggilnya Sayang berkali-kali terasa menyenangkan.
Awalnya, panggilan itu terasa canggung baginya.
Namun, semakin sering mendengarnya dari Yuda, semakin dia terbiasa.
Bahkan, ada perasaan manis tersendiri saat menyadari bahwa kini mereka benar-benar sudah menjadi sepasang kekasih.
Risa melirik Yuda sekilas, lalu memberanikan diri mengucapkan panggilan itu lebih dulu.
"Ngomong-ngomong, Sayang..." Dia sempat terdiam sesaat, masih belum sepenuhnya terbiasa. "Kosmu sebenarnya di daerah mana, sih?"
Senyum Yuda kembali melebar mendengar panggilan itu.
"Tangerang Selatan juga. Nggak terlalu jauh dari perumahanmu."
Risa menoleh dengan dahi sedikit berkerut.
"Lho, berarti selama ini kita tinggal berdekatan?"
"Kurang lebih."
"Kok kamu nggak pernah cerita? Padahal kita sudah kenal dua tahun."
Yuda meliriknya sekilas sebelum kembali memperhatikan jalan.
"Lagian, kamu juga nggak pernah bertanya."
Risa hendak membantah. "Kau—!"
Namun, sesaat kemudian, dia terdiam. Setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya memang dirinya yang tidak pernah menanyakan hal itu kepada Yuda.
"Iya juga, sih."
Risa mengangguk kecil, menyadari kebenaran ucapan pacarnya.
Melihat ekspresinya yang semula hendak membantah, tetapi akhirnya justru mengangguk pasrah, Yuda tak mampu menahan tawanya.
Dia tertawa lepas, benar-benar terhibur melihat tingkah Risa yang menurutnya begitu lucu dan menggemaskan.
Risa langsung menoleh, lalu mencubit lengan Yuda dengan gemas.
"Aduh, Sayang! Jangan cubit, aku lagi nyetir!" Yuda spontan meringis sambil berusaha menahan tawanya.
Risa mendengus kesal. "Rasain! Salah siapa dari tadi terus-terusan godain aku?"
Dia menatap Yuda dengan pipi sedikit menggembung sebelum menambahkan, "Kalau bukan lagi di jalan, aku bisa saja menggigitmu!"
Mendengar ancaman itu, Yuda langsung memasang ekspresi ketakutan yang dibuat-buat.
"Waduh, ampun, Sayang! Aku menyerah!"
Risa memperhatikan reaksinya sesaat, lalu mengangguk puas.
Dia tahu Yuda hanya berpura-pura takut, tetapi tetap saja merasa menang melihatnya bersikap seperti itu.
"Bagus kalau tahu takut," gumamnya sebelum kembali duduk dengan santai.
Yuda tersenyum geli, lalu memusatkan perhatiannya kembali pada jalanan.
Mobil terus melaju membelah jalanan Tangerang Selatan yang semakin ramai.
Yuda tetap fokus mengemudi dengan suasana hati yang baik.
Sesekali, senyum kecil muncul di wajahnya ketika mengingat tingkah Risa yang mudah terpancing oleh godaannya.
Sementara itu, Risa kembali menikmati perjalanan di sampingnya.
Meski masih menyimpan sedikit rasa kesal, dia tak bisa menahan senyum setiap kali teringat tingkah pacarnya.
Bersama Yuda, perjalanan sederhana seperti ini pun terasa lebih menyenangkan.
Bab berakhir.