Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6.
Satu bulan berlalu sejak malam terakhir mereka berkumpul di kafe. Di koridor kampus yang ramai, Tisa dan Aprilia berjalan dengan langkah gelisah. Sudah puluhan kali panggilan telepon mereka hanya menyambung ke nada tidak aktif, dan pesan pun yang dikirimkan hanya bercentang satu.
"Pril, jujur Aku makin cemas deh," ujar Tisa sambil terus memandangi layar ponselnya yang menampilkan ruang obrolan dengan Ruby.
"Ruby nggak pernah hilang kayak gini sebelumnya. Tugas kelompok terlantar, absen di kampus udah habis. Dia benar-benar kayak ditelan bumi."
Aprilia menghentikan langkahnya di dekat tangga, menatap Tisa dengan kening berkerut dalam. "Aku juga, Tis. Pas malam di kafe itu, Aku emang udah curiga pas ngasih. Muka dia lesu banget, pandangannya kosong. Tapi dia keukeuh bilang cuma capek."
"Kita Harus samperin ke rumahnya nggak sih?" usul Tisa nekat. "Mana tahu dia sakit parah atau ada masalah keluarga yang sengaja disembunyiin."
"Ayo, habis kelas ini kita langsung ke rumahnya," sahut Aprilia mantap. "Aku nggak tenang jika belum tau keadaanya"
Sore harinya, mobil Aprilia berhenti tepat di depan gerbang rumah keluarga Ruby. Namun, suasana di sana tampak begitu sepi dan lengang.
Saat Tisa dan Aprilia hendak menekan bel, sebuah mobil mewah melaju masuk ke halaman. Teressa turun dari pintu penumpang dengan gaya modis dan kacamata hitam di kepalanya, disusul oleh Papanya.
"Teressa!" panggil Aprilia setengah berteriak dari luar gerbang.
Teressa menoleh, menyipitkan mata, lalu melangkah menghampiri dengan raut wajah malas. "Ngapain kalian ke sini?"
"Kita mau cari Ruby," potong Tisa cepat tanpa basa-basi. "Ruby udah hampir sebulan nggak masuk kampus dan HP-nya nggak bisa dihubungi sama sekali. Dia ada di dalam?"
Teressa malah tertawa remeh, menyilangkan tangan di dada. "Ruby? Ya jelas nggak ada di sini. Dia kan udah pindah."
"Pindah? Pindah ke mana?" cecar Aprilia, firasat buruk mulai menggelayuti pikirannya.
"Nggak usah sok perhatian deh," cerceh Teressa sinis. "Dia itu udah nikah sama pengusaha kaya raya. Dia udah hidup enak di rumah mewahnya. Jadi nggak usah dicari-cari lagi, dia juga udah nggak bakal butuh temen kayak kalian."
*Deg.*
Tisa dan Aprilia saling pandang dengan mata membelalak tak percaya.
"Nikah?!" seru Tisa kaget. "Nggak mungkin! Ruby nggak pernah cerita kalau mau nikah!"
"Ya terserah kalian mau percaya atau nggak," jawab Teressa acuh tak acuh sambil berbalik arah. "Mending kalian pulang aja, buang-buang waktu ke sini."
Pintu gerbang ditutup rapat, meninggalkan Tisa dan Aprilia yang membatu di tepi jalan. Pikiran mereka kini dipenuhi tanda tanya besar. Mengapa Ruby menikah secara mendadak tanpa memberi tahu mereka? Dan mengapa ia harus memutuskan semua komunikasi begitu saja seolah sedang disembunyikan dari dunia?
kecemasan Tisa dan Aprilia sudah berada di puncaknya. Pengakuan Teressa tentang pernikahan mendadak Ruby bukannya membuat mereka tenang, melainkan justru memicu berbagai kecurigaan. Ruby bukan tipe orang yang akan menikah diam-diam, apalagi sampai menghilang tanpa kabar.
"Aku nggak percaya sama omongan Teressa," tegas Aprilia sambil mencengkeram kemudi mobilnya kuat-kuat. "Ada yang nggak beres, Tis. Pasti ada yang disembunyiin."
"Aku setuju. Kita harus tanya langsung sama Papanya," sahut Tisa mantap. "Kita tungguin pria itu sampai keluar rumah. Aku nggak bakal pergi sebelum dapet jawaban yang jelas."
Selama hampir dua jam mereka bersiaga di dalam mobil tak jauh dari gerbang rumah Ruby, hingga akhirnya mobil sedan mewah yang dikendarai Papa Ruby keluar melewati pagar. Tanpa membuang waktu, Aprilia membuntutinya dari jarak aman.
Kesempatan itu datang saat mobil Papa Ruby berhenti di pelataran parkir rumahnya. Begitu pria paruh baya itu turun dan berjalan menuju pintu masuk, Tisa dan Aprilia langsung menghadangnya.
"Om! Tunggu sebentar, Om!" panggil Tisa tegas.
Papa Ruby menghentikan langkahnya, menatap kedua gadis di depannya dengan kening berkerut. "Kalian... teman-temannya Ruby, kan? Mau apa lagi?"
"Om, tolong jujur sama kita," potong Aprilia tanpa basa-basi, suaranya sarat akan desakan. "Ruby di mana sekarang? Kenapa dia menghilang dari kampus dan semua nomornya nggak aktif? Apa benar dia udah nikah?!"
Bukannya merasa bersalah atau iba, Papa Ruby justru menghela napas pendek lalu tersenyum tipis.
sebuah senyuman penuh rasa bangga dan keangkuhan yang memuakkan. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Ya, Ruby memang sudah menikah. Dan keputusan itu sepenuhnya ada di tangan Om sebagai ayahnya," jawab pria itu santai, seolah sedang membicarakan transaksi bisnis yang sukses.
"Tapi kenapa mendadak banget, Om?! Kenapa Ruby bahkan nggak dikasih kesempatan buat pamitan atau ngabarin kita?" cecar Tisa, dadanya mulai bergemuruh menahan emosi.
Papa Ruby terkekeh pelan. "Kalian ini cuma teman, tidak usah ikut campur urusan keluarga orang lain. Lagi pula, pernikahan ini adalah hal terbaik yang pernah terjadi di keluarga kami."
Pria itu mendekat setengah langkah, lalu berbisik dengan nada penuh kesombongan. "Putri saya itu akhirnya berguna juga. Berkat pernikahan itu, hutang perusahaan Om sebesar lima puluh miliar rupiah lunas seketika!"
*Deg.*
Tisa dan Aprilia membatu di tempatnya. Kata-kata itu menghantam mereka bagai petir di siang bolong.
"Om... ngejual Ruby?" bisik Aprilia dengan mata membelalak tak percaya, suaranya bergetar menahan horor. "Om numbalin anaknya sendiri cuma buat bayar hutang?!"
"Jaga mulut kamu!" bentak Papa Ruby, raut wajahnya mendadak keras. "Itu kewajiban dia sebagai anak untuk menyelamatkan keluarganya! Sekarang dia sudah jadi milik keluarga pria yang sangat kaya dan berpengaruh. Jadi tidak ada alasan lagi buat kalian nyari-nyari dia. Jangan berani-berani mengganggu kehidupan barunya!"
Tanpa mempedulikan wajah pucat kedua sahabat anaknya, pria itu berbalik dan melangkah masuk ke dalam dengan kepala tegak.
Di tepi jalan, Tisa dan Aprilia saling pandang dengan tubuh gemetar. Air mata Tisa akhirnya menetes membayangkan penderitaan sahabat mereka. Ruby tidak sedang menikmati kemewahan... gadis itu telah dijual demi melunasi hutang dan kini entah berada di mana.
****
Cahaya matahari yang menusuk mata memaksa Ruby memicingkan matanya pelan. Kepala rasanya berat bagai dihantam bongkahan batu, dan sekujur tubuhnya ngilu luar biasa. Dua hari ia tak sadarkan diri di atas tempat tidur kamar utama yang dingin itu.
Di samping ranjang, Bi Sumi, kepala pelayan yang sudah berumur sedang mengompres dahi Ruby dengan telaten. Wajah wanita tua itu tampak begitu cemas dan iba
"Non... akhirnya bangun juga," bisik Bi Sumi pelan, suaranya bergetar menahan sedih. "Jangan banyak gerak dulu ya, Non. Tubuh Non masih lemah banget."
"Bi... air..." suara Ruby tercekat, tenggorokannya amat kering.
Belum sempat Bi Sumi menyodorkan gelas, pintu kamar terdorong kasar hingga menghantam dinding. *BRAK!*
Langkah kaki yang tidak stabil menyusul masuk. Kavano berdiri di sana dengan jas yang sudah acak-acakan, dasinya melonggar, dan bau alkohol menyengat tajam memenuhi ruangan. Pria itu baru saja pulang dari kelab malam dalam keadaan mabuk berat.
"Keluar," perintah Kavano dengan suara serak dan berat pada Bi Sumi.
"Tapi, Tuan... Non Ruby baru saja sadar dan masih le..."
"Saya bilang keluar!" bentak Kavano tajam sambil menatap Bi Sumi murka.
Dengan tangan gemetar dan wajah pucat, Bi Sumi menunduk dalam, menatap Ruby dengan rasa bersalah yang amat sangat sebelum akhirnya terpaksa melangkah keluar dan menutup pintu.
Kavano melangkah oleng mendekati ranjang. Matanya yang merah menatap Ruby yang ketakutan berusaha menggeser tubuhnya mundur. Pria itu membuka kancing kemejanya kasar lalu melemparkan jasnya ke lantai.
"Sekarang... jalankan kewajiban mu sebagai istri Ruby," gumam Kavano dingin sambil mencengkeram pergelangan kaki Ruby dan menariknya mendekat.
"Nggak! Lepas, Van!" jerit Ruby, menggunakan sisa tenaganya untuk menendang dan menolak tubuh tegap pria itu. "Aku lagi sakit! Jangan gila kamu."
Penolakan itu justru makin menyulut amarah pria yang sedang dikuasai alkohol tersebut. Kavano menampar wajah Ruby hingga bibir gadis itu kembali mengeluarkan darah. Tak cukup sampai di situ, Kavano menarik paksa rambut Ruby, menyeret tubuhnya yang sangat lelah dan lebam keluar dari tempat tidur.
"Kamu pikir siapa berani menolak, hah?!" geram Kavano.
"Lepasin! Sakit, Kavano!" tangis Ruby pecah, tenaganya sama sekali tak sebanding.
Kavano menyeret Ruby masuk ke dalam kamar mandi mewah yang dingin. Tanpa sedikit pun rasa kemanusiaan, ia mencengkeram tengkuk Ruby dan menghidupkan *shower* bertekanan tinggi dengan air dingin.
*BYURRR!*
Guran air es langsung menyiram tubuh Ruby yang tak berdaya. Ruby terbatuk-batuk, menggigil hebat, dan memohon ampun di bawah guyuran air kencang yang membasahi seluruh pakaiannya. Luka-luka lebam di kulitnya terasa perih luar biasa dihantam aliran air dingin.
Kavano berdiri tegak di sampingnya, memandangi Ruby yang bersimpuh pasrah di lantai kamar mandi bagai barang tak berharga. Ruby memejamkan mata, membiarkan air mata dan air es menyatu di wajahnya. Tenaganya benar-benar habis, kesadarannya perlahan kembali membayang kabur. Di dalam dinginnya lantai kamar mandi itu, Ruby sadar... kehidupan yang ia jalani kini bukan lagi sekadar neraka, melainkan penderitaan tanpa akhir.