Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.
Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.
Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERANG DINGIN DI MEJA MAKAN
Bab. 02
# PERANG DINGIN DI MEJA MAKAN #
"Pelan-pelan aja makannya, enak banget kah?"
Axcel masih duduk santai tanpa menyentuh makanan yang sudah ia pesan. Dibandingkan menu di meja, nafsu makan Sora yang luar biasa jauh lebih menyita perhatiannya. Padahal bertubuh mungil, tetapi gadis itu seolah punya lambung cadangan berkapasitas ekstra yang tak membekas di perut ratanya. Sora tahu Axcel terus memperhatikannya, tetapi ia pura-pura cuek. Bagi Sora, dipandangi seperti itu adalah hal lumrah. Mana ada yang bisa berpaling dari mahasiswi paling populer dan memesona di Santosburgh?
PYURRR...! TUK!
"Ah, maaf... maaf... aku nggak sengaja kepeleset!" cetus seorang gadis berkacamata menumpahkan minumannya. "Maaf jaket Kakak jadi kotor. Aku bantu laundry sebagai bentuk tanggung jawab. Kakak bisa lepas jaketnya sekarang?"
*BRAAAKKK! SRASSS!*
Axcel sempat terkesiap melihat reaksi Sora yang menurutnya kelewat dramatis. Gadis berkacamata itu sudah minta maaf dengan sangat sopan, dan Axcel sendiri sebenarnya tidak keberatan melepas jaketnya. Namun, Sora mendadak membanting meja dan langsung menyiramkan sisa smoothies nya tepat ke wajah si gadis.
"Apaaa...? Kenapa muka kamu mendadak kasihan begitu?" semprot Sora, menatap Axcel yang terpaku. "Kamu keberatan kalau aku yang balas? Hei, Axcel! Kamu itu harus ekstra hati-hati sama tipe-tipe cewek berwajah polos begini. Mereka itu polos-polos hanyut, tahu!"
Axcel hanya tersenyum simpul. Niat gadis itu hanya mengotori sedikit jaketnya, tetapi balasan Sora benar-benar di luar nalar. Lantaran tidak ingin menjadi tontonan gratis seluruh kantin lebih lama lagi, Axcel melepaskan jaket jeans-nya lalu melemparnya pelan ke arah si gadis berkacamata.
"Terima kasih, Kak... Namaku Audry, anak jurusan Bisnis," bisik gadis itu seraya menyapu sisa smoothies yang lengket di bajunya. "Nanti kalau jaketnya sudah bersih, bagaimana caraku mengembalikan ke Kakak? Nama Kakak siapa?"
Gadis itu ternyata tidak merespon provokasi Sora\, padahal ia berharap bisa membuka kedok kepolosan yang palsu itu. Sora menyeruput sisa smoothies dari gelasnya hingga berbunyi slurrpp\, lalu menghempaskan gelas kosong itu ke meja dengan kasar. *TAK!*
Audry tersentak kaget. Dengan gerakan refleks meliuk, ia langsung meringsut berlindung di belakang kursi Axcel demi menghindari jangkauan Sora.
"Kak... apa cewek galak yang mukanya kayak kanebo kering itu pacarmu?" bisik Audry pelan, berharap suaranya tidak memicu ledakan baru dari Sora.
Axcel menggelengkan kepala seraya terkekeh tipis dengan alis bertaut, pemandangan yang sukses membuat ubun-ubun Sora makin berasap. Nafsu makan Sora lenyap seketika. Tanpa memedulikan Sora yang mendelik tajam, Axcel mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menunjukkan kode QR akun Line nya agar bisa di scan oleh Audry.
Melihat respons Axcel yang begitu terbuka bagaikan oasis di padang pasir, Audry melompat-lompat kecil sambil menahan tawa kegirangan. Namun, baru saja kameranya hendak menangkap kode QR tersebut, sebuah tangan mungil menyambar ponselnya secepat kilat.
"Eh! Apa-apaan sih?! Ponselku mau diapain? Balikin nggak?!" jerit Audry panik.
PLUNG!
Dengan langkah santai bak model di atas runway, Sora menghampiri meja sebelah lalu tanpa rasa dosa menjatuhkan ponsel Audry ke dalam gelas lemon tea berukuran jumbo milik mahasiswa lain yang masih terisi penuh.
Kelakuan tak terduga itu membuat Audry berteriak histeris, meratapi nasib ponsel baru yang dibelinya lima hari lalu. Sementara para saksi mata di kantin hanya bisa menahan napas, tidak ada satu pun yang berani menegur aksi Sora. Mereka cuma sanggup berbisik-bisik, mengasihani nasib Audry yang apes karena nekat memancing emosi "penguasa" kampus.
"Kalau mau kembalikan jaket Axcel, kamu cari aku aja," ujar Sora santai sambil menepuk-nepuk tangannya. "Biar aku yang wakili. Aku Sora, anak Seni tahun kedua, wakil ketua BEM. Gampang kok mencariku."
Audry terhuyung mundur beberapa langkah. Wajahnya pucat pasi. Ia tidak menyangka gadis galak yang baru saja diusiknya adalah Sora Kyne, nama legendaris yang selama ini hanya ia dengar dari gosip kampus dan sangat ingin ia hindari. Dengan tangan gemetar, Audry memancing ponselnya dari dasar gelas lemon tea, lalu melesat pergi tanpa menoleh lagi.
Kini Sora kembali duduk di hadapan Axcel, melipat kedua tangan di dada dengan pandangan menghakimi. Sementara Axcel dengan santainya mulai mengunyah kebab yang sempat terabaikan.
"Mmm... ternyata benar katamu, makanan kantin lumayan enak," celetuk Axcel tanpa dosa. "Nih, makan lagi. Jangan sia-siakan traktiranku."
Sora berdecih pelan lalu menyunggingkan senyum miring. Pikirnya, hari-harinya ke depan bakal jauh lebih berwarna semenjak punya teman seperti Axcel. Pasti akan ada banyak gadis pemancing keributan yang mencoba mendekati pemuda ini, dan ia bisa menempatkan diri sebagai "benteng pertahanan" bagi Axcel yang tampak pasif dan introvert. Lagipula, Sora memang menyukai tantangan dan kekacauan. Mulai detik itu, Sora membulatkan tekad untuk menjadi pelindung utama Axcel, sekaligus membuat pemuda itu bergantung padanya.
Sangat disayangkan, mereka berbeda angkatan dan jurusan. Tampaknya cita-cita megah yang baru saja diserukan Sora dalam hati akan sedikit terkendala di lapangan. Namun, hal itu sama sekali tidak melunturkan semangatnya yang membara.
---
Kediaman Keluarga Pierce
"Maa... mulai besok aku mau bawa kendaraan sendiri. Pesankan aku motor Benelli seperti ini ya, Ma," pinta Axcel seraya menunjukkan layar ponselnya.
Ny. Evelyn sebenarnya kurang sreg jika putra tunggalnya harus berpanas-panasan naik motor. Saat sepupu-sepupunya berlomba mengoleksi supercar, mengapa selera Axcel bisa sebumi dan selangit dari mereka? Namun, karena Axcel akhirnya bersedia pulang ke rumah, Evelyn menahan diri untuk tidak mendebat keinginan putranya.
"Ya sudah. Sekarang naik ke atas, mandi, dan istirahat dulu. Mama sendiri yang merapikan kamarmu tadi. Kalau butuh apa-apa bilang ke Pak Didi, ya," ujar Ny. Evelyn lembut.
Axcel bergegas melangkah menuju kamarnya untuk menghindari hiruk-pikuk di lantai bawah. Ny. Evelyn rupanya sedang menyiapkan pesta penyambutan untuknya. Katanya hanya makan malam keluarga biasa, tetapi persiapannya seolah hendak menyambut kepala negara. Bahkan, sang Mama mendatangkan koki bintang lima beserta seluruh timnya, bukti sahih bahwa sebutan "makan malam sederhana" hanyalah kebohongan publik.
Satu jam kemudian, Ny. Evelyn mengetuk pintu kamar Axcel dan terkagum-kagum.
"Lihat... anak Mama paling tampan kalau pakai jas resmi begini! Bosan Mama melihatmu pakai kaos terus sama jaket-jaket gembelmu itu," puji Evelyn seraya membetulkan kerah jas putranya. "Nanti seluruh keluarga besar berkumpul, Mama juga mengundang sepupu-sepupumu. Anak Mama harus jadi yang paling bersinar, karena ini acara khusus dari Kakek untukmu, Sayang."
Axcel menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan lesu. Harus diakui, jas slim fit yang melekat sempurna dipadu dengan tatanan rambut yang rapi membuat pesonanya melonjak drastis. Malam ini ia terlihat begitu matang, tak ada lagi kesan berandalan jalanan. Namun di balik penampilan megah itu, Axcel justru ingin menghilang. Ia sama sekali tidak berniat menemui paman, bibi, apalagi para sepupunya yang sejak kecil menguasai seni merundungnya secara verbal.
(Ini bakal jadi malam yang sangat menyebalkan. Penuh dengan orang-orang munafik...) batin Axcel muram.
Jika saja almarhum ayahnya bukan seorang Pierce, mungkin tekanan yang diterima Axcel bakal jauh lebih parah. Trauma masa kecil itulah yang memicu kemunculan sosok lain di dalam dirinya, sosok yang sering kali mengambil alih kesadarannya tanpa terkendali. Tidak ada yang tahu soal kondisi kejiwaannya ini selain sang Mama dan mendiang Ayahnya.
Alasan Axcel selalu "diasingkan" ke luar negeri sebenarnya bukan sekadar melindunginya dari ancaman penculikan pesaing bisnis Pierce Group, melainkan juga untuk menyembunyikan alter ego berbahaya dalam dirinya. Ia dikeluarkan dari sekolah-sekolah sebelumnya bukan murni karena kenakalannya, melainkan karena aksi destruktif sosok lain yang menghuni tubuhnya tersebut.
"Ma... apa nanti aku bisa sekuat Mama? Bisakah aku benar-benar mengendalikan situasi ini?" bisik Axcel lirih. "Bagaimana kalau aku membuat kesalahan besar lagi...? Terakhir kali, aku membuat anak orang terbaring koma di rumah sakit sampai sekarang."
Ny. Evelyn mendekati putranya, menatap pantulan mereka berdua di cermin besar. Ia tersenyum hangat lalu menyandarkan kepalanya di bahu Axcel, meraih jemari pemuda itu dan menepuk punggung tangannya dengan lembut. Senyuman itu seolah menjadi penawar kepanikan Axcel, memberi sinyal bahwa segalanya akan baik-baik saja.
Dalam hati, Evelyn merasa bersyukur. Paling tidak, insiden hebat terakhir itu membawa perubahan positif pada sikap Axcel. Putranya kini jauh lebih terbuka dan penurut dibanding dulu.
"Mama tunggu di bawah, ya. Acara makan malam dimulai satu jam lagi. Kamu bisa bersantai dulu di sini."
Setelah sang Mama pergi, Axcel masih berdiri bergeming di depan cermin. Ia sadar sudah saatnya ia tumbuh dewasa untuk melindungi ibunya dan menggantikan posisi sang Ayah yang telah berpulang dua tahun lalu. Meski belum yakin sanggup menjinakkan "monster" dalam dirinya, setidaknya ia harus berani belajar berdamai dan berkomunikasi dengan sosok misterius tersebut.
---
"Kurang ajar! Apa kalian tidak bisa mendidik anak-anak kalian, hah?! Apa kalian masih menganggapku sebagai Tetua di rumah ini?!"
Suara legendaris Prof. Antony menggema keras di ruang makan utama saat Axcel menuruni tangga. Paman dan bibinya tampak berdiri menunduk kaku, tak berani berkutik menahan amarah sang Profesor. Saat Axcel mendekat, Ny. Evelyn tampak sibuk mengelus lengan ayahnya demi meredakan tensi udara yang mendidih.
"A-Axcel! Akhirnya kamu turun juga," panggil Prof. Antony, mendadak mengubah raut wajahnya menjadi ramah begitu melihat sang cucu. "Kemari, sapa paman dan bibimu. Biar mereka lihat kalau kamu sudah tumbuh menjadi pemuda yang gagah. Hmph... Sepupu-sepupumu sedang Kakek beri tugas luar kota, dan yang lainnya sedang sibuk persiapan ujian. Jadi kamu bisa bertemu mereka lain kali."
Axcel tersenyum tipis lalu menyapa para paman dan bibinya satu per satu. Ia tahu betul alasan sebenarnya para sepupunya tidak hadir, mereka pasti enggan bertatap muka dengannya. Munginkah mereka sedang merancik rencana merendahkannya dari jauh, atau malah ketakutan kalau-kalau kepulangan Axcel kali ini adalah untuk membalas dendam? Namun alih-alih ambil pusing, Axcel justru bersyukur tidak perlu membuang energi meladeni mereka.
Ini adalah momen perdananya kembali berhadapan langsung dengan struktur keluarga besar dari keluarga sang ibu. Di depan Kakek Antony, mereka pandai berakting sebagai keluarga harmonis yang saling mendukung. Padahal di belakang, ada ribuan intrik busuk yang mereka rancang demi menggerogoti aset Pierce Group.
Bahkan hingga detik ini, Axcel masih meyakini salah satu dari orang-orang di ruangan inilah yang menjadi dalang atas tewasnya sang kakak perempuan, Selena. Tragedi masa kecil yang teramat tragis itu membuat memori Axcel terdistorsi, meninggalkan trauma mendalam yang menjelma menjadi sosok "monster" dalam jiwanya.
"Axcel... Paman dengar kamu mau mengulang kuliah dan mengambil jurusan Bisnis Internasional," celetuk Paman Joe sambil memutar gelas anggurnya. "Apa itu tidak memberatkan otakmu? Bukan bermaksud merendahkan... Paman cuma khawatir saja. Jiwa seni manjamu itu pasti memberontak, kan?"
Axcel mengangkat wajahnya, menatap lurus pada Paman Joe. Dari dulu, mulut pamannya yang satu ini memang terkenal seperti kantong sampah, selalu mengeluarkan kata-kata pedas yang memancing emosi. Entah bagaimana ibunya bisa sabar memiliki kakak kandung seracun itu.
Melihat jemari Axcel yang mulai mengepal erat di atas paha hingga buku-buku jarinya memutih, Ny. Evelyn dengan cepat menggenggam tangan putranya seraya menyunggingkan senyum elegan. Benar... menghadapi orang munafik tidak perlu menggunakan otot dan emosi.
Axcel menghela napas pelan, lalu menyunggingkan senyum paling manis, dan paling mengejek ke arah pamannya.
"Paman, anggap saja aku sedang bersenang-senang," jawab Axcel santai. "Mungkin tahun depan aku sudah bosan dan pindah ke jurusan lain lagi. Tapi Paman tidak perlu cemas. Mau seburuk apa pun nilaiku nanti, nama pewaris utama perusahaan ini tetap milikku. Paman cukup berdoa saja supaya perusahaan yang ku pimpin nanti tidak bangkrut... agar Paman dan keluarga Paman tetap bisa mendapat uang jajan."
*UHUUUKKK...! UHUUUKKK...!*
Paman Joe tersedak anggurnya sendiri hingga memerah padahal baru meneguk sedikit. "APAA KAU KATA?!"
⭐⭐⭐⭐⭐
*WADUHHH! Mulut manis Axcel sekali mengucap langsung bikin Paman Joe kena serangan jantung mendadak! 😱🔥 Siapa nih yang puas lihat Paman Joe langsung bungkam begitu dikuliti sama Axcel?!*
*Tapi tunggu dulu... Apakah Paman Joe bakal tinggal diam setelah dipermalukan di depan Kakek Antony? Dan kira-kira\, kapan "monster" dalam diri Axcel bakal bangun lagi buat bikin kekacauan baru?!*
*Yuk\, tebak kelanjutan nasib Paman Joe di kolom komentar! 💬👇*
Kiravers...Jangan lupa ya!
KLIK LIKE & LOVE (❤️ buat dukung Axcel!)
SIMPAN CERITA INI KE LIBRARY, biar kamu nggak ketinggalan Notifikasi Bab selanjutnya yang bakal RILIS NANTI MALAM JAM 20.00 WIB! 🕗✨
FOLLOW PROFIL PENA KIRA ya!
*Terima kasih sudah membaca dan stay tuned di bab berikutnya! Happy reading! 🚀🔥*